DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Aku akan mencobanya


__ADS_3

Malam mulai merayap naik. Sedangkan Reno masih setia menunggu istrinya ke luar dari kamar. Saat ini dia bukan tidak berani untuk masuk, tapi dia berusaha menghargai sikap Hilwa. Mungkin untuk saat ini kamu masih belum bisa menerima maaf ku, Wa! tapi aku yakin, lambat laun kamu akan melupakan segalanya dan bisa bersikap seperti biasa. ucap Reno dalam hati.


Dia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, hanya selimut dan satu bantal yang menjadi teman saat angin malam masuk menelisik kulit dari celah ventilasi udara di atas kaca.


Seharusnya malam ini dia tidur dengan salah satu istrinya. Mungkin Stefani yang lebih mengharapkan kehadiran Reno saat ini. Karena malam ini, malam pertama mereka menjadi pengantin.


Ada seseorang laki-laki yang pernah berkata. 'Jangan pernah memberikan kesucianmu kepada laki-laki sebelum malam pertamamu. Meskipun laki-laki itu yang kelak akan menjadi suamimu nanti. Karena jika kamu terlanjur memberikannya, kelak di malam pertamamu, dia tidak akan bersemangat untuk menjamah tubuhmu. Karena apa? karena dia sudah pernah merasakan sebelumnya'.


Mungkin ini yang di alami Reno saat ini. Dia tidak semangat untuk melakukan percintaan dengan Stefani. Karena mereka sudah sering melakukannya sebelumnya.


Malam pertama memang sangat sakral bagi sebagian orang yang sangat menantikannya.


Matahari sudah mulai memancarkan warna keemasan. Hilwa membuka tirai yang menutupi jendela kaca di kamarnya. Saat ini dia akan bangkit dari keterpurukan yang selama 3 hari ini menyiksanya.


Dia membuka pintu kamar untuk melangkahkan kaki ke dapur. Tapi saat netra matanya menangkap sosok laki-laki yang kini masih berstatus suaminya, langkahnya terhenti.


Deg! kenapa kak Reno malah tidur di sini. Bukankah seharusnya dia bermalam di rumah ibu. batin Hilwa merenung.


Dia berusaha mendekati suaminya, yang saat ini masih terlelap di sofa ruang tamu. Saat dia mendekatkan wajahnya, mata Reno malah terbuka. Tentu saja membuat Hilwa terjengkat kaget, tubuhnya sampai terhuyung ke belakang jika Reno tidak mencekal tangannya, tubuh Hilwa bisa saja membentur ke ujung meja. "Hati-hati wa!" ujar Reno.


Reno bangun dari tidurnya. Hilwa yang baru saja ingin pergi, terhenti karena Reno mencekal kembali pergelangan tangannya. "Tunggu Wa, kakak mau berbicara sebentar. Kakak mohon, kamu mau mendengarnya." pinta Reno.

__ADS_1


Hilwa menarik nafasnya dalam-dalam untuk menyiapkan diri, apa yang akan suaminya ucapkan. Dia akhirnya duduk di samping Reno. "Apa yang ingin kakak bicarakan, aku harus segera menyiapkan makanan untuk kakak." ucap Hilwa tanpa menatap wajah Reno.


"Baiklah, kakak janji tidak akan lama." Reno pun menyiapkan diri, kata apa yang pantas dia ucapkan untuk memulai percakapannya. "Hilwa! untuk kesekian kalinya kakak mau meminta maaf atas apa yang telah kakak lakukan selama ini. Semuanya Hilwa, semuanya!" kata semuanya berulang kali Reno ucapkan, untuk menggambarkan dirinya yang sudah terlalu banyak membuat kesalahan dan menyakiti hati istrinya.


"Benar katamu, kesalahan kakak ini akan sangat berdampak pada keharmonisan kita ke depannya. Tapi kakak minta kamu untuk belajar mengikhlaskan semua ini. Kakak janji, kakak akan tetap mengutamakan kamu sebagai istri pertamaku." Reno bersungguh-sungguh. Dia meraih telapak tangan Hilwa. Rasanya kaku, tidak sehangat dulu.


"Jangan terlalu manis membuat janji kak. Jika kamu tidak bisa menepatinya lagi, itu akan semakin menyakitkan untukku." jawab Hilwa.


Deg! susah sekali menaklukkan hatinya sekarang. batin Reno.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku, dan kamu mau menerima kata maafku." kini Reno merasa frustasi sendiri. Kata-kata lembut tadi kini berubah dengan nada frustasi.


"Jalani saja sebagaimana mestinya. Tanggung lah bebanmu, bersikap adil lah kepada kami. Aku pun ingin mencobanya." tegas Hilwa. "Baiklah aku juga akan mencoba menjalaninya dan berusaha bersikap adil." pungkas Reno. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ingin sekali dia memeluk tubuh Hilwa yang selama 3 hari ini, menjauh darinya. "Aku harus menyiapkan makanan dulu, sebelum kamu terlambat untuk bekerja."


* * *


Reno kembali ke rumah orangtuanya. Dia hendak menjemput Stefani untuk berangkat kerja bersama.


"Assalamu'alaikum" Reno memberi salam. "Ternyata kalian sedang sarapan." ucapnya.


"Ayo sini kak! kita sarapan bareng." ajak Stefani. "Aku sudah sarapan tadi. Hilwa yang memasak." ucap Reno bangga. Tandanya dia sudah berhasil meluluhkan hati Hilwa.

__ADS_1


"Bagiamana keadaan menantu ayah?" tanya pak Dedi. "Dia baik-baik saja. Dan sudah mulai mengerjakan aktivitasnya." jawab Reno. "Syukurlah, jika Hilwa sudah baik-baik saja. Ayah senang mendengarnya." Pak Dedi kembali melanjutkan sarapannya.


Sedangkan Stefani dan Bu Tika terlihat acuh mendengar kabar Hilwa. "Dia tidak punya pilihan lain bukan? selain menerima pernikahan Reno. Jika dia tetap bersikeras, dia bisa saja pergi dari rumah itu. Tapi nyatanya dia masih bisa bertahan." celetuk Bu Tika. "Sudah Bu, jangan memancing kemarahan mereka lagi." desis Anita, yang duduk di samping ibunya. Ibu ini tidak ada kapok-kapoknya memancing kemarahan ayah dan Reno. geram Anita dalam hati, dia takut ayahnya murka lagi jika ibunya terus menjelekkan Hilwa.


Bu Tika membuang muka, "ayo Stefani makan yang banyak. Biar calon cucu ibu sehat." Bu Tika tidak lagi memanggil Stefani dengan memakai embel-embel nak. Karena pion untuk menjadi menantu idamannya sudah berkurang, semenjak mengetahui kalau Stefani sudah di buang oleh keluarganya.


Mendengar kata cucu yang keluar dari mulut ibunya, perasaan Reno campuran aduk. Ada perasaan yang menghangat di hatinya. Walau bagaimanapun dia tetap menantikan anak yang ada dalam kandungan Stefani, tapi tetap harus menghormati hati istri pertamanya, Hilwa. "Jika kamu sudah selesai sarapan, ayo kita berangkat bersama." Reno yang melihat Stefani sudah siap dengan setelan kerjanya.


"Kak aku ko' kepengen buah manggis yah." Stefani yang sudah duduk di samping Reno yang sedang memegang kemudi. "Ya sudah, habis pulang kerja kita cari buah manggis sampai ketemu. Karena akan sangat sulit, karena ini bukan musimnya." sahut Reno. Dia sudah tahu soal ngidam ibu hamil di trimester pertama kehamilan. Mungkin saat ini Stefani sedang ngidam pertamanya.


Mobil pun terus melaju membelah kemacetan di jalan-jalan kota.


Mereka sudah sampai di tempat kerja masing-masing, saatnya mereka melakukan tugas sebagai karyawan di salah satu bank swasta yang ada di pusat kota.


Waktu terus bergulir, tidak ada yang berubah dari keseharian Stefani. Hanya saja, fisiknya yang sedikit melemah. Dia jadi mudah kecapean, karena sedang mengalami penyesuaian hormon. Dari para teman sekantornya tidak ada yang tahu kalau Stefani sudah menikah bahkan dirinya sudah hamil.


Saat hari sudah mulai petang, Reno menjemput kembali istri keduanya untuk menepati janjinya yang akan mencarikan buah manggis keinginan si jabang bayi.


Setelah menelusuri sepanjang perjalanan, tidak ada satupun pedagang buah-buahan yang menjual buah manggis. Dengan alasan yang sama, karena ini bukan musim manggis katanya.


"Bagaimana kalau kita cari lagi besok. Sebentar lagi adzan akan berkumandang. Kita harus segera sampai rumah." saran Reno. "Ya sudah kak. aku pun sudah lelah. kita pulang saja." Stefani pun sepakat dengan usul suaminya.

__ADS_1


Mereka sampai di rumah orangtua Reno saat adzan sedang berkumandang. "Aku pulang sekarang, besok pagi aku akan menjemputmu kembali." pamit Reno. Stefani yang ingin mencegahnya, tetapi Reno sudah lebih dulu hilang dari pandangannya.


Huh! bahkan malam ini pun aku masih harus tidur sendiri. Sampai kapan kamu akan mengacuhkan ku kak!, aku tidak sabar menantikan anak ini lahir. Agar aku bisa mengambil perhatianmu sepenuhnya. gumam Stefani, dan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2