DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Kedatangan kakak ipar


__ADS_3

Seperti siang yang berganti malam, begitu juga hari, bulan dan tahun yang akan terus berubah. Tidak ada yang berbeda dalam keseharian Hilwa, selama hampir 5 tahun ini.


Hilwa dan Reno tetap saja hidup berdua, tidak ada tangisan seorang anak di antara keseharian mereka.


Mungkin untuk satu atau dua tahun, mereka masih bisa bersabar dan menunggu. Tapi untuk kali ini, mereka hampir putus asa.


Semua usaha mereka tidak membuahkan hasil. Harta dan tenaga sudah mereka korbankan, demi mendapatkan seorang anak di tengah-tengah mereka.


Untaian doa, selalu Hilwa panjatkan di setiap sujudnya. "Kenapa, tuhan? kenapa hanya aku yang tidak Engkau berikan keturunan. Tolong jangan membuat kami menunggu lagi. Aku mohon !" itulah kata-kata yang selalu Hilwa ucapkan di akhir doa nya.


Dia merasa, hanya dia yang tidak memiliki anak. Padahal di luar sana, masih banyak yang senasib dengan Hilwa, bahkan ada yang hampir belasan dan puluhan tahun, dan ada juga yang sama sekali tidak Tuhan berikan.


Itu semua sudah ketetapan dari sang Maha Kuasa, semua garis hidup sudah di takdirkan bahkan sebelum kita terlahir ke dunia. Kata orangtua dulu, kita yang sudah memilihnya, hanya saja kita tidak bisa mengingatnya.


Hari itu, di rumah orangtua Reno sedang kedatangan anak perempuannya. Yaitu Anita, kakak perempuan Reno, setelah 2 tahun tidak pernah pulang ke kampung halamannya.


Pak Dedi dan Bu Tika sangat bahagia. anak-anaknya telah berkumpul. Ya, di rumah itu ada Reno dan Hilwa juga. Mereka sengaja menemui kakaknya yang baru saja tiba.


"Mbak, apa kabar? Dimana anak-anak??" Reno yang menghampiri kakaknya.


" Baik dek, anak-anak sedang main di teras belakang dengan ayah. Bagaimana dengan mu?" tanya Anita


"Aku baik kak"


"Maksud kakak, bagaimana dengan anak kamu. Apa belum jadi juga?" tanya Anita, yang sebenarnya pertanyaan itu dia tujukan untuk perempuan yang sedang berdiri di samping Reno.


Deg. . .


Hilwa yang mendengar itu, langsung tersentak kaget. Dirinya yang hendak menyalami kakak iparnya.


"Belum Mbak, masih proses" ucap Reno, dia sama sekali tidak merasa sakit hati dengan ucapan kakaknya.


"Huh lagian kamu, dulu kakak udah cariin wanita yang jauh lebih baik. kamu malah kekeh milih istri kamu yang sekarang"


Reno melihat Hilwa yang menunduk dan mengepalkan tangannya. Dia tahu, istrinya merasa sakit hati dengan ucapan kakaknya, tapi dia tidak berusaha membelanya.


Dulu Reno tidak seperti ini, dia yang selalu melindungi Hilwa dan membelanya setiap ada orang yang menyakiti hatinya. Tapi kali ini tidak, mungkin dia merasa keputusan yang kekeh untuk menikahi Hilwa salah. Benar kata kakaknya, seandainya dia menerima wanita yang dulu kakaknya kenalkan, mungkin kehidupan nya akan berbeda.


Astaghfirullah, kenapa aku sampai berpikiran seperti ini ! batin Reno sambil mengusap wajahnya kasar.


"Sudahlah, lagian itu sudah berlalu. oh iya kakak juga belikan kamu oleh-oleh dek" Anita yang memberikan paper bag kepada Reno saja.

__ADS_1


Sepertinya Anita tidak menyukai Hilwa. jelas sekali dari nada bicara dan sikapnya, saat berhadapan dengan istri dari adiknya.


Entah dari dulu Anita tidak menyukai Hilwa, atau karena dia ikut-ikutan ibunya. Mungkin selama ini, ibunya selalu menjelekkan Hilwa?


Semenjak Anita, mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya. Hilwa kurang bisa berbaur di sana. Dia lebih memilih di dapur untuk membantu memasak.


Sementara Reno, Anita dan ibunya tertawa bahagia. Melihat tingkah lucu dari anak-anak Anita.


Tes. . .satu tetes air mata jatuh dari mata Hilwa. Dia buru-buru menghapusnya, karena takut ketahuan oleh pembantu di rumah itu.


Tapi terlambat, Bi inah sudah melihatnya. Dia begitu prihatin melihat keadaan Hilwa saat ini. Mungkin tangannya sedang memotong sayuran, tapi pikirannya sedang kacau dan hatinya merasakan kesakitan.


Melihat bagaimana keluarga suaminya, memperlakukan Hilwa seperti itu. Ada rasa iba di hati bi Inah. "Yang sabar ya neng, semua akan ada hikmahnya kok. Jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Tuhan pasti sudah merencanakan sesuatu yang lebih baik untuk kita". Mendengar perkataan bi Inah air mata Hilwa malah jatuh semakin deras. Dia yang sedari tadi menahannya, sekarang tidak bisa lagi untuk membendungnya.


Hilwa menangis tanpa suara, hanya tubuhnya yang bergetar. " Neng jangan begini, nanti di lihat mereka. terus bibi yang di salah hin, udah buat neng Hilwa menangis " ucap bi Inah tersenyum, tapi Tangannya tetap mengusap punggung Hilwa.


Hilwa menoleh, benar. Tidak seharusnya dia seperti ini, dia tidak ingin terlihat rapuh oleh mereka.


* * *


Sikap Reno sejak saat itu, menjadi berubah. Dia yang selalu hangat terhadap istrinya, sekarang terkesan dingin.


Hilwa yang bangun setelah mendengar adzan subuh berkumandang, hendak membangunkan suaminya yang masih tidur terlelap "Kak, kak Reno. bangun kak. sudah adzan, kita sholat dulu yuk !" Hilwa yang terus menggoyangkan tangan suaminya.


Hilwa bernafas dalam " Ya sudah, Hilwa duluan ya, kak " tidak ada jawaban. Hilwa turun dari tempat tidur, bergegas masuk ke kamar mandi.


Brukk. . ."Aawww" teriak Hilwa dari dalam kamar mandi.


Reno yang mendengar itu, langsung membuka mata. Dia mendengar teriakan Hilwa, yang sepertinya terjatuh.


"Kamu kenapa?" Reno yang buru-buru menghampiri Hilwa.


"Hilwa terpeleset, kak. Mungkin karena sisa sabun dari wajah Hilwa. makanya licin ". Hilwa yang merintih kesakitan dan memegang kakinya.


"Lagian kamu. Makanya hati-hati " ucap Reno sambil menggendong tubuh Hilwa, membawanya ke tempat tidur.


"Kak, Hilwa mau sholat. tapi kaki Hilwa sakit. Sepertinya terkilir"


"Ya sudah, kan bisa sambil duduk. aku ambilkan mukena saja ya?"


Hilwa mengangguk. Dia sholat, di tempat tidur.

__ADS_1


Reno pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, dan melaksanakan sholat subuh.


Hilwa mencoba menurunkan kaki nya dari tempat tidur. tapi "Aww "Hilwa malah ambruk dan terduduk di lantai.


Reno yang sudah selesai sholat, segera menangkap tubuh istrinya. "Kamu ini kenapa sih, bukannya diam saja di tempat tidur"


"Tapi kak, Hilwa mau ke dapur, bikin sarapan untuk kak Reno"


"Sudah, biar kakak saja. kamu diam di sini. dari pada kamu jatuh lagi"


Untuk pertama kalinya, Reno pergi ke dapur membuat sarapannya sendiri. karena selama ini dia selalu di layani oleh istrinya.


Terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah. . .


Tok. .tok. . tok


"Ren, Reno. buka pintunya nak" Bu Tika pagi-pagi sudah mengunjungi rumah putranya.


ceklek. . .Reno yang menghampiri ibunya dan membuka pintu.


"Ada apa Bu, pagi-pagi sekali. udah ke sini?"


"Ibu mau nebeng sama kamu. kalau kamu nanti berangkat bekerja. ibu mau ke kota Ren sama kakak kamu".


"Lho sama mbak Anita Bu, kan Reno pake motor "


"Kamu ini, ya pake mobil ayah kamulah" Bu Tika yang melihat Reno memakai celemek. "Lho kamu ngapain Ren, pake celemek kaya gini. kamu masak di dapur? Terus istri kamu mana??" cerocos Bu Tika.


"Di kamar Bu, tadi Hilwa terjatuh di kamar mandi. jadi gak bisa bikin sarapan untuk Reno "


Bu Tika yang buru-buru masuk kamar dan menghampiri Hilwa.


Saat itu Hilwa mendengar obrolan Reno dan ibunya. dia bahagia mendengar langkah ibu mertua mendekati kamarnya, pasti beliau mengkhawatirkannya. pikir Hilwa


"Kamu ini ngapain pake jatuh segala sih, jadi kamu gak bisa layani suami kamu kan. Gara-gara kamu jatuh, Reno jadi bikin sarapannya sendiri. padahal seumur-umur dia belum pernah ibu izinin masuk ke dapur"


Deg. . .


Hilwa terkejut mendengar perkataan ibu mertuanya, tangannya meremas seprai. Dia tidak menyangka ibu mertuanya akan berkata seperti itu, yang tadi Hilwa pikir akan khawatir tentang keadaannya.


Setelah berkata seperti itu, Bu Tika melengos pergi ke dapur untuk membuatkan Reno sarapan.

__ADS_1


Hilwa berkali-kali menahan kesakitan ini. "Ya Tuhan, apa salahku??" Air mata Hilwa pun jatuh membasahi pipinya.


__ADS_2