DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Pamit


__ADS_3

Dipersingkat saja, proses perceraian Hilwa dan Reno berjalan sesuai dengan keinginan pihak Hilwa. Reno sama sekali tidak berkutik ketika Hilwa mengajukan perceraian sampai akhirnya di setujui oleh pengadilan. Mungkin proses perceraian itu tidak dipersulit karena pihak Hilwa tidak meminta harta gono gini dari mantan suaminya.


Tapi tetap saja waktu itu pak Diki dan Ivan berkunjung ke rumah pak Marna atas perintah pak Dedi. "Hilwa. Terimalah pemberian dari ayah mertuamu. Ini bukan dari bagian harta gono-gini, melainkan dari kasih sayang ayah mertuanya kepadamu." ucap pak Diki meminta Hilwa menerima sesuatu yang dia bawa dari kakak laki-lakinya. "Apa ini paman?" tanya Hilwa. "Bukalah nak. Kamu akan tahu isinya." jawab pak Diki.


Seketika mata Hilwa membulat sempurna, "Paman apa ini tidak berlebih-lebihan. Aku tidak pantas mendapatkannya." tolak Hilwa. "Apa kamu akan menolak kasih sayang dari ayah mertuamu, nak?" seru pak Diki. "Iya, ambillah Wa. Ini benar-benar murni dari ayah Reno." paksa Ivan.


"Tidak papa nak, ambillah. Jika kamu menolaknya, mungkin beliau akan tersinggung." tutur pak Marna. "Baiklah kalau itu keinginan ayah Dedi, Hilwa akan menerimanya." ucap Hilwa yang mengambil kotak berwarna merah itu yang isinya satu set perhiasan.


"Dan ini juga. Mungkin tidak banyak, tapi ini bisa kamu pakai untuk kebutuhanmu. Ambillah!" pak Diki juga memberikan amplop yang berisikan uang tunai. "Ini banyak sekali paman. Tolong sampaikan rasa terimakasih ku sama ayah." tutur Hilwa. "Baiklah nak. Paman akan menyampaikannya kepada beliau. Tentu Mas Dedi akan bahagia mendengarnya." sahut pak Diki.


Terdengar suara deru mobil yang masuk ke halaman rumahnya. Tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah. "Assalamu'alaikum" ucap seseorang di balik pintu. "Wa'alaikum salam" jawab semua orang serempak. Hilwa yang berinisiatif membukanya. Dan pintu pun terbuka, sosok laki-laki yang sekarang ini sering datang ke rumahnya untuk membantu proses perceraian. "Mas Andre, masuk Mas" ajak Hilwa.


Pak Diki dan Ivan tentu saja terkejut, kenapa laki-laki ini selalu saja ada di tengah-tengah keluarga pak Marna. Siapa dia dan ada hubungan apa dengan keluarga Hilwa. "Duduklah nak Andre. Kebetulan kami juga sedang kedatangan tamu." seru pak Marna.

__ADS_1


Saat Andre terduduk di kursi. Matanya melihat sekilas barang-barang yang tergeletak di atas meja. "Apa itu? apa sebuah perhiasan dan ada amplop juga. Apa jangan-jangan laki-laki ini sudah melamar Hilwa!. Ahhh sial. Apa aku kalah cepat dengannya." ucap Andre dalam hati dengan semua prasangkanya.


Kini hatinya menjadi gelisah. Dia merasa sudah kalah sebelum menyerang. Belum apa-apa pujaan hatinya sudah di dipersunting laki-laki lain. "Kalau begitu kami pamit saja Hilwa, pak Marna. Masih ada sesuatu yang harus kami selesaikan sebelum kami pergi meninggalkan kota ini lagi." pamit pak Diki.


"Kapan paman pergi?" tanya Hilwa. "Insyaallah besok, Wa. Kamu jaga kesehatan, paman doakan semoga kamu menemukan kebahagiaan setelah ini." ucap pak Diki tulus. "Terimakasih paman. Paman juga semoga selamat sampai tujuan." ucap Hilwa. "Aamiin."


"Hilwa, tapi tidak papa kan, kalau kakak sering berkunjung kesini?" ucap Ivan memberanikan diri. Semua orang pun tersenyum kecuali Andre. "Tidak papa kak. Hilwa akan senang siapapun yang ingin tetap bersilaturahmi dengan Hilwa." ucapnya dengan tersenyum. Melihat senyum yang merekah dari bibir Ivan, Andre merasa kesal sendiri. Dia ingin sekali bilang, jangan mengganggu gadis incaran ku. Tapi apalah daya, dia hanya bisa mengucapkannya di dalam hati.


Pak Diki dan Ivan pun sudah pergi dari rumah pak Marna.


Hah syukurlah!, aku kira tadi-, hihi aku sudah berburuk sangka. seru Andre dalam hati tanpa sadar dia menyunggingkan bibirnya.


"Kapan Mas Andre berangkat?" tanya Hilwa. "Sepertinya sore nanti. Tapi Mas akan sering datang kesini kok. Karena urusan Mas disini belum selesai. Hanya saja ayah dan ibu sudah menyuruh Mas untuk cepat-cepat pulang. hehe" ucap Andre tanpa di minta. "Baiklah Mas. hati-hati di jalan dan salam untuk ayah dan ibu, Maaf karena selama ini sudah merepotkan Mas Andre." tutur Hilwa.

__ADS_1


Ada perasaan yang membuncah saat Hilwa mengucapkan salam untuk kedua orang tuanya. "Mas ingin segera memperkenalkan mu kepada mereka, Wa. Mungkin ayah dan ibu akan sangat bahagia." tentu itu di ucapkan Andre hanya dalam hati


"Iya, bapak sangat berterimakasih nak Andre. Jika bukan karena nak Andre, tentu bapak tidak bisa melakukan apa-apa." ucap pak Marna tulus. "Sama-sama pak, saya juga senang bisa membantu bapak dan Hilwa. Kalau begitu saya pamit pak" ucap Andre yang bersalaman dengan pak Marna dan Hilwa.


* * *


Kini beralih ke kehidupan Reno setelah salah satu istrinya sudah bisa melepaskan diri, sah secara hukum dan agama. "Aku sudah benar-benar tidak bisa memilikimu lagi Wa. Bodohnya aku yang selama ini sudah menyia-nyiakan istri seperti kamu. Entah sampai kapan aku bisa melupakan kenangan indah kita bersama dan menghilangkan rasa cinta ini, Hilwa." gumam Reno di tengah kesendiriannya.


Sejak saat itu sifat Reno menjadi dingin. Dia jarang sekali berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan kepada Stefani pun dia jadi cuek, tidak ada lagi kehangatan darinya. "Kak, ada apa denganmu, kepada kamu jadi seperti ini. Kamu bahkan tidak pernah lagi memperhatikan bayi yang ada dalam kandunganku. hiks" keluh Stefani yang terisak.


Sebentar lagi Stefani akan melahirkan bayinya. Tapi makin kesini dia merasa semua orang sudah tidak lagi menginginkannya. "Apa aku kembali saja dan meminta maaf kepada mamah dan papah. Apa mungkin mereka akan memaafkan dan menerimaku kembali." ucap Stefani. Sejak saat itu dia belum bertemu dengan kedua orangtuanya.


"Anita, kenapa ibu malah merindukan Hilwa ya akhir-akhir ini. Apa mungkin ini karma untuk ibu karena sudah menyakitinya selama ini. Jika ibu menemuinya, apa Hilwa akan menyambut ibu?" tanya Bu Tika kepada putrinya. "Entahlah Bu. aku bahkan tidak berani untuk menemuinya lagi. Apalagi kalau Hilwa menikah lagi, mungkin kita tidak akan bisa bertemu dengannya lagi." sahut Anita.

__ADS_1


Deg!


Reno yang ingin menghampiri mereka terhenti karena mendengar perkataan kakak perempuannya. Ya benar. Bagaimana kalau Hilwa menikah lagi, apa dirinya akan baik-baik saja. "Hilwa apa aku akan sanggup melihatmu dimiliki oleh laki-laki lain?" gumam Reno dan kembali lagi ke rumahnya, karena dia sudah tidak mood untuk menghampiri ibu dan kakaknya.


__ADS_2