
Amarah yang saling meledak, membuat kedua laki-laki itu meluapkannya dengan sebuah pukulan. Mereka sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari seorang gadis yang membuat mereka berkelahi sampai seperti ini.
Hingga para ayahnya yang harus turun tangan untuk melerai putra mereka masing-masing. "Apa-apa kalian ini. Hentikan! kalian sudah bukan anak kecil lagi." ucap pak Indra yang memegang tubuh Andre, dan pak Dedi yang memegang Reno.
Sedangkan para ibu hanya meringis melihat luka lebam yang ada pada wajah putra-putranya. Hilwa hanya bisa menangis melihat dua laki-laki yang menempati ruang hatinya dengan cara yang berbeda sedang saling serang.
"Apa yang membuat kalian berkelahi seperti ini?" tanya pak Dedi. Tapi Andre mau pun Reno tidak ada yang mau membuka mulut. Mereka hanya saling tatap tajam seperti ingin menerkam mangsanya.
"Pasti kamu kan Hilwa, yang membuat mereka berkelahi seperti ini." ujar Bu Tika. Tentu semua orang terkejut mendengar penuturan Bu Tika, apalagi Bu Eva yang sama sekali tidak tahu tentang situasinya.
"Apa maksud anda Bu, kenapa anda malah menyalahkan calon menantu saya." ucap Bu Eva membela Hilwa. "Hoho jadi benar, kalau Hilwa ini sekarang calon menantu anda. Tidak saya sangka anda mengambil gadis bekas putra saya untuk di nikahi oleh putra anda." ketus Bu Tika.
Deg!
Apa yang dia maksud? Hilwa bekas putranya, apa maksudnya ini. batin Bu Eva, dia menatap semua orang yang sama sekali tidak terlihat terkejut.
"Andre, apa kamu melewatkan sesuatu yang tidak ibu tahu?" tanya Bu Eva kini menatap putranya. "Oh ya ampun, apa aku tidak pernah bilang kalau Hilwa pernah menikah sebelumnya." sahut Andre, yang menyadari kekeliruannya.
"Andre! kenapa kamu tidak menyebutkan hal sebesar ini sama ibu. Benar-benar kamu yah." geram Bu Eva. "Bu, tolong jangan salah paham dulu. Andre sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan nya. Dan Andre kira ibu sudah tahu dari ayah." timpal Andre.
"Ayah juga sudah tahu semuanya? kalian menganggap ibu apa? kenapa hal sebesar ini ibu bisa tidak tahu." ucapnya menahan amarah. "Bu, ayah juga lupa. Ayah kira Andre sudah memberitahu ibu semuanya." sahut pak Indra.
__ADS_1
Oh, jadi kalian sudah di tipu sama si Hilwa ini. Haha, tidak salah aku datang kesini. Kemungkinan besar, Bu Eva tidak akan merestui hubungan putranya dengan Hilwa. Heum enak saja, dia bakalan hidup enak kalau benar jadi menantunya pak Indra, sedangkan Reno putraku hidupnya tersiksa selama ini. batin Bu Tika bersorak.
"Bu, kenapa ibu mempermasalahkan masalah ini. Bukankah tidak penting bukan, status apapun itu. Yang penting Andre sangat mencintainya. Dan ibu pun sangat menyayanginya, bukan?" ujar Andre menenangkan ibunya.
"Tapi tetap saja kalian sudah meremehkan ibu. Ibu tidak terima." sergah Bu Eva, yang menepis tangan putranya. "Bu, ayolah. Kita sudah sangat tau karakter Hilwa seperti apa. Masalah statusnya, ayah juga tidak pernah mempermasalahkannya." pak Indra pun ikut menimpali.
Waduh bisa gawat ini. Sepertinya Bu Eva akan luluh. batin Bu Tika. "Anda sepertinya juga belum tahu bukan. Kalau kami membuang Hilwa karena dia tidak bisa memberikan keturunan untuk Reno. Dia gadis yang mempunyai rahim yang kosong." seru Bu Tika secara gamblang.
Deg!
"Bu, kenapa ibu tega mengucapkan kata itu lagi. Apa selama ini ibu belum puas menyebutkan kata itu." lirih Hilwa berucap, kini matanya mulai mengembun.
"Memang benar kan. Emang ada yang salah dengan ucapan ku. Kamu memang wanita mandul." sarkas Bu Tika. "Bu! jangan katakan apapun yang akan memperkeruh suasana. Sebaiknya kita pergi saja." ajak pak Dedi, menatap tajam kepada istrinya.
"Ibu! sudah cukup. Hilwa memang tidak bisa memberikanku keturunan, tapi dia istri yang baik selama ini. Dan aku pun masih sangat mencintainya. Jadi, Reno mohon jangan katakan apapun lagi" timpal Reno, diapun sama geramnya.
"Hentikan! kenapa kalian malah ikut mempermasalahkan ini. Sebaiknya kalian pergi dari sini, biar kami yang akan mengurus permasalahan ini." teriak Bu Eva, menyela pembicaraan mereka.
Sedangkan Hilwa hanya menangis dia mundur beberapa langkah. Sampai akhirnya terduduk di lantai, karena kakinya lemas seketika. "Aku sudah pernah bilang. Aku tidak pantas untuk siapapun. Aku tidak berhak di miliki oleh laki-laki manapun. Aku wanita cacat, aku tidak sempurna." lirihnya, dengan air mata yang meluncur deras di pipinya.
Andre dan Reno berlomba menghampiri Hilwa yang sedang terduduk di lantai. Tapi sepertinya Reno kalah cepat, karena Andre lah yang lebih dulu menggenggam tangan Hilwa. "Tidak sayang jangan pernah katakan itu. Kamu sempurna, kamu sangat pantas untukku. Mas sudah bilang, akan menerima kamu apa adanya. Dan Mas tidak akan pernah mengingkari janji itu sampai kapanpun." ucap Andre menenangkan.
__ADS_1
"Tidak Mas. Kamu berhak memilih wanita lain yang pantas untukmu. Jangan pernah membodohi takdir, aku tidak bisa memberikanmu keturunan. Dan kamu akan menyesal nantinya." sahut Hilwa lirih.
"Tidak sayang, jangan katakan itu. Aku bisa gila jika tidak bisa memiliki kamu." sanggah Andre, diapun ikut meneteskan air mata.
Kini Andre berdiri dan menghampiri ibunya. "Bu, jika bukan Hilwa, tidak akan ada lagi wanita yang bisa menggetarkan hatiku. Ibu tahu itu bukan. Aku akan tetap menikahinya." ujar Andre lirih dan berlutut di hadapan ibunya.
Bu Eva pun tersenyum melihat keseriusan putranya. "Bangunlah nak. Apa kamu mengira ibu akan melepaskan Hilwa begitu saja. Dia gadis yang baik dan kamu sangat mencintainya. Itu sudah cukup untuk ibu." sahut Bu Eva tersenyum hangat dan membantu Andre untuk berdiri.
"Benarkah Bu, ibu akan tetap merestui hubungan kami?" tanya Andre memastikan. "Tentu Ndre, karena kebahagiaan kamu yang terpenting. Jika kamu bisa menerima Hilwa apa adanya, kenapa kami tidak." jawab bu Eva. "Terimakasih Bu, ibu memang ibu yang tebaik. Andre selalu sayang sama ibu." ujar Andre tersenyum sumringah dan memeluk ibunya.
"Bangunlah nak, jangan pernah katakan seperti itu lagi. Apalagi itu sesuatu yang buruk, berbahagialah karena kami akan menerima kamu apa adanya." ucap pak Indra yang membantu Hilwa berdiri. "Terimakasih ayah" sahut Hilwa dan menangis dalam pelukan pak Indra.
Pak Dedi pun menghampiri mereka. "Ayah sangat bahagia, akhirnya kamu bisa menemukan keluarga yang baik dan bisa menerima kamu, Hilwa. Ayah sungguh bahagia." ujarnya yang mengusap pucuk kepala Hilwa yang tertutup hijab. Beliau pun tidak kuasa menahan haru.
Hilwa hanya mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Terimakasih Tuhan, Engkau sudah memberikan orang-orang baik di sekelilingku. Batin Hilwa berucap.
Sedangkan Reno dan Bu Tika hanya termangu melihat Hilwa begitu di sayangi oleh keluarga Andre. Mereka tidak menyangka kalau orangtua Andre bisa menerima kekurangan Hilwa. "Coba ibu bisa seperti ibunya Andre, pasti saat ini aku masih jadi suami Hilwa. Jika mereka bisa menyayangimu dengan tulus, kakak akan merelakan mu Hilwa. Semoga kamu tidak pernah mendapatkan penderitaan lagi setelah ini." ucap Reno dalam hati. Kini dia menatap nanar mantan istrinya, dia merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa kembali kepadanya.
"Bu Eva. Apa anda tidak akan menyesal, jika Hilwa tidak bisa memberikan keturunan untuk putramu. Dan selamanya anda tidak bisa menimang cucu." seru Bu Tika yang masih tidak setuju dengan keputusan mereka.
Bu Eva menjawabnya dengan senyuman tipis, "Bu Tika, bagiku yang terpenting adalah kebahagiaan Andre. Jika dia bahagia memiliki Hilwa, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya doa dan dorongan yang bisa kami lakukan. Hilwa gadis yang baik dan putraku sangat mencintainya, itu sudah cukup bagi kami. Soal keturunan biar mereka menjalani takdirnya sendiri. Masih banyak jalan yang bisa kita usahakan, bukan. Dengan pengobatan atau mengadopsi seorang anakpun kami tidak akan pernah mempermasalahkannya. Asalkan mereka bahagia." sahut Bu Eva panjang lebar. Dia mengutarakan isi hatinya dengan tulus.
__ADS_1
Bu Tika pun tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Jawaban Bu Eva sangat berbanding terbalik dengan prinsipnya. Semua yang Bu Eva ucapkan saat menohok hatinya. Sehingga dia malu dan tersadar bahwa selama ini, dia memang egois. Memaksa putranya untuk segera memberikannya cucu, sampai kehancuran rumahtangga Reno pun tidak bisa mereka perbaiki lagi.