DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Memulai hubungan terlarang


__ADS_3

Reno mencoba mendekati ibunya dan mencoba menenangkannya.


Dia lupa bahwa istrinya pun sedang terluka. Bahkan lebih sakit, dari yang ibunya alami.


"Tenang Bu, ibu jangan seperti ini. Nggak baik untuk kesehatan ibu" ucap Reno lirih


"Reno, kamu sayang kan, sama ibu? kamu putra ibu satu-satunya, kamu harus bahagia, nak!" Bu Tika mencoba memeluk putranya.


"Reno sangat menyayangi ibu, Reno pasti akan bahagia Bu. Ibu jangan seperti ini, aku mohon!" bujuk Reno


"Kamu mau kan, memberikan ibu cucu. Kamu harus mempunyai keturunan, nak. Kamu harus mempunyai masa depan dengan anak-anak mu." kekeuh Bu Tika, mencoba menyadarkan putranya.


"Iya Bu, aku janji akan bahagia dan mempunyai anak. Jadi ibu jangan khawatir lagi." ucap Reno akhirnya.


"Sekarang ibu berdiri, kita ke kamar yah?" ajak Anita, dia pun merasa kasihan melihat ibunya terus menangis.


"Kamu sudah berjanji sama ibu, nak. Kamu harus bahagia, kamu harus mempunyai keturunan." ucap Bu Tika lagi sebelum dia memasuki kamarnya.


"Sabar ya kak" tepukan lembut stefani di bahu Reno, menyadarkan dari lamunannya.


"Maaf yah, kamu harus melihat kejadian ini." ucap Reno tidak enak hati, permasalahan keluarga nya di ketahui Stefani.


"Tidak papa kak, aku bisa mengerti, apa yang ibu minta." ucap Stefani sehalus mungkin.


Saat Stefani masih berada di dalam rumah, hujan turun dengan sangat deras, bahkan suara petir pun saling bersahut, menambah kesan pilu dari mereka yang menangisi kesedihannya.


"Kak, sebentar lagi hari akan gelap. Aku harus segera pulang." ucap Stefani


"Kak Reno mau nggak, nganterin aku pulang. Aku takut sama petir kak." ucap Stefani ragu


Reno terdiam, dia sedikit berpikir. "Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi kamu bawa mobil sendiri kan?"


Stefani pun mengangguk "kak Reno boleh membawa mobilku jika pulang nanti."


"Ya sudah, ayo."


Sepanjang perjalanan, Reno tidak hentinya merutuki kebodohannya. Kenapa dia bisa mengantarkan Stefani dan mengabaikan keadaan Hilwa.


Ah, sudahlah! Sudah terlanjur ini. batinnya


Reno melajukan mobil dengan sangat lambat. Karena hujan yang terus mengguyur, sehingga jarak pandangnya sedikit terganggu.


Sampai tiba di rumah Stefani, hari sudah benar-benar gelap. Bukan karena hujan saja, tapi karena malam sudah tiba.


"Masuk dulu kak, aku akan buatkan teh hangat. Sambil nunggu hujannya mereda." ajak Stefani

__ADS_1


Reno pun tidak berpikir panjang, langsung menuruti permintaan Stefani.


"Rumah kamu sepi sekali, orangtuamu kemana?"


"Mamah dan papah lagi ke luar kota kak, sudah beberapa hari ini, aku di rumah sendirian."


Reno hanya manggut-manggut saja.


"Aku buatin minuman hangat dulu ya, kak" Stefani bergegas pergi ke dapur


Tidak lama dia pun kembali, membawa dua cangkir teh hangat.


"Di minum kak, mudah-mudahan bisa menghangatkan tubuh kak Reno."


Pikiran Reno yang tidak fokus, dia malah menumpahkan teh ke baju serta celananya.


"Hati-hati kak!"ucap Stefani khawatir


"Pasti panas" dia melihat Reno mengibaskan baju serta celananya.


"Biar aku buka, kak" Stefani yang hendak membuka kemeja yang di pakai Reno


grep. . .tangan Reno menghadang tangan Stefani, "Biar aku saja." Reno pun membuka kemeja yang melekat pada tubuhnya.


Aahh, kak Reno, bisa gila aku, kalau tidak bisa mendapatkan mu. ucapnya dalam hati


Dengan tidak tahu malunya, Stefani duduk di pangkuan Reno dan mencoba menabrakkan bibirnya ke bibir Reno.


Reno terhenyak dengan sikap Stefani, "apa-apaan kamu?" bentak Reno, dan menjatuhkan tubuh Stefani ke sudut kursi.


"Kak, aku masih sangat mencintai kak Reno. Jadi aku mohon jangan tolak aku" Stefani yang memelas


"Jangan gila, kamu. Aku sudah mempunyai istri."


"Istri yang tidak bisa memberikanmu keturunan? istri yang sudah membuat ibumu menderita?, itu yang kamu sebut istri kak?" cercau Stefani


"Aku bisa memberikanmu keturunan, seperti yang ibu mau" ucap Stefani lantang


"Apa maksud kamu?" Reno tidak mengerti apa yang Stefani maksud


"Aku bersedia bermain di belakang istrimu, sampai aku bisa memberikan mu keturunan." ucap Stefani tanpa ragu


"Tanpa status?"


"Iya, tanpa status. Bukankah, kamu juga penasaran bukan. Siapa di antara kalian yang tidak bisa mempunyai anak"

__ADS_1


"Aku bersedia, menjadi alat percobaanmu. Tapi jika suatu saat, aku bisa mengandung benihmu. Aku akan meminta status yang jelas." ucap Stefani panjang lebar, meyakinkan Reno agar tidak menolaknya lagi.


Tampak Reno berpikir "Baiklah, ini demi keinginan ibuku. Aku akan mencobanya denganmu."


Tanpa berpikir panjang lagi, Reno langsung menabrakkan tubuhnya menindih tubuh Stefani.


Di tengah guyuran hujan yang deras di luar sana, ada sepasang manusia yang sedang menghangatkan tubuhnya dengan cara yang salah.


Mereka telah memulai hubungan yang terlarang. Akibat dorongan dari ibunya, Reno secara tidak sadar sudah menggantungkan nasib rumah tangganya dengan Hilwa.


Jika suatu saat, hubungan mereka terungkap. Sudah pasti, hubungan antara Reno dan Hilwa akan hancur berkeping-keping.


Entah, benih Reno akan tumbuh atau tidak, tapi yang jelas mereka sudah melakukan hubungan yang akan merugikan mereka.


* * *


Di sebuah kamar yang gelap dan sunyi, seorang wanita sedang meringkuk seorang diri di tempat tidur.


Hawa dingin karena hujan yang terus mengguyur, tidak membuat wanita itu terusik dari Isak tangisnya. Bahkan untuk sekedar menyelimuti dirinya pun, tidak ia lakukan.


Hatinya yang hancur, membuat dia kebal akan suasana di sekelilingnya.


Lampu rumah masih padam semua, dia pun tidak sempat menyalakan saklar lampu, walaupun hari sudah malam. Jika ada seseorang yang melewati rumahnya, mereka akan menyangka rumah itu tidak berpenghuni.


Hilwa yang sejak pergi dari rumah mertuanya, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Menangis meraung meratapi nasibnya, bahkan dia memanggil-manggil nama ayah ibunya.


"Bapak, ibu. . .tolong Hilwa. Sakit sekali Bu, pak! raungnya


Bukan sakit fisik yang Hilwa maksud, tapi batin yang terus tergores oleh ucapan ibu mertuanya.


"Bukan salahku, jika aku tidak bisa memberikan anak. " ucap Hilwa lirih dengan tubuh yang bergetar.


"Aku juga mau seorang anak di tengah-tengah kita, kak, Bu!"


"Bukan salahku jika rahimku kosong !"


Untung saja suara derasnya hujan meredam suara Hilwa yang meraung. Jika tidak semua orang akan mendengar suaranya yang getir.


Kenapa di saat seperti ini, tidak ada seorangpun yang menemaninya. Bahkan suaminya, tidak datang untuk menenangkannya.


Sampai tengah malam, Reno tidak juga pulang.


Kemana dia sebenarnya, apa dia sudah tidak perduli dengan ku?, batin Hilwa bertanya


Apa aku sudah melukai hatinya juga, dengan sikapku yang berani melawan ibu nya?, hanya itu yang ada dalam pikiran Hilwa saat ini.

__ADS_1


__ADS_2