DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Ajakan Andre


__ADS_3

Kini Andre sudah kembali ke rumahnya. Memulai aktivitasnya kembali mengurus beberapa perusahaan. Awalnya memang perusahaan itu di turunkan dari ayahnya. Tapi berkat kemampuan dan kerja kerasnya, Andre mampu mengembangkannya dengan sangat maju dan memiliki beberapa cabang perusahaan di kota-kota lain.


Saking tekun nya dia dalam bekerja, sehingga tidak menyempatkan waktu untuk sekedar bergaul ataupun mencari calon istri di usianya yang sudah menginjak kepala tiga. Karena itulah orangtua Andre sangat mencemaskan putra satu-satunya itu. Mereka sangat takut, jika Andre terlalu kelamaan untuk menemukan calon istri dan akhirnya malah tidak mau untuk menikah.


Sudah beberapa wanita yang di kenalkan oleh ibunya tapi tetap saja dia selalu menolak, dengan alasan tidak sesuai dengan tipenya. "Memang perempuan seperti apa sih yang kamu inginkan itu, Dre?" itulah yang selalu Bu Eva ucapkan ketika Andre selalu menolak perempuan yang di kenalkan olehnya.


Kini orangtua Andre melihat gelagat yang berbeda dari putra satu-satunya itu. Karena semenjak dia pulang dari luar kota, dia lebih terlihat bahagia. Bahkan di tengah lamunannya dia selalu senyam-senyum sendiri. "Ayah, lihatlah putramu. Ada apa dengannya, kenapa dia jadi sering senyum-senyum sendiri sih. Kok ibu jadi takut ya, apa jangan-jangan-" ucap Bu Eva menggantung. "Jangan berpikiran yang aneh-aneh Bu, mungkin dia menemukan gadis disana. Dan dia mulai merasakan jatuh cinta. Bukankah gelagat seperti itu teringat sewaktu kita masih muda. Kasmaran gitu, Bu." ucap pak Indra menjelaskan.


"Benarkah yah. Kalau benar seperti itu, ibu bahagia sekali. Ibu jadi tidak sabar ingin melihat perempuan yang bisa menaklukkan hatinya. Seperti apa dia, bisa menaklukkan hati yang keras itu." ujar bu Eva penasaran. "Kita tunggu saja Bu, biar Andre sendiri yang bicara terus terang sama kita." sahut pak Indra. "Duh ibu udah nggak sabar, gatel banget ni bibir pengen nanya langsung sama Andre" cerocos Bu Eva. "Sabar donk Bu. Karena belum tentu juga kan, Andre mempunyai pacar. Itu baru dugaan ayah saja." ujar pak Indra menenangkan. "Iya-iya. ibu akan sabar kok." sahutnya sambil melengos.


Pak Indra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang absurd.


Pagi itu saat sarapan.

__ADS_1


"Eum Bu. Bukankah ibu pernah bilang kalau ibu membutuhkan seorang pegawai di butik ibu, apa ibu sudah menemukan orangnya?" ucap Andre ragu sebenarnya. "Belum memangnya kenapa?, tumben kamu bertanya seperti itu." sahut Bu Eva. "Andre punya teman, mungkin dia bersedia untuk membantu ibu di butik." ucap Andre lagi. Kening Bu Eva mengkerut, "jangan ngaco kamu. Itu butik khusus pakaian perempuan, masa teman kamu menjadi pegawai di butik ibu sih" Sahut pak Eva. Andre dan pak Indra nampak menepuk keningnya bersamaan.


"Teman Andre itu perempuan Bu. Andre juga tahu, butik ibu itu khusus untuk perempuan." ujar Andre. "Ya sudah kalau begitu, kalau bisa yang berhijab yah. Soalnya ibu membutuhkan untuk menjaga butik ibu di pakaian khusus hijab. Kalau untuk pakai biasa ibu sudah ada." sahut Bu Eva lagi. Hah syukurlah! sepertinya Hilwa memang cocok untuk menjadi pegawai di butik ibu. Semoga Hilwa mau. Batin Andre


Ya, setelah semalam Andre berpikir, bagaimana caranya untuk membuat dirinya cepat pendekatan dengan Hilwa. Dia tidak mau kalah cepat dengan siapapun. Karena yang dia inginkan untuk menjadi istrinya, hanya Hilwa seorang.


"Sejak kapan kamu mempunyai teman perempuan, bukan perempuan jadi-jadian kan?" celetuk Bu Eva. "Ibu yang benar saja. Ibu kira Andre cowok apakah?, eh apaan maksudnya." sergah Andre. "Ya siapa tahu kan, kamu kan belum pernah bergaul sama sekali." ucap Bu Eva acuh. "Hihihi" pak Indra nampak mentertawakan ekspresi putranya yang memelas karena menahan amarahnya. Memang pak Indra selalu saja terhibur karena sifat istrinya yang menurutnya beda dengan wanita lain. Dan putranya selalu menjadi korban karena kepolosan ibunya.


"Ya sudah Andre akan buktikan kalau teman Andre itu perempuan beneran bukan jadi-jadian. Ibu pasti menyukainya." ujar Andre akhirnya. "Ya sudah, ibu juga tidak sabar ingin melihatnya." sahut Bu Eva yang tetap menyuapkan makanannya ke mulut. Hingga sarapan pun selesai, Andre pamit untuk berangkat ke perusahaan.


* * *


Saat Hilwa mendapat pesan dari Andre, dia nampak termenung. "Mas Andre mengajak ku untuk bekerja di butik ibunya. Aku harus membicarakan ini kepada bapak dan ibu dulu." gumamnya dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Saat ini pak Marna dan Bu Tini sedang duduk di teras rumah. "Pak, Bu ada yang ingin Hilwa ucapkan." Hilwa saat ini sudah duduk di samping orangtuanya. "Katakanlah nak. Apa yang ingin kamu sampaikan." ucap pak Marna. Hilwa nampak menarik nafasnya perlahan, "Mas Andre mengajak Hilwa untuk bekerja di butik ibunya, pak. Katanya biar Hilwa mempunyai kegiatan agar tidak jenuh jika di rumah terus. Bagaimana menurut bapak dan ibu?" tanya Hilwa memasrahkan semua keputusannya kepada kedua orangtuanya.


Bu Tini nampak berpikir sejenak. "Kalau ibu sih terserah kamu saja nak. Gimana baiknya untuk kamu. Jika kamu ingin mengikuti ajakan nak Andre ibu setuju saja, karena ibu sudah tahu nak Andre pemuda yang baik." timpal Bu Tini. "Gimana menurut bapak?" tanya Bu Tini kepada suaminya.


"Bapak juga memasrahkan semuanya kepada mu nak. Apa yang membuatmu bahagia, insyaallah bapak akan mendukungnya." timpal pak Marna. "Hilwa memang ingin pak, Bu. Tapi apa tidak papa dengan status Hilwa yang sekarang. Hilwa takut malah terjadi fitnah." ucap Hilwa ragu. "Kami percaya sama nak Andre, dia pasti akan menjaga kamu. Mungkin ini lebih baik, daripada kamu terus-menerus memikirkan mantan suami kamu. Ibu tahu selama ini kamu masih terus memikirkannya, bukan?" ucap bu Tini panjang lebar.


Deg!


Ibu tahu kalau selama ini aku masih memikirkan Kak Reno. Aku pasti sudah sangat mengkhawatirkan mereka. Baiklah, aku akan mengikuti ajakan Mas Andre, siapa tahu aku bisa melupakannya dengan cepat. batin Hilwa


"Kami mengerti memang tidak mudah untuk melupakan kenanganmu dengan mantan suami kamu, nak. Tapi percayalah akan ada takdir lain yang akan menyambut mu. Ibu selalu mendoakan tentang kebahagiaan mu nak. Pergilah jika kamu ingin benar-benar melepaskan kenangan masa lalu itu." ucap Bu Tini lirih.


Ya, bukan tanpa sebab, Bu Tini menyuruh putrinya untuk ikut ajakan Andre. Karena selama ini dia melihat Hilwa terlihat murung. Dia hanya takut putrinya, terus-terusan terperangkap oleh kenangan masa lalunya.

__ADS_1


Saat itu juga Hilwa langsung membalas ajakan Andre. Karena dia sudah menyetujui untuk bekerja di butik ibunya.


"Akhirnya, aku akan semakin dekat dengan Hilwa. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kita kedepannya." gumam Andre sesaat setelah menerima balasan dari Hilwa.


__ADS_2