
Acara yang di selenggarakan setiap satu kali dalam setahun itu sudah selesai. Biasanya pada bulan ini, memang banyak sekali orang-orang dermawan menyisihkan sebagian hartanya untuk beramal.
Melihat senyuman yang mengembang di wajah anak-anak yang sudah tidak mempunyai orangtua itu, suatu kebahagiaan tersendiri yang membuat mereka ingin lagi dan lagi menyisihkan sebagian rezeki yang telah mereka terima.
Memang seharusnya begitu, jangan ada seorang anak yatim/piatu yang kesusahan di sekitar kita. Meski hanya selembar uang atau kebutuhan apapun yang menurut mereka berguna. Anak-anak itu selalu pulang dengan bersukacita, dengan bangga dia bisa memamerkan kepada anggota keluarganya yang lain. bahwa hari ini dia mendapatkan sesuatu yang menurutnya sangat berharga.
"Neng, apa kamu lelah nungguin bapak seharian?" tanya pak Marna yang sudah turun dari atas panggung. Beliau juga tersenyum cerah, sudah menjadi bagian dari acara amal tersebut.
"Tidak sama sekali pak. Bahkan Hilwa malah senang, melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak-anak itu."
Pak Marna pun tersenyum kepada putrinya. "Oh ya, mari bapak kenalkan kepada donatur tetap kita. Beliau yang menjadi penyokong acara amal ini setiap tahunnya, dan ternyata beliau juga pernah sekolah di sini saat kecil dulu." ucap pak Marna antusias, dia begitu bangga kepada seorang pemuda yang sudah lama dia kenal itu.
"Permisi nak, apa sudah mau pulang?" ucap pak Marna yang melihat laki-laki itu berjalan ke luar dari area sekolah
"Eh iya pak. Saya masih ada keperluan. Apa bapak juga sudah mau pulang?" jawabnya ramah
"Iya, berhubungan putri saya sudah lama nungguin nya, jadi saya harus segera pulang."
"Oh ya kenalkan, ini putri saya Hilwa." ucap pak Marna
"Hilwa" ucap Hilwa dengan mengatupkan kedua tangannya di dada
"Andre" laki-laki itu pun sama, mengatupkan kedua tangannya dan tersenyum sangat manis. Aahh! siapapun yang bertemu dengannya, pasti terpesona. Pendiriannya yang kharismatik dan pakaian yang stylist membuat kadar ketampanannya terlihat sempurna.
Tapi tidak dengan Hilwa, sebelum dia mulai lekat ingin memandangnya, dia buru-buru menundukkan kepalanya.
Laki-laki itu begitu tertarik dengan wanita seperti Hilwa ini. Disaat semua wanita, ingin mencoba mendekatinya dan menatapnya dengan pandangan terpesona. Wanita ini malah menundukkan kepalanya. Benar-benar menarik!. gumam Andre
"Kalau begitu bapak permisi dulu nak. Hati-hati di jalan yah." pamit pak Marna dan Hilwa pun menundukkan kepalanya.
Andre begitu terpana melihat kecantikan Hilwa yang tidak biasa. Walaupun tubuhnya di tutupi dengan baju dan hijab, tapi kecantikannya begitu terpancar, sampai bisa menarik perhatian seorang Andre Adijaya.
__ADS_1
* * *
"Pak, Bu! Hilwa pamit yah?" Hilwa berniat untuk pulang ke rumahnya hari ini.
Setelah seminggu dia menunggu suaminya untuk menjemputnya, tapi dia tetap tidak datang. Meski begitu Hilwa tidak ingin menyuruhnya, biarkan semau dia.
Dari situ, orangtua Hilwa pun mulai curiga, apa sebenarnya yang terjadi kepada anak dan menantunya. Apakah hubungan mereka baik-baik saja, setelah Hilwa kembali ke rumahnya.
"Ya sudah hati-hati ya nak." ucap orangtua Hilwa
Selama di perjalanan, Hilwa termenung, apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya. Dia jarang sekali mengabaikannya, apalagi kali ini dia tidak sempat menjenguk ibunya yang sedang sakit. Karena selama ini Reno selalu perhatian kepada keluarganya juga.
Sampai Hilwa tiba di rumah.
Meski matahari belum tenggelam, tapi seharusnya suaminya sudah berada di rumah. Tapi untung saja Hilwa selalu membawa kunci cadangan, jadi dia tidak perlu menunggu suaminya pulang untuk bisa masuk ke rumah.
Saat pertama kali Hilwa membuka pintu, dia begitu terkejut dengan kondisi rumah yang berantakan. Lantainya yang berdebu, sampah di dapur masih berserakan.
Apa sebegitu sibuknya, sampai kak Reno tidak pernah membersihkan rumah. gumam Hilwa
Tanpa mengenal rasa lelah Hilwa pun membersihkan rumah, sebelum suaminya pulang.
Sampai adzan Maghrib berkumandang, Hilwa sudah selesai dan rumah pun kembali bersih dan rapi. Tapi belum ada tanda-tanda suaminya pulang ke rumah.
Hilwa mengambil wudhu dan melaksanakan sholat wajib.
Terdengar suara kendaraan memasuki halamannya, dan pintu depan terbuka. Saat sudah selesai sholat, Reno pun memasuki kamar. "Wa, kamu sudah pulang rupanya." Hanya kata itu yang terucap dari mulutnya. Reno langsung bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hilwa tertegun untuk beberapa saat. Melihat suaminya yang acuh, "ada apa denganmu kak?" hanya pertanyaan itu yang selalu Hilwa ucapkan di dalam hatinya.
Tanpa terlalu berpikir Hilwa keluar dari kamar. Sepertinya kak Reno membawa sesuatu, gumamnya. Dia melihat satu bungkusan makanan dan struk dari sebuah restoran.
__ADS_1
Hilwa termenung melihat deretan makanan yang Reno pesan. kenapa banyak sekali yang kak Reno pesan, dan sepertinya dia tidak makan seorang diri. Hilwa masih bergumam.
Hilwa selalu mencoba membuang pikiran negatifnya, dia akan selalu percaya kepada suaminya. Tanpa berpikir lagi, Hilwa memindahkan makanan itu ke dalam piring, mungkin dia bisa memakannya dengan suaminya nanti.
Reno keluar dari kamar setelah badannya sudah terlihat lebih segar. "Kak! apa kakak ingin memakannya sekarang?" tanya Hilwa yang sudah duduk di kursi meja makan
"Makanlah. kakak sudah makan di luar tadi." Reno berlalu saja, dia pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Meskipun perut Hilwa memang lapar, tapi dia tidak ingin memakan makanan itu. Hatinya merasa gelisah, sehingga rasa laparnya, hilang begitu saja.
Sampai mereka sudah berada di tempat tidur pun, Reno masih tetap acuh. Dia sibuk memainkan ponsel, tanpa melirik istrinya yang berada di sampingnya.
"Kak, apa kakak seminggu ini begitu sibuk?" Hilwa memecah kesunyian di dalam kamarnya.
Reno pun akhirnya menoleh, "iya, kakak sangat sibuk Wa. sampai tidak bisa menjemputmu, maaf ya?" Ada kelegaan di hati Hilwa, meski hanya kata maaf yang di ucapkan suaminya.
"Tidak apa-apa kak, Hilwa ngerti kok. Dan orangtua Hilwa pun memakluminya." Seketika wajah Reno berubah
"Oh ya, bagaimana keadaan ibumu, apa dia sudah sembuh. Kenapa kamu sudah pulang?"
Deg. . .
Apa maksud kak Reno. Apakah dia tidak menginginkanku untuk cepat pulang? batin Hilwa. Dia pikir Reno marah karena dia malah pergi ke rumah orangtua dan meninggalkannya. Tapi sepertinya Reno terlihat baik-baik saja, dan ada ketidaksukaan dari nada bicaranya, saat dirinya pulang ke rumah.
"Ibu sudah sembuh kak. Beliau selalu menanyakan kakak. Apakah kakak baik-baik saja."
"Seperti yang kamu lihat. Kakak baik-baik saja. Ya, walaupun selama kamu tidak ada, kakak selalu makan di luar."
"Maafkan Hilwa kak." ucap Hilwa akhirnya
"Tidak papa. Sudah kamu istirahat saja, mungkin kamu kecapean. Kamu juga sudah membersihkan rumah kan tadi?, kakak tidak sempat membersihkannya seminggu ini." ucap Reno dia pun merebahkan tubuh dan menarik selimutnya.
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa kak Reno tidak seperti biasanya. Apa dia tidak merindukanku? batin Hilwa, dia merasa Reno telah berubah. Suaminya yang selalu berusaha mencumbunya setiap malam, tapi kali ini, setelah seminggu mereka tidak bertemu pun, Reno sama sekali tidak menginginkannya.