
Malam yang semakin merangkak naik.
Reno sudah selesai dengan kegiatannya. Dia berjalan keluar kamar untuk mengambil air minum, agar memulihkan kembali tenaga yang sudah hampir terkuras habis. Dia mengisi gelas dengan penuh, dalam beberapakali tegukan air itupun tandas tanpa sisa. Matanya tidak sengaja melirik benda yang tergeletak di meja. "Bukankah aku tadi meninggalkannya di rumah ayah." Reno mencoba mengingatnya. "Apa jangan-jangan-, ahh sial! apa Hilwa tadi kesini. Dan mendengar ku dengan Stefani-, ahh sial-sial." gumam Reno geram dengan apa yang dia pikirkan. "Aku harus kesana untuk memastikannya." Reno yang kembali masuk ke dalam kamar, ingin memakai kembali pakaiannya yang berserak di lantai. Dia sempat melirik Stefani yang sudah terlelap.
Dia berjalan ke rumah ayahnya, walaupun hawa dingin yang menelisik kulitnya. Setelah sampai di rumah ayahnya. Sebagian orang sudah tidak terlihat lagi. Mungkin sudah memasuki kamar.
"Mau kemana kak?" tanya Amira. Dia sedang mengambil air minum untuk dia bawa ke kamar. "Kak Hilwa sudah tidur. Apa kakak ingin menanyakan handphone. Bukankah tadi kak Hilwa sudah meletakkannya di dalam." tentu saja mata Reno membulat sempurna, itulah yang ingin dia pastikan. Apakah Hilwa masuk ke rumahnya dan mendengar semuanya tadi. "Bagaimana kamu tahu? Apa Hilwa mendengar-" ucapan reno menggantung dia bingung harus bertanya bagaimana. "Iya kak Hilwa, dan aku pun mendengarnya. Gila! nyaring banget suara kalian berdua. Kak Hilwa sampai menutup telingaku. Tapi tetap saja kan aku bisa mendengarnya." ucap Amira secara gamblang.
Ahh sial!, Reno mengusap wajahnya kasar. Dia pun masuk ke kamar untuk memastikan istrinya apa sudah benar-benar tertidur.
Begitu pintu terbuka, dia melihat Hilwa sedang meringkuk di atas tempat tidur. Dia melangkahkan kakinya lebih dalam lagi. Istrinya yang selama 5 tahun menemani malam-malamnya, sekarang untuk tidur pun harus terpisah. Apalagi jika dia benar mendengarnya tadi, sungguh sangat memalukan. Dan pasti dia sudah menorehkan luka lebih dalam lagi. Di usapnya rambut panjang dan hitam pekat yang terburai di kasur. Secara fisik, Hilwa tidak memiliki kekurangan. Wajahnya yang manis, serta lesung pipi yang membuat keunikan di wajah istrinya itu. Serta rambut panjangnya yang selalu tergerai di saat dia tertidur seperti ini. Dan hanya Reno lah yang mengetahui semua bentuk fisik Hilwa yang selalu terbungkus jika sudah berada di luar kamar.
"Maafkan kakak Wa. Kakak tidak bisa menepati janji kakak, untuk bisa menjaga perasaan kamu. Lagi-lagi luka yang sudah aku torehkan di hatimu." gumam Reno lirih. "Sudah kak, mending kakak pulang saja. Lagian kak Hilwa tidak bisa mendengarnya. Dan aku pun sudah mengantuk." timpal Amira lirih yang baru memasuki kamar. "Ya sudah, kakak akan pulang sekarang. Besok kakak akan kesini lagi untuk menjelaskan semuanya." pungkas Reno dan berlalu dari kamar kedua gadis itu. "Ih apa yang harus di jelasin coba, jelas-jelas kami sudah mendengar suara lak*nat itu." sungut Amira setelah melihat Reno keluar dari kamarnya.
* * *
Ternyata pagi-pagi Reno tidak sempat bertemu dengan Hilwa. Karena setelah sarapan istrinya sudah tidak ada di rumah Ayahnya. Seperti biasa Reno selalu saja bangun kesiangan. Karena semalam dia tidak bisa tertidur.
Saat itu waktu siang menjelang sore. Hilwa dan ayah mertuanya beserta pak Diki dan Amira sedang berkeliling di sekitar kolam peternakan ikan milik pak Dedi.
__ADS_1
"Wah, usaha peternakan ikan Mas sangat pesat ya. Dulu hanya beberapa kolam saja, tapi sekarang sudah banyak seperti ini." puji pak Diki. "Iya, Alhamdulillah. Semua ini berkat kerja keras kita. Percayalah jika kita bersungguh-sungguh dengan apa yang sedang kita tekuni, maka hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha" ucap pak Dedi bijak. "Betul itu Mas." pak Diki sangat setuju dengan apa yang di ucapkan kakak laki-lakinya.
Sementara Hilwa dan Amira hanya menyimak obrolan para orangtua itu, yang sesekali matanya menatap ikan-ikan yang berenang bebas kesana kemari dengan segerombolan nya.
"Sepertinya akan turun hujan Mas. Apa sebaiknya kita pulang saja." seru pak Diki. "Ya sudah kita pulang sekarang." Dan memang benar, saat ini awan tiba-tiba berubah hitam pekat. Langit pun yang tadinya cerah, kini berubah menjadi gelap. Keempat orang itu meninggalkan area peternakan ikan untuk pulang ke rumahnya.
* * *
"Maaf Bu, Tante. Sepertinya air di kamarku sedang bermasalah. Aku ingin membersihkan diri, apa ada kamar mandi lain yang kosong?" tanya Ivan, kepada ibunya dan Bu Tika yang sedang duduk di kursi teras. "Amira dan Hilwa sedang tidak ada di rumah. Kamu boleh menggunakan kamar mandinya jika mau." sahut Bu Tika. "Ya sudah Tante, aku akan membersihkan diri di kamar itu saja." ucap Ivan dan berlalu dari hadapan mereka.
Ivan memasuki kamar kedua gadis itu dan memang benar sepi. Dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Hilwa langsung masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Karena kepalanya benar-benar pusing. Saat suara gemericik air di dalam kamar mandinya terdengar, Hilwa sudah lebih dulu memejamkan matanya.
Reno yang baru saja pulang kerja, langsung menghampiri rumah ayahnya. Orang yang dia tuju sekarang adalah istrinya yang sejak kemarin ingin dia temui. Rasa rindunya sudah tidak bisa dia bendung lagi. Ingin sekali dia memeluk bahkan melampiaskan hasrat kepada istri pertamanya itu. Mumpung Stefani tidak bersamanya saat ini.
Reno melewati begitu saja semua orang yang sedang duduk di kursi teras. Dia langsung berlalu ke kamar Hilwa. Kesempatan yang baik, pikirnya. Mumpung semua orang sedang berada di luar.
Tapi apa yang dia lihat setelah memasuki kamar Hilwa, cukup membuat darahnya mendidih.
__ADS_1
Dia melihat Ivan yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang saja. Dan matanya melirik tempat tidur dimana istrinya sedang tergeletak di atas kasur.
"Kurang ajar!" tanpa berpikir panjang, Reno langsung menyerang Ivan dengan sangat brutal.
Bugh, bugh, bugh. . . suara pukulan Reno mendarat di wajah Ivan.
Yang di pukul tentu saja tidak bisa menghindar karena Reno tanpa ancang-ancang dan tanpa ada sebab yang pasti, dia langsung menyerang Ivan yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Apa-apaan ini. Kenapa kau memukulku breng*sek!" seru Ivan tidak terima. "Apa yang kau lakukan di kamar istriku?" Reno malah bertanya dan terus menyerang lawannya. "Apa kamu tidak lihat, aku baru saja habis mandi." ucapan Ivan tidak membuat amarah Reno mereda. "Kurang ajar! kamu sudah menggoda istriku?" sergah Reno.
Hilwa yang baru saja memejamkan matanya terusik. Dan betapa terkejutnya dia melihat dua orang sedang berkelahi di dalam kamarnya. "Apa-apaan ini, Kak. tolong lepaskan kak Ivan." Hilwa berusaha melerai kedua laki-laki itu. Reno yang menindih tubuh Ivan dan mengunci pergerakannya.
"Jangan ikut campur Hilwa. Kamu pun sama breng*sek nya seperti dia." bentak Reno dan mendorong tubuh Hilwa sampai terjungkal dan membentur penyangga tempat tidur. "Aww!" pekik Hilwa meringis.
Reno tidak menghiraukan pekikan Hilwa yang meringis. Dia ingin meluapkan amarah yang sudah menggunung di hatinya. Karena Ivan sejak kemarin selalu berusaha mendekati Hilwa dan sekarang dia memergoki laki-laki ini sedang berduaan di kamar bersama istrinya.
"Ada apa ini?, Reno! lepaskan Ivan." perintah pak Dedi. Semua orang sudah berada di kamar Hilwa. Karena mereka mendengar suara keributan dan langsung menghampiri sumber suara.
Pak Dedi dan pak Diki mencoba melerai putranya masing-masing. "Ada apa kalian ini. Kenapa malah ribut dan saling pukul kaya gini." tanya pak Diki.
__ADS_1
"Dia sudah menggoda istriku." ujar Reno yang berhasil membuat semua orang terkejut dengan mulut yang menganga.