
Hilwa sudah di bawa ke rumah orangtua Andre. Karena untuk sementara Bu Eva tidak mengizinkan Hilwa jauh dengannya. Saat ini beliau ingin merasakan mempunyai seorang putri, yang tidak bisa ia rasakan sebelumnya.
Awal memasuki rumah pun, Hilwa bisa merasakan perbedaan dengan ibu mertuanya yang sebelumnya. Bu Eva sudah menerima dia apa adanya, dari keluarga mana dan sudah tahu apa yang menjadi kekurangannya. Dan Bu Eva selalu bilang Hilwa sudah seperti putri kandungnya.
Setelah hari ini Bu Eva sempat membawa Hilwa ke rumah sakit untuk menjalani pengecekan, tapi hasilnya tetap sama, tidak ada masalah dengan kandungannya. Hanya waktu saja, Tuhan yang belum berkehendak. Tapi tetap saja dokter memberikan beberapa vitamin dan menyarankan beberapa makanan untuk menyuburkan kandungannya.
"Sayang, ibu mohon kamu jangan terlalu memikirkan apapun ya. Ibu membawamu hanya ingin membantumu, tidak ada maksud apa-apa. Karena apapun hasilnya ibu akan tetap menyayangimu." ucap Bu Eva lirih saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya Bu, Hilwa ngerti kok, makasih Bu, ibu sudah sangat memperhatikan Hilwa. Semoga kali ini tuhan menghendakinya. Hilwa hanya ingin membuat Mas Andre dan ibu bahagia." sahut Hilwa tidak kalah lirih, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang, jangan sedih donk. Maafkan ibu ya, jika ucapan ibu menyakiti hatimu." ujar Bu Eva terkejut, "Tidak Bu, Hilwa hanya terharu merasakan kasih sayang yang ibu dan ayah Indra berikan. Hilwa sempat merasa tidak pantas berada di tengah-tengah kalian." sahut Hilwa.
"Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu. Ibu dan Andre juga beruntung bisa bertemu dengan wanita seperti kamu. Semoga rumahtangga kalian selalu di berkahi oleh Tuhan." pungkas Bu Eva, dia akan membawa Hilwa ke sebuah tempat untuk menyenangkan dirinya dan menantunya.
Setelah membelah kemacetan, akhirnya mereka sampai di sebuah keramaian. Yaitu sebuah mall yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka. "Bu, untuk apa kita kesini?" tanya Hilwa heran. Karena dia jarang sekali pergi ke tempat seperti ini, apalagi ini dengan ibu mertuanya.
"Kita akan membeli beberapa barang untuk kalian, eh kamu deh maksudnya. hihi." sahut Bu Eva yang kini menarik tangan Hilwa ke sebuah tempat yang terlihat beberapa pakaian yang kekurangan bahan sudah terpampang jelas.
"Tolong pilihkan lingerie yang terbaru dengan bahan yang paling bagus." seru Bu Eva kepada salah satu penjaga toko. Wajah Hilwa bersemu merah mendapat tatapan orang-orang yang berada disana. Tentu mereka akan menyangka lingerie itu untuk dirinya, karena tidak mungkinkan ibu mertuanya yang akan memakainya, hehe.
__ADS_1
"Ayo pilih sayang, mana kira-kira yang cocok untukmu." ujar Bu Eva secara gamblang. "Ibu saja yang pilihkan." sahut Hilwa dia tidak mungkin menolaknya, tapi dia hanya bisa berpasrah saja. "Ya sudah, sepertinya warna ini cocok untuk kulit kamu. Ini juga, itu juga. Nah yang itu juga mbak, eh kok semuanya cocok sih untuk kamu sayang. Kalau begitu saya pilih semua modelnya deh, biar putra saya lebih getol melakukan Nya, haha." seru Bu Eva yang kini menjadi pusat perhatian.
"Oh jadi itu menantunya, beruntung banget ya dapetin ibu mertua seperti ibu itu. Sengaja memilihkan baju lingerie untuk menantunya, supaya putranya getol katanya. hihi." ucap salah satu anak muda yang juga kebetulan sedang membeli baju kekurangan bahan itu bersama temannya.
"Sayang kamu mau membeli apa lagi, biar hari ini ibu yang mentraktir." ujar Bu Eva, "kita makan saja ya, ayo sayang." Bu Eva menarik tangan Hilwa lagi, sebelum dia bisa menjawabnya.
Dan mereka pun masuk ke dalam sebuah restoran yang masih berada di dalam mall tersebut. Dan Bu Eva membeli begitu banyak makanan untuk dirinya dan Hilwa.
Setelah perut mereka terisi penuh, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari pun sudah mulai sore. Dan sebentar lagi suami-suami mereka akan segera pulang.
Dan benar saja, tidak lama setelah mereka tiba di rumah, pak Indra dan Andre pulang dengan mobil masing-masing. "Kok bisa berbarengan gini sih. Jangan-jangan kalian janjian ya?" goda Bu Eva. Kedua laki-laki itu hanya tersenyum simpul.
Kedua orangtua Andre merasa bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya. "Ya sudah kalian masuk sana, nanti ayahmu ngiler lagi. Eh sayang, jangan lupa pakai baju yang ibu tadi pilih ya." ucap Bu Eva yang mengerlingkan sebelah matanya. Sontak membuat wajah Hilwa berubah seperti tomat merah. Karena dia tadi sudah bilang, kalau masa haidnya sudah habis. Jadi kali ini dia akan melayani suaminya untuk yang pertama kalinya.
* * *
Kini malam pun sudah merayap naik. Setelah mereka makan malam, Hilwa dan Andre kini sudah memasuki kamarnya. "Mas, Hilwa ke kamar mandi dulu ya." pamit Hilwa, Andre pun mengangguk. Hilwa lebih dulu menyambar baju yang tadi di ceritakan ibu mertuanya. Setalah dia menutup pintu, "ayolah Hilwa, ini bukan pertama kalinya. Tapi kenapa jantungku nggak karuan seperti ini sih." gumamnya yang kini sudah memakai lingerie yang berwarna marun.
"Mas Andre sekarang suamiku. Dia berhak atas diriku. Semoga kali ini, Tuhan menghendaki apa yang selalu aku harapkan sebelumnya." Hilwa masih bergumam. Dan akhirnya kini dia memberanikan diri untuk menghampiri suaminya.
__ADS_1
Ceklek! Pintu pun terbuka.
Andre terlihat sedang menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Dia sedang memainkan ponselnya. Hilwa segera berlari mengitari tempat tidur untuk masuk ke dalam selimut.
Sebelum Hilwa bisa masuk ke dalam selimutnya, Andre lebih dulu menyadari istrinya yang kini sudah beranda di pinggir tempat tidur. "Sayang!" ujar Andre. Kerongkongannya tercekat melihat pemandangan indah di depan matanya. Hilwa tentu terkejut, dia tidak sempat membuka selimutnya. "Kamu sudah selesai? Apa Mas boleh melakukannya malam ini?" ucap Andre yang nafasnya kian memburu.
Hilwa hanya mengangguk dengan jantung yang berdebar lebih kencang.
Andre merayap mendekati istrinya yang masih berdiri membeku. Dia langsung merengkuh tubuh Hilwa dan mendudukkannya di pangkuannya. "Maaf kalau Mas tidak sabaran. Tapi Mas sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi." ucap Andre lirih dan menatap wajah istrinya penuh damba.
"Iya Mas lakukanlah. Kamu berhak atas diriku saat ini hingga seterusnya. Hilwa akan selalu melayani Mas Andre, jika Mas selalu menginginkan Hilwa." sahut Hilwa, diapun tidak kuasa menahan pesona laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya.
Pelan tapi pasti, bibir mereka saling bersentuhan. Yang awalnya lembut, kini saling menuntut lebih. Andre membuka dan melemparkan baju yang tadi melekat di tubuh istrinya. "Sayang kamu cantik luar dalam. Mas beruntung bisa dapetin kamu." ujar Andre yang menatap takjub dengan pemandangan yang baru pertamakali dilihatnya.
Dia tidak sabar untuk mencoba sesuatu yang selalu menjadi favorit para kaum laki-laki. Dan benar saja, rasanya sungguh memabukkan. Setelah puas, Andre mencoba merebahkan tubuh Hilwa hingga terlentang. Di pun membuka semua pakaian yang melekat ditubuhnya.
Hilwa nampak terkejut dengan apa yang dia lihat. Entahlah, apa yang membuat Hilwa terkejut. Apakah dia melihat sesuatu yang berbeda dengan suami yang sebelumnya.
"Sayang kamu pasti menyukainya, Mas akan membuatmu merasakan kepuasan malam ini." ujar Andre yang kini sudah siap bertempur.
__ADS_1
Dan terjadilah apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Mereka melakukannya dengan penuh cinta dan berharap usahanya akan membuahkan hasil.