DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Model dadakan


__ADS_3

Sudah sepekan Hilwa tinggal di rumah orangtua Andre. Selama disana dia begitu di sayang oleh semua penghuni rumah. Termasuk Bu Eva yang jatuh cinta dengan karakter Hilwa yang sopan dan lemah lembut.


"Apakah Mas sudah menemukan tempat tinggal untukku?" tanya Hilwa. Saat ini mereka baru selesai sarapan.


Tentu saja Andre gelagapan mendapat pertanyaan dari Hilwa. Karena dia memang tidak pernah mencarikan tempat tinggal untuknya. "Eum anu, Mas-" perkataan Andre menggantung, "memang kamu nggak betah tinggal disini Hilwa? hiks, padahal ibu sangat senang. Karena semenjak kamu tinggal disini, ibu jadi tidak kesepian. Ibu berasa punya seorang putri di rumah ini." sela Bu Eva.


"Hem tidak Bu, bukan begitu. Hilwa betah kok tinggal di sini, cuma kan Mas Andre waktu itu pernah bilang mau carikan tempat tinggal untuk Hilwa. Kalau disini terus takutnya jadi merepotkan." timpal Hilwa panik.


"Siapa yang di repotkan sih. Apa kamu merasa di repotkan Ndre?, atau ayah?" tanya Bu Eva kepada semua orang yang ada di meja makan. Tentu saja mereka serempak menggelengkan kepala.


"Nah kan, nggak ada yang merasa di repotkan disini Hilwa. Sudah kamu tinggal disini saja ya. Lagian ibu juga khawatir kalau kamu tinggal sendirian di kota ini." ujar Bu Eva. "Iya nak, kamu jangan merasa sungkan disini. Kami benar-benar senang kok jika kamu mau tetap tinggal disini. Iyakan Ndre?" tuding pak Indra kepada Andre dan mengedipkan sebelah matanya.


Tentu saja Andre pun menggeleng cepat. "Iya Wa, lagian susah cari tempat yang aman di kota ini. Kamu lebih terlindungi jika tinggal bersama kami." sahut Andre. Hilwa nampak termenung sesaat, "ya sudah, kalau ibu dan om tidak keberatan Hilwa tetap tinggal disini." jawab Hilwa akhirnya. "Nah gitu donk. Kan kami jadi senang." ujar Bu Eva yang merangkul bahu Hilwa, beliau juga mengedipkan sebelah mata ke putranya.


"Heeumm jadi ini taktik ibu, supaya Hilwa mau tetap tinggal disini. Tapi baguslah. Jadi aku bisa berdekatan terus dengannya. Apa jangan-jangan ibu sudah merestui niatku?" batin Andre bersorak


Huh sebenarnya aku tidak enak kalau terus-terusan tinggal disini. Dan takutnya menyebabkan fitnah. Tapi mau bagaimana lagi, ibu sangat menginginkan aku untuk tetap disini. batin Hilwa berucap


* * *


Hari ini Bu Eva mengunjungi butiknya. Kebetulan temannya yang mempunyai studio foto pun sedang berkunjung.


Selama mereka berbincang, mata Bu Nita terus menelisik gerak-gerik Hilwa. "Jeng! siapa gadis berhijab itu?" tanya Bu Nita. "Dia Hilwa, pegawai baruku. Sekaligus incaran putraku." sahut Bu Eva dan tersenyum simpul.


"Oh akhirnya kini putramu menyukai perempuan juga, hehe." ujar bu Nita. "Hus! jeng ini, putraku masih normal lho." ucap Bu Eva. "Lagian jeng sendiri bukan yang ngeluh takut Andre nggak doyan sama perempuan kan, haha." timpal Bu Nita. "Iya sih, haha" akhirnya mereka pun tergelak bersama.

__ADS_1


"Oh iya jeng bagaimana kalau kamu promosikan butik kamu itu pakai model, biar viral gitu jeng." saran Bu Nita. "Pake model gimana maksud kamu jeng?" tanya Bu Eva.


"Gini, kita pake si Hilwa itu untuk menjadi model pakaian di butik kamu. Cocok banget tuh, wajah-wajah kaya Hilwa itu menjadi model pakaian hijab. Manis, teduh gimana gitu." cerocos Bu Nita


"Boleh juga ide kamu, jeng. Tapi kamu kan yang ngasih arahan ke dia." ujar Bu Eva. "Iya donk jeng, pasti butik kamu langsung laris manis deh aku jamin." ucap Bu Nita antusias.


Setelah Bu Eva dan Bu Nita berhasil membujuk Hilwa agar dirinya mau menerima tawaran untuk menjadi model, akhirnya eksekusi pun dimulai.


Hilwa pergi ke studio foto milik Bu Nita yang di antar Bu Eva dengan membawa beberapa lembar pakaian hijab modelan terbaru yang ada di butiknya.


Setelah mendapat arahan dari seorang fotografer, akhirnya Hilwa memberanikan diri untuk melakukan beberapa gaya tapi masih dalam tahap kesopanan.


Beberapa model baju hijab sudah di pakai Hilwa. Dari yang gamis syar'i dan model hijab modern yang memakai celana kulot dengan hijab pashmina dan tunik.


"Calon mantu siapa dulu, jeng. haha" desis Bu Eva ke telinga Bu Nita. "Cie yang akhirnya punya calon mantu." seru Bu Nita.


"Hilwa ganti baju dulu ya, Bu." ucap Hilwa yang sudah selesai pemotretan. "Ahh nggak perlu. Kita langsung pulang saja. Lagian sudah ada yang jemput. Udah pakai saja, kamu cantik kok." sahut Bu Eva yang menarik tangan Hilwa untuk keluar dari studio Bu Nita setelah mereka berpamitan.


Hilwa pun mau nggak mau menuruti keinginan Bu Eva. "Lho kok kamu Ndre yang jemput, mang Ujang mana?" tanya Bu Eva heran. Seharusnya supir pribadinya yang jemput. "Nggak papa Bu, Andre juga sudah mau pulang. Mang Ujang tadi Andre suruh pulang lebih dulu" jawab Andre


"Bu, ini tasnya ketinggalan di dalam." ujar Hilwa yang tadi kembali ke dalam karena dia melupakan sesuatu. "Oh iya ibu lupa, makasih ya sayang." sahut Bu Eva.


Bu Eva sempat melirik putranya yang terlihat bengong, "kedip Ndre! Sampai segitunya melihat Hilwa. Kenapa kamu pangling ya?" ledek Bu Eva.


"Kamu beneran Hilwa kan?, pangling banget kamu, Wa. Mas hampir saja nggak ngenalin kamu." seru Andre yang baru saja tersadar. "Kenapa Mas. Aneh ya melihat Hilwa kaya gini?" tanya Hilwa. "Cantik, Wa. Kamu jadi tambah cantik." jawab Andre tanpa dasar dan menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Bisa aja kamu Ndre. Jangan termakan gombalan putra ibu ya, Hilwa." timpal Bu Eva. Andre hanya mendengus mendengar perkataan ibunya.


"Bagaimana kalau kita makan dulu, Bu. Kebetulan Andre belum makan siang. Bagaimana?" ajak Andre. "Ya sudah, ibu juga lapar. Ayo ibu yang pilih restoran nya ya." Merekapun masuk ke dalam mobil.


"Wa, kamu duduk di depan saja. Biar ibu duduk di belakang. Kalau Mas duduk di depan sendirian, nanti disangkanya Mas supir kalian lagi." ujar Andre yang mendapat persetujuan dari ibunya.


"Eheum. Kok main diam-diaman sih." seru Bu Eva yang hanya melihat Andre curi-curi pandang ke Hilwa. Dia jadi semakin yakin, kalau putranya benar-benar menyukai gadis yang saat ini duduk di samping Andre.


Setelah menembus kemacetan, akhirnya mereka pun sampai di sebuah restoran yang cukup mewah. "Duduk disini, sayang. Jangan dekat-dekat dengan putra ibu." ajak Bu Eva. Andre hanya merenggut mendengar ucapan ibunya.


Setelah Bu Eva memesan beberapa menu makanan, tidak lama makanan pun datang dan mereka langsung menyantapnya.


Di tengah-tengah acara makan siang mereka, tiba-tiba seorang perempuan muda yang berpakaian terbuka datang menghampiri mereka. "Andre, kamu disini?" tanya wanita itu memastikan. Semua orang pun menoleh, "siapa ya?" tanya Andre. "Aku Melinda. Masa kamu lupa, belum seminggu kita melakukan meeting bareng." Sahutnya.


"Oh iya. Saya baru ingat." jawabnya acuh. "Kamu lagi makan siang dengan siapa?" tanya Melinda menelisik 2 orang wanita yang duduk bersama Andre.


"Oh iya beliau ibuku. Dan ini-"


"Hilwa. Calon istri Andre." sela Bu Eva, mengenalkan Hilwa. Tentu saja Andre dan Hilwa pun terkejut. Tapi seutas senyum terbit dari bibir Andre. Sedangkan Hilwa hanya tersenyum kaku, dia tidak mengerti, kenapa bu Eva malah memperkenalkannya sebagai calon istri Andre.


"Oh hai. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya Ndre. Selamat siang Tante." pamit Melinda.


"Ih ibu nggak suka modelan wanita seperti itu. Untung saja dia keburu pergi." gumam Bu Eva


Andre hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2