Desa Kemomong

Desa Kemomong
Mimpi buruk


__ADS_3

Setelah selesai mengantar Rian ke rumah sakit, Bagas, Adit beserta Rian pun kembali menuju mobil mereka.


Dengan sabar mereka berdua membopong Rian sampai menuju parkiran mobil, setelah sampai barulah mereka bertiga kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah sakit dan menuju kembali ke hutan desa kumomong.


Seperti biasa di dalam perjalanan menuju pulang Adit selalu membuka percakapan lebih dulu.


Adit menanyakan kepada Rian perihal mengapa Rian tidak mau di rawat di rumah sakit.


“Rian, kenapa kamu tidak mau di opname, padahal kan saran Dokter itu baik buatmu agar kamu cepat sembuh?” tanya Adit.


“Dit, kamu tahu sendiri istriku sedang hamil jalan enam bulan aku harus cari uang untuk proses persalinannya nanti,” sahut Rian.


“Rian, rezeki itu sudah diatur oleh tuhan kamu tidak perlu kuatir, lagi pula aku juga akan membatu Rian,” ucap Bagas.


“Jangan Bang, Abang sudah sangat baik sering bantu aku beserta keluarga biarkan aku mencari rezekinya. Aku bukannya tidak percaya kepada tuhan tapi aku pun harus tetap berusaha sekarang aku sudah punya keluarga tanggung jawabku besar Bang,” sahut Rian.


“Rian. Kita berlima kamu, Adit, Niko dan juga Edwin sudah aku anggap seperti saudara, tidak masalah kalau ada yang susah kita akan bantu,” tutur Bagas memberikan pandangan kepada Rian.


“Tidak Bang, kalian sudah sangat baik kepada aku beserta keluarga. Aku tidak mau menyusahkan kalian semua, dan tenang saja Bang paling beberapa hari udah sembuh kok,” ujar Rian yang tersenyum pucat.


“Iya Rian, benar yang di bilang sama Mas Bagas, kita ini wes koyo saudara jadi harus saling membantu,” tutur Adit.


“Dah santai aja Dit, aku masih bisa bekerja kok paling cuma butuh istirahat saja, simpan aja duitmu buat nikah,” celetuk Rian.


Mereka bertiga pun mengobrol santai di dalam mobil.


Tidak terasa hari mulai sore, mereka pun telah memasuki desa Kemomong.


Saat sedang memasuki ke dalam desa tiba-tiba ada seorang wanita menyeberang jalan, Bagas yang terkejut dengan spontan menginjak rem secara mendadak.


Wanita itu terjatuh, Bagas yang panik pun bergegas keluar dari dalam mobil.


Sementara Adit yang tidak melihat menanyakan kepada Bagas apa yang terjadi.


“Ada apa Mas?” tanya Adit yang terkejut akibat rem yang di injak oleh Bagas secara mendadak.


“Ada orang mau menyeberang Dit, dia terjatuh sebentar aku keluar dulu,” sahut Bagas yang panik.


Bagas menghampiri wanita itu terlihat wanita itu sedang terduduk di samping mobilnya.


“Mbak tidak apa-apa?” tanya Bagas.


“Tidak Bang hanya lecet saja,” sahut wanita itu.


“Maafkan saya mbak, karena saya mbak jadi keserempet mobil saya belanjaan mbak pun terjatuh,” sahut Bagas yang merasa bersalah.


“Tidak apa-apa Bang, saya kok yang salah menyeberang tidak liat-liat saya tadi terburu-buru,” sahut wanita itu dengan ramah.


“Mbak saya antar pulang yah,” ajak Bagas.


“Tidak usah Bang saya masih bisa jalan kok,” tolak wanita itu.


“Anggap saja permintaan ini, permintaan maaf dari saya mbak saya antar pulang!” Bagas yang sedikit memaksa wanita itu.


Merasa tidak nyaman dengan ucapan Bagas wanita itu pun di antar pulang oleh Bagas.


Bagas membantu wanita itu berdiri masuk ke dalam mobilnya.


“Dit, pindah ke belakang!”  perintah Bagas.

__ADS_1


“Wes-wes, tau ae wong wedok ayu( tahu saja wanita cantik)” ucap Adit yang keluar dari mobil pindah duduk di posisi belakang bersama Rian.


Bagas beserta wanita itu pun masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Bagas bersalaman dengan wanita itu sembari memperkenalkan dirinya.


“Bagas Mbak, nama Mbak siapa?” tanya Bagas yang memandangi wajah cantik wanita itu.


“Panggil saja Sekar bang,” ucap wanita itu dengan lembut sembari tersenyum.


Mereka berdua saling pandang memandang namun melihat hal itu Adit pun menegur Bagas.


“Mas Ayo kita jalan, ini sudah mau malam!” tegur Adit.


“Eh, iya Dit,” sahut Bagas menjalankan mobilnya.


Sekar yang melihat tingkah laku Bagas hanya bisa tersenyum.


Beberapa menit kemudian Bagas telah sampai di pelataran rumah Sekar.


Bagas pun membatu Sekar berjalan.


“Hati-hati jalannya,” ujar Bagas yang memberi perhatian kepada Sekar.


Kedatangan Bagas pun di sambut Kuncoro bapak Sekar beserta Ningsih kakak Sekar.


“Kamu kenapa Nak?” tanya Kuncoro yang melihat Sekar di antar Bagas.


“Bapak Kuncoro. Ini anak Bapak?” tanya Bagas.


“Iya ini siapa ya?” tanya Kuncoro yang lupa.


“Oya Nak Bagas, ini kenapa dengan Sekar?” tanya Kuncoro


“Begini Pak, saya minta maaf saya kurang hati-hati di saat mbak Sekar ini ingin menyeberang, mobil saya menyerempet mbak Sekar,” Bagas menceritakan kejadian yang ia alami.


 Kuncoro pun memahami dan tidak mempermasalahkan.


 “Biasa Bang adik saya memang kurang berhati-hati,” celetuk Ningsih.


“Sudah-sudah, yang penting Sekar baik-baik saja,” sahut Kuncoro.


Adit yang merasa gelisah di dalam mobil menunggu Bagas yang tidak kunjung datang pun menghampiri Bagas.


“Rian tunggu di sini dulu ya, aku mau samperin Mas Bagas dulu. Soalnya bahaya ada wanita cantik bisa lupa sama kita nanti,” ujar Adit yang keluar dari mobil.


“Ia Dit,” sahut Rian.


Sesampainya di tempat Bagas Adit pun mulai menegur Bagas.


“Ayo Mas kita pulang,” ajak Adit.


“Iya tunggu bentar,” sahut Bagas dengan berbisik.


Adit pun menunggu Bagas. Pandangan Adit tertuju kepada  salah satu anak Kuncoro yang berdiri di samping Sekar yaitu Ningsih.


‘Ayu eram (cantik sekali)' gumam Adit yang tidak henti memandangi kecantikan Ningsih.


Setelah selesai mengobrol dengan Kuncoro Adit mengeluarkan uang sebagai tanda maaf.

__ADS_1


“Pak ini ada uang dari saya, sebagai permintaan maaf saya, belanjaan mbak Sekar terjatuh dan ini untuk mbak Sekar berobat,” sahut Bagas yang memberikan beberapa uang kertas berwarna merah.


“Tidak usah Nak Bagas,” tolak Kuncoro.


“Tidak papa Pak ambil, anggap sebagai tanda permintaan maaf saya,” ujar Bagas 


Kuncoro pun berpamitan lalu bersalam bersama mereka semua termasuk Adit juga yang ikut bersalaman dengan mereka semua.


Setelah itu Bagas beserta Adit pun pergi menuju mobil mereka. Bagas mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Kuncoro menuju mes.


Di tengah perjalanan Adit mulai menanyakan kepada Bagas siapa wanita yang ada di samping Sekar.


“Mas siapa sih cewek di samping ?” tanya Adit yang penasaran.


“Oh itu, kakaknya Sekar namanya Ningsih, kenapa Dit. Jangan-jangan kamu naksir,” sahut Bagas yang mengoda Adit.   


“iyo kaya Mas, dia begitu cantik dan mempesona hatiku Mas,” ucap Adit yang terbayang-bayang saat berjabat tangan dengan Ningsih.


“Woi! Ngelamun aja ini dah malam kesambet nanti,” tegur Bagas menghentikan lamunan Adit.


“Mas Bagas, gak enakin orang sedang melamun saja,” sahut Adit.


“Nah pas ini Mas, aku suka sama kakaknya Mas suka sama adiknya bagaimana jika kita saling membantu,” sambung  Adit yang memberi saran.


“Bisa lah nanti kita pikirin Dit, yang penting Rian dulu cepat kita antar ke mes biar dia bisa beristirahat kasihan dia,” ucap Bagas.


Bagas yang melihat melalui kaca spion mobil di dalam terlihat Rian tertidur di belakang bangku mobil.


Saat tengah asyik mengobrol akhirnya mereka sampai di dalam depan mes, Adit beserta Bagas pun membopong Rian masuk ke dalam mobil. 


Setelah masuk Rian pun di perintahkan Bagas untuk beristirahat sesudah Rian makan dan minum obat.


Sementara Adit dan Bagas melanjutkan kembali obrolan mengenai anak bapak Kuncoro, Sekar dan Ningsih.


*** 


Malam mulai semakin larut sementara istri Rian yang bernama Erin memimpikan Rian.


Erin sendiri tinggal bersama orang tuanya karena sekarang bekerja Rian jauh sehinga Erin di titipkan kepada orang tuanya, Rian sangat khawatir kepada istrinya jika dirinya tidak ada.


Erin yang sedang tidur sendirian di kamarnya sementara ibu, bapaknya tidur di kamar satunya.


Di tengah tidurnya Erin melihat Rian sedang mencangkul dan membuat lubang yang berukuran lumayan besar di samping rumahnya.


Erin yang melihat Rian tengah sibuk pun menghampirinya dan menanyakan kepada Rian apa yang sedang dia lakukan.


“Bang Rian, apa yang sedang lakukan?” tanya Rian.


“Eh kamu dek! Ini Abang sedang membuat lubang untuk diri Abang!” ucap Rian tersenyum penuh misterius.


Namun Erin pun menengok lubang yang Rian buat di dalam lubang terdapat banyak jenazah yang terbungkus oleh kain kafan.


Erin yang mengetahui itu pun terkejut lalu mengajak Rian untuk pergi meninggalkan lubang itu.


“Bang ayo kita pergi dari sini,” ucap Erin menarik tangan suaminya.


Namun anehnya dalam mimpi Erin jenazah-jenazah itu bangun dan menarik kaki Rian sontak saja Rian masuk ke dalam lubang itu beserta para jenazah yang terbungkus kain kafan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2