Desa Kemomong

Desa Kemomong
Terkena wisa


__ADS_3

Adit mulai menghampiri Edwin yang sedang duduk-duduk.


“Win! Rian sakit kamu mau gak antari Rian ke puskesmas?” sahut Adit.


 “Aku lagi sibuk Win gak bisa nganter,” sambung Adit.


“Iya Dit, aku antar,” sahut Edwin.


Edwin pun bergegas meninggalkan Adit menuju mes.


“Rian ayo kita ke puskesmas,” ucap Edwin.


Dengan wajah pucat serta menguning Rian berusaha bangkit dari tempat tidurnya dengan dibantu oleh Edwin, Rian dibopong masuk ke dalam mobil milik Bagas.


“Rian kamu pucat banget dan kenapa tubuh kamu bisa menguning kaya gini?” ucap Edwin sambil fokus menyetir.


“Aku nggak tahu Win mungkin aja kurang darah atau semacamnya,” sahut Rian.


“Untung ada mobil Bang Bagas. Kita bisa lebih cepat sampai ke puskesmas desa.”


Sekitar 30 menit mobil melaju mereka akhirnya sampai ke puskesmas. Edwin membantu Rian untuk turun dari mobil. Mereka pun mengantre dan menunggu untuk di periksa. Hingga tiba giliran Rian. 


Rian pun masuk dengan di bantu oleh Edwin, Rian di periksa hingga ditanyai berbagai keluhan yang dirasakannya. 


“Sepertinya kalian bukan warga desa ini,” ucap dokter itu.


“Iya. Kebetulan kami ada proyek pembangunan pabrik di perkebunan yang ada di desa ini.”


“Pantas saja. Teman kamu terkena demam kuning. Ini bisa terjadi karena gigitan nyamuk yang sebelumnya sudah terinfeksi virus saat menggigit hewan primata atau semacamnya. Sebaiknya dia segera di rujuk ke rumah sakit.”


Rian pun diberikan obat dan dibawa kembali ke mes, Edwin berniat memberitahukan masalah ini kepada Bagas.

__ADS_1


Mereka berdua keluar dari puskesmas itu. Di saat keluar mereka ada seseorang laki-laki paruh baya yang sedang menatap tajam ke arah mereka. Lalu laki-laki paruh baya itu mendatangi mereka berdua.


“Nak seperti sakitmu ini bukan penyakit sembarangan, kamu seperti terkena Wisa? Apakah kamu pernah berbuat tidak sopan?” tanya laki-laki paruh baya itu.


“Wisa apa itu?” tanya Edwin.


“Wisa adalah racun dari jin atau sebangsanya karena merasa terganggu,” sahut laki-laki tua itu.


“Maaf ya Pak, saya tidak percaya dengan hal semacam itu lagi pula dokter sudah menjelaskan penyakit saya,” ucap Rian.


“Iya Pak, kami tidak percaya dengan hal mistik,” celetuk Edwin.


“Ya sudah kalian berdua sudah saya berita tahu, semoga saja baik-baik saja,” sahut laki-laki tua itu yang meninggalkan mereka berdua.


Edwin beserta Rian pun masuk ke dalam mobil  menuju mes mereka.


Di tengah perjalanan Edwin membuka percakapan.


“Siapa bapak tadi aneh sekali kenal tidak dari mana datangnya tidak tahu tiba-tiba berbicara seperti itu,” ucap Edwin.


“Udah lah. Jangan terlalu dipikirkan yang terpenting sekarang kamu istirahat aja di mes, nanti aku bakalan bilang ke bang Bagas jika kamu harus di rujuk ke rumah sakit.”


Mobil melaju melintasi jalan pedesaan yang sepi hingga mereka masuk ke area perkebunan dan sampai di depan mes.


“Ayo aku bantu turun,” ucap Edwin.


Rian pun kembali dibopong oleh Edwin menuju mes dan membaringkan tubuhnya.


“Rian aku lanjutin kerjaan dulu, kamu aku tinggal nggak apa-apa kan?” tanya Edwin.


“Enggak apa-apa Win. Kamu lanjutin aja.”

__ADS_1


Edwin pun keluar mes dan berjalan masuk ke dalam hutan di sana rupanya Bagas dan Adit tengah duduk untuk beristirahat.


“Bang,” sapa Edwin.


“Sudah pulang kamu,” ucap Bagas.


“Sudah bang, tadi aku bicara sama dokter yang ada di puskesmas katanya si Rian harus segera di rujuk ke rumah sakit,” ucap Edwin.


“Ya sudah besok kita libur dulu kita antar Rian ke rumah sakit,” ucap Bagas.


“Perasaan kemarin dia baik-baik aja kok bisa jadi begini,” ucap Adit.


“Entahlah, mungkin efek kelelahan,” sahut Bagas.


“Tadi malam dia sempat teriak, aku kaget tak bangunin si Rian. Dari mukanya itu kaya orang ketakutan,” tutur Adit.


“iya tadi aku dengar sih tapi karena aku sangat mengantuk jadi tidak aku pedulikan,” sahut Bagas.


*** 


Tidak terasa waktu sudah menujukan jam 5 sore para pekerja proyek pun berhenti bekerja. Mereka menuju mes untuk beristirahat melepas penat.


Sementara Rian masih terlihat tertidur, Adit pun berinisiatif membangunkan Rian untuk makan.


“Rian! Rian! Ayo bangun makan dulu,” ucap Adit yang membangunkan Rian.


“Iya Dit,” sahut rian dengan lirih.


Adit mengambilkan Rian sepiring makanan untuknya makan.


Rian pun memakan makan pemberian Adit walaupun tidak ia habiskan selepas itu baru lah Rian meminum obat yang di berikan oleh pihak puskesmas.

__ADS_1


Dan kembali melanjutkan tidurnya untuk beristirahat, melihat Rian seperti itu semua temannya merasa iba kepadanya.


      


__ADS_2