Desa Kemomong

Desa Kemomong
Mengandung bayi iblis


__ADS_3

Sekar yang mendatangi Adit di kamarnya lalu mengetuk pintu kamar.


“Mas Adit! Mas! Di panggil mbah Kuncoro,” ujar Sekar mengetok pintu kamar Adit.


“Ada apa lagi, aku malas liat muka Bagas,” ujar Adit yang masih kesal.


“Mas Adit kan sudah berteman dari kecil dengan Bang Bagas, masa Mas Adit tidak percaya dengan omongan Bang Bagas, ayo lah Mas kita diskusikan masalah ini agar tidak salah paham,” ujar Sekar yang tidak tahu masalah sebenarnya.


Adit pun terdiam dan membuka pintu kamar, terlihat dari kejauhan Cokro berserta Bagas sedang duduk di ruang tamu.


Adit mulai menghampiri mereka berdua, di ruang tamu dan duduk di samping Cokro, Adit terdiam tanpa sepatah kata pun.


Sementara Sekar masuk ke kamarnya ingin mencari tahu dari Ningsih apa yang sebenarnya terjadi.


Terlihat Ningsih yang menangis di tempat tidurnya.


Sekar yang polos pun menanyakan kakaknya apa yang sebenarnya terjadi.


“Mbak, sebenarnya ada apa sih dan Mbak Ning sakit apa?” tanya Sekar yang lugu.


Ningsih yang bangun dari tidurnya memeluk adiknya sembari menangis.


“Mbak Ning kenapa?” tanya Sekar yang bingung.


Ningsih masih saja terdiam tidak menjawab pertanyaan Sekar ia hanya menangis sambil memeluk Sekar.


Sekar mulai membujuk Ningsih untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Mbak coba cerita sama Sekar, apa yang sebenarnya terjadi siapa tahu Sekar bisa membatu memberikan solusi untuk masalah Mbak. Apa mbak sama Mas Adit bertengkar?” ucap Sekar yang polos.


“Bukan Sekar, maafiin Mbak ya,” ucap Ningsih yang terhenti mengela nafas.


Sekar malah di buat bingung oleh Ningsih.


“Maaf untuk apa Mbak,” tanya Sekar yang semakin bingung.      


“Kalau kamu mau marah dengan Mbak silakan, Mbak gak akan melarang karena, Mbak tahu  Mbak yang salah.”


“Sekar tidak pernah marah dengan Mbak Ning kok, sebaiknya Mbak ceritakan saja. Bagaimana pun Mbak adalah kakak Sekar yang sekar sayangi Sekar tidak akan marah kepada Mbak,” ujar Sekar meyakinkan Ningsih.


Ningsih mulai menceritakan semua kepada Sekar dari ketertarikannya kepada Bagas sampai ritual-ritual sesat yang ia jalani, dan akhirnya Ningsih benar-benar menyesal dan memilih Adit.


Sekar menangis mendengar ucapan Ningsih, dirinya tidak menyaka kakak kandung yang ia sayangi berbuat seperti itu. Namun di sisi lain Sekar percaya dengan ucapan Ningsih yang tidak melakukan hal tersebut bersama Bagas.


“Lalu kalau bukan Bang Bagas, Mbak hamil dengan siapa? Apakah Mas Adit?” ujar dengan menangis.


“Bukan Sekar, Mbak tidak pernah melakukannya dengan siapa-siapa?” ucap Ningsih yang berusaha meyakinkan Sekar.

__ADS_1


“Tidak akan mungkin Mbak, jika Mbak Ning tidak sampai berbuat seperti itu. Maka tidak akan ada janin di rahim Mbak,” ucap Sekar yang tidak percaya.


 Sementara Sekar beserta Ningsih masih berdebat di dalam kamar. 


Perdebatan mereka semua terhenti Adit beserta Bagas dan Sekar beserta Ningsih di kala Kuncoro datang.


Kuncoro yang merasa lelah pun duduk di ruang tamu bersama, Bagas, Adit, serta mbah Cokro.


“Ada apa ini kok kalian semua terdiam? Mana Sekar dan Ningsih?” tanya Kuncoro.


“Mereka berdua sedang berada di kamar mereka,” sahut Cokro.


Kuncoro pun memanggil kedua anak gadisnya itu.


“Ningsih! Sekar!” teriak Kuncoro memanggil kedua anak gadisnya.


 “Iya Pak,” ucap serentak Sekar dan Ningsih.


Sekar dan Ningsih pun menghapus air matanya agar Kuncoro tidak curiga kepada mereka berdua.


Mereka berdua kuar dari kamar lalu mendatangi Kuncoro.


“Sekar bikin kan bapak kopi Nduk dan juga Mbah Cokro, Bagas dan Adit,” perintah 


“Iya pak,” sahut Sekar dengan suara lirih.


“Emm ... Anu Pak,” sahut Ningsih yang gugup.


“Anu gimana? Kamu tidak sakit parah kan Nduk?” tanya Kuncoro yang khawatir.


“Tidak Pak tapi,” ucap Ningsih yang terhenti mengela nafas panjang.


“Tapi kenapa, ayo cerita jangan main tebak-tebakan sama Bapak. Seberanya Ningsih sakit apa Dit?” tanya Kuncoro kembali kepada Adit.


“Anu Pak,” sahut Adit.


“Loh kok jawabannya sama kaya Ningsih anu, anu, di tanya coba jawab yang benar,” ucap Kuncoro yang mulai khawatir.


“Ngomong Ning,” celetuk Adit dengan berbisik.


“Kamu sakit apa Ning coba ngomong sama Bapak?” Kuncoro yang mencoba menekan Ningsih.


“Ningsih ha-hamil Pak,” ucap Ningsih dengan lirih.


  Kuncoro sangat syok mendengar ucapan Ningsih, Kuncoro tidak kuasa menahan amarahnya lalu melayangkan tangannya.


Plaakk ( Tamparan mendarat di pipi Ningsih)

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mengenai pipi Ningsih.


“Anak kurang ajar, kamu sudah mencoreng nama baik bapak sebagai kepala desa di sini. Bapak malu Ningsih malu dengan para warga, Siapa bapak dari anak itu!” bentak Kuncoro.


Ningsih terdiam menangis ia tidak berani berbicara karena takut Kuncoro ayahnya tidak percaya.


“Ningsih! Siapa bapak dari anak di dalam kandunganmu itu, jika kamu tidak mau bicara sebaiknya kamu keluar dari rumah ini! Bapak malu punya anak sepertimu!” bentak Kuncoro dengan amarah yang meluap-luap.


Semua terdiam tidak bisa berbicara apa-apa lagi, Ningsi yang di tekan oleh Kuncoro pun menjawab pertanyaan Kuncoro.


“Ningsih tidak tahu Pak, Ningsih berani bersumpah tidak pernah melakukan dengan siapa pun,” ujar Ningsih yang menangis tersedu.


Sekar pun datang membawa minuman dan memeluk kakaknya.


Namun ucapan Ningsih tidak Kuncoro percaya.


“Bohong! Tidak mungkin jika kamu tidak melakukannya kamu bisa hamil Ningsih! Apa Adit pelakunya?” ucap Kuncoro yang marah.


“Tidak Pak bukan Mas Adit, Ningsih berani bersumpah Ningsih tidak melakukannya dengan siapa pun,” sahut Ningsih dengan menangis berusaha meyakinkan Bapaknya.


“Mana mungkin itu terjadi Ningsih, siapa Bapak anak itu,” Kuncoro yang  memberikan pertanyaan berulang kali.


Namun di tengah kegaduhan ini Cokro angkat bisa meluruskan permasalahan yang di hadapi Ningsih.


“Kuncoro! Yang di katakan anakmu itu benar dia tidak melakukan dengan siapa-siapa?” ujar Cokro.


“Lalu kalau bukan dengan siapa-siapa apakah itu anak Jin?” ucap Kuncoro secara spontan.


“Iya Kuncoro bayi yang di dalam kandungan Ningsih bukalah bayi manusia melainkan bayi iblis, aku merasakan energi iblis sangat kuat di dalam perut Ningsih dan mata batinku melihat itu yang Ningsih kandung bukan bayi manusia melainkan bayi iblis,” ucap Cokro.


Ucapan Cokro membuat mereka semua yang ada diruang tahu terkejut.


Termasuk Adit yang sangat penasaran dengan ucapan kakeknya.


“Mbah, apa benar Ningsih mengandung anak iblis?” tanya Adit.


“Iya Dit! Coba tanyakan kepadanya apa yang pernah dia perbuat?” tanya Cokro.


“Ning sebenarnya apa yang pernah kamu perbuat, katanya kamu sudah tobat Ning kok malah bersekutu lagi dengan iblis,” ujar Adit yang tidak habis pikir dengan Ningsih.


Ningsih pun sangat terkejut dengan ucapan Cokro, ia mencoba mengingat-ingat hal mengerikan apa yang pernah Ningsih lakukan.


Nantikan kelanjutannya ya gaes dukungannya sekilasnya saja  terima kasih  


 


 

__ADS_1


__ADS_2