Desa Kemomong

Desa Kemomong
Kedekatan Bagas dengan Sekar.


__ADS_3

Seminggu telah berlalu Bagas, Adit, Edwin beserta Niko pun kembali melaksanakan pekerjaannya tanpa di temani oleh Rian.


Di minggu pagi Bagas beserta Adit pergi ke desa untuk membeli bahan-bahan makan yang telah habis.


“Ayo Dit, cepetan!”  ucap Bagas yang menunggu Adit.


“Iya Mas tunggu sebentar,” ucap Adit yang tergesa-gesa meminum kopinya.


Setelah kopi yang telah Adit minum habis, Adit bergegas mendatangi Bagas yang sedang memanasi mobilnya.


“Ayo Mas kita ke pasar, aku sudah selesai!” ucap Adit mengajak Bagas.


“Ayo masuk, cepetan!” sahut Bagas yang dari tadi sudah menunggu Adit di dalam mobil.


Adit pun masuk ke dalam mobil, setelah itu Bagas pun menjalankan mobilnya menuju pasar yang berada di desa Kemomong.


Di tengah perjalanan Bagas menanyakan daftar belanja kepada Adit.


“Dit, sudah kamu tulis apa saya yang kita butuh kan atau habis” tanya Bagas sembari mengemudikan mobilnya.


“Wes Mas, tenang semua aman,” ujar Adit merogoh kantong mengeluarkan kertas yang bertulisan daftar berlanja.


“Coba aku mau dengar apa aja, Dit” tanya Bagas.


“Beras satu karung, gula 10kg, kopi yang besar 8 bungkus, minyak goreng 10 liter, telur 8 rak, mie satu dus–“ Adit yang berhenti membacakan daftar belanjanya karena di potong oleh Bagas.


“Dit! Dit! Itu semuanya habis?” ucap Bagas.


“Iya Mas stok makanan kita memang sudah habis, kita ini banyak Mas orangnya dan juga sudah satu minggu kerja di sini,” ujar Adit mengingatkan Bagas.


“Waduh ya sudahlah,” sahut Bagas yang tidak ingin berdebat kepada Adit.


30 menit telah berlalu Bagas pun sampai di pasar, ia memarkirkan mobilnya di sana barulah Bagas keluar dari mobil beserta Adit menuju ke dalam pasar.


Saat tengah ingin masuk ke dalam pasar Adit menegur Bagas.


“Mas, Mas, coba liat di samping ada cewek yang sedang berjalan,” tegur Adit ke Bagas.


“Sekar,” ucap Bagas.


Tanpa berlama-lama Bagas mulai menghampiri Sekar. Bagas mulai mempunyai jatuh cinta kepada Sekar waktu pertama kali insiden Sekar keserempet mobil Bagas.


Di saat sudah berada di dekat Sekar Bagas mulai menegurnya.


“Sendirian aja ke pasarnya?” tanya Bagas.


“Eh Abang, sedang apa Bang?”

__ADS_1


“Ini mau beli sembako buat persediaan makan di mes,” ucap Adit.


“Boleh minta tolong? Abang tidak terlalu tahu di mana tempat-tempat berjualan sembako? Kalau Sekar berkenan bisa minta antari Abang?” ujar Bagas yang berusaha mencari kesempatan untuk lebih dekat dengan Sekar.


“Emm, bisa kok Bang,” sahut Sekar sembari tersenyum kepada Bagas.


 Mereka bertiga masuk ke dalam pasar. Adit yang merasa menjadi obat nyamuk Bagas berpamitan meninggalkan Bagas.


“Mas Bagas, aku mau jalan-jalan dulu di pacar cuci mata biar gak sepet liat Mas berduaan saja. Aku kok malah jadi obat nyamuk piyo to iki(Bagaimana ini),” tutur Adit yang kesal.


“Kamu ini ganggu orang saja, ya udah sana pergi nanti tunggu aku di parkiran saja, mana daftar belanjanya,” Bagas yang menanyakan kertas daftar belanja kepada Adit.


“Ini daftar belanjanya aku tak pergi dulu,” Adit yang memberikan daftar belanja ke Bagas.


Bagas pun mulai berbelanja di temani oleh Sekar. 


Kesempatan dekat dengan Sekar segera Bagas manfaatkan semaksimal mungkin.


“Sekar malam ini kamu ada acara? tanya Bagas.


“Emm, kayanya sih tidak ada Bang. Ada apa ya Bang.”


“Begini Abang bo-boleh main ke rumah mu,” ucap Bagas yang gugup.


“Oh Abang Bagas mau main ke rumah Sekar, boleh sekali Bang tidak ada yang melarang apa lagi jika Abang bersikap sopan ke Bapak Sekar. Bapak pasti menyukainya,” ucap Sekar yang memberikan isyarat lampu hijau untuk Bagas mendekatinya.


“Ibu sudah lama meninggal waktu melahirkan Sekar Bang,” ujar Sekar.


“Eh maaf Abang tidak bermaksud membuat Sekar sedih.”


“Tidak apa-apa Bang.” 


Mereka berdua semakin dekat dan akrab.


Sampai beberapa jam telah berlalu, Bagas pun telah selesai berbelanja membeli kebutuhan untuk di mes.


Mereka berdua keluar dari pasar menuju parkiran mobil Bangas.


Di saat mereka berdua telah sampai di depan mobil terlihat Adit yang telah menunggu di depan mobil Bagas.


“Mas lama banget belanjanya,” tegur Adit yang sewot kepada Bagas.


“Apa sih Dit, itu kan belanjaannya banyak jadi lama,” ucap Bagas yang menjelaskan kepada Adit.


“Bang, Sekar pamit dulu ya,” Sekar yang berpamitan.


“Sekar, sekalian saja bareng sama kita, kan satu jalan,” Bagas yang menawarkan tumpangan.

__ADS_1


“Terima kasih Bang, tidak usah,” Sekar yang menolak.


“Ayo Sekar tidak apa-apa biar sekalian satu tujuan, biar Adit duduk di belakang box saja,” ucap Bagas.


“Ya Mbak Sekar, bareng kita saja pulangnya satu tujuan. Biar aku duduk di belakang bok saja, nanti aku minta tolong sampaikan salamku buat Mbak Ning ya,” ujar Adit yang memberikan tumpangan juga kepada Sekar.


 Akhirnya Sekar pun menerima tawaran Bagas dan Adit, Sekar pun menumpang ke mobil Bagas.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil Bagas. Sementara Bagas pun mulai menyalakan mesin mobilnya pergi meninggalkan parkiran pasar menuju ke mes mereka.


Di dalam mobil Bagas kembali mengajak Sekar berbincang, Bagas mulai memberanikan diri menanyakan hal yang privasi kepada Sekar.


“Sekar, Abang boleh tanya sesuatu” tanya Bagas.


“Iya Bang, boleh tanya saja.”


“Maaf ya Abang lancang menanyakan pertanyaan ini kepada Sekar, kira-kira Sekar sudah mempunyai kekasih?” tanya Bagas.


Sekar tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bagas, Sekar tersenyum dan terdiam.


Karena pertanyaan yang di berikan oleh Bagas tidak kunjung di jawab kembali oleh Sekar, Bagas menanyakan kembali.


“Mengapa tidak di jawab apa pertanyaan Abang, membuat Sekar marah! Jika iya Abang minta maaf.”


“Emm, tidak Bang Bagas, pertanyaan Abang baru mau Sekar jawab. Sekar tidak punya kekasih.”


“Yes, ehem, Maaf tadi Abang sangat senang mendengarnya.”


Tidak terasa saking asyiknya mengobrol ternyata telah sampai di depan laman rumah Sekar, Bagas beserta Adit pun turun dari mobil berpamitan kepada bapak Sekar, sementara Adit pun iya berpamitan kepada bapak Sekar dan juga Ningsih kakak Sekar yang Adit idolakan sejak pandangan pertama.


Setelah selesai berpamitan mereka berdua pergi menuju mobil kembali, Bagas meninggalkan rumah Sekar menuju mes.


Di dalam perjalanan Bagas bercerita kepada Adit bahwa dia sudah mendapat lampu hijau dari Sekar, dan akan bertamu malam ini ke rumah Sekar.


“Mas, aku ikut ya?” Adit yang meminta ikut kepada Bagas.


“Aduh kamu nanti mengganggu saja.”


“Enggak kok Mas, aku janji tidak mengganggu asal boleh ikut, ya Mas ya.”


“Ya sudahlah kalau begitu.”


“Yes, akhirnya aku bisa dekat sama Ningsih.”


Mereka pun akhirnya telah sampai ke mes, dan segera mengeluarkan belanjaan yang mereka beli tadi.


   

__ADS_1


__ADS_2