Desa Kemomong

Desa Kemomong
Menyelamatkan Ningsih


__ADS_3

Langit senja berangsur gelap, posisi bulan pun telah naik. Suara-suara hewan malam pun mulai terdengar. 


Cokro mengajak mereka semua untuk beribadah.


Ningsih yang melaksanakan sholat magrib merasakan seluruh tubuhnya seperti terbakar, namun Ningsih mencoba menahannya sampai mereka semua telah selesai.


Setelah selesai sholat Kuncoro mengajak mereka semua untuk malam.


Ningsih dan Sekar pun menyiapkan hidangan yang telah mereka berdua masak ke meja makan.


Semua telah berkumpul di meja makan menikmati hidangan yang di buat oleh Sekar beserta Ningsi sembari berbincang-bincang santai.


Ningsih menceritakan apa yang ia alami kepada Cokro saat ia menjalankan sholat magrib.


“Badan Ningsih terasa panas Mbah saat Ningsih melaksanakan Sholat,” ujar Ningsih.


“Tidak papa itu Nduk, karena di dalam tubuhmu tersimpan energi jahat dari bayi itu,” Cokro yang menjelaskan.


“Lalu kapan ritualnya akan di mulai mbah,” tanya Adit.


“Tengah malam,” ujar Cokro.


“Kenapa lama sekali Mbah, Adit khawatir kepada Ningsih,” ucap Adit.


“Dit berdoa saja minta kepada gusti Allah karena gusti Allah yang memiliki alam semesta ini berserta isinya, mbah hanya sebagai pelantarannya saja,” sahut Cokro.


“Iya Mbah,” sahut Adit.


Setelah semuanya telah selesai makan mereka pun pergi ke ruang tamu untuk mengobrol sembari menunggu jam 00.00 malam.


 Ningsih berusaha untuk tenang walau pun sebenarnya ada ketakutan di dalam hatinya ia mencoba berserah diri kepada Sang Maha Pencipta.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam sudah waktunya Cokro melakukan ritual terhadap Ningsih.


Cokro mengajak mereka semua berkumpul di ruang tengah.


“Tidurlah Nduk,” perintah Cokro yang sedang duduk bersila.


Ningsih pun mengikuti perintah Cokro. Ia tidur di samping Cokro yang sedang duduk bersila.


“Kalian semua bentuk lah perisai lingkaran dan bacalah lafadz Allah!” perintah Cokro kepada mereka semua.


Kuncoro, Bagas, Adit, beserta Sekar pun duduk berjauhan mengelilingi tubuh Ningsi dan juga Cokro yang sedang duduk di samping Ningsih yang berbaring di sampingnya.


Cokro mulai meletakan tangan kanannya di perut Ningsih, dengan kekuatan doa dan di bantu oleh tenaga dalam yang Cokro miliki ia mulai mencoba melenyapkan bayi iblis yang ada di perut Ningsih.


Di saat Cokro menempelkan tangannya dan berdoa, Ningsih mulai mengeram kesakitan.

__ADS_1


“Sakit Mbah! perut Ning sakit sekali!” ujar Ningsih merintih kesakitan.


Namun semuanya mencoba tidak memperdulikan  Ningsih termasuk Cokro yang fokus membaca doa.


Tapi anehnya janin yang ada di perut Ningsih dapat bergerak seakan-akan ia tidak ingin di musnahkan.


Ningsih pun semakin berteriak histeris di kala janin itu bergerak tanpa bisa di kendalikan.


“Sakit Mbah! Sakit!” teriak Ningsih sembari mengepal kedua tangannya menahan sakit di dalam perutnya.


Kuncoro, Sekar, beserta Adit tidak kuasa melihat Ningsih yang sedang kesakitan, namun mereka harus fokus agar Cokro bisa menyelamatkan Ningsih.


 Semakin lama Ningsih semakin berteriak dan mengeram tidak bisa di kendalikan lagi sampai akhirnya.


Tubuh Ningsih mulai dikuasai oleh makhluk itu, suara Ningsih berubah menjadi besar matanya melotot ke arah Cokro, lalu Ningsih yang berhasil di kuasi makhluk itu pun berkata.


“Ha-ha-ha-ha, kalian semua akan mati,” ujar makhluk itu yang berhasil menguasai Ningsih.


Cokro pun mulai mengangkat tangan kanannya yang di tempelkan di perut Ningsih, ia letakkan di wajah Ningsih sembari berdoa Cokro mulai menggunakan tenaga dalamnya mengerakkan tangannya dari kepala hingga perut Ningsih.


“Allahhu Akbar,” teriak Cokro melepas semua tenaga dalamnya.


Sontak saja darah segar yang berwarna hitam keluar dari organ kewanitaan Ningsih lalu mengalir sampai ke paha Ningsih dan juga ke lantai.


Semua yang tidak pernah melihat kejadian itu pun sangat terkejut.


Sampai darah yang berwarna hitam itu tidak ada lagi.


Melihat darah yang berwarna hitam itu telah hilang Cokro menguap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Alhamdulillah, semua telah hilang,” sahut Cokro mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ningsih pun tidak sadarkan diri, Kuncoro mencoba membangunkan Ningsih.


“Tenang saja putrimu tidak apa-apa dia hanya tidak sadarkan diri saja,” ujar Cokro.


Kuncoro pun bisa merasakan tenang.


“Nduk Sekar, Mbah minta segelas air putih,” ucap Cokro.


“Iya Mbah, sahut sekar yang pergi ke dapur mengambilkan segelas air putih yang di minta oleh Cokro.


Tidak lama kemudian Sekar memberikan segelas air putih yang ia bawa kepada Cokro.


Cokro pun membacakan doa di dalam gelas yang berisi air putih itu.


“Bangunkan anakmu Kuncoro, minumkanlah dia air ini,” perintah Cokro.

__ADS_1


“Ba-baik Mbah,” sahut Kuncoro.


Ningsih pun di bangunkan oleh Kuncoro.


“Ning bangun, Ning,” ucap Kuncoro menggoyang-goyangkan tubuh Ningsih.


Ningsih pun membuka matanya, selepas itu Kuncoro memberikan segelas air putih yang telah didoakan  Cokro kepada Ningsih.


“Minum air ini Ning,” ujar Kuncoro yang membatu Ningsih duduk dan meminumkan segelas air putih itu hingga habis.


Setelah air segelas air putih itu telah habis Ningsih mulai bertanya kepada Cokro.


“Mbah apakah semuanya telah selesai,” tanya Ningsih.


“Alhamdulillah Nduk atas ijin gusti Allah semuanya telah selesai denganmu tapi tidak dengan semuanya,” ujar Cokro yang memberikan teka-teki kepada mereka.


“Apa maksudnya Mbah,” tanya Adit.


“Intinya kalian semua harus tetap berhati-hati termasuk Mbah juga harus berhati-hati.”


“Lalu kita harus bagaimana Mbah,” tanya Bagas.


“Tunggu saja sampai waktunya tiba,” sahut Cokro.


Kata-kata Cokro memang agak susah di cerna namun semua katanya mengandung banyak arti jika orang itu memahaminya.


Jam pun sudah menunjukkan pukul 01.00 malam.


“Sebaiknya kita semua beristirahat, sekarang Ningsih anakmu telah terbebas dari iblis itu, dan aku pun sudah memutus benang merah antara Ningsih dan makhluk itu,” Cokro yang menjelaskan.


“Terima kasih Mbah, saya tidak bisa membalas kebaikan Mbah,” ucap Kuncoro sembari bersalaman dengan mbah Cokro.


“Ini sudah tugasku membantu orang yang sedang membutuhkan pertolongan,” sahut mbah Cokro.


 Mereka semua pun kembali ke kamar mereka masih-masih untuk beristirahat.


Ningsih yang sudah berada di kamarnya beserta Sekar pun sekarang bisa tersenyum dengan tenang karena bayi iblis yang bersemayam di rahimnya pun kini telah hilang untuk selamanya.


Peristiwa ini mengajarkan Ningsih untuk menerima semua yang Allah berikan kepadanya, Ego yang tinggi membuat Ningsih khilaf dan gelap mata mencoba melakukan apa saja agar keinginannya terpenuhi.


Mungkin terkadang Allah tidak mengabulkan semua apa yang kita inginkan, tapi percayalah Allah akan memberikan yang kita butuhkan.


Nantikan cerita


selanjutnya dukungannya ya gaes seikhlasnya saja.


 

__ADS_1


__ADS_2