
Seminggu telah berlalu tidak ada tanda-tanda dari Seno, Seno yang masih membutuhkan waktu untuk beristirahat menyembuhkan luka dalamnya.
Kebetulan hari ini hari minggu Bagas beserta Adit libur bekerja.
Pagi itu Adit yang tampak sudah berpakaian rapi tidak seperti biasanya mendatangi Bagas yang tengah duduk santai di luar memandangi pabrik yang sudah mulai berdiri kembali.
“Mas, aku mau ke kota ingin mengajak Ning bertemu orang tuaku, Mas mau ikut tidak,” celetuk Adit.
“Emang kenapa, Dit?”
“Engak kenapa-kenapa, kalau mau gak ikut aku pinjam mobilnya,” ucap Adit sembari menyeringai seperti kuda.
Bagas yang terdiam sejak berfikir.
“Emmm ... Aku ikut deh, aku mau healing sesaat sekalian mau mampir ke rumah ada yang mau aku ambil di rumah,” ujar Bagas.
“Kalau Mas ikut aku pinjam motor Mas saja,” ucap Adit.
“Kenapa tidak sekalian ikut?” tanya Bagas.
“Mas lupa mobil kita kan, mobil bok terbuka lalu aku duduk di mana, di belakang, di boknya? Ya aku tidak bisa dekat sama Ningsih, Mas” ujar Adit kesal.
“Ha-ha-ha, iya-iya Dit aku Cuma bercanda.
“Ya sudah kalau begitu, aku mau tukar mobil saja di rumah jadi nanti kita pulang bisa bersama-sama, lagi pula kita hanya berdua sekarang peralatan kita juga tidak terlalu banyak,” ucap Bagas.
“Lah nanti motor sampean di taruh mana.”
“Taruh saja di rumahku Dit. Kita kan di Sini masih ada satu motor buat jalan.”
“Padahal aku mau bawa motor ku di rumah yang nganggur lo, Mas.”
“Udah nanti pulangnya ikut aku saja,” ujar Bagas.
“Ya sudah jika kalau begitu aku pergi dulu pinjem kunci motor, aku duluan ke tempat Ning.”
Bagas memberikan kunci motornya kepada Adit, selepas itu Adit yang telah mendapatkan kunci dari Bagas pun langsung menuju motor Bagas.
Adit menyalakan motor Bagas, setelah itu pergi meninggalkan Bagas yang sendirian di mes menuju rumah Ningsih.
Selepas Adit pergi Bagas pun menyalakan mesin mobilnya untuk memanaskan mesin mobil tersebut.
30 menit telah berlalu Adit yang telah tiba di depan halaman rumah Kuncoro.
Tokkk ... Tok ( suara kerukan pintu)
“Assalamualaikum,” ucap Adit sembari mengetuk pintu rumah Kuncoro.
Mendengar ada yang mengetuk pintunya Kuncoro pun mendatangi dan membuka pintunya.
“Eh Nak Adit, tumben pagi-pagi sekali ke rumah? Ayo masuk?” ujar Kuncoro.
“Iya Pak, mau mengajak Ningsih ke kota untuk bertemu dengan orang tua saya,” tutur Adit menyampaikan isi hatinya.
“Oh silahkan Nak Adit, sudah ngomong sama Ningsihnya?”
“Belum Pak, Adit mendadak mau ngasih kejutan kepada Ningsih juga.”
“Ya sudah Bapak panggil dulu Ningsihnya,” kata Kuncoro.
“Ningsih! Ning! Ini di cari Mas Adit!” teriak Kuncoro.
“Iya Pak,” sahut Ningsih yang berada di dapur bersama Sekar.
Ningsih pun meninggalkan pekerjaannya di dapur bersama Sekar, Ningsih berjalan menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu Kuncoro memberitahu Ningsih.
“Ada apa Pak?” tanya Ningsih
“Ini Loh, Mas Adit mau mengajak kamu ke kota untuk bertemu orang tuanya,” Kuncoro yang menjelaskan.
“Loh mendadak sekali Mas, kenapa tidak memberi tahu Ningsih dari kemarin. Ningsih masih belum rapi!” sahut Ningsih yang terkejut.
“Maksudku biar jadi kejutan buat mu Ning,” kata Adit.
“Ya ampun Mas Adit, ini Ningsih yang kelabakan kalau begini,” sahut Ningsih yang protes.
“Sudah Nduk kamu bersiap-siap sana ganti baju!” perintah Kuncoro.
Ningsih pun meninggalkan mereka berdua lalu pergi ke kamarnya.
Tidak lama kemudian Bagas pun datang. Bagas yang mengucapkan hal yang sama seperti Adit ingin mengajak Sekar ke kota.
__ADS_1
Kuncoro memahami lagi pula kedua anak gadis Kuncoro memang jarang pergi ke kota sehingga Kuncoro dapat memahaminya.
Hal yang sama yang di lakukan Sekar, Sekar pun protes karena Bagas tidak memberitahunya hal ini.
Kuncoro pun menyuruh Sekar untuk berganti pakaian, sementara mereka berdua sedang berganti pakaian Kuncoro terlebih dulu menemani Bagas dan Adit di ruang tamu.
Beberapa menit kemudian Sekar dan Ningsih telah selesai berganti baju dan berdandan dengan polesan makeup yang natural.
Tidak lupa mereka semua berpamitan kepada Kuncoro.
Setelah mereka berdua telah siap Ningsih dan Sekar menaiki kendaraannya masing-masing, Ningsih yang bersama Adit menaiki motor sementara Sekar dan Bagas menaiki mobil box terbuka.
Mereka berempat pun meninggalkan desa Ke momong menuju Kota.
Di dalam perjalanan Adit mulai berbincang dengan Ningsih.
“Maaf ya Ning, aku tidak memberitahumu terlebih dahulu, sebenarnya aku ingin ke kota ingin pulang sudah lama tidak bertemu orang tuaku. Tapi aku ingat kamu jadi sekalian saja kamu aku ajak,” Adit yang menjelaskan.
“Oh iya Mas tidak apa-apa, lagi pula Ning tidak sibuk kok Mas, tapi ....” ucap Ningsih.
“Tapi apa Ning?”
“Ning malu dengan orang tua Mas Adit, Ning kan dari desa?”
“Owalah Ning, santai bapak ibuku itu tidak memandang penampilan yang penting itu hatinya,” Adit yang menjelaskan kepada Ningsih.
Sontak saja ucapan Adit membuat Ningsih dapat tersenyum dengan tenang.
Di sisi lain Bagas beserta Sekar pun sedang asyik mengobrol di mobil,
“Kita mau ke rumah orang tua Abang kembali?” tanya Sekar.
“Iya Sekar sekalian Abang ingin membicarakan kepada orang tua Abang bulan depan melamarmu, setelah itu Abang juga mau ke rumah ada beberapa pakaian yang mau Abang ambil.”
“Oh begitu, Abang di rumah sendirian?” tanya Sekar.
“Tidak, Abang di rumah bersama bi Yani. Asisten rumah tangga Abang, soalnya Abang terkadang kerja jauh jadi bi Yani yang bertugas membersihkan rumah Abang saat Abang tidak ada,” Bagas yang menjelaskan.
“Jika setelah menikah nanti Abang tinggal di rumah bapak bagaimana nasib bi Yani?” tanya Sekar kembali.
“Kalau nanti Abang tinggal di rumah bapak, ya tidak apa-apa nanti bisa bi Yani ikut Abang ke desa tinggal bersama kita untuk membantumu mengerjakan pekerjaan rumah,” ucap Bagas.
“Tapi Sekar terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.”
“Ya Bang Sekar mengerti,” ucap Sekar.
Tidak terasa perjalanan yang mereka tempuh sudah 6 jam Adit beserta Ningsih pun sudah sampai di kota sementara Sekar beserta Adit pun telah baru tiba di kota.
Rumah orang tua Adit tidak terlalu jauh dari kota, Adit sendiri tinggal bersama orang tuanya.
Beberapa menit kemudian Adit telah sampai di rumah orang tuanya.
Adit memarkirkan motornya di halaman rumahnya barulah ia mengajak Ningsih turun.
“Ayo Ning,” ajak Adit sembari menggandeng Ningsih.
“Assalamualaikum, bu, pak!” pekik Adit sembari mengetuk pintu rumahnya.
Ibu Adit yang mendengar suara anak mengetok pintu pun segera menghampirinya membukakan pintu untuknya.
“Owalah kamu to Dit, gak ngasih kabar kalau mau pulang,” ucap ibu Adit.
“Iya bu mendadak,” ucap Adit mencium tangan ibunya
“Ayo masuk,” ibu Adit yang mempersilahkan Adit beserta Ningsih masuk.
Mereka berdua pun masuk ke rumah.
“Bu, bapak mana?” tanya Adit.
“Ada Dit, tunggu sebentar ibu panggilkan. Pak! Pak! Ini loh anakmu datang Adit,” teriak ibu Adit memanggil suaminya.
Bapak Adit pun keluar dari kamarnya. Melihat Adit di ruang tamu bersama Ningsih.
Bapak Adit pun menghampiri mereka yang berada di ruang tamu.
“Dit kamu kok tidak menelepon ibu dan bapak jika mau ke rumah?” ucap bapak Adit.
“Sengaja mau ngasih kejutan untuk bapak dan ibu,” pungkas Adit.
“Oh iya, kenalin Bu, Pak, ini Ningsih,” ucap kembali Adit yang memperkenalkan Ningsih
“Ningsih! Bu, Pak,” sahut Ningsih yang bersalaman dan mencium tangan kedua orang tua Adit.
__ADS_1
“Oh iki to yang namanya Ningsih, ayu seperti Namanya,” celetuk ibu Adit.
“Iyo to, gak salah to Adit milih calon mantu,” sahut Adit.
“Iya gak salah Le,” ucap bapak Adit.
“Oh iya kalian berdua pasti lapar to ibu tadi kebetulan masak banyak, ayo kita makan dulu,” tutur ibu Adit.
“Kok ibu tahu kalau Adit itu lapar.”
“Ibu itu sudah tahu sifatmu Dit?” ujar Ibu Adit.
“Ayo kita makan dulu,” ajak bapak Adit kepada mereka berdua.
“Ayo Ning kita makam dulu,” ajak Adit.
“Iya Mas,”
Mereka semua pergi ke meja makan Ningsih pun membantu ibu Adit mempersiapkan makanan di meja makan.
Setelah semua makan di sajikan di atas meja makan, mereka semua pun menikmati makan siang sembari Adit membicarakan niatnya ingin melamar Ningsih di bulan depan.
Sementara di sisi lain Bagas yang telah sampai di rumah orang tuanya sedari tadi.
Bagas tengah membicarakan niatnya ingin melamar Sekar di bulan depan kepada ibu dan Ayahnya.
Orang tua Bagas sangat senang anaknya akan segera menikah. Hal itu di sambut baik oleh orang tua Bagas.
“Bagaimana menurut Bapak dan Ibu?”
“Bapak dan ibu sangat setuju, kalau ibu bagaimana?” tanya Ayah Bagas.
“Ibu sangat senang Jika Bagas segera menikah, jadi ada yang mengurus dirinya, Ibu tidak terlalu kepikiran Pak,” ucap Ibu Bagas.
“Apa sih Bu, Bagas kan sudah besar bisa mengurus diri Bagas sendiri,” pungkas Bagas.
“Iya benar kata Ibumu Bagas. nanti Bapak Ibu bulan depan akan ke rumah Sekar untuk melamar Sekar untukmu,” sahut Ayah Bagas.
Mendengar kedua orang tua Bagas merestui hubungan mereka dan ingin mereka secepatnya menikah Sekar beserta Bagas pun sangat senang mendengarnya.
Setelah mereka mengobrol cukup lama Bagas pun berpamitan pulang ke rumahnya karena ada sesuatu yang ingin di ambilnya.
“Bu, Pak Bagas dan Sekar pamit dulu,” ucap Bagas yang bersalaman dengan kedua orang tuanya sembari mencium tangan kedua orang tuanya.
Begitu juga Sekar yang juga berpamitan kepada calon mertuanya bersalaman dan mencium tangan kepada mereka berdua.
Bagas beserta Sekar pun pergi meninggalkan rumah orang tuanya menuju ke rumah Bagas.
Beberapa menit kemudian Bagas telah sampai di rumahnya.
Hal itu di sambut oleh bu Yani.
Bi Yani pun menanyakan wanita yang di bawa oleh Bagas, karena baru kali ini Bagas membawa seorang wanita ke rumahnya, karena Bagas hanya sibuk bekerja tidak ada waktu untuknya mengenal wanita dengan Sekarlah hatinya berlabuh, Sekar adalah wanita idamannya.
“Sekar tunggu dulu ya di sini, di temani bi Yani, Abang ingin mengambil baju dulu di kamar untuk di bawa,” ucap Bagas.
“Iya Bang,” sahut Sekar.
Sekar pun berbincang-bincang dengan bi Yani.
Beberapa menit kemudian Bagas telah selesai mengambil pakaian yang ada di kamarnya.
Bi Yani pun yang sudah menyiapkan makan siang di bantu oleh Sekar.
Merek bertiga makan bersama-sama sembari berbincang santai.
Tidak terasa jam telah berlalu begitu cepat Bagas pun menelepon Adit untuk datang ke rumahnya agar merek bisa pulang secara bersama.
15 menit kemudian Adit tiba di rumah Bagas, karena hari sudah menjelang sore.
Mereka semua pun tidak lupa berpamitan kepada bi Yani, setelah berpamitan barulah Bagas berserta yang lain bergegas menaiki mobil Bagas, agar tidak terlalu malam sampai di desa Kemomong.
Bagas mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya kembali menuju desa Kemomong.
***
Enam jam telah berlalu hari pun telah berganti menjadi malam, mereka berempat telah tiba di rumah Kuncoro.
Bagas beserta Adit mengantar Sekar dan Ningsih pulang.
Karena hari sudah mulai larut malam Bagas beserta Adit pun berpamitan kepada Kuncoro untuk kembali ke Mes.
Setelah selesai berpamitan Bagas beserta Adit menuju mobil mereka dan meninggalkan rumah Kuncoro kembali ke mes.
__ADS_1
bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya.