
Teriakan yang begitu melengking dan menggema membuat para warga desa yang mencari Bagas beserta Adit pun mendengarnya.
“Mereka berdua ada di tengah hutan di pohon?” Pekik Kuncoro.
Para warga pun berlari ke tengah hutan di mana suara makhluk itu berasal.
Sementara tubuh makhluk itu menjadi sedikit demi sedikit menjadi serpihan debu.
Lalu hilang, Adit tiba-tiba tidak sadarkan diri, Cokro yang merasuki dirinya pun keluar dari tubuh Adit.
Bagas menghampiri Adit yang tergeletak di tanah.
“Dit Bangun, bangun semua telah berakhir,” ucap Bagas membangunkan Adit.
Adit pun terbangun dan terkejut.
“Iblis itu Mas,” ujar Adit.
“Tenang Dit, semua telah berakhir iblis itu telah lenyap untuk selamanya,” ucap Bagas.
“Alhamdulillah Mas, semua telah berakhir,” ujar Adit.
“Adit cucuku,” suara arwah Cokro.
“Mbah Kakung!” ucap Adit yang terkejut.
“Tugasku menjagamu telah selesai cucuku, mbah ingin kembali ke alam mbah dengan tenang,” ucap arwah Cokro.
“Terima Kasih mbah, telah membantu menjaga Adit hingga sekarang ini,” ujar.
“Cucuku ingatlah pesan mbah, dekatkanlah dirimu kepada Sang Maha Pencipta, karena hidup di dunia hanya sesaat dan ‘mereka' akan enggan kepada orang yang berserah diri dengan Sang Pencipta,” pesan Cokro.
Arwah Cokro pun naik ke atas langit ke tempat yang seharusnya ia berada.
“Bagas! Adit!” teriakan penduduk desa.
Adit beserta Bagas yang mendengar teriak penduduk desa pun menghampiri mereka.
“Kami di sini!” Pekik Adit.
Mereka berdua pun di temukan oleh warga desa dengan luka-luka yang ada di tubuh mereka.
Bagas beserta Adit pun pulang dengan di bopong para warga.
Tidak lupa Adit menyimpan kembali keris pemberian Cokro di selipan pinggangnya.
Sesampainya di rumah luka Bagas berserta Adit pun di obati oleh Sekar dan juga Ningsih.
“Ahhh ... Aduh pelan-pelan Ning,” ucap Adit.
“Ini sudah pelan-pelan Mas, tahan dulu!” ucap Ningsih sembari mengobati luka Adit.
“Kok bisa sampai seperti ini Mas?” ucap Sekar.
“Panjang ceritanya,” sahut Bagas sambil meringis menahan sakit dan juga perih.
__ADS_1
***
Beberapa bulan kemudian kehidupan rumah tangga Adit dan Bagas semakin harmonis, hingga suatu kabar bahagia menyelimuti keluarga kecil mereka masing-masing.
Adit dan Bagas terlihat tengah bersantai duduk di teras rumah bersama Kuncoro, tiba-tiba Ningsih dan Sekar menghampiri mereka di teras dengan raut wajah semringah.
“Kenapa kalian? Kayaknya seneng banget?” ucap Bagas.
“Iya. Memang ada apa?” tanya Kuncoro.
“Pak. Sebentar lagi Bapak akan menimang cucu,” ucap Sekar.
Bagas yang mendengar hal itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Sekar.
“Kamu serius?” Bagas memegang kedua bahu istrinya itu.
Sekar mengangguk, “Sekar serius Mas. Kami berdua sudah cek di puskesmas.”
“Terima kasih Gusti Allah! Aku jadi Bapak!” pekik Adit senang.
“Jadi kalian hamilnya bersamaan?” tanya Kuncoro.
“Iya pak usia kandungannya 1 minggu,” sahut Ningsih malu-malu.
“Lho ... Kalian produksinya janjian apa gimana?” ucap Kuncoro.
“Hebat juga kalian ya, bisa beri bapak 2 cucu sekaligus,” sambung Kuncoro.
“Yo jelaa to Pak. Berkat resep jamu dari bapakku,” sahutnya tertawa girang.
Adit dan Bagas mulai bersikap protektif terhadap Ningsih dan juga Sekar, rona bahagia terpancar jelas di kedua pasang suami istri ini.
Waktu berlalu, perut Sekar dan Juga Ningsih mulai terlihat membesar sesekali Bagas mengelus perut istrinya itu.
“Sekar nanti anak kita mau di kasih nama siapa?” tanya Bagas.
“Belum tahu Mas, Sekar masih belum memikirkan hal itu,” ucap Sekar.
“Ya sudah kalau gitu kita tunggu dia sampai lahir saja,” sahut Bagas.
“Sekar sangat tidak menyangka bisa sampai ke tahap ini mas. Rasanya seperti mimpi,” ucap Sekar.
“Mas pun begitu Sekar dan Mas sangat bahagia,” ucap Bagas sembari mengelus lembut perut istrinya yang membuncit itu.
Perut Sekar dan Ninggih semakin besar hingga masuk di bulan ke-7 saat dimana harus diadakan prosesi siraman 7 bulaman.
Segala sesuatu telah di persiapkan untuk acara siraman, para warga sangat bahagia akan kabar baik ini.
Mereka bahkan menghampiri Ningsih dan juga Sekar untuk sekedar mengelus perut mereka.
“Wah kalian hamilnya bisa berbarengan ya,” ucap salah satu tetangga Kuncoro.
“Iya Bu. Alhamdulillah,” sahut Sekar.
“Semoga nanti anak Ibu bisa seperti kalian, dapat suami yang tampan, bertanggung jawab dan yang terpenting perkasa!”
__ADS_1
“Pppthhhhh,” Ningsih menahan tawanya.
“Memang suami ibu gak perkasa?” tanya Ningsih.
“Ohh ... Jangan salah sumai ibu itu tahan lama,” sahutnya.
Ningsih dan Sekar tertawa terbahak mendengar jawaban luar biasa itu, hingga Bagas dan Adit datang.
“Kenapa to ketawa-ketawa? Ada cerita lucu ya?” tanya Adit.
“Gak Mas,” sahut Ningsih.
“Kita lagi ngomongin keperkasaan pria,” sahut ibu itu.
“Ahh ... Aku gak ikut-ikutan deh aku balik ke depan aja,” ucap Bagas.
Namun Adit penasaran dan malah ikut bergabung bersama Ibu itu.
“Keperkasaan gimana to bu?” tanya Adit.
“Ya ... Suami saya itu perkasa dan tahan lama,” sahutnya santai.
“Tahan lama udah kaya iklan aja yang selogannya 'Kuat dan tahan lama' ha-ha-ha,” ucap Adit.
“Memang iklan apa Mas?” tanya sekar.
“Iklan semen,” sahut Adit.
Sekar dan Ningsih tertawa mendengar jawaban dari Adit.
“Nak ayo kita ke depan,” ucap ibu dari Bagas.
“Baik Bu. Ayo Mbak Ning acaranya sudah mulai,” ucap Sekar.
Sekar dan Ningsih pun keluar dengan balutan kain jarik sebagai penutup tubuh mereka. Sekar dan Ningsih duduk bersebelahan mereka berdua di mandikan oleh tetua di desa itu namanya Nenek Salamah.
Sedangkan Adit dan juga Bagas tengah sibuk menjajakan rujak kepada para warga sebagai proses acara siraman.
Acara siraman berlangsung meriah semua warga bersuka cita, mereka juga membagikan banyak jajanan pasar secara gratis untuk para warga yang hadir dalam acara itu hingga acara siraman selesai.
“Duh rame banget! Boyo (pinggang) ku sampe pegel,” ucap Adit.
“Tapi seru juga ya di sini banyak yang datang,” ucap Bagas.
“Warga di sini memang begitu, jika ada acara di salah satu warga semua warga wajib hadir,” sahut Kuncoro.
“Oalahh ... Pantesan kaya pasar, rame banget.”
“Gak sabar aku nunggu kamu lahir,” Bagas mengelus perut Sekar.
“Iya sebentar lagi Mas bakalan jadi Bapak dan Mas Adit jadi Paman,” ucap Sekar.
Canda tawa tercipta di kediaman Kuncoro itu, susana berubah sejak kehadiran Adit dan Bagas yang awalanya rumah itu terasa sepi hanya ada Kuncoro dan dua putrinya yang tak akur dan kadang sering bertengkar. Namun sekarang suasana rumah itu menjadi hangat penuh canda serta tidak ada lagi perselisihan antar saudara yang ada hanya kebahagiaan di tambah lagi Kuncoro akan segera menimang cucu.
tersambung dulu gengs Jangan lupa uthor minta dukungannya ya. makasih
__ADS_1