
Malam telah tiba Ningsih yang ingin berpamitan kepada Kuncoro untuk pergi ke rumah temannya.
“Mau ke mana Ning?” tanya Kuncoro.
“Mau ke tempat Arumi Pak?” Ningsih yang berbohong.
“Ya sudah pulang jangan terlalu malam,” pesan Kuncoro.
“Iya Pak,” sahut Ningsih.
Ningsih keluar dari rumahnya pergi menuju rumah mbah Seno.
Sekar yang tidak melihat kakaknya pun menanyakan kepada bapaknya.
“Pak mbak Ning kok gak ada di kamar,” sahut Sekar yang dari dapur membawakan Kuncoro segelas kopi panas.
“Mbakmu keluar tadi pamitan sama Bapak mau ke rumah Arumi,” Kuncoro yang memberitahukan Sekar.
‘Kenapa mbak Ning akhir-akhir ini sering keluar malam ya,' Batin Sekar.
“Ya sudah kalau begitu Sekar mau ke kamar dulu,” ucap Sekar yang berjalan meninggalkan Kuncoro pergi ke kamarnya.
Sementara di sisi lain Ningsih yang telah tiba di rumah mbah Seno pun di suruh masuk oleh anak laki-laki mbah Seni ke kamar ritual Bapaknya.
Tanpa berlama-lama Ningsih masuk ke kamar ritual mbah Seno.
Di sana terlihat mbah Seno yang sedang duduk bersila menghadap perapian.
“Masuk Ningsih,” ucap mbah Seno yang tahu Ningsih datang.
Ningsih pun masuk lalu duduk berhadapan dengan mbah Seno.
“Ada apa kamu ke sini lagi?” tanya mbah Seno.
“Mbah Ning mau pelet yang lebih mujarab dari kemarin,” ujar Ningsih.
“Mbah akan memberikan apa yang kamu inginkan. Tapi ada syarat yang harus kamu lakukan,” kata mbah Seno.
“Syarat apa Mbah?” tanya Ningsih.
“Kamu harus melaksanakan ritual! Apakah kamu berani Ningsih?” ucap mbah Seno.
“Ritual, iya Mbah Ningsih akan melakukan apa saja demi mendapatkan bang Bagas,” tekat Ningsih yang sudah bulat.
“Baiklah jika begitu malam ini ikutlah denganku,” sahut Mbah Seno.
“mau ke mana Mbah?” tanya Ningsih.
“Ke tengah hutan,” ujar mbah Seno.
__ADS_1
Mbah Seno mengajak Ningsih ke hutan dengan mengendarai motor miliknya walau pun mbah Seno di golong sudah berumur namun fisik mbah Seno masih sangat begitu kuat.
Ningsih dan mbah Seno keluar dari rumah karena lokasi tengah hutan lumayan jauh dari desa dan melewati mes para pekerja proyek.
Jarak dari desa ke tengah hutan sendiri menempuh 45 menit jika menaiki kendaraan bermotor.
“Ayo Nduk,” ajak mbah Seno yang sudah duduk di motornya.
“Iya Mbah,” sahut Ningsih yang menaiki motor di belakang mbah Seno.
Mbah Seno juga tidak lupa membawa barang-barang yang akan di pakainya sebagai ritual.
Mbah Seno mulai menjalankan motornya pergi ke tengah hutan meninggalkan rumahnya.
Sementara di sisi lain Adit yang tengah sendirian di luar mes ingin menenangkan hatinya yang tengah patah hati.
Adit yang sedang berdiri di samping mobil alat beratnya.
‘Ning kamu kok tega, padahal aku iku tulus mencintaimu, tapi kamu malah nyakitin hatiku,' gumam Adit yang sedang sendirian.
‘Jika kamu memang tidak mau denganku kenapa kamu mempermainkan hatiku Ning. Loro rasene Ning, loro bangat hatiku (sakit rasanya Ning, sakit banget hatiku),' gumam kembali Adit.
Di tengah kesendirian Adit dan kesedihannya secara tidak sengaja Adit melihat Ningsih di bonceng oleh mbah Seno masuk ke dalam hutan.
“Iku Ningsih sama mbah Seno,” celetuk Adit sembari mengusap-usap matanya berharap yang dia liat tidak salah.
“Oh iya benar itu Ningsih, mau apa dia sama mbah Seno. Aku harus mengikutinya,” ucap Adit kembali mulai berlari mengikuti mereka berdua.
Beberapa alat yang di gunakan untuk ritual pun mbah Seno keluarkan.
Mbah Seno mulai duduk atas tikar dari bambu dengan menghadap pohon besar itu tungku yang berisi arang ia letakan di depannya.
Mbah Seno mulai menyalakan tungku yang di dalamnya terdapat arang, setelah arang itu menjadi bara barulah mbah Seno memulai ritualnya.
Ningsih yang sedang duduk di samping mbah Seno melihat di sekelingnya begitu gelap dan menyeramkan di tambah suara burung hantu yang membuat suasana menjadi seram.
Mbah Seno mulai menaburkan kemeyan yang ia bawa tadi ke tungku yang berisi bara api.
Seketika kemeyan itu menjadi gumpalan asap yang tipis, setelah itu mbah Seno mulai membacakan mantra.
Di sisi lain Adit yang kehilangan jejak mereka berdua pun mencari cara agar bisa menemukan mereka.
Adit menyalakan lampu senter yang ada di HP nya lalu mulai mencari jejak ban motor yang di gunakan mbah Seno beserta Ningsih.
Adit yang mendapatkan jejak ban motor itu pun mencoba mengikutinya.
Sementara mbah Seno yang sudah selesai membacakan matra memerintahkan Ningsih untuk menjalankan ritualnya.
“Buka bajumu semuanya tidak boleh ada sehelai kain pun yang menutupimu, setelah itu tidurlah di atas tikar ini tutup kedua matamu jangan di buka sampai mbah bilang selesai,”
__ADS_1
“Tapi mbah Ningsih takut tidak bisa membuka baju Ning semuanya,” Ningsih yang sudah mulai takut.
“Tadi mbah sudah katakan apa kamu berani! Kamu jawab berani melaksanakan ritual ini, kita sudah jauh-jauh datang ke sini. Setelah itu kamu tidak ingin, semua yang kamu inginkan akan sia-sia Ningsih,” mbah Seno yang memperingati Ningsih.
Mau tidak mau Ningsih mulai melaksanakan perintah mbah Seno.
Ningsih mulai melepaskan helai demi helai bajunya sampai pakaian dalam yang Ningsih kenakan.
Setelah semua pakaian yang Ningsih lepaskan kini tubuh Ningsih tidak di tutupi oleh sehelai kain pun.
Ningsih mulai berbaring di alas tikar yang terbuat dari bambu.
Selepas itu mbah Seno pun memanggil makhluk yang ia sembah berasal dari pohon besar tua itu.
Dengan mantra mbah Seno memanggil sosok mahluk itu.
Ternyata mbah Seno ingin Ningsih berhubungan badan dengan mahluk yang ia sembah.
Mahluk menyeramkan itu pun datang mulai mendekati Ningsih.
Mahluk itu mengeluarkan lidahnya yang panjang untuk menjilati tubuh Ningsih yang tanpa sehelai kain itu.
Ningsih yang merakan sesuatu yang aneh di sekitar tubuhnya pun mulai tidak kuasa menahan dirinya.
Ningsih mencoba membuka matanya sontak saja Ningsih menjerit ketakutan melihat sosok mahluk yang sedang menjilati tubuhnya.
Nasib baik masih berpihak kepada Ningsih mahluk itu belum sempat berhubungan badan dengan Ningsih Adit pun datang karena mendengar teriakkan Ningsih.
“Hai dedemit jangan mendekati Ningsih,” teriak Adit di belakang mahluk itu.
Mahluk itu pun mendatangi Adit hendak ingin menyerangnya, dan saat mahluk itu ingin menyerang Adit Ningsih mulai mengenakan semua pakainnya
Adit bingung kala itu apa yang harus ia lakukan Adit hanya teringat dengan tuhannya.
Adit pun membacakan doa dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa untuk di lindungi.
Dengan kekuatan doa yang tulus dari Adit mahluk itu merasa panas di sekujur tubuhnya lalu berubah menjadi gumpalan asap hitam yang menembus batang pohon besar itu.
Setelah mahluk itu hilang Adit mendatangi mbah Seno lalu memberinya pelajaran.
Adit yang kesal akan tindakan mbah Seno pun memukulinya.
“Mas hentikan,” teriak Ningsih
Mendengar teriakan Ningsih, Adit pun menghentikan pukulannya.
Adit membawa Ningsih pergi dari tempat itu.
“Ayo Ning kita tinggalkan tempat terkutuk ini,” Adit yang menarik tangan Ningsih meninggalkan tempat ritual itu.
__ADS_1
Mereka berdua pun meninggalkan tempat itu dan membiarkan mbah Seno yang terduduk di tanah akibat pukulan yang Adit lontarkan kepadanya.
“Kalian sudah berani kepadamu, tunggu pembalasanku kalian semua akan mati!” ucap mbah Seno yang sangat kesal