
Malam telah tiba Bagas beserta Adit sedang bersiap-siap ingin pergi ke rumah bapak Kuncoro untuk bertemu Sekar dan Ningsih.
“Mas aku sudah ganteng apa belum,” tanya Adit sembari cengar-cengir kepada Bagas.
“Udah Dit, ganteng banget Ningsih pasti tertarik denganmu,” sahut Bagas yang tersenyum.
“Opo iyo to Mas ( apa iya sih Mas)”
“Wih mau pada ke mana nih kalian berdua rapi amat,” celetuk Edwin yang menghampiri Bagas dan Adit.
“Bukan urusanmu,” sahut Adit.
“Aroma-aromanya mau ketemu cewe nih, ya gak Dit?” tanya Edwin.
“Kalau iya kenapa, terus kalau gak kenapa?” ujar Adit.
“Kalau iya sih kenalin aku cewek mana yang kamu taksir Dit?”
“Owalah, bahaya nanti kalau aku kenalin sama kamu, bisa cewekku kamu sikat. Kamu kan buaya darat Win,” celetuk Adit.
“Ha-ha-ha, tenang saja Dit aku tidak level sama cewek mu,” celetuk Edwin yang meledek Adit.
“Ooo, kurang asem nih orang,” ujar Adit yang kesal.
“Sudah-sudah, ayo kita pergi kalian berdua ini udah kaya kucing dan tikus saja selalu bertengkar,” Bagas yang menasihati mereka berdua.
“Ayo Dit, cepetan entar aku tinggal,” ucap Bagas yang berjalan keluar mes menuju mobilnya.
“Tunggu ya Win, urusan kita belum selesai,” celetuk Adit berjalan meninggalkan Edwin
“Dit! Jangan lupa pulang bawa oleh-oleh” teriak Edwin.
Bagas dan Adit telah keluar dari mes, mereka berdua menuju mobil Bagas. Setelah sampai di pintu mobil mereka bergegas masuk ke dalam mobil lalu menuju rumah wanita yang mereka suka.
Di tengah perjalanan Adit mengajak Bagas untuk mengobrol.
“Mas, kira-kira Ningsih suka gak ya sama aku?” tanya Adit yang pesimis.
“Dit aku kasih tahu kamu ya, cewek jinak-jinak merpati memang di hadapan kita mereka sok jual mahal tapi sebenarnya mereka menyimpan hati kepada kita.”
“Ah masa sih Mas, tapi kalau aku liat Sekar memang suka juga sama Mas Bagas, tapi kalau Ningsih aku masih belum yakin.”
“Adit ... Adit, aku kasih tahu lagi ya, cewek itu paling suka di perjuangi, jadi kamu harus memperjuangkan cintamu untuk mendapatkan Ningsih,” saran dari Bagas
“Masa to Mas, oke lah kalau begitu aku akan memperjuangkan cintaku demi mendapatkanmu Ningsih,” celetuk Adit yang bersemangat.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di rumah pak Kuncoro.
Bagas beserta Adit keluar dari mobil mereka yang parkir di halaman rumah Kuncoro.
“Assalamualaikum,” ucap Bagas sembari mengetuk pintu rumah Kuncoro.
Mendengar ada yang mengetok pintu Kuncoro pun keluar.
“Waalaikumsalam,” sahut Kuncoro membukakan pintu mereka berdua.
“Oh Nak Bagas dan Nak Adit, ada apa ya?” tanya Kuncoro.
“Emmm ... gak papa Pak mau berkunjung aja ke rumah Bapak tadi siang kebetulan ke temu Sekar di pasar, dan saya berniat untuk berkunjung ke rumah Bapak,” ujar Bagas menjelaskan maksud kedatangannya.
“Ohhh tunggu sebentar Bapak panggilkan Sekar dan Ningsih dulu, Ayo masuk Nak Gas dan Nak Dit,” Kuncoro yang mempersilahkan masuk.
“Terima kasih Pak.”
Bagas berserta Adit masuk ke dalam rumah Kuncoro lalu duduk di ruang tamu.
“Ningsih, Sekar ini loh Nak Bagas dan Nak Adit sudah datang!” teriak Kuncoro memanggil kedua anaknya seperti tahu tujuan mereka berdua.
“Iya Pak,” sahut serentak Ningsih dan Sekar di dalam kamar.
“Ayo Mbak kita keluar, Bapak sudah memanggil,” tegur Sekar.
Sekar pun meninggalkan Ningsih, menuju ke dapur membuatkan mereka minuman.
Sementara Ningsih tengah sibuk di dalam kamar memoles wajahnya dengan riasan natural.
‘Pasti Bang Bagas tertarik kepadaku, secara aku kan yang lebih cantik ke timbang Sekar,' gumam Ningsih di cermin sedang merias wajahnya.
Sekar telah sampai di ruang tamu sambil membawakan minuman kepada mereka bertiga.
“Duduk sini Nduk, mana Mbak mu?” tanya Kuncoro.
“Masih di kamar pak.”
“Coba panggil Nduk,” perintah Kuncoro.
Sekar kembali ke kamar memanggil kakaknya bernama Ningsih.
Setelah selesai Ningsih dan Sekar pun berjalan menuju ruang tamu untuk bertemu Bagas.
Sesampainya mereka berdua di ruang tamu Sekar dan Ningsih duduk berdampingan di samping bapaknya Kuncoro.
Bagas pun mulai membuka obrolan di tambah Adit yang selalu bisa mencairkan suasana agar ramai dengan tawa.
__ADS_1
Akan tetapi di saat mereka semua sedang asyik mengobrol salah satu warga desa dengan tergesa-gesa mendatangi Kuncoro.
Kuncoro pun keluar menuju pelataran rumahnya menemui warga desa itu.
“Ada apa Ujang kok tergesa-gesa sekali?” tanya Kuncoro.
“Begini Pak, ada kabar duka bapak Selamat meninggal kita harus ke sana,” ucap ujang yang memberitahukan kabar duka.
“Iya Jang, tunggu sebentar aku ada tamu,” Kuncoro yang masuk ke rumahnya lagi.
“Permisi Nak Bagas beserta Nak Adit, kalian berdua kalian berdua berkenan ikut dengan Bapak, ada warga desa yang meninggal. Setiap warga desa yang meninggal setiap laki-laki wajib hadir,” ucap Kuncoro.
“Oh iya Pak, tidak apa-apa kok saya beserta Adit tidak keberatan kok,” kata Bagas menawarkan dirinya.
“Pakai mobil saya saja Pak ke sananya,” Bagas menawarkan tumpangan.
“Tidak usah Nak Bagas lagi pula rumahnya tidak jauh dari sini,”
“Ya sudah mari kita pergi,” ajak Kuncoro.
“Pak, bang Bagas dan Mas Adit hati-hati di jalan,” ucap Sekar.
“Iya Sekar,” balas Bagas.
Mereka bertiga pun keluar dari rumah Kuncoro menuju almarhum bapak selamat yang baru saja meninggal.
Beberapa jam kemudian mereka bertiga telah tiba di rumah bapak Selamet.
Terlihat di sana sang juru kunci Mbah Seno telah hadir lebih dulu dari mereka.
Di desa Kemomong sendiri ada sebuah tradisi aneh yang tidak masuk nalar, sebelum jenazah di mandikan, di kafankan, laku di sholatkan jenazah itu harus di ritualkan dahulu oleh sesepuh di sana ya itu Mbah Seno sanga juru Kunci.
Mbah Seno telah duduk di samping Jenazah lalu di samping tempat duduk mbah Seno terdapat sebuah kotak yang terbuat dari kayu jadi berukuran sedang.
Dan di tangan kanan mbah Seno sendiri terdapat gunting yang terbuat dari bahan stanless.
Mbah Seno mulai mengarahkan gunting itu ke wajah pak Selamat.
Lalu mbah Seno mengambil kelopak mata pak Selamat dengan tangan Kirinya dan di guntinglah kelopak mata pak Seno.
Setelah mendapatkan kedua kelopak mata pak Selamet mbah Seno membuka kota kayu yang ia bawa lalu meletakkan kelopak mata pak Selamat di kotak kayun itu.
Kelopak mata pak Selamat di simpan oleh mbah Seno di dalam kotak kayu itu.
Pemandangan yang mengerikan dan aneh itu di lihat oleh Bagas dan Adit, mereka tidak habis pikir mengapa ritual penduduk desa Kemomong itu sangat aneh dan mengerikan.
‘Gila, apa yang di lakukan mbah Seno, apa maksud ritual sesat ini,' Batin Bagas menentang.
__ADS_1