Desa Kemomong

Desa Kemomong
Para mayat kembali bangkit


__ADS_3

Hari bahagia itu pun akhirnya tiba, acara pernikahan itu di adakan di desa Kemomong, acara itu berlangsung dia hari dua malam. 


Pernikahan mereka mengusung tema modern, ini pertama kalinya di desa Kemomong mengingat mereka biasanya mengadakan pesta pernikahan dengan sederhana. 


Sejumlah keluarga juga sudah berkumpul untuk memeriahkan kebahagiaan ini.


Ada berbagai macam hidangan yang di suguhkan serta kue-kue, Kali ini bukan hanya warga yang ada di desa Kemomong saja namun sejumlah kerabat dari Adit serta Bagas pun ikut hadir.


Dua pasang pengantin terlihat semringah, Sekar dan Ningsih tampak cantik dengan polesan make up yang memukau.


Senyum merekah terlihat jelas dari bibir mereka, sejumlah warga pun pangling melihat kecantikan dua putri Kuncoro itu.  


Sejumlah warga naik ke pelaminan untuk sekedar memberi selamat.


“Selamat ya Kuncoro, saya tidak menyangka dua-duanya menikah bersamaan,” ucap warga itu.


“Iya terima kasih atas ucapannya,” sahut Kuncoro.


Dari kejauhan terlihat Seno berjalan dan naik ke pelaminan, ia menyalami orang tua Adit dan juga Bagas hingga sampai pada Kuncoro.


“Selamay ya Kuncoro,” ucapnya.


“Terima kasih Mbah Seno atas ucapannya,” sahut Kuncoro.


Seno mendekatkan dirinya kepada Kuncoro lalu membisikkan sesuatu kepada Kuncoro.


“Sepertiknya kau melupakannya Kuncoro. Kau telah melanggarnya Kuncoro. Aku tidak yakin seluruh keluargamu akan selamat!” bisiknya.


Mata Kuncoro terbelalak mendengar ucapan Seno. Sedangkan Seno pergi dengan senyum sinisnya.


‘Apa yang dimaksud mbah Seno?’ pikir Kuncoro.


Kuncoro pun menghiraukan ucapan dari Seno itu, dia lebih fokus pada acara pernikahan kedua putrinya itu.


Acara pun berlangsung meriah semua orang berbahagia, termasuk kedua orang tua Bagas dan juga Adit.


Bahkan Ibu Adit sampai terharu karena anak semata wayangnya telah mendapatkan tambatan hatinya dan sah menjadi suami istri.


Kuncoro pun terlihat bahagia melihat kedua putrinya itu kini telah dewasa dan menjadi seorang istri.


*** 


Malam harinya saat warga tengah tertidur mbah Seno mulai melakukan ritual ilmu hitamnya. 

__ADS_1


Anak mbah Seno yang menjadi korban ilmu hitamnya tidak pernah muncul kembali karena mbah Seno telah membaca manta untuk mengusir mereka sehingga Jaka dan Joko tidak pernah muncul kembali.


Malam ini di saat keluarga telah selesai melaksanakan acara pernikahannya mbah Seni mulai beraksi kembali.


Mbah Seno mulai membenci Kuncoro beserta keluarga karena Kuncoro telah melanggar perjanjian yang telah di buat di waktu desa Kemomong itu berdiri.


Perjanjian yang tidak membolehkan warga desanya menikah dengan orang di luar desa.


Mereka yang tinggal di desa ini harus menikah dengan sesama warga desa, di tambah lagi Seno sangat membenci dan dendam kepada Bagas beserta Adit.


Kali ini ritual yang mbah Seno lakukan sangat mengerikan.


Mbah Seno yang tinggal di rumah sendirian berada di kamar ritualnya sedang duduk bersila. 


Mbah Seno mengambil serpihan kemeyan lalu menaburkan serpihan itu ke tunggu yang berisi bara api, panasnya bara api membuat serpihan kemenyan itu menjadi gumpalan asap.


Setelah itu mbah Seno berdiri mengambil sesuatu di dalam laci meja kamar ritual mbah Seno.


Di dalam laci itu terdapat sebuah kotak kecil yang berbuat dari kayu. Kotak kecil itu pun di ambil mbah Seno dan ia kembali duduk di depan perapian.


Setelah mbah Seno duduk bersila ia membuka kotak kayu itu terlihat puluhan kelopak mata yang dari jasad penduduk desa yang pernah ia gunting dan masukan ke dalam kotak kayu itu.


Kotak kayu yang di buka itu di asap-asapkan mbah Seno di atas perapian sambil ia membacakan mantra.


Sontak saja para mayat yang berada di pemakaman setempat semua bangun dan bangkit kembali.


Semua mayat yang telah bangkit itu di perintahkan oleh Seno.


“Pergilah ke rumah Kuncoro, bunuh mereka semua,” ujar Seno memerintahkan para mayat itu pergi ke rumah Seno.


Mbah Seno pun ingin membunuh Bagas beserta Adit untuk ia berikan ke makhluk yang dia sembah.


 Semua mayat yang terbungkus kain kafan berjalan mendatangi rumah Kuncoro.


Walaupun warga setempat ada yang mengetahui peristiwa para mayat berjalan mendatangi rumah Kuncoro namun mereka tidak ada yang berani ikut campur.


Dukk ... Dukk ....( Suara seseorang mengedor-gedor pintu rumah Kuncoro)


Adit yang mendengar suara orang yang mengedor-gedor pintu rumah pun pergi untuk melihat.


“Siapa Sih ganggu saja, agak tau orang mau malam pertama,” ucap Adit yang kesal.


Setelah Adit sampai di pintu utama Adit mulai membuka korden jendela dan begitu terkejutnya Adit melihat puluhan mayat berjalan mendatangi rumah Kuncoro.

__ADS_1


Sontak saja Adit mengangkat kursi tamu lalu menaruhkannya di depan pintu.


Setelah selesai Adit mulai mengecek jendela-jendela agar semu jendela terkunci semua.


Adit pun mulai mengedor-gedor pintu kamar Sekar beserta Kuncoro.


“Mas Bagas bangun,” Adit yang mengedor pintu dengan kencang.


“Pak Kuncoro bangun,” Adit yang kembali mengedor pintu kamar Kuncoro dengan Kencang.


Bagas, Sekar, Kuncoro beserta Ningsih pun secara bersamaan keluar dari kamar mereka masing-masing.


“Ada apa sih Dit, mengganggu saja,” ujar Bagas yang kesal.


“Coba kalian semua intip dari balik korden jendela, banyak mayat yang mendatangi rumah kita mengedor-gedor pintu!” kata Adit yang panik.


Semua pun mencoba melihat apa yang Adit ucapkan dan benar saja yang di ucapkan oleh Adit.


“Ini mungkin ulah mbah Seno,” Kuncoro yang mengetahui hal tersebut.


“Kenapa mbah Seno melakukan hal ini apa yang dia inginkan!” tanya Bagas.


“Ceritanya panjang, Sekar! Ningsih tolong ambilkan garam beserta lada hitam!” perintah Kuncoro.


“Iya Pak!” sahut mereka berdua dengan serentak.


Mereka berdua pun pergi ke dapur untuk mengambil yang di perintahkan Kuncoro. 


Setelah Ningsih dan Sekar mendapatkan apa yang mereka cari mereka berdua pun kembali menghampiri Kuncoro.


“Ini Pak,” ujar Ningsih yang memberikan lada hitam.


Sekar pun melakukan hal yang sama memberikan garam ke pada Kuncoro.


Kuncoro mengambilkan kedua itu lalu ia membacakan mantra pengusir yang ia ketahui di waktu kecil oleh kakenya.


Setelah selesai Kuncoro memberikan mereka segenggam lada hitam dan segenggam garam.


“Pakai ini untuk mengusir mereka!” Perintah Kuncoro.  


Kedua tangan mereka semua menggenggam garam beserta lada hitam.


Mereka berlima telah bersiap untuk melawan para mayat hidup itu.

__ADS_1


Para mayat hidup berusaha mengedor-gedor pintu rumah  Kuncoro berusaha untuk masuk ke dalam rumah Kuncoro.


__ADS_2