Desa Kemomong

Desa Kemomong
Penolakan


__ADS_3

maaf ya para reader untuk episode ini author salah up silahkan di skip saja, ini


episode bawah sungai, dan untuk menghapus butuh waktu beberapa hari 🙏🙏🙏


“Bah?” 


“Hemmmm,” abah mendehen menyahut panggilanku.


“Apa nanti inguan (peliharaan) abah itu harus ada penerusnya?” tanyaku.


“Jangan memikirkan hal itu dulu,” sahut abah.


“Apa ... Boleh Aya menolaknya?” 


Seketika hening, abah tidak menjawab pertanyaan yang aku lontarkan. Aku sebenarnya menang tidak ingin menjadi penerus untuk hal semacam ini.


Apa lagi kalau harus memberi makan dan ritual lainnya. Aku hanya ingin hidup normal seperti kebanyakan orang tanpa harus memikirkan hal mistis seperti ini.


Bahkan jika aku telah mapan aku ingin pindah dari tempat itu.


Aku juga saat ini menjaga jarak dengan Atmajaya. Saat dia muncul aku lebih pasif terhadapnya tidak seperti dulu yang selalu antusias dengan segala hal di alamnya.


Sekarang aku hanya ingin memikirkan masa depanku, aku ingin berkarier memperdalam kemampuan serta menambah pengalaman di dunia kerja.


*** 


“Jangan kebanyakan melamun nanti kesambet.”


Iyan tiba-tiba menepuk pundakku pelan namun hal itu membuatku terkejut.


“Lagi mikirin apa sih?” tanya Iyan.


“Enggak aku Cuma mikirin masa depan aja,” sahutku asal.


“Hidup itu untuk dijalani bukan untuk dipikiri,” sahutnya.


“Oh iya ... Toko ini kan cukup ramai dan antusiasnya lumayan rencananya aku ingin mengembangkan toko ini lagi,” ucapnya.


“Mau buka cabang?” tanyaku.


“Iya. Kamu ... Mau belajar pastry gak?” 


Seketika pertanyaan itu langsung aku jawab karena itu lah hal yang aku inginkan sejak lama.


“M-mau Bang.”


“Oke. Kalau begitu kamu bisa ambil kursus privat masalah biaya kamu gak usah pikirin,” ucapnya.


Aku tersenyum semringah, “serius Bang?”


“Memang ucapanku terlihat bercanda?”


“Ya ... Gak sih. Tapi, kenapa tiba-tiba?”


“Aku sering lihat kamu terus memperhatikan kegiatan di dapur, dan kamu juga sering bertanya. Jadi menurutku kamu tertarik dengan hal seperti itu,” tutur Iyan.


“Iya sih Bang.”


“Ya sudah nanti kamu aku kabari lagi. Semangat! Good .”


Entah mimpi apa aku sampai bisa di tawari kesempatan langka ini. Aku sangat senang hingga aku tidak dapat menyembunyikan ekspresiku ini.


“Seneng banget kayaknya. Ada apaan sih?” tanya Sarah rekan kerjaku.


“Gak Mbak. Cuma ke ingat hal lucu aja jadi ketawa,” sahutku.

__ADS_1


“Eh ... Kamu udah denger gosip belum?” tanya Sarah.


“Gosip apa Mbak?”


“Kamu tahu ruko sebelah kan?”


“Ruko yang kosong itu? Kenapa memangnya Mbak?”


“Kemarin si Japra kan pulang terakhir kan nah pas pulang dia lihat di ruko itu ada orang berdiri. Sama di Japra malah di deketin tahu gak ternyata itu bukan orang tapi pocong.”


“Serius Mbak? Duh aku jadi takut pulang malam-malam,” sahutku.


“Tapi kan kita pulangnya selalu duluan, yang cowok-cowok pulang belakangan,” sahut Sarah.


Sesaat setelah Sarah bercerita bulu halus yang ada di tanganku semuanya berdiri seakan sosok yang sedang di bicarakan itu terpanggil dan hadir di sekitar kami.


“Duh aku kok merinding ya,” ucap Sarah.


“Udah jangan di bahas Mbak. Mana ini udah malam, biasanya kalau kita nyeritain kaya gitu mereka bisa tahu dan tiba-tiba datang,” seruku.


“Kamu jangan nakut-nakuti aku dong!” 


“Aku serius Mbak.”


“Udah ah kerja aja deh.”


Sarah pergi meninggalkan meja kasir dan memilih masuk ke dalam.


Waktu terus berjalan hingga tiba waktu kami pulang, semua karyawati telah keluar begitu pula denganku, namun aku tidak melihat mbak Sarah.


Aku pun masuk kembali ke dalam toko, di sana masih ada Japra, Iyan dan juga pastry chief kami.


“Mas Japra apa lihat mbak Sarah?” tanyaku.


“Loh bukannya udah pulang?”


“Ya sudah coba cari di ruang loker,” sahut Iyan.


Aku masuk lagi ke dalam dan berjalan menuju lorong kecil di ujung lorong terdapat ruangan loker tempat yang biasa kami gunakan untuk menaruh barang bawaan kami.


“Mbak? Mbak Sarah?” panggilku.


“Mbak?”


Samar-samar aku mendengar ada suara dari arah toilet wanita. Aku menghampiri suara tersebut dan mendapati mbak Sarah.


“Mbak ngapain? Mbak gak pulang?” tanyaku.


Sarah hanya diam berdiri mematung di depan cermin.


“Mbak? Mbak Sarah?” aku menarik tangannya.


Tubuhnya begitu dingin, serta dari wajahnya terlihat keringat yang mengalir keluar.


“Mbak Sarah kenapa?”


Wajahnya terlihat seperti ketakutan, namun anehnya dia tidak merespon panggilanku.


“Bang? Bang Iyan ... Mas Japra?” teriakku dari depan pintu toilet.


Dengan berlari kecil mereka berdua datang menghampiriku.


“Ada apa?” tanya Iyan.


“Mbak Sarah Bang.”

__ADS_1


“Sarah kenapa?” tanya Japra.


“Gak tahu. Aku tadi nyariin dia dan ternyata ada di toilet tapi dia cuma diam gak ngerespon,” tuturku.


Dengan cepat Japra dan Iyan masuk ke dalam toilet untuk melihat keadaan Sarah.


“Sar! Sarah! Oy Sarah?” ucap Japra.


“Ini si Sarah kenapa?”


“Gak tahu Mas Japra, aku juga bingung.”


“Kita bawa dulu dia ke depan,” ucap Iyan.


Aku menarik tubuh mbak Sarah dan membawanya duduk di kasir.


Anehnya Sarah seeprti ingin kembali ke toilet itu aku lantas menghalaunya agar tidak kembali ke sana.


Rasa khawatir bercampur takut aku rasakan ketika berada di samping mbak Sarah. Aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres terjadi kepadanya. 


“Sebelum kaya gini tadi dia ngapain?” tanya Japra.


“Tadi dia cerita sama aku kalau Mas Japra lihat pocong di ruko kosong yang ada di sebelah toko kita. Setelah itu dia pergi ke belakang.”


“Waduh! Jangan-jangan kesambet,” seru Japra.


“Sarah! Oy ... Sarah!” Japra menggoyangkan bahu Sarah.


Mbak Sarah akhirnya merespon, namun tatapannya sangat aneh  matanya melotot ke arah Japra.


“Mbak ... Mbak Sarah?” panggilku lagi.


“Aya kok muka Sarah serem banget sih?”


Tanpa aba-aba Iyan menepuk pundak Sarah.


“Sadar! Sadar!” ucapnya.


Sarah mulai menunjukkan reaksi, dia menepis tangan Iyan dan mengeram sambil memelototi Iyan.


“Apa? Kamu marah?” ucap Iyan.


Terdengar suara erangan dari mulut Sarah semakin menjadi, aku juga merasakan seperti ada sesuatu yang datang, rasanya kepalaku sangat pusing tubuhku terasa sangat dingin.


‘Ini kenapa? Kok tiba-tiba aku begini?’ batinku.


“Aya! Kamu jangan bengong! Hati-hati!” seru Iyan.


“Gak Bang aku gak bengong,” sahutku.


Tiba-tiba ekspresi Sarah berubah, dia tertawa terbahak sambil menatap ke arahku.


“Mbak Sarah kenapa?” ucapku.


“Sudah hiraukan aja! Sebaiknya kamu pulang Ya. Sarah biar aku dan Japra yang urus.”


“Tapi Bang.”


“Udah gak apa-apa. Kamu pulang aja besok kan masih harus kerja.”


Aku pun berpamitan dengan mbak Sarah yang saat itu masih tertawa.


Aku dengan cepat berlari ke luar lalu mengambil sepedaku dan menggowesnya secepat mungkin sambi terus berdoa di dalam hati. 


“Ya Allah lindungilah hambamu ini!” ucapku.

__ADS_1


Aku terus menggowes sepedaku, beruntung jalanan masih ramai kendaraan sehingga aku tidak terlalu merasa takut.


__ADS_2