Desa Kemomong

Desa Kemomong
Kemarahan Adit


__ADS_3

Di sore harinya Bagas mendapatkan pesan singkat dari Ningsih.


“Nanti malam sekitar jam delapan, Aku tunggu Abang di depan jalan menuju desa,” pesan singkat yang di ketik oleh Ningsih


Bagas yang sudah selesai bekerja membuka HP nya dan mendapatkan pesan singkat dari Ningsih.


Malam telah tiba Bagas yang sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Ningsih.


Adit yang melihat Bagas begitu rapi pun mencoba bertanya kepadanya.


“Mau ke mana Mas? rapi Banget,” ujar Adit yang bertanya kepada Bagas.


“Mau ke rumah Ningsih, eh Sekar” sahut Bagas yang berbohong.


“Aku ikut Mas?” ujar Adit.


“Enggak bisa Dit, aku Cuma sebentar saja dan ada yang diomongin saja.”


“Yo wes Mas, gagal lagi aku ketemu Ningsih,” ucap Adit yang sedih.


“Coba nanti kamu sendiri  sekali-kali ke sana.”


“Iyo Mas.”


Adit yang terus mengajak Bagas untuk bicara membuat Bagas lupa waktu.


Bagas yang tersadar melihat jam tangannya sudah pukul delapan.


“Aku duluan Dit, gara-gara kamu ngajak ngobrol terus aku sampai lupa waktu,” sahut Bagas yang tergesa-gesa pergi meninggalkan Adit.


Bagas yang sudah masuk ke dalam mobilnya lalu menjalankan mobilnya menuju desa.


Karena tergesa-gesa Bagas melupakan telepon genggamnya yang tertinggal di mes yang di taruh di atas meja.


Beberapa menit Bagas pergi telepon genggam milik Bagas berbunyi berulang kali.


Adit yang mendengar suara deringan telepon itu pun menghampiri meja.


“HP bang Bagas ketinggalan.” 


Adit menatap layar yang terus menyala itu, terlihat panggilan terus masuk dengan nama kontak bertuliskan Ningsih.


Dengan cepat Adit mengambil HP itu, kebetulan HP Bagas tidak dikunci. Adit bisa dengan mudah membuka dan melihat isinya.


‘Kenapa kok si Ningsih nelpon Bang Bagas terus?’ Adit bermonolog.


Adit membuka aplikasi pesan dan melihat isi pesan chat antara Bagas dan Ningsih. Rupanya  Bagas dan Ningsih berencana untuk bertemu tanpa sepengetahuan Adit. 


Adit mulai geram melihat pesan Bagas dengan Ningsih, Adit pun segera keluar untuk mengikuti Bagas bertemu dengan Ningsih.


Adit meminjam motor milik salah satu pekerja proyek yang di sana.


Setelah kunci motor Adit dapatkan Adit pun langsung pergi mengejar Bagas.

__ADS_1


Dengan kecepatan yang kencang Adit berhasil menemukan mobil Bagas.


Dari kejauhan mobil Bagas di ikuti oleh dirinya sampai akhirnya mobil Bagas berhenti di jalan depan desa.


Terlihat Ningsih yang sudah menunggunya dari tadi. Ningsih pun membuka pintu mobil Bagas dan masuk ke dalam mobil.


“Maaf ya Ning, abang telat” ucap Bagas yang meminta maaf kepada Ningsih.


“Iya Bang tidak apa-apa,” sahut Ningsih yang tersenyum.


“Kita mau ke mana?” tanya Bagas.


“Ke pondok yang dekat kebun sawit sana Bang,” ujar Ningsih yang memberitahukan.


Bagas menjalankan mobilnya menuju tempat yang Ningsih ucapkan.


Di dalam mobil pun Bagas dan Ningsih mulai berbincang-bincang.


“Kamu tadi lama ya nungguin Abang,” kata Bagas yang merasa bersalah.


“Enggak kok Bang, Ning hanya takut Abang tidak datang lupa dengan janji kita.”


“Tidak Ning mana mungkin Abang lupa.”


“Itu pondok milik siapa? Dan kita ke sana untuk apa?”


“Itu pondok milik bapak yang memang sudah lama tidak terpakai, dan kita ke pondok itu untuk mengobrol saja agar bisa lebih dekat dengan Abang,” ujar Ningsih yang mulai menggoda Bagas.


Dirinya tidak menyadari bahwa Bagas terkena pelet Ningsih. 


Mereka pun menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit untuk sampai ke pondok itu.


Sepuluh menit telah berlalu Bagas dan Ningsih telah sampai di pondok yang mereka ingin datangi.


Karena pondok itu berada di tengah pohon sawit sehingga tidak rumah penduduk di sana,.


Bagas memarkirkan mobilnya, ia beserta Ningsih keluar dari mobil itu menuju pondok.


Sementara Adit yang mulai kesal mencoba menahan ke kesalannya itu, untuk mencari tahun apa yang ingin mereka kerjakan.


Bagas beserta Ningsih masuk ke dalam pondok itu, di dalam pondok itu memang tidak terdapat listrik biasanya Kuncoro memakai pondok itu untuk tempat istirahat saja saat Kuncoro memanen hasil pohon sawit yang Kuncoro miliki.


Ningsih pun sudah membawa sebuah lilin dan mulai menyalakannya, mereka mulai berbincang-bincang santai.


Adit yang kala itu memarkirkan motornya di balik pohon sawit agar tidak ketahuan oleh Bagas beserta Ningsih.


Lalu Adit mencoba mengikuti mereka ke pondok itu dengan jalan mengendap-endap. Adit mengintip mereka berdua di balik celah pintu kayu.


Terlihat Bagas dan Ningsih sedang mengobrol santai sampai akhirnya  Ningsih mulai menggoda Bagas.


Tangan Ningsih mulai nakal, ia meletakkan tangan mungilnya itu ke paha Bagas. 


Bagas hanya diam sambil terus menatap wajah Ningsih, ia membelai paha Bagas dengan tatapan penuh hasrat dan menggoda.

__ADS_1


Tangan Ningsih terus meraba liar setiap jengkal tubuh Bagas hingga membuat libido Bagas naik.


Ia membuka bajunya dengan perlahan, ia menggerai rambutnya yang tengah dicepol itu. Kini Ningsih hanya mengenakan pakaian dalam berwarna merah marunnya itu dengan rambut panjangnya yang tergerai.


Ningsih yang mendorong tubuh Bagas hingga terbaring di lantai.


Adit yang sangat emosi melihat peristiwa itu di balik celah pintu kayu tidak kuasa menahan diri.


Adit mendobrak pintu dengan penuh emosi tanpa basa basi Adit langsung melayangkan bogem mentahnya itu ke wajah Bagas.


“Asu! Aku percaya sama sampean Mas! Aku menghormati sampean tapi apa? Sampean menghianati!”


“Asu! Jancok!” umpat Adit.


“Ningsih! Apa maksud semua ini?” ucap Adit Murka.


“A-anu Mas. Ini salah paham.”


“Salah paham apa hah? Aku punya mata aku melihat semuanya!”


Ningsih hanya terdiam tanpa berkata apa pun.


Adit melampiaskan kemarahannya dengan menendang pintu pondok sampai salah satu kayunya patah.


“Mas Adit, dengarkan penjelasan Ningsih dulu Mas,” pinta Ningsih.


“Penjelasan opo? Opo sing dijelaskan? Apa kamu wes gatel hah? Sini biar tak garuk sak dalem-dalemmu!” 


Bagas tersadar akibat bogem yang di layangkan Adit itu pun terheran-heran. Sambil meringis menahan sakit.


“Ningsih? Kenapa kamu bisa di sini?” ucap Bagas.


Ningsih hanya terdiam tanpa membalas pertanyaan Bagas.


“Dit kamu kok mukul aku sih? Lagian kok kita semua ada di sini?”


“Aku ngikutin kalian berdua masuk ke dalam pondok ini Mas! Kalian hampir berbuat yang tidak senonoh di pondok ini!”


“Hah? Jangan ngaco kamu Dit. Jelas-jelas aku ingat aku lagi di mes, kok tiba-tiba ada di sini?”


“Ini kenapa Ningsih gak pakai baju?” sambung Bagas.


Dengan cepat Ningsih memasang bajunya dan bergegas keluar pondok.


“Dit sebenarnya ada apa ini Dit?”


“Ndak usah sok hilang ingatan Mas!” bentak Adit.


“Ayo Ningsih aku antar kamu pulang! Ndak baik wanita jalan sendirian!”


Adit pun menyeret Ningsih untuk naik ke motornya, dan meninggalkan Bagas yang masih dalam kebingungan di dalam pondok.


 

__ADS_1


__ADS_2