Desa Kemomong

Desa Kemomong
Mengajak warga beribadah


__ADS_3

Keesokan paginya Bagas beserta Adit tidak melanjutkan pekerjaan mereka membangun pabrik pagi ini Bagas beserta Adit membenarkan rumah yang di bantu oleh Kuncoro.


Pintu rumah yang roboh, jendela-jendela tidak berfungsi, serta kursi ruang tamu yang patah.


Sementara Ningsih beserta Sekar membersihkan rumah yang masih berantakan. Mereka semua bekerja sama dengan kesibukan mereka masing-masing.


Setelah Sekar beserta Ningsih telah selesai membersihkan rumah. Sekar mengajak Ningsih untuk menemaninya ke pasar membeli sayur dan lauk untuk mereka makan siang Nanti.


“Mas, Ningsih dan Sekar mau ke pasar dulu,” ucap Ningsih yang berpamitan kepada Adit.


“Ia Ning, hati-hati,” sahut Adit.


Ningsih beserta Sekar pun pergi keluar rumah menuju pasar.


Sesampainya di pasar para warga yang berprofesi sebagai menjual dan pembeli pun heboh membicarakan para mayat hidup yang bangun dari kubur berjalan menuju rumah Kuncoro.


“Eh Bu, tadi malam tahu tidak ada hal mengerikan terjadi,” ucap penjual sayur yang Ningsih dan Sekar datangi.


“Iya Pak, saya juga melihat, tapi saya tidak berani keluar. Saya tutup kembali korden dan pintu rapat-rapat,” sahut ibu-ibu yang sedang membeli sayur mayur.


“Iya Bu, aku pun tidak berani keluar, dan menurut berita yang aku dapat para mayat itu berjalan ke rumah Kuncoro. Mungkin saja Kuncoro telah melanggar adat desa ini menikahkan kedua putrinya kepada warga yang bukan dari desa Kemomong ini,” sahut Bapak penjual sayur.


Ningsih yang mendengar mereka sedang membicarakan keluarganya pun kesal.


“Ehem! Pak belanja saya ini berapa?” ucap Ningsih dengan nada tinggi.


“Eh mbak Ningsi dan mbak Sekar, lama tidak kelihatan,” ujar penjual sayur yang mengalihkan pembicaraannya.


“Udah Pak cepat ini berapa! Saya malas berlama-lama di sini,” sahut Ningsih dengan nada sinis.


“Iya ... Iya mbah, semuanya dua puluh ribu,” ujar bapak penjual sayur.


“Ini, uangnya kembalinya ambil saja, dan hati-hati ya kalian membicarakan keluarga kami. Aku tidak tahu para mayat akan mendatangi rumah kalian satu persatu,” ujar Ningsih yang menakut-nakuti lalu pergi.


Sontak saja wajah si penjual sayur dan para pembelinya berubah menjadi sedikit pucat akibat ucapan yang Ningsih lontarkan.


Ningsih dan Sekar telah selesai berbelanja, mereka berdua pun berjalan kembali ke rumah. 

__ADS_1


Jarak antara rumah mereka dengan pasar tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki.


Di sepanjang jalan Sekar beserta Ningsih berbincang-bincang.


“Mbak Ning, kok tadi mbak bilang begitu kepada bapak tukang sayur” tanya Sekar yang lugu.


“Ha-ha-ha, biar saja Sekar. Biar mereka takut dan tidak bisa tidur tenang malam ini,” Ningsih yang sangat senang dengan ucapannya menakuti para warga.


“Memang para mayat itu akan kembali lagi nanti malam mbak, Sekar takut,” sahut Sekar dengan sangat polos.


“Sekar, Sekar polos banget kamu, mbah hanya menakut-nakuti mereka saja agar mereka tidak membicarakan keluarga kita, para mayat sudah kita usir mana mungkin mereka akan datang kembali,” tutur Ningsih yang menjelaskan kepada Sekar.


“Alhamdulillah, kalau begitu mbak.”


Tidak terasa Sekar dan Ningsih telah sampai di rumahnya.


Mereka berdua pun langsung menuju dapur untuk memasak belanjaan yang baru saja mereka beli.


Di siang harinya pekerjaan Bagas, Adit beserta Kuncoro telah selesai begitu juga makan siang yang Ningsih dan Sekar telah selesai mereka masak dan hidangkan di meja makan.


“Sekar panggil Mas Adit, Bagas dan juga Bapak untuk makan!” perintah Ningsih.


Sesampainya Sekar di ruang tamu.


“Pak, Bang Bagas dan Mas Adit Ayo kita makan dulu,” ajak Sekar.


“Iya,” sahut mereka dengan serentak.


Bagas, Adit beserta Kuncoro pun pergi menuju meja makan. Sesampainya di meja makan mereka semua menikmati hidangan yang di masak oleh Ningsih dan Sekar sambil berbincang-bincang dengan santai.


“Oh iya Pak, menurut Iwan salah satu yang bekerja bersama Bagas. Pernah berbicara katanya di sini ada sebuah mushola yang tidak pernah di gunakan lagi?” tanya Bagas.


“Iya  Nak Bagas, jaraknya tidak jauh dari rumah kita hanya 5 menit dari berjalan kaki sudah sampai,” kata Kuncoro.


“Bapak bisa mengumpulkan para warga ke rumah, Bagas ingin mengajak mereka untuk membersihkan mushola itu dan mengajak mereka beribadah kembali,” ujar Bagas.


“Apakah itu bisa, Nak Bagas? Karena pikiran penduduk desa sudah di cuci oleh mbah Seno,” kata Kuncoro.

__ADS_1


“Biar Bagas yang atur pak agar para warga dapat kembali ke jalan yang benar,” ucap Bagas meyakinkan Kuncoro.


“Baiklah jika begitu selepas makan siang Bapak akan mengumpulkan para warga untuk ke rumah,” Kuncoro yang membatu.


“Dit ini tugasmu dan aku untuk meyakinkan warga jalan yang mereka ambil ini salah, dan tugas kita bagaimana membawa para warga untuk kembali ke jalannya,” sahut Bagas.


“Iya Mas, akan aku coba,” juar Adit.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai makan siang Kuncoro pun pergi keluar rumah untuk memanggil para warga berkumpul di rumahnya.


30 menit telah berlalu para warga berdatangan ke rumah Kuncoro sampai akhirnya semua warga sudah pada berkumpul baik itu pria, wanita, muda, tua  dan juga anak-anak.


Bagas mulai memberikan arahan kepada warga desa Kemomong.


 “Saudara-saudara, maksud kami mengumpulkan kalian di sini untuk memberikan arahan, ritual-ritual adat yang kalian jalankan telah melanggar syariat Islam. Di dalam agama Islam sendiri tidak di bolehkan menyakiti orang lain atau pun diri sendiri. Kalian telah menyakiti diri kalian sendiri atau keluarga yang kalian sayangi dengan ritual 17 tahun. Apa kalian pernah berpikir anak-anak kalian di perlakukan seperti itu, mereka menangis meronta meminta tolong tapi tidak ada peduli, mereka tidak salah apa-apa mengapa di perlakukan seperti itu. Apa karena ritual adat yang mengharuskan kalian menjadi kejam. Jika nanti ritual adat itu mengharuskan kalian membunuh anak kalian sendiri apa kalian mau!” tutur Bagas yang memberikan pandangan kepada warga desa.


Ucapan Bagas membuat para warga melihat bekas cacat di tubuh mereka masing-masing.


Setiap wanita akan kehilangan jari kelingkingnya setelah menginjak umur 17 tahun.


Dan setiap laki-laki akan di beri tanda dengan besi panas ketika menginjak umur 17 tahun.


Begitu pun Sekar dan Ningsih yang sedang melihat jari kelingking di tangan kiri mereka yang tidak ada.


Semau warga yang berjenis kelamin perempuan di desa Kemomong itu mempunyai jari yang tidak lengkap.     


Kuncoro memeluk kedua anak gadisnya Ningsi dan Sekar hatinya terbuka setelah mendengar ucapan yang di sampaikan oleh Bagas. Hati Kuncoro merasa bersalah kepada kedua anaknya membuat mereka cacat seumur hidup.


“Maafkan Bapak, karena ulah Bapak kalian cacat seumur hidup!” ujar Kuncoro yang merasa menyesal.


“Ningsih sudah memaafkan Bapak,” sahut Ningsih.


“Sekar pun iya Pak.”


Bagas telah berhasil membuka pikiran para warga desa untuk kembali ke jalan yang benar.


    

__ADS_1


  


    


__ADS_2