
Bagas menelepon Erin istri dari Rian, suara telepon tersambung pun mulai terdengar.
“Assalamualaikum, Erin.”
“Waalaikumsalam, ya Bang Bangas tumben sekali menelepon ada apa ya,” tanya Erin yang polos di dalam telepon.
“Be-begini tentang Rian,” ucap Bagas menghela nafas.
“Iya Bang Bagas, kenapa bang Rian?”
“Rian!”
“Ada apa dengan Bang Rian?”
“Rian sudah pergi menghadap sang pencipta Erin,”
“Tidak mungkin, Abang bohong. Bang Rian baik-baik saja!” sahut Erin yang terkejut.
“Aku tidak bohong Erin, seminggu ini Rian sakit kami mencoba untuk mengantarnya ke rumah sakit. Dokter menyuruh Rian untuk opname, tapi Rian bersih keras tidak mau untuk di rawat inap, sampai akhirnya sakitnya semakin parah. Rian sempat muntah darah baru dia tidak sadarkan diri kami semua mengantar Rian ke rumah saki namun, di rumah sakit Allah berkehendak lain Rian pergi untuk selamanya.
Mendengar ucapan Bagas Erin yang terkejut dengan spontan menjatuhkan telepon genggamnya.
Terdengar teriakan Erin berserta raungan Erin yang menangis tidak terima jika suaminya itu pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya.
“Tidak mungkin, bang Rian masih hidup,” suara teriakan Erin yang terdengar di telepon genggam miliknya yang terjatuh di lantai.
“Erin! Erin!” panggil Bagas.
Namun panggilan Bagas tidak Erin pedulikan, Erin masih saja berteriak dan menangis menerima kenyataan pahit itu.
__ADS_1
Jasad Rian pun langsung di bawa oleh ambulan ke rumah Erin. Sementara Bagas, Adit, dan Niko pun ikut mengiringi di belakang ambulan
Karena rumah Rian tidak jauh dari kota sehingga tidak terlalu memakan waktu yang lama.
Lima belas menit mereka sudah sampai di rumah Rian, isak tangis Erin beserta orang tua Rian pun menyambut jasad Rian yang di turunkan ambulan ke rumah mereka.
Terdengar teriakkan Erin yang histeris melihat jasad Rian yang terbujur diangkat ke ruang tamu.
Kesedihan menyelimuti keluarga Rian beserta istrinya, padahal Rian sangat antusias ingin menyambut anak pertamanya di kandungan Erin sudah menginjak 6 bulan.
Akan tetapi Tuhan punya rencana lain di balik semua itu, belum sempat Rian melihat anak pertamanya lahir Rian pun sudah di panggil oleh sang pencipta.
Jasad Rian pun segera di mandikan, selesai di mandikan jasad Rian di kafani barulah di kubur.
Seperti mimpi Erin, Rian tidak di kubur dengan jauh Erin pernah bermimpi Rian yang sedang mengali tanah untuk dirinya di samping rumah mereka.
Erin meminta agar Rian dapat di kuburkan di samping rumah yang mereka tinggali.
Setelah proses penguburan Rian telah selesai bagas, Adit beserta Niko pamit pulang.
Mereka bertiga pun tidak lupa meminta maaf kepada keluarga Rian terutama istri Rian.
Walaupun awalnya mereka menyalahkan Bagas yang tidak bertanggung jawab. Namun akhirnya mereka dapat menerima kepergian Rian dengan lapang dada dan ikhlas.
Bagas, Adit beserta Niko masuk kembali ke dalam mobilnya, Edwin tidak lupa mereka beritahukan tentang kematian Rian.
Mereka bertiga kembali ke mes yang berada di hutan dekat desa Kemomong.
Di tengah perjalanan raut wajah sedih masih terpancar di wajah mereka bertiga.
__ADS_1
“Semua ini seperti mimpi Mas, aku masih tidak percaya. Tadi malam aku sempat mengobrol dengan Rian, Mas,” ucap Adit yang tidak percaya Rian pergi begitu cepat.
“Aku pun sama Dit, semau ini seperti mimpi Rian begitu cepat meninggalkan kita semua,” ujar Bagas yang sedang mengemudikan mobilnya.
“Iya Rian tiba-tiba sakit, dan lama-lama semakin parah,” sahut Niko yang berada di kursi belakang.
“Ya sudahlah, mungkin ini sudah kehendak Allah. Rian sudah tenang di sana,” ujar Bagas mencoba merelakan semua yang telah terjadi.
“Iya Mas,” sahut Adit.
“Sekarang kita tinggal berempat Bang,” ujar Niko.
“Iya Nik, tim kita sekarang tinggal berempat walaupun Rian sekarang telah pergi selamanya tapi dia tidak akan pergi di hati kita masing-masing,” sahut Bagas.
Tidak terasa malam sudah tiba mereka bertiga masuk ke hutan sudah malam hari.
Sesampainya di Mes, Edwin menanyakan kepada Bagas.
“Bang kenapa Rian begitu cepat pergi!” ujar Edwin yang belum percaya dengan semua yang terjadi.
Bagas pun menjelaskan kepada Edwin.
“Saat di bawa Rian memang sudah koma, Niko berulang kali memanggil dirinya tapi tidak ada respon dari Rian. Hingga akhirnya kami sampai di rumah sakit Rian di bawa langsung ke ruang UGD, di sana kondisi Rian semakin memburuk denyut jantung dan nafasnya semakin melemah. Dokter dan suster di sana sudah mengupayakan semaksimal mungkin sampai akhirnya Rian di panggil oleh Yang Maha Kuasa,” Bagas menjelaskan kepada Edwin tentang kondisi Rian saat itu.
“Sebaiknya malam ini kita berdoa bersama untuk almarhum Rian,” sambung Bagas.
Mereka semua pun mengadakan tahlilan dan doa bersama di dalam Mes untuk almarhum Rian.
__ADS_1