
Sementara Ningsih yang baru saja bangun dari tidurnya mendatangi bapaknya menanyakan keberadaan Sekar.
“Pak, Sekar di mana?” tanya Ningsih.
“Oh adekmu tadi pergi sama Bagas,” ujar Kuncoro.
“Kenapa Bapak ijinkan Sekar pergi dengan Bagas, nanti kalau kenapa-kenapa bagaimana?” Ningsih yang kesal.
“Sudahlah Ningsih Bagas itu pemuda baik-baik, Bapak percaya Sekar akan aman bersama Bagas.”
“Bapak sama Sekar sama saja, tidak pernah mengerti Ningsih,” sahut Ningsih yang kesal kepada bapaknya.
Ningsih pun pergi ke kamarnya meninggalkan Kuncoro yang sedang duduk di teras.
Di dalam kamar Ningsih menangis kesal karena rencananya gagal untuk menghentikan Sekar pergi dengan Bagas.
‘Kalian berdua sama saja, Sekar dan Sekar yang selalu bapak bela dan beruntung,' gumam Ningsih sembari menangis di atas tempat tidurnya.
‘Kau juga Bagas mengapa kamu memilih Sekar ketimbang aku, padahal aku sangat mencintaimu Bagas,' Ningsih yang kembali bergumam.
‘Ini tidak bisa di biarkan aku harus mendatangi mbah Seno nanti malam. Aku harus meminta tolong mbah Seno agar Bagas mencintaiku bukan Sekar,' gumam Ningsih tersenyum jahat sembari menghapus air matanya.
Sementara di perjalanan Bagas mengajak Sekar untuk mengobrol.
Terlihat Sekar yang berpakaian seperti orang desa berbanding terbalik dengan gaya berpakaian Bagas yang sangat kota.
“Sekar!” panggil Bagas.
“Iya Bang.”
“Apa kamu pernah ke kota?” tanya Bagas.
“Belum pernah Bang, dari kecil Sekar hanya hidup di desa bersama bapak dan mbak Ningsih tidak pernah ke mana-mana.”
“Ohh begitu, apa kamu pernah pacaran?” tanya Bagas.
“Pacaran belum pernah Bang, Sekar takut jika ada laki-laki yang mendekati Sekar dan bapak juga melarang Sekar untuk pacaran,” Sekar yang menjelaskan kepada Bagas.
“Kenapa kepada Abang Sekar tidak takut?” tanya Bagas.
“Entahlah Bang Sekar juga bingung, Sekar hanya yakin Abang pemuda yang baik,” sahut Sekar.
Ucapan Sekar membuat Bagas tersenyum senang dan bahagia.
“Berarti Abang salah satu orang yang paling beruntung bisa mengambil hati Sekar dan bapak,” kata Bagas sembari tersenyum.
“Emmm ... Mungkin saja,” sahut Sekar tersenyum malu.
Tidak terasa enam jam telah berlalu merek telah sampai di kota. Sekar yang tidak pernah pergi ke kota atau pun melihat kota dibuat sangat takjub dengan gedung-gedung pencakar langit.
Sekar melihat pemandangan kota di balik kaca mobil Bagas.
__ADS_1
Bagas mengajak Sekar ke mall
Bagas yang memarkirkan mobilnya di pusat pembelajaran.
“Kita mau ke mana ini Bang?” tanya Sekar yang tidak mengerti.
“Sudah ikut saja, abang mau beli oleh-oleh untuk bapak dan mbak Ningsih,” ujar Bagas.
“Tidak perlu Bang,” tolak Sekar dengan halus.
Namun karena Bagas memaksa Sekar pun akhirnya ikut turun.
Sekar yang di gandeng Bagas sangat takjub melihat isi mall tersebut, namun karena penampilan Sekar sangat berbeda sehingga Sekar menjadi pusat perhatian pengunjung di mall.
Bagas yang mengetahui itu tidak memperdulikannya namun berbeda dengan Sekar ia merasa penampilannya berbeda dengan orang kota.
“Mengapa kebanyakan orang melihat Sekar, apakah penampilan Sekar aneh?” tanya Sekar yang berjalan di gandeng oleh Bagas.
“Tidak Sekar mereka hanya terpesona dengan kecantikanmu,” sahut Bagas yang berbohong kepada Sekar.
Mereka berdua memasuki toko baju, Bagas menyuruh Sekar untuk memilih baju yang ia suka, akan tetapi karena pilihan baju di sana sangat banyak Sekar pun bingung.
Lalu Bagas meminta tolong kepada pramuniaga untuk memberikan baju yang cocok di pakai oleh Sekar.
Sekar pun mengganti bajunya dengan pilihan pramuniaga tadi.
Setelah keluar dari kamar ganti Bagas di buat tambah kagum dengan kecantikan Sekar.
“Bagaimana Bang bagus?” tanya Sekar.
“Bang Bagas, Bang,” panggil Sekar.
“Eh ... iya bagus,” sahut Bagas yang terpana.
Bagas pun meminta pramuniaga memilihkan baju untuk Ningsih dan juga Kuncoro, setelah semua selesai Bagas ke kasir untuk membayarnya.
Merasa kurang puas Bagas membawa Sekar ke salon yang berada di dalam mall tempat langganan Bagas perawatan wajah.
“Lama sekali gak ke sini gas, ini siapa cewekmu? “ tanya pemilik salon.
“Ia tan sibuk kerja, kenalin ini Sekar calon istriku,” celetuk Bagas.
“Sekar,” sahut Sekar yang bersalaman kepada pemilik salon.
“Oh iya tan, tolong make over Sekar bikin dia secantik mungkin tapi ingat jangan terlalu menor natural saja,” ucap Bagas.
“Siap! aku akan membuatnya sangat cantik,” sahut pemilik Salon.
Beberapa menit Sekar telah selesai di make over dengan natural rambut yang bergelombang membuat pesona kecantikan Sekar tambah muncul.
Setelah semua selesai Bagas membayar biaya salon Sekar, lalu pergi kembali menuju rumah orang tuanya.
__ADS_1
Jarak rumah orang tua Bagas tidaklah jauh hanya perlu menempuh 10 menit dari kota baru sampai.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit akhirnya mereka berdua sampai di rumah orang tua Bagas.
Bagas mengajak Sekar keluar dari mobil menuju ke rumah orang tuanya.
“Assalamualaikum, Bu!” Bagas yang mengetuk pintu dan memanggil ibunya.
Mendengar ada yang mengetuk pintu ibu Bagas berjalan ke ruang tamu lalu membukakan pintu.
Ibu Bagas sangat terkejut melihat Bagas membawa wanita yang sangat cantik, tidak cantik saja Sekar wanita yang sangat sopan. Ibu Bagas memanggil suaminya lalu kedua orang tua Bagas menyuruh mereka masuk.
Secara spontan Sekar mencium tangan kedua orang tua Bagas saat di ajak masuk ke dalam rumah.
Mereka berempat duduk di ruang tamu, Bagas mulai memperkenalkan Sekar kepada kedua orang tuanya.
Bagas pun menceritakan kedekatan dirinya dengan Sekar dan keseriusannya untuk meminang Sekar.
Ternyata hal itu di sambut sangat baik oleh kedua orang tua Bagas, melihat Sekar sangat cantik, sopan dalam tutur kata dan tingkah laku membuat mereka menyukai Sekar.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore Bagas dan Sekar pun berpamitan kepada orang tua Bagas.
“Bu, Ayah. Bagas dan Sekar pamit dahulu,” ucap Bagas.
“Kok cepat sekali Nak,” tegur ibu Bagas yang mungkin masih rindu kepada anaknya.
“Pejalan lumayan jauh Bu, Bagas di percaya membawa Sekar jadi Bagas harus menjaga kepercayaan bapak Sekar agar tidak terlalu malam pulangnya,” Bagas yang menjelaskan.
Mendapat penjelasan Bagas kedua orang tuanya pun memahami.
Bagas dan Sekar masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah orang tuanya dan kembali menuju desa Kemomong.
Malam mulai tiba sementara Ningsih yang bersiap ke rumah mbah Seno untuk meminta bantuan.
“Mau ke mana Ning?” tegur Kuncoro yang melihat Ningsih ingin pergi.
“Ke warung sebentar Pak ada yang mau Ningsih beli,” sahut Ningsih yang berbohong.
“Ya sudah, Bapak nitip rokok kalau gitu.”
“Iya Pak,” sahut Ningsih yang meninggalkan Kuncoro keluar dari rumah.
Desa Kemomong terkenal sangat sepi ketika malam hari, hal itu di manfaatkan Ningsih agar tidak ada satu orang pun yang mengetahui dirinya pergi ke mbah Seno.
Sesampainya di rumah mbah Seno, Ningsih di ajak oleh mbah Seno masuk ke dalam kamar ritualnya.
Dan sebelum Ningsih cerita mbah Seno sudah tahu masalah yang di hadapi Ningsih.
“Apa yang kamu inginkan Nduk?” tanya mbah Seno.
“Aku ingin pemuda itu yang bernama Bagas tergila-gila kepadaku mbah, bukan kepada Sekar,” ucap Ningsih.
__ADS_1
“Itu hal sangat mudah buat seorang Mbah Seno. Ha-ha-ha-ha,” sahut mbah Seno sembari tertawa sombong.
“Iya Mbah Ningsih percaya kesaktian Mbah Seno,” ujar Ningsih yang memuji mbah Seno