Desa Kemomong

Desa Kemomong
Kedatangan Mbah Cokro


__ADS_3

Kuncoro mengajak mbah Cokro ke rumahnya terlebih dahulu.


“Mbah ayo ke rumah saya terlebih dahulu untuk mengambil kendaraan,” ajak Kuncoro.


“Iya baiklah, oh iya siapa namamu?” tanya mbah Cokro.


“Nama saya Kuncoro mbah, kepala desa di desa Kemomong ini. Kalau mbah?” Kuncoro yang menanyakan balik.


“Panggil saja mbah Cokro,” kata mbah Cokro.


Mereka berdua sedang berjalan ke rumah Kuncoro.


Beberapa menit telah berlalu mereka berdua pun telah sampai di rumah Kuncoro.


“Mbah tunggu dulu sebentar saya mau mengambil kunci motor terlebih dahulu,” ujar Kuncoro menyuruh mbah Cokro menunggu.


“Iya Kuncoro,” sahut mbah Cokro.


Kuncoro masuk ke dalam rumah, kedua anak gadisnya menanyakan kepadanya.


“Bapak mau ke mana?” tanya Sekar.


“Iya Pak mau ke mana malam-malam gini?” tanya Ningsih.


“Bapak mau mengantar mbah Cokro,” sahut Kuncoro.


“Mbah Cokro? Siapa itu Pak?” tanya Ningsih.


“Itu mbahnya Adit tadi, Bapak bertemu di jalan selepas mau pulang ke rumah mbah Cokro mau bertemu Adit, karena kasihan Bapak mau antar untuk bertemu cucunya,” Kuncoro yang menjelaskan kepada kedua anaknya.


“Oh kalau gitu hati-hati Pak, tadi Ningsih dengar banyak pohon tumbang di jalan menuju ke sana,” sahut Ningsih yang mewanti-wanti bapaknya.


“Iya Nduk,” sahut Kuncoro pergi meninggalkan mereka berdua.


Kuncoro menaiki motornya lalu menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


“Ayo Mbah,” ajak Kuncoro yang telah bersiap di atas sepeda motornya.


Mbah Cokro pun mulai menaiki motor Kuncoro lalu duduk di belakang Kuncoro.


Mereka berdua pergi mes.


 Dii sisi lain Bagas yang sudah menelepon pihak berwajib atas tragedi kecelakaan kerja belum mendapat tanggapan.


Sementara Bagas beserta Adit kini tengah berjalan menyelusuri jalan yang di samping banyak pohon tumbang.


Tubuh Adit semakin lama semakin lemas ia rasanya tidak mampu lagi berjalan jauh, Bagas yang membantu membopongnya pun memberikan semangat untuk Adit.


“Ayo Dit, kamu pasti kuat Dit,” ucap Bagas.


“Rasanya aku tidak sanggup lagi Mas, tinggalkan saja aku di sini mas ke desa saja meminta pertolongan warga desa siapa tahu ada dari mereka yang mau menolong Mas,” ucap Adit.


“Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini Dit,” ucap Bagas.


“Salah satu dari kita harus selamat Mas,” kata Adit.


Namun karena fisik Adit semakin lama semakin lemah akhirnya Adit pun jatuh tidak sadarkan diri.


Bagas mencoba membangunkan Adit namun tidak ada tanda dari Adit akan sadar.   


Bagas pun akhirnya berteriak-teriak meminta tolong berharap ada warga yang melintas dan menolong mereka berdua.


“Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Bagas.


Benar saja dari arah kejauhan Bagas melihat lampu sebuah kendaraan.


Sedangkan Kuncoro memberitahukan kepada mbah Cokro bahwa ada seseorang di sana.


“Mbah sepertinya ada seseorang di pinggir jalan Mbah,” ucap Kuncoro yang memberi tahukan mbah Cokro.


“Iya Kuncoro, ayo kita lihat siapa tahu dia cucuku,” sahut mbah Cokro.

__ADS_1


Kuncoro mempercepat laju sepeda motornya.


Sampai akhirnya Kuncoro bertemu Bagas beserta Adit yang tergeletak di tanah.


“Pak Kuncoro tolong kami,” ucap Bagas.


Kuncoro yang terkejut kepada mereka berdua pun bertanya.


“Kalian berdua kenapa?” tanya Kuncoro.


“Ceritanya panjang Pak tolong Adit dulu,” kata Bagas.


Cokro langsung mendatangi Adit mengecek denyut nadi Adit.


“Untung saja aku belum terlambat,” sahut mbah Cokro.


“Mbah ini siapa?” tanya Bagas yang bingung.


“Aku mbahnya Adit biasa di panggil mbah Cokro,” ujar mbah Cokro yang memperkenalkan dirinya kepada Bagas.


“Sebaiknya kita bawa mereka ke rumahmu Kuncoro terlebih dahulu,” mbah Cokro yang memberi saran.


“Kalian berdua bawa Adit terlebih dahulu biar aku jalan kaki saja sampai menunggu Pak Kuncoro kembali lagi menjemputku,” Bagas yang memberikan saran.


Mereka bertiga pun menaki motor Adit yang tidak sadarkan diri di angkat lalu di dudukkan di atas motor Kuncoro sementara Mbah Cokro berada di belakang menjaga tubuh Adit.


Kuncoro mulai menghidupkan mesin motornya lalu menjalankannya meninggalkan Bagas yang seorang diri di sana.


“Nanti aku akan kembali lagi,” teriak Kuncoro meninggalkan Bagas.


Bagas kembali berjalan kaki melanjutkan perjalanan menuju desa seorang diri. 


 


 

__ADS_1


__ADS_2