
Terdengar telepon Bagas yang berbunyi.
“Halo selamat pagi Pak Bagas kami dari pihak berwajib, bapak bisa ke TKP untuk memberikan saksi?”
“Oh Iya Pak bisa saya akan segera ke sana?”
Bagas bersiap-siap ke mes.
“Mau ke mana Bang?” tanya Sekar.
“Mau ke mes Sekar, polisi sudah datang Abang di minta keterangan. Entah semua telah usai,” ujar Bagas yang sedih karena pabrik yang telah ia bangun kini malah roboh kembali dan para pekerja proyek bersama teman-temannya telah pergi untuk selamanya.
“Tidak ada yang sia-sia Nak Bagas selama kita masih berusaha pasti aja jalan keluarnya,” celetuk Kuncoro masuk ke dalam rumah.
“Iya Pak tapi bagai mana, semua karyawan telah pergi, untuk mencari karyawan lagi perlu waktu dan yang punya pabrik ingin segera selesai,” Bagas yang mengeluh.
“Bapak akan berusaha membantu kalian?” ujar Kuncoro?
“Membantu bagaimana Pak?” tanya Bagas yang bingung.
“Bapak akan kerahkan penduduk kampung ini untukmu,” ujar Kuncoro.
Mendengar hal itu Bagas sangat antusias dan senang sekali.
“Apakah itu benar Pak?” ujar Bagas yang tidak perja.
“Iya Nak Bagas, ya sudah sebaiknya kamu datangi segera mereka di TKP, nanti Bapak dan pak Cokro akan menyusul,” kata Kuncoro yang menyarankan Bagas.
“Baik Pak,” Bagas meninggalkan Kuncoro pergi ke mes.
Bagas yang meminjam motor Kuncoro, mengajak Adit untuk ikut bersamanya. Mereka berdua menaiki motor dan melaju menuju perkebunan.
“Mas, aku rasanya ndak sanggup kalau harus melihat kawan-kawan kita,” ucap Adit.
“Ya gimana lagi Dit, aku juga sebenarnya tidak sanggup melihat keadaan mereka,” sahut Bagas.
“Dari tim kita, sampai buruh-buruh bangunan pun ikut jadi korban,” ucap Adit.
“Untungnya alat berat yang kita miliki lengkap jadi kita bisa membantu polisi untuk mengevakuasi teman-teman kita,” sahut Bagas.
Mereka pun sampai ke TKP, di sana sudah banyak mobil polisi serta ambulan bahkan ada beberapa wartawan meliput.
Adit dan Bagas turun dari motornya dan berjalan menghampiri para polisi.
__ADS_1
“Selamat pagi Pak,” ucap Bagas.
“Pagi. Apa anda yang namanya Bagas?” tanya polisi itu.
“Iya Pak benar saya Bagas, dan ini rekan saya yang juga selamat namanya Adit.”
“Boleh saya tanya. Bagaimana kronologinya?” tanya polisi.
“Untuk kronologi tepatnya saya kurang tahu Pak, karena saat itu posisi saya berada di Mes, kalau Adit posisinya saat itu sedang sakit dan beristirahat di mes juga. Saya hanya mendengar suara angin yang kencang banget dan beberapa pohon di dekat mes juga tumbang,” tutur Bagas.
“Ada berapa orang yang ada di di sini?”
“Harusnya 30 orang tapi sebagian ada yang belum datang karena kontraknya di bulan berikutnya. Jadi yang ada di bawah bangunan ini sekitar 15 orang.”
“Baik. Untuk sementara kesaksian Anda saya simpan, kami akan mengevakuasi terlebih dahulu korban-korban yang tertimpa reruntuhan,” tutur polisi itu.
“Kami juga akan membantu Pak, kebetulan alat berat kami masih berada di sini,” sahut Bagas.
Bagas dan juga para polisi berjalan menuju TKP, Bagas dan Adit terenyuh melihat hampir tidak ada celah di reruntuhan itu.
Terlihat Adit menitikkan air matanya ketika memandangi reruntuhan tersebut. Proses evakuasi pun di lajukan dengan bantuan alat berat satu persatu puing-puing di angkat. Satu persatu korban pun di angkat dari sana dengan kondisi mengenaskan.
Adit tak kuasa melihat itu semua di balik ekskavator yang tengah ia jalankan. Kantung-kantung orange berjejer di antara rimbunnya pohon bercak darah terlihat melekat diantaranya.
Hingga mereka menemukan tubuh Edwin yang membuat Adit langsung turun dari ekskavator dan menghampiri jasad Edwin yang diangkat oleh para relawan.
“Win! Edwin!” Adit terisak.
“Dit ... Adit. Biarkan polisi mengevakuasinya,” ucap Bagas yang melihat Adit menahan jalan para relawan.
Adit akhirnya melepas tandu yang di bawa oleh relawan, mereka membawa tubuh Edwin dan memasukkannya ke kantung jenazah. Beberapa wartawan pun meliput kejadian itu mereka juga berusaha meminta keterangan kepada Adit dan Bagas, namun mereka tidak ingin angkat bicara dan lebih memilih menghiraukan mereka.
Beruntung para polisi menahan para wartawan itu sehingga Adit bisa melanjutkan kembali proses evakuasinya dengan di bantu oleh para relawan.
Tidak lama Kuncoro pun datang bersama Cokro, dengan mata batinnya Cokro melihat ada asap hitam menyelimuti tempat itu, seakan sudah disiapkan untuk kejadian ini.
Jiwa-jiwa yang ada di reruntuhan itu berteriak histeris, ada yang menangis dan meraung kesakitan. Cokro hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memanjatkan doa untuk para korban.
Begitu pula dengan Kuncoro yang terkejut dengan banyaknya korban atas peristiwa ini.
Semakin lama mobil polisi dan ambulan semakin banyak ngiungan sirine nya bersahut-sahutan. Ada banyak warga juga yang ikut menyaksikan proses evakuasi ini.
Wartawan dari stasiun TV berita mulai berdatangan dengan kamera besar mereka.
__ADS_1
Polisi menghampiri Kuncoro dan meminta sedikit keterangan.
“Selamat siang,” ucap Polisi itu.
“Selamat siang Pak,” sahut Kuncoro.
“Apa Bapak asli warga di sini?”
“Betul Pak, saya kebetulan kades desa yang ada di desa ini,” sahutnya.
“Apa Bapak sudah mengetahui tentang pembangunan pabrik ini?” tanya polisi.
“Iya Pak saya tahu, bahkan sejak mereka pertama datang ke sini.”
Polisi menanyakan berbagai pertanyaan kepada Kuncoro untuk memperdalam kasus. Beberapa tim pun polisi kerahkan untuk mendalami kasus ini.
Proses evakuasi yang berjalan dramatis dan berlangsung lama, karena bangunan yang cukup besar hingga malam hari polisi menghentikan proses evakuasi dan akan di lanjutkan besok pagi.
Adit dan Bagas pun pulang ke rumah Kuncoro untuk beristirahat karena seharian mereka tanpa henti membantu para relawan untuk menyingkirkan puing-puing reruntuhan.
Kejadian itu pun sudah masuk berita media masa dan media sosial, hampir setiap berita menayangkan proses evakuasi para korban.
“Udah masuk berita Dit?” tanya Bagas.
“Udah Mas.”
“Nggak lama lagi mereka bakalan cari tahu siapa pemilik perkebunan ini, pasti nggak lama lagi Rehan bakalan hubungin aku,” ucapnya.
“Kita hentikan saja ini semua Mas!” ucap Adit.
“Lalu siapa yang akan ganti rugi semua ini? Aku? Kamu?” ucap Bagas.
“Apa kamu nggak lihat ada berapa banyak yang jadi korban Gas? Kamu jangan hanya memikirkan dirimu sendiri!”
“Maksudmu apa? Kita berdua selamat aja sudah syukur Dit!”
“Syukur kamu bilang? Apa yang harus di syukuri kalau mereka semua mati disana!” bentak Adit.
“Apa kamu bisa ganti kerugian itu? Ganti uang operasi yang sudah kita pakai? Hah apa kamu bisa?” bentak Bagas.
Cokro yang mendengar Adit dan Bagas bertengkar pun keluar untuk melerai mereka.
“Sudah ... Sudah jangan bertengkar. Ini adalah musibah jangan saling menyalahkan satu sama lain,” ucap Cokro.
__ADS_1
“Ahhh ... Udah lah aku masuk aja!”
Bagas mendengus dan masuk ke dalam meninggalkan Adit yang masih emosi.