Desa Kemomong

Desa Kemomong
Kehamilan Ningsih


__ADS_3

Keesokan paginya Ningsih masih saja terus merasa mual dan muntah-muntah sampai wajahnya pun terlihat pucat.


Adit yang melihat kondisi Ningsih saat itu berinisiatif mengajak Ningsih pergi ke puskesmas. Sementara Kuncoro ingin pergi ke bala desa karena ada pertemuan antara warga untuk membahas proyek pabrik yang sempat tertunda akibat tidak adanya tenaga yang membantu mereka.


Bagas, Adit, Cokro, Kuncoro beserta Sekar sedang duduk di ruang tamu.


“Pak boleh Adit mengantarkan Ningsih ke puskesmas, seperti wajah Ningsih sangat pucat,” ujar Adit yang meminta ijin kepada Kuncoro.


“Oh gak papa Nak Adit kalau mau ngantarin Ningsih berobat, soalnya Bapak juga mau ke bala desa membicarakan kepada warga desa tentang proyek pabrik yang membutuhkan tenaga kerja?” ucap Kuncoro.


“Tapi mungkin masih lama Pak, soalnya evakuasi dari polisi saja mungkin memakan waktu satu minggu baru selesai,” sahut Bagas.


“Ya tidak masalah Nak Bagas, lebih baik diomongin dari sekarang biar tidak mendadak,” sahut Kuncoro.


“Oh iya panggilkan mbakmu, bilang sama mbakmu Sekar. Dia mau di antar oleh mas Adit Berobat,” sambung Kuncoro memerintahkan Sekar memanggil Ningsih.


“Baik Pak,” ujar Sekar.


Sekar berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya terlihat Ningsih yang tertidur dengan sangat lemas.


Sekar pun menghampiri Ningsih dan memberitahukan kepadanya sesuai apa yang di perintahkan oleh bapaknya.


“Mbak Ning, kata bapak mbak Ning di suruh ke puskesmas periksa sama Mas Adit,” ujar Sekar yang memberitahukan kepada Ningsih.


“Tidak perlu Sekar, Mbak tidak apa-apa,” ucap Ningsih yang menolak.


“Ayo lah Mbak, Sekar khawatir dengan keadaan Mbak, begitu juga dengan Mas Adit beserta bapak!” bujuk Sekar.


 Setelah di bujuk sekian lama akhirnya Ningsih pun mengiyakan.


“Ya sudah jika begitu,” sahut Ningsih. 


 Ningsih pun keluar dari kamarnya di bantu oleh Sekar yang memegangi tubuh Ningsih yang terlihat lemas.


Sesampainya di ruang tamu Adit meminta ijin kembali kepada Kuncoro beserta Cokro.


“Pak, Mbah! Adit pamit dulu, mengatar Ningsih berobat,” Adit yang berpamitan kepada Kuncoro serta Coro.


“Iya Nak Adit,” sahut Kuncoro.


“Iya Le, hati-hati” kata Cokro.


Adit pun membantu Ningsih berjalan.


“Tunggu di sisi dulu ya Ning, Mas lupa pinjam mobil Bagas,” kata Adit.


“Tunggu sebentar Mas Adit, tidak usah pakai mobil Mas, sepeda motor saja sudah.”


“Apa kamu kuat Ning, tidak apa-apa dengan Bagas kita sudah seperti saudara Ning.”


“Tidak usah Mas, pakai motor saja agar Ning bisa pegangan dengan Mas Adit.”


“Oh gitu, ya sudah tak pinjam kunci mas Bagas dulu,”  kata Adit yang meninggalkan Ningsih di teras masuk ke dalam rumah untuk meminjam kunci motor Bagas.

__ADS_1


“Mas aku Ndak pinjam kunci motor sampean?” ucap Adit.


“Nih kuncinya, ati-ati bawa anak orang,” Bagas yang memberikan peringatan.


“Iya Mas, tenang aku akan membawa Ningsih dengan sangat hati-hati sekali,” sahut Adit yang langsung pergi meninggalkan Bagas.


Adit pun menaiki motor Bagas.


“Kamu sudah siap Ning,” tanya Adit yang sudah ingin menjalankan motor Bagas.


“Iya Mas sudah, jalannya jangan ngebut-ngebut ya,” ujar Ningsih yang memegang baju Adit.


“Iya Ning serahkan semua kepadaku, aku akan membawamu selamat sampai tujuan,” celetuk Adit.


Adit menjalankan motor meninggalkan rumah Kuncoro pergi ke puskesmas.


Di tengah perjalanan Adit menanyakan kepada Ningsih perihal sakit yang ia rasakan.


“Sebenarnya kamu to sakit opo Ning, kemarin baik-baik saja malam kamu mulai sakit. Aku hanya khawatir jika kamu sakit Ning.”


“Ning juga tidak tahu Mas, selesai makan malam perut Ning rasanya mual di tambah lagi kepala Ning sakit sampai sekarang,” sahut Ningsih yang memberitahukan Bagas.


“Ya sudah jika begitu Ning, aku harap sakitnya hanya Karena masuk angin saja,” Adit yang berharap.”


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di puskesmas, Adit yang memarkirkan motornya menggandeng Ningsih masuk ke dalam puskesmas.


“Kamu duduk di sini dulu ya Ning, aku mau daftar dulu,” ujar Adit.


Setelah Adit selesai mendaftarkan Ningsih ia pun duduk di samping Ningsih menunggu suster memanggilnya.     


Usai memeriksa dokter tersenyum lalu memberi selamat kepada Adit.


“Selamat ya Mas, bakalan jadi bapak,” ucapnya.


“Hah? Maksudnya opo to Bu Dokter?” tanya Adit.


“Istri Anda hamil. Saya akan memberikan vitamin untuk istri Anda. Dan nantinya harus rutin memeriksakan diri ke sini.”


Adit mengerutkan dahinya, ia hanya diam sambil menatap sinis ke arah Ningsih.


Adit pun mengantarkan Ningsih pulang, saat di perjalanan Adit bertanya Ningsih.


“Siapa yang menghamili kamu Ningsih?” tanya Adit ketus.


“Enggak ada Mas, Ningsih belum melakukan apa-apa dengan siapa pun,” ucap Ningsih.


“Lalu itu anak siapa Ningsih? Anak Jin? Kalu jangan berbohong sama aku Ningsih. Cepat katakan siapa?” bentak Adit.


“Aku berani sumpah Mas, aku gak melakukannya dengan siapa pun!”


“Bagas! Ya kan? Bagas kan yang menghamili kamu Ningsih?”


“Tidak mas. Bukan mas Bagas atau siapa pun!”

__ADS_1


“Lalu siapa Ningsih?” teriak Adit.


Ningsih menangis tersedu, “Ningsih nggak tahu Mas,” sahutnya.


Adit melaju dengan kecepatan tinggi sambil membonceng Ningsih. 


Sesampainya di rumah Ningsih yang terlihat menangis masuk ke kamar.


Adit terdiam menahan amarahnya.


Duduk di teras depan rumah Kuncoro, Bagas yang secara tidak sengaja melihat ada sesuatu yang janggal kepada mereka berdua menghampiri Adit menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Ada apa Dit, aku lihat Ningsih menangis masuk kamar?” tanya Bagas.


Adit menarik kerah baju Bagas lalu memberi Bagas pukulan tepat ke arah wajah Bagas.


“Kamu apa-apaan sih Dit!” ucap Bagas.


“Kamu kan yang menghamili Ningsih ngaku kamu Gas!” bentak Adit.


“Hah? Kamu sudah nggak waras ya Dit? Ngapain aku hamilin si Ningsih. Mendingan aku hamilin si sekar lah!” ucap Bagas.


“Ndak usah banyak omong koe asu!


Bukkkkk! 


Adit kembali melayangkan pukulannya namun berhasil ditangkis oleh Bagas.


Perkelahian ini di lihat Sekar. Sekar yang berteriak membuat Cokro menghampirinya lalu memisahkan mereka berdua.


Cokro mulai mencoba menenangkan Adit dan Bagas.


“Ada apa ini Dit coba jelaskan sama Mbah?” tanya Cokro.


“Tanya saja sama Bagas asu itu!” Adit pergi meninggalkan Bagas.


Adit pergi meninggalkan Bagas masuk ke dalam rumah Kuncoro.


Sementara Cokro pun sangat bingung apa yang sebenarnya terjadi terhadap mereka berdua Cokro menanyakan hal tersebut kepada Bagas.


“Sebenarnya ada apa? Kok kalian berantem padahal dari kecil kalian berdua ini selalu akur,” tanya Cokro.


“Bagas gak tahu Mbah masalahnya apa! Bagas tadi hanya melihat Ningsih menangis masuk ke kamarnya. Lalu Bagas berinisiatif menanyakan hal itu kepada Adit, Bagas menghampiri Adit yang sedang duduk di teras Mbah, tapi Adit bilang Bagas menghamili Ningsih, Bagas tidak tahu apa-apa Mbah, belum sempat Bagas memberi penjelasan kepada Adit, Bagas langsung di pukul olehnya,” Bagas yang menjelaskan kepada Cokro.


“Ya Mbah paham sekarang, maafin Adit dia memang sedikit temperamen, walaupun sebenarnya Adit itu orangnya sangat baik dan lugu,” sahut Cokro.


“Iya Mbah Bagas sangat mengerti sikap Adit.”


“Sekar! Sekar!” panggil Cokro.


Sekar pun menghampiri Cokro yang berada di teras bersama Bagas.


“Iya Mbah,” ujar Sekar.

__ADS_1


“Tolong panggilkan Adit ada apa sebenarnya masalah ini harus segera di luruskan agar tidak terjadi salah paham,” ujar Cokro memerintahkan Sekar.


“Baik Mbah,” sahut Sekar lalu pergi untuk memanggil Adit.


__ADS_2