Desa Kemomong

Desa Kemomong
Pemakaman mbah Seno


__ADS_3

Keesokan harinya, para warga yang melintas di depan rumah mbah Seno mencium aroma bau busuk.


“Di kamu tadi cium bau busuk gak?di saat lewat depan rumah mbah Seno” tanya Iwan kepada Edi temannya yang telah melewati rumah mbah Seno.


“Iya Wan, baunya menyengat sekali ketika kita lewat rumah mbah Seno.


“Aku penasaran Di, ada apa sebenarnya di rumah mbah Seno itu.”


“Terus kamu mau ngapai Wan?”


“Ayo kita kembali lagi liat ke dalam ada apa sebenarnya,” ucap Iwan yang menghentikan langkah kakinya ingin kembali ke rumah Seno.


“Cari mati kamu Wan! Nanti kalau mbah Seno tahu kita memata-matai dirinya bisa di santet kita nanti,” Edi yang menegur Iwan.


“Jangan pernah takut Di, jika kita memang benar,” sahut Iwan.


“Ayo kita kembali ke rumah itu,” ujar Iwan menarik tangan Edi.


Edit tidak bisa melakukan apa-apa ketika Iwan sahabatnya menarik tangannya.


Mereka berdua akhirnya kembali ke rumah Seno.


Sesampainya di depan rumah Seno, aroma busuk itu semakin tercium kuat.


Iwan yang sangat penasaran mencoba masuk ke rumah Seno untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Iwan pun berhasil membuka masuk ke dalam rumah Seno dengan menaiki jendela kamar tempat almarhum anak Seno.


Bau busuk itu semakin menusuk ke dalam hidung di kala mereka berdua masuk ke dalam rumah Seno.


“Wan bau apa ini busuk banget seperti bau bangkai,” ujar Edi yang berbisik kepada Iwan.


“Iya Di sama aku saja mau muntah mencium aroma bau busuk ini,” sahut Iwan yang berbisik kepada Edi.


Mereka berdua pun mengendap-endap keluar dari kamar almarhum anak Seno.


Setelah keluar Iwan dan Edi mencari bau busuk yang sangat menyengat di rumah Seno.


“Di sini seperti baunya di kamar ini!” ucap Iwan berbisik sembari memanggil Edi.


Iwan dan Edi berdiri di balik pintu kamar tempat ritual Seno.


“Di aku kita buka pintunya,” ucap Iwan.


“Aku takut Wan! Jika ketahuan mati kita!” ucap Edi memperingati.


Namun rasa penasaran Iwan sanggatlah kuat, Iwan akhirnya memberanikan diri membuka kamar ritual mbah Seno.


“Astagfirullah,” ucap Iwan yang kaget melihat hal mengerikan di hadapan mereka.


Iwan melihat jenazah Seno yang gosong dengan lidah terjulur dan mata yang terbelalak, di tambah lagi jenazah Seno di kerumuni belatung, aroma busuk dari jenazah Seno tidak bisa mereka tahan.


Dan akhirnya Edi dan Iwan memuntahkan isi perutnya di sana.


Karena bau busuk yang di hasilkan oleh jenazah Seno membuat mereka tidak tahan untuk berlama-lama di dalam.

__ADS_1


Iwan dan Edi bergegas keluar dari rumah Seno untuk mengambil udara Segar.


“Di ayo kita ke rumah Pak Kuncoro, memberitahukan hal ini,” ajak Iwan.


Iwan dan Edi pun bergegas pergi ke rumah Kuncoro meninggalkan rumah Seno. 


“Pak Kuncoro! Pak Kuncoro!” ucap Edi dengan wajah panik.


“Ada apa? Kok kaya orang habis di kejar hantu,” ucap Kuncoro.


“Seno!” ucap Iwan.


“Hussss! Yang sopan nyebutnya! Mbah Seno mati,” ucap Edi.


“Husssss! Yang sopan! Mbah Seno meninggal Pak,” ucap Iwan sambil menutupi wajah Edi dengan telapak tangannya.


“Sudah! Sudah! Kalian tahu dari mana?” tanya Kuncoro santai.


“Kami tadi lewat di depan rumah Mbah Seno dan nyium bau busuk. Lalu kami masuk lewat jendela, dan saat kami masuk kami melihat ....”


“Melihat apa?” tanya Kuncoro.


“Mbah Seno. Wajahnya gosong lalu tubuhnya sudah di kelilingi belatung. Iiiihhhhh!” Edi bergidik ngeri.


“Ya sudah, kita datangi rumahnya sekarang.”


Di temani dengan Iwan dan Edi Kuncoro datang menyambangi rumah Seno, memang benar bau busuk itu menyengat Kuncoro pun sampai mual dibuatnya. Kuncoro menyuruh Edi untuk mendobrak pintu rumah Seno.


Hingga pintu berhasil didobrak, bau busuk semakin ketara Edi dan Iwan pun sampai muntah, Kuncoro mencoba masuk dan akhirnya ia mendapati Mbah Seno dengan tubuh gosong dan membusuk di ruangan ritualnya.


Hal itu akhirnya sampai ke telinga Adit dan Bagas, mereka pun ikut untuk mengangkat tubuh Seno. Jasad Seno kemudian di mandikan.


Beberapa orang yang bisa memandikan jenazah pun heran apa yang terjadi kepada Seno sehingga menjadi seperti itu.


Bagas bertugas untuk menjadi imam untuk mensolatkan jenazah Seno, walau pun Seno berbuat jahat terhadap Bagas dan Adit namun mereka telah memaafkan perbuatan Seno.


Jenazah selesai dimandikan dan disholatkan, tiba saatnya pengantaran jenazah Seno menuju rumah peristirahatan terakhirnya. 


Adit dan Bagas juga ikut serta dalam memanggul keranda hingga sampai di pemakaman.


Jenazah Seno di masukkan ke liang lahat, diringi doa-doa. Jenazah Seno dikuburkan dengan layak oleh para warga. 


“Semoga beliau di terima di sisi Allah,” ucap Adit.


“Aamiin. Bapak-bapak serta Ibu-ibu jika mbah Seno ada salah baik di sengaja atau pun tidak di sengaja mohon di maafkan dengan ikhlas,” ucap Kuncoro.


Batu nisan pun di tancapkan ke atas makam Seno, beberapa warga ada yang menaburkan bunga setaman di atas makam Seno. Proses pemakaman pun selesai semua warga perlahan pergi meninggalkan kuburan Seno. Begitu pula dengan Adit dan juga Bagas.


“Akhirnya beliau pergi,” ucap Bagas.


“Yah ... Walaupun beliau jahat tapi kita harus tetap memaafkannya,” sahut Kuncoro.


“Lalu bagaimana dengan desa ini?” tanya Adit.


“Mungkin saya akan menghimbau warga agar beribadah sesuai ketentuan ajaran agama dan tidak ada lagi penaruhan sesajen di depan rumah,” tutur Kuncoro.

__ADS_1


“Sepertinya desa ini terbebas dari kutukan itu, sekarang para pemuda yang ingin merantau pun tidak ada kendala,” ucap Bagas.


“Iya benar Nak Bagas. Semoga setelah kejadian ini kedepannya desa ini menjadi maju serta makmur,” harap Kuncoro.


“Aamiin,” sahut Adit dan Bagas serentak.


Sesampainya mereka berdua di rumah.


Bagas beserta Adit di sambut oleh Ningsih dan Sekar.


“Assalamualaikum,” ucap Bagas memberikan salam.


“Walaikumsalam,” ucap Ningsih.


“Mbak Ning, Sekar mana?” tanya Bagas.


“Sedang mencuci,” sahut Ningsih.


“Ning minta tolong bikin kan Mas  kopi dua sama Bagas” pinta Adit.


“Iya Mas,” ujar Ningsih.


Ningsih pergi ke dapur untuk membuatkan mereka berdua kopi, selang beberapa menit Ningsih pun telah selesai membuatkan mereka kopi dan menuju ruang tamu.


Ningsih yang menyodorkan kopi tersebut kepada mereka berdua.


“Mas bagaimana proses menguburkan, jenazah mbah Seno,” tanya Ningsih yang ikut duduk di samping Adit.


“Alhamdulillah Ning berjalan dengan lancar, walau jenazah beliau sangat mengerikan,” ucap Adit.


“Mengerikan bagaimana Mas?” tanya Ningsih yang penasaran.


“Tubuhnya gosong, di rambah tubuhnya di kerumuni belatung, terus lidah terjulur dan matanya terbelalak,” Adit yang menjelaskan.


“Astagfirullah kenapa jadi mengerikan begitu,” sahut Ningsih dengan mengerutkan dahinya membayangkan betapa mengerikannya Jenazah Seno.


“Sudah lah kita jangan membahas beliau lagi, kasihan beliau di sana sebaiknya kita doa akan saja untuk beliau,” ucap Bagas.


“Iyo Mas Bagas,” sahut Adit.


“Oh iya Bapak mana Mas?” Tanya Ningsih.


“Loh belum pulang to, Mas kira tadi bapak sudah sampai terlebih dulu,” sahut Adit.


“Ya sudah mungkin saja bapak sedang ada urusan,” kata Ningsih.


“Oh iya Ning kamu masak udah matang apa belum, Mas lapar?” tanya Adit.


“Sudah Mas,” sahut Ningsih.


“Ayo kita makan!” ucap Adit.


Mereka pun menuju meja makan untuk makan bersama.


  

__ADS_1


__ADS_2