Desa Kemomong

Desa Kemomong
Jumat keliwon


__ADS_3

Keesokan paginya Adit dan Bagas mulai melanjutkan bekerjanya selepas mereka selesai sarapan pagi.


Namun di saat Bagas mulai keluar dari mes dan ingin bekerja Adit bercerita tentang mimpinya tadi malam kepada Bagas.


“Mas tadi malam aku mimpi mbah Kung datang, lalu beliau memberi semacam peringatan,” ucap Adit.


“Apa itu Dit?”


“Mbah bilang katanya kita berdua harus berhati-hati dan yang paling aneh mbah bilang begini, hanya Bagas yang dapat mengalahkan karena energinya besar,” ujar Adit menjelaskan mimpinya.


“Serius Dit? Mbah Cokro bilang begitu.”


“Iyo Mas, aku gak bohong!” Adit yang menegaskan.


“Ya sudahlah Dit jangan terlalu di pikirkan ayo kita lanjut bekerja ajak Bagas.


Mereka pun melanjutkan pekerjaan menepis sesaat maksud dari mimpi yang Adit ceritakan.


*** 


Malam ini tepatnya malam jumat keliwon di mana mbah Seno akan mengadakan ritual sesaatnya untuk makhluk yang di sembahnya.


Di kamar ritual khususnya mbah Seno sedang duduk bersila dengan perapian yang berada di hadapannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 tengah malam di mana seluruh warga desa Kemomong telah tertidur termasuk Bagas beserta Adit.


 Mbah Seno mulai melakukan ritual sesatnya.


Seperti biasa ia menyiapkan sajen berupa cemani, air rendaman bunga tujuh rupa, dan kopi pahit.


Mbah Seno mulai mengambil serpihan kemeyan lalu ia taruh di tungku yang berisi bara api.


Serpihan kemeyan itu berubah menjadi gumpalan asap mempunyai wangi has, wangi yang sangat di oleh makhluk astral.


Setelah serpihan kemenyan berubah jadi gumpalan asap, seperti biasa mbah Seno mengambil ayam cemani lalu mengasap-asapkannya.


Setelah merasa cukup mbah Seno mengambil pisau lalu menempelkan pisau itu di leher ayam cemani, ayam cemani itu pun di sembelih lalu di ambil darahnya.


Seno melakukan hal yang sama dengan yang di lakukannya kepada Cokro.


Adit yang di incar pertama kali oleh Seno, karena Adit pernah memukuli Seno hingga babak belur hal ini yang membuat Seno sangat dendam kepada Adit.


Seno mulai mengambil darah ayam cemani lalu ia meminumnya setelah itu barulah Seno semburkan di tungku perapian.


Namun nasib baik masih memihak kepada Adit.


Adit yang di tolong oleh arwah kakeknya yang menangkal ilmu hitam kiriman dari Seno. 

__ADS_1


Dengan energi yang di miliki arwah Cokro ilmu hitam di kirimkan oleh Seno kini kembali kepada dirinya sendiri.


Seketika Seno mengeluarkan darah segar dari mulutnya karena luka dalam.


Di saat Seno terluka arwah Cokro pun datang menghampiri dirinya.


“Seno bertobatlah, sebelum terlambat,” ujar Cokro yang menasihati dirinya.


“Tidak usah ikut campur urusanku Cokro!” bentak Seno.


“Kita sudah berteman lama, aku tidak ingin kamu terjerumus semakin dalam Seno,” ujar Cokro.


“Sudah jangan ikut campur urusanku, jika kau tidak mau aku habisi,” ancam Seno.


Arwah Cokro pun pergi meninggalkan Seno.


Seno yang meringis menahan sakit di dadanya memegang dada sebelah kirinya.


Saat Seno tengah menahan rasa sakit terdengar suara makhluk itu.


“Seno mana tumbal yang kau janjikan?” suara makhluk itu.


“Maafkan aku wahai sang penguasa kegelapan, aku belum bisa memberikan tumbal untukmu.”


“Kau sudah berulang kali mengingkari janjimu, maka jangan menyesal!” ancam makhluk itu.


“Jangan! Pergi! Jangaaannnn!” teriak Joko.


Mendengar teriakan dari kamar anaknya mbah Seno dengan sekuat tenaga berdiri.


Seno berjalan dengan cepat menghampiri kedua anaknya yang berada di kamar.


Setelah Seno sampai di depan kamar anaknya, ia pun membuka pintu kamar anaknya terlihat Jaka dan Joko mereka di cekik oleh makhluk yang Seno sembah itu.


Jaka dan Joko di cekik oleh makhluk barulah makhluk itu mengisap darah Jaka dan Joko melalui mulut mereka masing-masing.


Seno yang melihat peristiwa itu memohon kepada makhluk itu untuk tidak menumbalkan anaknya.


“Jangan bunuh anak-anakku wahai penguasa kegelapan, aku mohon,” ucap Seno yang terduduk memohon kepada makhluk itu.


Namun makhluk itu tidak memedulikan Seno dan masih saja mengisap darah anak-anaknya hingga Joko dan Jaka pun meninggal.


Barulah makhluk pengisap darah itu pergi meninggalkan Seno.


Seno menghampiri kedua anaknya menangis tersedu sembari memeluk Jaka dan Joko yang terlihat sangat pucat akibat darahnya di hisab oleh makhluk tersebut.


“Maafkan Bapak, Bapak gagal memberikan tumbal untuk sang puasa jadi kalian yang harus menanggungnya,” ucap Seno menangis sembari memeluk anaknya.

__ADS_1


“Maafkan Bapak, jika semua tidak di halangi oleh Cokro mungkin tidak akan seperti ini. Kalian berdua akan selamat,” ucap Seno kembali.


“Aku harus akan membalaskan dendam kepada mereka berdua, gara-gara mereka anakku menjadi tumbal,” ucap Seno dengan sangat marah.


Sementara di sisi lain Adit yang ingin di kirimi ilmu hitam oleh Seno pun terbangun karena terkejut mendengar sesuatu yang sangat keras menghantam pintu luar mes.


“Mas Bagas bangun?” ucap Adit yang menggoyangkan tubuh Bagas.


Sontak saja Bagas pun terbangun dari tidurnya karena di ganggu oleh Adit. 


“Ada apa sih Dit? Mengganggu orang tidur saja!” sahut Bagas yang kesal tidurnya di ganggu oleh Adit.


“Mas tadi ada sesuatu menghantam pintu luar mes, Mas,” Adit yang menjelaskan.


“Kamu mimpi kali Dit.”


“Tidak Mas, aku yakin dengar suaranya seperti orang yang melempar sesuatu di luar pintu Mes, tapi pas aku keluar nyariin kok gak ada apa-apa!” Adit menegaskan kepada Bagas.  


“Mungkin kamu mimpi kali,” ujar Bagas yang masih belum percaya.


“Ya Allah, aku serius Mas mendengar tidak bermimpi. Oh iya aku baru ingat kata almarhum mbah Cokro jika ada hal seperti itu berarti ada yang mengirim sesuatu kepada kita.”


“Mengirim maksudnya?” Bagas yang tidak mengerti hal-hal semacam itu.


“Itulah Mas, ilmu hitam guna-guna atau teluh Mas atau sebangsa ilmu hitam lainnya,” Adit yang menjelaskan.


Mendengar penjelasan Adit Bagas pun langsung terduduk dan terkejut.


“Serius Dit? Omonganmu,” sahut Bagas.


“Iya Mas, aku serius gak bohong. Apa ini yang di maksud mimpi mbah kemarin malam kita di suruh berhati-hati,” ujar Adit.


“Mungkin iya Dit ucapan mu benar, untung saja kita berdua tidak kenapa-kenapa. Dan kit berdua harus sangat berhati-hati kembali,” kata Bagas.


“Ya sudah kita lanjut tidur kembali, besok kita bekerja semoga saja tidak ada hal-hal yang aneh lagi,” sambung Bagas kembali.


“Ayolah Mas, aku wes ngantuk lanjut tidur lagi,” sahut Adit merebahkan tubuhnya kembali di kasurnya


Bagas pun melakukan hal yang sama dengan Adit merebahkan tubuhnya kembali di kasurnya.


Mereka berdua pun tidak lama tertidur dengan lelap.


Sentara duka menyelimuti mbah Seno di malam ini, karena perbuatan dan ulahnya membuat kedua anak yang ia cintai menjadi korban untuk tumbal yang gagal ia berikan kepada makhluk itu. 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2