Desa Kemomong

Desa Kemomong
Tamat


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu kandungan Sekar beserta Ningsih pun kini semakin membesar sudah berjalan sembilan bulan tinggal munggu waktu mereka berdua untuk melahirkan.


Di malam itu di mana semua telah tertidur dengan nyenyak Ningsih mengalami kontraksi hebat.


“Mas perut Ning sakit,” ucap Ningsih membangunkan Adit sembari meringis kesakitan.


Adit pun terbangun, keluar dari kamarnya mengetuk kamar Kuncoro beserta Bagas.


“Pak Bangun Ningsih mau melahirkan,” Adit mengedor pintu kamar Kuncoro.


“Mas Bagas bangun Ningsih mau melahirkan,” Adit yang mengedor kembali pintu kamar Bagas.


Kuncoro keluar dari kamarnya di sambung kembali oleh Bagas beserta Sekar yang keluar dari kamar mereka.


Mereka  bertiga segera mendatangi kamar Adit.


Terlihat Ningsih yang terbaring di ranjang kamarnya meringis kesakitan.


“Ayo Dit cepat, di angkat bawa ke mobil!” perintah Bagas.


“Sekar mempersiapkan perlengkapan untuk di bawa ke rumah sakit,” ujar Sekar yang mempersiapkan perlengkapan yang  akan di bawa di kamar Adit.


Ningsih pun di angkat oleh  Adit lalu di masuk ke dalam mobil sementara Sekar yang telah selesai menyiapkan perlengkapan mereka pun tiba-tiba mengalami kontraksi hebat.


“Bang Bagas perut Sekar sakit,” teriak Sekar di dalam kamar Adit memanggil Bagas.


Bagas yang mendengar teriakan Sekar pun dengan segera mendatangi Sekar.


Bagas yang mengangkat Sekar bergegas masuk ke dalam mobil. Bagas yang mengambil alih untuk mengemudikan mobilnya sementara Adit, Ningsih, dan Kuncoro berada di kursi belakang lalu Sekar duduk bersama Bagas di kursi depan.


Bagas langsung menyalakan mesin mobilnya menjalankan mobilnya menuju rumah sakit dengan sangat laju.


Ningsi beserta Sekar yang berteriak di dalam mobil menahan rasa sakit di perutnya.


 “Seperti ini kah rasanya sakit sekali Mas!” pekik Ningsih.

__ADS_1


“Perut Sekar sakit sekali Bang! Apakah kita masih lama!” ucap Sekar.


“Tunggu ya sekar Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit,” ucap Bagas.


“Sabar ya Ning sebentar lagi kita sampai di rumah sakit,” celetuk Adit.


“Sabar Nduk, memang seperti itu pengorbanan menjadi seorang ibu,” ujar Kuncoro


Selang beberapa jam mereka semua telah sampai di rumah sakit.


Ningsih beserta Sekar pun masing-masing di angkat lalu di letakan di atas ranjang pasien.


Adit berserta tim medis mendorong ranjang Ningsih masuk ke dalam ruangan bersalin begitu juga Bagas beserta tim medis mendorong Sekar masuk ke dalam ruangan bersalin.


Sementara Kuncoro menunggu mereka di luar ruangan.


Satu jam kemudian terdengar tangisan bayi dari ruangan Ningsih dan juga ruangan Sekar.


Ningsih melahirkan anak perempuan yang beri nama Ayu Widiyah sedangkan Sekar melahirkan anak laki-laki yang di beri nama Arya Hermawan.


Kabar bahagia ini pun beritahukan Adit beserta Bagas ke Kuncoro.


“Pak Ningsih melahirkan dengan selamat bayi perempuan yang cantik!” ujar Adiy.


“Pak Sekar pun melahirkan dengan selamat bayi laki-laki yang cakep!” ucap Bagas.


“Bapak punya cucu sepang sudah,” celetuk Kuncoro yang bahagia.


Dan mereka berdua juga tidak lupa mengabari orang tua mereka masing-masing menyampaikan kabar bahagia lahirnya putra dan putri mereka.


Keesokan paginya Ningsih Beserta Sekar pulang ke rumah mereka.


Suara tangis kedua bayi meramaikan rumah Kuncoro.


Orang tua Adit beserta Bagas pun datang ke rumah Kuncoro untuk melihat cucu mereka masing-masing

__ADS_1


***


Tiga tahun telah berlalu kehidupan mereka kini kian bahagia tidak ada lagi hal-hal mistik di desa Kemomong.


Warga desa pun sudah kembali ke jalan yang benar, Seminggu sekali warga desa Kemomong mengadakan pengajian di rumah Kuncoro.


Kini Desa Kemomong telah di ganti nama oleh Kuncoro yang selaku kepala kades di desa itu. Desa Kemomong sekarang di beri nama menjadi Desa Sido Makmur yang artinya menjadi makmur.


Proyek pabrik pun kini telah selesai karena di bantu oleh para warga desa.


Kini cabang pabrik sawit di desa  sido makmur telah berdiri dengan kokoh.


Bagas di juga di pilih oleh Kuncoro menggantikan dirinya sebagai kepala desa karena melihat usia Kuncoro semakin tua.


Kuncoro ingin beristirahat dan menikmati hidupnya bersama anak dan cucunya di rumah.


Sementara Adit di percaya oleh Kuncoro untuk menjalakan perkebunan sawit yang ia miliki.


Kini Bagas dan Adit tidak lagi bekerja sebagai pemborong proyek merek memilih hidup di desa dengan damai dengan keluarga kecil mereka tanpa harus meninggalkan istri beserta anak-anak mereka untuk bekerja jauh.


Sesekali Bagas beserta Adit membawa keluarga kecilnya ke kota untuk bertemu orang tua mereka masing-masing. 


Bagas pun telah berbicara kepada bapak Rehan yang memilik cabang pabrik sawit meminta untuk memperkerjakan warga desa di pabrik itu.


Tanggapan Pak Rehan pun baik ia mau menerima warga desa Sido makmur untuk menjadi karyawan di pabriknya.


Omset yang di hasilkan pabrik sawit kian meningkat membuat kehidupan warga desa menjadi makmur.


Belum lagi hasil alam yang di peroleh desa Sido Makmur kian menjanjikan


Kehidupan Warga desa Sido makmur kini semakin makmur dengan hasil sumber alam yang berlimpah serta tanah yang subur seperti nama desa itu sendiri.


Terima kasih untuk pembaca setia Desa Kemomong, jika ada kesalahan dalam penulisan cerita ini author mohon maaf.


Ambil sisi positif dari cerita Kemomong ini dan buang sisi negatif dari cerita ini

__ADS_1


Dan nantikan cerita yang baru selanjutnya terima kasih


__ADS_2