Desa Kemomong

Desa Kemomong
Dendam mbah Seno


__ADS_3

Malam itu mbah Seno yang baru tiba di rumah mengetuk pintu rumahnya.


Jaka anak kedua mbah Seno yang belum tidur, karena menunggu kepulangan dari bapaknya.


Jaka yang mendengar suara orang mengetuk pintu pun mendatangi dan membuka pintu.


“Kenapa wajah Bapak seperti di pukuli, dan mana mbak Ning pak. Bapak gak pulang sama mbak Ning,” sahut Jaka.


Jaka yang melihat wajah bapaknya babak belur akibat di pukul oleh Adit.


“Sudah jangan banyak bicara!” bentak mbah Seno meninggalkan Jaka pergi ke kamar ritualnya.


‘Bapak ini aneh di tanya malah marah-marah,' gumam Jaka.


Mbah Seno yang kesal dengan perilaku Adit pun segera mengerjakan ritualnya.


Mbah Seno mulai menaburkan kemenyan di atas tungku api lalu mengambil seekor ayam hitam atau biasa di sebut ayam cemani.


Ayam cemani itu di ambil oleh mbah Seno lalu di asap-asapkan di atas tungku api.


Dengan memutar-mutarkan searah jarum jam mbah Seno membaca mantranya.


Setelah selesai ayam cemani itu di pengang lehernya lalu di sembelih.


Darah dari ayam cemani itu di tampung oleh mbah Seno di dalam wadah dari tanah liat yang berbentuk seperti mangkok.


Seketika reaksi ritual mbah Seno pun bereaksi.


Adit yang sedang tertidur pun tiba-tiba terbangun.


Adit mulai batuk-batuk tanpa henti, Bagas beserta Edwin pun terbangun oleh suara batuk Adit.


“Dit! kamu kenapa Dit?,”  ujar Bagas yang panik melihat Adit batuk tanpa henti.


Adit tidak bisa bicara ia mulai merasakan sesak di bagian dada.


“Win ambilkan air putih untuk Adit!” perintah Bagas.


“Iya Bang,” sahut Edwin yang segera pergi mengambilkan segelas air putih untuk Adit.


Adit yang terus menerus batuk akhirnya memuntahkan sesuatu dari mulutnya darah segar beserta hewan kelabang.


Bagas, Adit dan Edwin yang melihat muntahan Adit di lantai itu sangat terkejut.


“Win air minumnya,” perintah Bagas.


“Ini Bang,” ujar Edwin


“Dit, minum dulu,” ucap Bagas memberi segelas air putih untuk Adit.


Adit pun meminum air putih pemberian Bagas, setelah meminum air putih itu Adit kembali membaringkan tubuhnya yang lemas.

__ADS_1


“Seperti aku terkena kiriman mbah Seno, Mas” kata Adit yang memberitahukan Bagas.


Bagas yang sudah di ceritakan sebelum oleh Adit pun mengerti.


“Dit, memohonlah pertolongan sama Allah,” sahut Bagas.


“Iya Bang,” ujar Adit.


Adit mulai berdoa dan meminta pertolongan dengan Yang Maha Kuasa.


Selepas itu Adit pun kembali tertidur karena merasakan tubuhnya yang sangat lemas, sedangkan Bagas dan Edwin masih terjaga tidak dapat tidur.


Di sisi lain mbah Cokro adalah kakek Adit yang berada di desa yang mempunyai ilmu magis karena mbah Cokro seorang paranormal sakti di kampungnya.


Di saat mbah Cokro sedang tidur ia bermimpi bertemu Adit.


Di dalam mimpi mbah Cokro sendiri ia bertemu dengan Adit di sebuah hutan di dekat pohon besar.


Mbah Cokro melihat Adit yang sendirian di hutan itu pun menegurnya dengan tatapan mata yang kosong wajah yang pucat Adit sedang berdiri membelakangi pohon besar itu dan berhadapan dengan mbah Cokro.


“Tole(sebutan anak laki-laki)! Sedang apa kamu di situ le, ayo kita pulang!” ajak mbah Cokro.


Namun Adit tidak berbicara Apa-apa dia hanya terdiam dengan tatapan kosong.


Setelah itu Mbah Cokro melihat Ada sebuah mahluk dari balik pohon yang keluar.


Mahluk itu bertubuh besar hitam dengan mata yang merah dan mempunyai dua tanduk di kepalanya menyeringai ke arah Cokro dengan taring yang tajam serta darah yang ada di mulutnya.


Mahlu itu ingin mengajak Adit masuk ke dalam pohon besar itu, Adit yang seperti orang tidak sadarkan diri pun mengikuti perintah mahluk hitam itu.


“Iya aku akan ikut dengan mu,” sahut Adit berbalik badan mengikuti perintah mahluk itu masuk ke dalam pohon besar.


Pohon besar itu merupakan tempat tinggal mahluk itu.


“Le jangan kamu dengarkan ucapan iblis itu!” pekik Cokro memperingati Adit.


Namun Adit pun berjalan perlahan-lahan menghampiri mahluk itu di pohon besar.


“Adit jangan,” teriak mbah Cokro lalu terbangun.


“Ada apa Pak?” sahut Lasmi istri Cokro.


“Aku mimpi Adit putuku(cucuku) dalam bahaya,” celetuk mbah Cokro.


“Mimpi apa to Pak?” tanya Lasmi.


“Entahlah Bu aku sendiri tidak mengerti akan mimpiku itu, tapi aku yakin mimpiku itu mempunyai makna, aku harus menemui Adit sebelum terlambat,” sahut Cokro.


“Ya sudah Pak, sebaiknya di telepon dulu besok tanya tentang kabar Adit,” Lasmi yang memberi saran.


“Iyo Bu,” sahut Cokro.

__ADS_1


“Sebaiknya kita tidur kembali,” ajak Lasmi.


Mbah Cokro pun melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.


Hingga sang fajar muncul di ufuk timur, perlahan naik hingga biasan cahayanya menjadi sempurna. Aroma embun yang membasahi tiap ujung daun dan rerumputan  begitu terasa. Udara sejuk perlahan menjadi hangat seiring naiknya matahari di tengah hamparan nabastala.


Para pekerja proyek telah bangun dan akan memulai pekerjaannya, namun tidak dengan Adit, Adit yang masih tertidur di tempat tidurnya.


Sementara Bagas mengetahu Adit masih terlelap mencoba membangunkannya.


Bagas mencoba menggoyangkan tubuh Adit, namun saat Bagas menyentuh tangan Adit. 


Bagas merasakan tubuh Adit yang panas seperti sedang demam.


Bagas mencoba mengajak Adit untuk periksa ke puskesmas yang berada di desa.


“Dit! Badanmu panas sekali, sebaiknya aku antar kamu ke puskesmas,” ujar Bagas yang ingin mengajak Adit pergi ke puskesmas.


“Tidak usah Bang percuma saja, ini bukan sakit medis. Sebaiknya abang dan yang lain berhati-hati,” ujar Adit seperti akan mengetahui sesuatu mengerikan akan terjadi.


“Dit tidak ada salahnya kita berobat terlebih dahulu,” Bagas mencoba memaksa Adit.


Tidak lama di saat mereka berdua tengah berdebat telepon genggam Adit pun berbunyi, Adit pun mengangkat telepon genggamnya.


“Asalammuaikum,” ucap mbah Cokro.


“Waalaikumsalam. Tumben mbah kakung (kakek) menelepon?” tanya Adit.


“Mbah kepikiran kamu Dit, bagaimana kabarmu, mbah mau ketemu kamu  Dit?” tanya Cokro dalam telepon.


“Adit kurang baik Mbah, tadi malam Adit muntah darah beserta kelabang, sekarang Adit sedang sakit,” Adit yang menjelaskan di telepon.


“Kamu sekarang di mana Dit? 


“Adit sedang ada proyek besar mbah membangun pabrik kecil di desa Kemomong,”


“Apa Dit! Desa Kemomong,” ujar Cokro yang terkejut.


“Iya Mbah di desa Kemomong.”


“Ya sudah kalau begitu mbah kan mendatangimu ke sana secepat mungkin, kenapa kamu bisa berada desa terkutuk itu le?” ucap Cokro.


“Terkutuk? Maksudnya Mbah?” Tanya Adit.


“Iya desa dengan segala ritual yang menyalahkan ajaran Islam. Semua penduduk di sana bersekutu dengan iblis Le,” ujar Cokro yang memberi tahu Adit.


“Ya sudah Mbah mau siap-siap ke tempatmu sebel semuanya terlambat,” sahut Cokro kembali di dalam telepon.


Cokro pun mematikan telepon genggamnya bersiap-siap mendatangi Adit cucu kesayangannya di desa Kemomong.  


  

__ADS_1


      


   


__ADS_2