
Sampai akhirnya pekerjaan mereka berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Hari sudah menunjukkan sore hari tiba waktu mereka menyudahi pekerjaan mereka masing-masing.
Bagas yang menyuruh semua warga untuk berhenti bekerja karena waktu sudah sore.
“Ayo semuanya berhenti dahulu, hari sudah sore besok kita lanjutkan kembali,” ujar Bagas berbicara kepada para warga yang membantunya bekerja.
Para warga pun bersiap-siap merampaikan perlengkapan mereka untuk segara pulang.
Semua warga yang membantu proses pembangunan pabrik pun berpamitan kepada Bagas.
“Bang Bagas aku pulang dulu ya,” ucap Iwan salah seorang warga yang membantu proyek pembangunan pabrik.
“Iya Wan hati-hati, oh iya wan aku ingin bertanya?” Bagas yang menunda Iwan untuk pulang.
“Apa itu Bang?” tanya Bagas.
“Selama aku tinggal di desa ini, kok aku tidak pernah mendengar suara adzan atau orang desa pergi ke mesjid?” tanya Bagas.
“Oh itu, warga di sini memang tidak pernah sholat!” ujar Iwan yang berbicara dengan santai.
“Astagfirullah, kenapa Wan?” tanya Bagas .
“Warga di sini sangat percaya dan hormat kepada mbah Seno jadi mereka melakukan apa yang di ucapkan oleh mbah Seno, di desa ini ada mushola tapi tidak pernah di gunakan sama sekali. Yang membuat warga menjadi semakin bingung setiap pendatang tinggal di desa ini dan alim pasti meninggal!” ujar Iwan.
“Maksudnya gimana Wan, aku masih kurang paham?” tanya Bagas.
“Iya Wan tolong ceritakan biar kita mengerti,” celetuk Adit yang tiba-tiba datang dan mendengarkan percakapan mereka.
“Jadi begini, mbah Seno melarang kita untuk beribadah kata mbah Seno para leluhur di desa ini tidak menyukai hal itu, pernah ada sebuah kejadian. Ada seorang ustadz yang datang ke desa ini untuk mengajak para warga beribadah, ustadz itu memakai musala di desa ini yang memang sudah lama tidak pernah di gunakan. Tapi keesokan pagi ustadz itu meninggal dunia tanpa sebab dan anehnya lagi jasadnya seperti tidak ada darah setetes pun. Kejadian itu membuat warga benar-benar yakin bahwa para leluhur di desa ini tidak menyukai hal itu,” tutur Iwan menjelaskan peristiwa itu.
“Astagfirullah, benar-benar musyrik warga desa ini percaya dengan kata dukun itu,” ujar Adit yang kesal mendengar cerita Iwan.
“Husttt, kamu kalau ngomong di jaga Dit, kita di tempat orang,” tegur Bagas kepada Adit.
“Iya maaf ya Mas Iwan, aku emosi mendengar ceritamu itu,” tutur Adit yang merasa tidak nyaman.
“Iya Dit santai saja, ya sudah Dit, Bang Bagas aku pulang dulu. Nanti istriku nyariin gak pulang-pulang,” ucap Iwan.
“Iya wan hati-hati,” sahut Adit dan Bagas dengan serentak.
Iwan pun meninggalkan mereka berdua menuju rumahnya menjalankan motornya.
Sementara Adit dan Bagas hendak membersihkan diri dari keringat kotor di waktu bekerja.
“Mas aku duluan yang mandi,” ucap Adit yang membawa handuk dan peralatan mandinya.
“Iya Dit jangan lama-lama,” tegur Bagas.
__ADS_1
Sementara Adit sedang mandi Bagas pun menelepon Sekar.
“Hallo, assalamualaikum Sekar.”
“Waalaikumsalam Bang, gimana kerja Bang?”
“Alhamdullilah berjalan dengan lancar, kamu sedang apa?”
“Sekar baru selesai masak tadi, Abang sudah makan?”
“Belum, Abang baru selesai bekerja.”
Saat mereka tengah asyik berteleponan Adit tiba-tiba datang mengganggu Bagas.
“Pacaran terus! Jangan lupa makan ya sayang!” ledek Adit ke pada Bagas.
Karena merasa tidak nyaman di ganggu oleh Adit, Bagas pun mengakhiri teleponnya bersama Sekar.
“Nanti Abang telepon lagi ya Sekar ada penganggu yang datang,” ujar Bagas.
“Ppptttthhhhh. Ya sudah mas,” sahut sekar sambil menahan tawanya.
Bagas mematikan telepon genggamnya.
“Apa sih Dit ganggu orang aja,” ucap Bagas.
Bagas pergi meninggalkan Adit menuju kamar mandi.
Di malam harinya selepas mereka melaksanakan sholat magrib Adit dan Bagas mulai berbincang santai sambil menikmati segelas kopi panas.
‘Wuenak tenan,' gumam Adit yang sedang menyeruput kopi panasnya.
“Eh Mas, berarti mbah Seno ini sudah mencuci pikiran penduduk kampung di sini.”
“Iya Dit, mbah Seno bilang kepada mereka jika para leluhur di sini tidak suka dan menentang mereka untuk beribadah.”
“Padahal bisa jadi dia yang membuat semua itu, dia yang membuat ustadz itu meninggal. Sehingga para penduduk percaya kepadanya dan mulai melakukan ritual-ritual sesat.”
“Aku sependapat dengan mu Dit, tapi kita tidak boleh suuzon karena kita sendiri juga tidak ada bukti. Lalu bagaimana cara untuk membuat para warga percaya dengan ucapan kita kalau sebenarnya mbah Seno yang mencuci otak mereka?”
“Nah kalau hal itu aku belum menemukan solusinya Mas.”
“Ke mana-mana kita bekerja baru kali ini aku menemukan hal ini di desa Kemomong ini.”
“Oh iya aku mau tanya apa penduduk desa tahu arti dari kata Kemomong itu?”
“Mungkin iya Dit, aku tahu sebagian dari Sekar.”
“Benar-benar rusak pikiran warga di sini, jika sudah tahu artinya Kemomong itu perjanjian sukarela antar jin atau iblis kenapa mereka masih memakai nama ini untuk desa mereka.”
__ADS_1
“Entahlah bisa saja itu dari leluhur Mbah Seno sendiri yang sudah terikat turun temurun hingga sekarang.”
Beberapa jam telah berlalu mereka berdua pun masih mengobrol sampai tidak terasa sudah hampir tengah malam.
“Mas yuk kita tidur, mataku sudah mulai sepet iki,” ajak Adit.
“Ya sudah aku juga mulai mengantuk.”
Mereka berdua pun menuju tempat tidurnya masing-masing kini di mes hanya tersisa mereka berdua.
Adit pun mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur ia memejamkan matanya sampai akhirnya pergi ke alam bawah sadarnya.
Saat itu Adit bermimpi dia berada di sebuah tempat yang terlihat sangat terang.
Di tempat itu ada seorang kakek yang menghampiri dirinya.
“Mbah Kung,” ucap Adit di dalam mimpi.
“Adit cucuku, berhati-hatilah akan ada kejadian yang akan membahayakanmu,” ucap Cokro yang berhadapan dengan Adit.
“Iya Mbah Adit akan dengar pesan Mbah, tapi Adit sedikit takut Mbah.”
“Tidak usah takut cucuku, aku akan salalu menemanimu sampai semua telah selesai.”
“Terima kasih Mbah.”
“Dan satu lagi cucuku hanya Bagas yang dapat membunuh iblis itu karena energi positif di tubuhnya sangat besar dan kuat.”
“Iya Mbah, Adit sudah memahami maksud pesan itu beserta Bagas.”
“Baguslah jika begitu. Pakailah keris itu untuk mengalahkan mereka Mbah pun akan membantu kalian berdua.”
“Terima kasih Mbah,” sahut Adit yang tiba-tiba terbangun.
‘Mbah datang ke mimpiku memberikan pesan,' gumam Adit.
Adit yang mengambil keris yang ia di selipkan di samping pinggangnya.
Keris itu ia bawa ke mana-mana kecuali ke kamar mandi.
Adit yang memegang keris itu lalu membuka sarung pembungkus keris itu.
Saat Adit membukanya terasa energi yang sangat kuat dari keris itu hawa hangat terpancar dari keris itu membuat seluruh tubuhnya merasakan energi panas yang di hasilkan keris itu.
Setelah merasa cukup melihatnya Adit kembali memasukkan sarung pembungkus keris itu dan menaruhnya kembali di selipan pinggangnya.
Setelah selesai Adit mulai melanjutkan tidurnya kembali yang sempat terbangun akan mimpi kakeknya.
__ADS_1