
Sementara disisi lain Bagas yang sedang di perjalanan menuju mes di tanyakan oleh Adit.
“Mas bagaimana apa sudah ngomong sama Sekar,” ujar Adit.
“Sudah Dit?” Sahut Bagas.
“Lalu apa kata Sekar Mas?” tanya Adit.
“Sekar mengiyakan dia mau menunggu aku sampai proyek pabrik ini selesai, aku akan melamarnya,” ucap Bagas yang tersenyum.
“Baguslah jika begitu mengapa harus menunggu proyek pabrik itu selesai,” tanya Adit.
“Aku maunya juga secepatnya karena aku sudah yakin dan mantap Sekar pilihan hatiku. Tapi disisi lain aku yang bertugas memimpin proyek ini, kalau aku tidak ada apa proyek ini bisa berjalan dengan cepat?” ujar Bahas yang menjelaskan kepada Adit.
“Iya benar juga apa yang di omongin Mas Bagas ya.”
“Kalau kamu bagaimana sama Ningsih?” tanya Bagas.
“Entahlah Mas, Ningsih masih bersikap dingin kepadaku.”
“Ya begitu wanita kamu harus berjuang untuk mengambil hati Ningsih,” ujar Bagas.
“Tapi bagaimana jika dia tidak mencintai aku Mas.”
“Dit, percaya jodoh itu Tuhan yang mengatur yang penting kamu berusaha terlebih dahulu mengambil hati Ningsih dan mendekatinya. Ini usaha belum maksimal udah menyerah,” kata Bagas.
“Baik kalau begitu, aku akan berjuang mengambil hatinya Ningsih.”
“Nah begitu dong.”
Tidak terasa mereka sudah sampai di Mes. Bagas beserta Adit pun turun dari mobilnya masuk ke dalam mes.
“Gimana Dit ngapelnya sukses enggak? Tanya Edwin.
“Yo jelas sukses to,” sahut Adit sembari menyeringai.
“Coba aku kenalin Dit, sama pujaan hatimu.”
“Iya nanti kalau sudah dekat,” ucap Adit.
***
Beberapa hari telah berlalu Bagas semakin dekat dengan Sekar hampir setiap malam Bagas menelepon Sekar.
Di malam ini Bagas menelepon Sekar ingin mengajaknya pergi ke kota untuk bertemu orang tua Bagas.
Kring( telepon genggam Sekar berbunyi)
“Hallo, Asalammuaikum.”
“Waalaikumsalam, Bang.”
“Emmm ... Besok Sekar ada waktu,” tanya Bagas.
“Iya Bang ada apa?”
__ADS_1
“Kebetulan besok hari minggu abang libur kerja mau ngajak Sekar jalan.”
“Oh bisa kok bang, mau ke mana?”
“Rencana mau ngajak Sekar ke kota, memperkenalkan Sekar sama ibu dan Ayah, Abang. Bagaimana Sekar bisa”
“Iya tentu saja Bang bisa.”
“Ya sudah besok pagi, Abang ke rumah sekalian nanti Abang mau ngomong sama Bapak tentang hubungan kita, abang mau serius sama Sekar.”
“Iya Bang, Sekar tunggu besok pagi,” ucap Sekar di telepon dengan bahagia.
“Ya sudah, selamat malam Sekar.
Bagas mematikan telepon genggamnya.
Sekar yang berada di kamar tersenyum dan sangat bahagia, karena ucapan mbaknya tidak seperti yang Sekar alami.
Ningsih yang melihat kebahagiaan di wajah Sekar pun menanyakan kepadanya.
“Siapa yang menelepon tadi!” tanya Ningsih dengan nada sinis.
“Abang Bagas, Mbak.”
“Mau apa dia, aku lihat kamu bahagia sekali!”
“Hemmm ... Mau ngajak Sekar jalan besok, Mbak.”
“Iya tahu, mau jalan ke mana kamu?”
“Apa? Kamu percaya sama dia nanti kalau kamu di apa-apain gimana di sana. Kota itu jauh Sekar jaraknya dengan desa kita,” Ningsih yang terkejut.
“insya Allah, enggak Mbak. Sekar percaya sama bang Bagas dia lelaki yang baik tidak mungkin berbuat seperti itu.”
“Terserah kamu Sekar, besok pagi aku mau bilang sama Bapak agar tidak mengizinkan pergi sama Bagas,” ancam Ningsih.
“Ta-tapi Mbak!”
“Aku tidak peduli, pokoknya aku akan ngomong sama bapak,” Ningsih yang keluar kamar mencari Bapaknya.
Sementara Sekar yang mendengar hal itu hanya bisa menangis di kamar. Dan mencoba menelepon Bagas memberitahukan bahwa dirinya tidak bisa pergi menemani Bagas karena tidak boleh.
Namun Bagas tetap bersikeras ingin mengajak Sekar dan akan berusaha meyakin bapak Kuncoro bahwa dirinya tidak akan mempermainkan anaknya.
Mendengar hal itu Sekar pun merasa tenang lalu mematikan telepon genggamnya lagi.
Sementara disisi lain Kuncoro sedang di hasut oleh Ningsih.
Ningsih yang mendatangi Kuncoro yang sedang berada di teras rumah sedang menikmati kopi dan sebatang roko.
“Pak,” ucap Ningsih yang duduk di samping bapaknya.
“Ada apa Ning?”
“Tadi aku dengar Sekar mau jalan ke kota sama Bagas Pak!”
__ADS_1
“Terus masalahnya apa? Biarkan dia lagi pula Bagas pemuda yang baik.”
“Bapak coba pikirkan, jarak antar kota sama desa kita itu jauh loh Pak 6 jam perjalanan. Dan semenjak Bagas mendekati Sekar apa dia pernah ngomong sama bapak kalau Bagas itu bersungguh-sungguh bukan. Bapak Cuma tahunya dari Sekar, jika memang dia lelaki yang baik pasti akan bicara dengan bapak hubungan dia dengan Sekar akan serius begitu menurutku Pak,” Ningsih yang mulai menghasut Bapaknya.
Kuncoro terdiam memikirkan ucapan Ningsih menurutnya ucapan Ningsih ada benarnya.
“Pak kok malam diam?” tegur Ningsih.
“Iya Bapak lagi memikirkan ucapanmu, dan apa yang kamu ucapkan itu benar. Besok bapak akan larang Sekar pergi dengan Bagas,” ujar Kuncoro.
‘Bagus akhirnya rencanaku telah berhasil, kamu tidak akan bisa pergi bersama bang Bagas Sekar,' batin Ningsih.
Keesokan paginya Bagas mulai bersiap-siap ke tempat Sekar. Adit yang mengetahui gelagat Bagas pun menegurnya.
“Mau ke mana sih Mas, tumben pagi-pagi udah rapi,” ucap Adit yang sedang membawa handuk dan perlengkapan mandi.
“Biasa mau ke tempat Sekar,” ucap Bagas dengan tersenyum.
“Aku ikut ya Mas?”
“Gak usah Dit, aku mau bawa Sekar ke kota mau aku kenalin sama orang tuaku dit,” ujar Bagas.
“Yo wes gak jadi kalau gitu, ya sudah aku mau mandi saja titip salam buat Ningsih,” ujar Adit.
Bagas menaiki mobilnya dan menuju desa Kemomong untuk ke rumah Sekar. Sesampainya di sana ia turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Kuncoro.
“Assalamualaikum.”
Pintu pun terbuka, “Mau cari siapa?” tanya Kuncoro.
“Sekar ada Pak?”
“Ada. Kamu mau apa?”
“Begini Pak, saya mau ajak Sekar ke kota,” sahut Bagas.
“Untuk apa? Saya saja tidak tahu siapa kamu dan asal usulmu. Bagaimana bisa saya mengizinkan kamu membawa anak perempuan saya begitu saja.”
“Saya ingin memperkenalkan Sekar kepada orang tua saya Pak, saya benar-benar tulus kepada Sekar,” sahut Bagas.
Kuncoro terdiam sejenak, ia melihat pria di hadapannya itu tidak seperti yang di ceritakan oleh Ningsih.
“Sekar!” panggil Kuncoro.
“Iya Pak,” Sekar keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
“Bapak izinkan kamu pergi dengannya. Dan untuk kamu Bagas jangan berbuat macam-macam dengan anak saya,” Kuncoro yang memperingati Bagas.
“Baik Pak terima kasih, saya akan menjaga Sekar pak dan memulangkannya dengan selamat tanpa ada cacat atau apa pun,” sahut Bagas.
Mereka berpamitan dengan Kuncoro, Bagas membukakan pintu mobil untuk Sekar. Mobil melaju meninggalkan desa Kemomong untuk menuju kota.
__ADS_1