Desa Kemomong

Desa Kemomong
Kematian


__ADS_3

Cokro sedang bersiap-siap membereskan baju-bajunya pergi ke Kalimantan di desa Kemomong.


Lasmi yang tidak ikut membatu Cokro untuk membereskan baju yang akan di bawa olehnya.


“Pak hati-hati di sana” pesan Lasmi.


“Iya Bu, jaga diri baik-baik di rumah doakan aku agar tidak terlambat dapat menolong cucuku,” ucap Cokro.


“Iya Pak, aku selalu berdoa untuk keselamatan keluarga kita,” sahut Lasmi.


Lasmi telah selesai membereskan perlengkapan Cokro.


Mobil taksi yang sudah siap menunggu Cokro di depan rumahnya.


Cokro pun berpamitan kepada istrinya.


“Aku pergi dulu ya Bu,” Cokro yang berpamitan.


“Iya Pak hati-hati di sana,” sahut Lasmi.


Cokro membawa tasnya masuk ke dalam mobil taksi mereka pun pergi ke bandara sekitar jam sembilan.


Mobil taksi itu berjalan meninggalkan rumah Cokro dan Lasmi pergi ke bandara.


Satu jam telah berlalu Cokro sudah sampai di Bandara, lalu menaiki pesawat jurusan Kalimantan.


Sementara di sisi lain semua bekerja proyek sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya terlihat pabrik industri itu mulai berdiri walaupun masih belum rampung.


Edwin, Bagas beserta pekerja proyek sedang menggarap pabrik yang mulai dibangun itu.


Sementara Adit tidak bisa bekerja hari ini karena dirinya sedang sakit mengharuskan dirinya untuk beristirahat.


***


 Pekerjaan mereka semua berjalan dengan lancar hingga di sore sampai sore hari mereka masih saja tetap bekerja agar pabrik sawit itu cepat selesai.


Di sore itu langit tiba-tiba berubah menjadi hitam para pekerja proyek tidak memperdulikan peringatan alam yang terjadi.


Awan hitam serta angin ribut pun datang, Angin ribut yang sangat kencang membaut pohon-pohon di sekitar hutan menjadi tumbang hingga pada akhirnya merobohkan pondasi pabrik sawit yang masih belum kokoh itu.


Secara kebetulan semua pekerja di dalam pabrik itu kecuali Bagas tidak ada di dalam bangunan pabrik yang belum jadi tersebut.


Pabrik yang itu pun roboh akibat pondasi yang belum kokoh di terjang angin oleh ribut.


Banyak para pekerja proyek jadi korban di sana, tubuh mereka di tindih pecahan puing-puing bangunan.


Bagas yang saat itu berada di dalam mes karena ingin mengambil sesuatu.

__ADS_1


Bagas yang mendengar suara suatu yang roboh pun sangat terkejut ia berlari keluar mes dan terlihat pabrik itu roboh dan para pekerja di dalamnya tertimpa puing-puing bangunan.


Hujan yang deras serta angin yang sangat kencang di terjang oleh Bagas.


Bagas berlari ke runtuhan pabrik itu ia mencoba menyelamatkan teman-temannya yang bisa di selamatkan, dengan cepat Bagas menaiki mobil Ekskavator untuk membatu dirinya menyingkirkan puing-puing bangunan yang menindihi para pekerja proyek dan juga Edwin.


Puing-puing itu berhasil Bagas singkirkan namun semua pekerja proyek beserta Edwin telah meninggal di tempat akibat kecelakaan kerja.


Bagas yang turun dari ekskavator miliknya menangis melihat jasad-jasad para pekerja proyek beserta Edwin di tumpukan puing-puing bangunan yang berhasil di singkirkan oleh Bagas.


Di hujan yang sangat deras menyelimuti kesedihan Bagas.


Bagas berteriak seolah tidak terima dengan semua ini.


“Apa salahku! sehingga semuanya seperti ini!” teriak Bagas di tumpukan para jasad.


Adit yang mendengar teriakan Bagas mencoba bangun melihat ke luar mes.


Terlihat pabrik yang tadinya sudah mulai berdiri tegak kini hancur kembali dan memakan banyak korban.


Adit menghampiri Bagas menerjang derasnya hujan  dengan jalan yang tertatih.


“Ayo kita pergi dari desa ini,” ucap Adit di belakang Bagas mengulurkan tangannya.


Bagas yang menoleh ke arah Adit menghapus air matanya, segera menuju ke mes untuk mengambil kunci mobilnya.


‘Kalian berdua tidak akan bisa pergi dari desa ini, ha-ha-ha-ha. Dan nasib kalian berdua akan sama dengan mereka, kalian harus mati,' gumam Seno dengan tertawa jahatnya.


Mobil yang Bagas naiki beserta Adit tiba-tiba mati tidak bisa di nyalakan.


“Kenapa Mas?” tanya Adit yang melihat Bagas menyetater mobilnya tidak kunjung hidup.


“Aku pun tidak tahu Dit, mobil ini tiba-tiba tidak dapat menyala,” ujar Bagas.


“Kamu tunggu di dalam mobil dulu, aku mau lihat mesinnya apa ada yang rusak,” ujar Bagas keluar dari dalam mobil.


Di sertai hujan yang sangat deras yang tidak kunjung berhenti Bagas membuka kap mobilnya mencoba membenari mesin yang ada di dalamnya.


Namun anehnya mesin di dalam mobil itu tidak ada masalah.


“Mas kita naik motor saja,” terak Adit yang berada di dalam mobil.


Bagas kembali menuju motornya dan mencoba menyalakannya namun hasilnya sama saja semua kendaraan tidak dapat hidup.


“Sial, semua tidak bisa hidup,” Bagas yang sangat kesal menendang motornya.


Langit mulai berubah menjadi gelap, Bagas sudah mulai putus asa apa yang harus ia lakukan kembali.

__ADS_1


Adit keluar dari mobil mendatangi Bagas mencoba memberikan solusi.


“Mas sebaiknya kita jalan saja kita keluar dari hutan ini terlebih dahulu, polisi mungkin akan datang besok pagi melihat cuaca yang sangat extrim belum lagi banyak pohon yang tumbang di jalan menuju ke mes kita Mas,” ucap Adit.


Bagas terdiam sesaat mencerna ucapan Adit sampai akhirnya Bagas mengambil keputusan.


“Baiklah kita keluar dari tempat ini dulu, kita perlu sesuatu yang harus di bawa. Aku ingin mempersiapkannya terlebih dahulu,” ujar Bagas.


Bagas beserta Adit kembali masuk ke dalam mes mereka membawa lampu senter, telepon genggam dan barang-barang yang di butuhkah. Setelah semua telah siap Bagas beserta Adit pergi dari hutan itu.


 Bagas berjalan membopong Adit yang sedang sakit.


“Dit, kamu yakin kuat apa sebaiknya kita menunggu bantuan saja,” ujar Bagas yang ragu.


“Jangan Mas, jika kita masih di sini sama saja kita cari mati, aku kuat kita berusaha keluar dari tempat terkutuk ini,” ujar Adit.


“Baiklah Dit, aku percaya denganmu,” ucap Bagas mulai membopong Adit keluar dari mes.


Mereka berdua mulai berjalan menuju desa.


Sementara Cokro sudah tiba di depan desa namun taksi yang Cokro tumpangi tidak berani masuk ke dalam desa itu. 


“Pak maaf saya hanya bisa mengantarkan bapak sampai di sini,” ujar sopir taksi.


“Lalu bagaimana, saya harus cepat menyelamatkan cucu saya,” sahut Cokro.


“Maaf Pak saya tidak bisa,” ujar sopir taksi itu.


Hujan yang deras pun kini mulai reda.


Cokro dengan sangat terpaksa keluar dari mobil taksi itu. Cokro pun berjalan memasuki desa Kemomong itu berharap ada warga yang baik bisa mengantarkannya ke tempat Adit cucu dari Cokro.


Cokro yang terus berjalan berharap akan menemukan orang baik yang dapat membatunya, jalan desa Kemomong sangat gelap karena tidak ada lampu jalan yang menerangi jalan itu.


Di tengah keputusasaan Cokro nasib baik memihak kepada Cokro.


Kuncoro yang kebetulan berjalan menuju rumahnya bertemu dengan Cokro, dan menegurnya.


“Mau ke mana Mbah?” ujar Kuncoro.


“Saya mau ke mes, tempat cucu saya bekerja di proyek membangun pabrik,” ujar Cokro.


“Siapa nama cucu mbah, siapa tahu saya kenal?” tanya Kuncoro.


“Namanya Adit.”


“Oh Adit, iya saya kenal mbah. Begini saja mbah saya antar menurut warga banyak pohon tumbang yang roboh akibat angin ribut di jalan menuju mes itu,” ujar Kuncoro. 

__ADS_1


__ADS_2