Desa Kemomong

Desa Kemomong
Kondisi Rian memburuk


__ADS_3

Malam mulai semakin larut Adit beserta Bagas sedang bersantai di tempat tidur mereka masing-masing.


Sementara yang lain sudah tertidur dengan pulas.


Bagas sedang berbaring sembari menatap tiang langit-langit teringat akan darah yang ia minum tadi.


‘Benar yang di katanya Adit? Apa setelah meminum darah itu aku akan menjadi anggota mereka,' batin Bagas yang tidak tenang.


‘Ah sudahlah semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi padaku,' batin Bagas kembali.


Bagas mulai memejamkan matanya mencoba melupakan kejadian yang ia lihat saat berada di acara ritual itu.


Sementara Adit sudah tertidur dengan pulas.


“Tolong ... Tolong ... Pergi dariku!” teriak Rian yang sedang mengigau.


Adit yang baru saja terlelap pun terbangun dengan suara teriakan Rian. 


Adit mencoba membangunkan Rian.


“Eh. Rian bangun,” ucap Adit yang membangunkan Rian dengan cara menggoyang-goyangkan badan Rian.  


Seketika Rian pun terbangun dari mimpi buruknya.


Adit pun berdiri mengambilkan Rian segelas air putih lalu menyuruhnya minum agar Rian merasa tenang.


“Ini Rian minum dulu,” ucap Adit yang menyodorkan segelas air putih.


“Terima kasih ya, Dit.” Sahut Rian meminum segelas air putih yang di berikan oleh Adit.


Setelah merasa tenang Rian, Adit mulai bertanya kepada Rian.


“Sebenarnya kamu mimpi apa to Rian? setiap malam kamu selalu mengigau,”  ujar Adit yang memberitahukan kepada Rian.


“Aku selalu bermimpi mereka datang!” ucap Rian dengan lirih dengan wajah terlihat takut.


“Mereka siapa?” tanya Adit bingung.


“Mereka para pocong yang tidak memiliki kelopak mata!” sahut Rian.


Ucapan Rian membuat Adit menjadi takut, ternyata benar yang pernah Adit liat beberapa pocong tanpa kelopak mata sedang mengelilingi Rian sembari membacakan sesuatu seperti mantra.


“Ah masa Rian, terus mengapa mereka mengganggumu?” tanya Adit kembali.


“Aku pun tidak mengerti Dit, mereka selalu datang mengelilingiku dan mereka membawaku ke sebuah lubang yang sangat dalam, aku di bawa lalu aku di lemparkan oleh mereka ke lubang itu dari atas lubang aku melihat mereka semua sedang memperhatikanku dengan wajah sangat seram sembari membaca sebuah mantra yang tidak aku mengerti,” ujar Rian menjelaskan mimpinya ke pada Adit.


“Tunggu dulu ya Rian,” ucap Adit mencari sesuatu di dalam tasnya.


Adit mendapatkan sesuatu yang ia cari dari dalam tasnya lalu mengeluarkan beda itu.


“Garam, buat apa Itu Dit?” tanya Rian


“Ini garam kasar, berfungsi untuk menghalau energi negatif yang datang, atau mereka yang tak kasat mata. Tunggu sebentar aku mau menaburkan garam ini di tempat tidurmu, biar kamu tidur malam ini dengan tenang,” ucap Adit yang membantu Rian.

__ADS_1


Adit mulai berdiri, ia menaburkan garam kasar itu mengelilingi tempat tidur Rian. Sampai merasa cukup telah mengelilingi tempat tidur Rian dengan garam kasar itu Adit pun kembali ke tempat tidurnya.


“Semoga kamu bisa tidur dengan tenang Rian malam ini, percaya tidak percaya kamu sekarang harus percaya,” kata Adit.


“Terima kasih ya, Dit.”


Mereka berdua pun melanjutkan tidur mereka kembali yang sempat terganggu.


 *** 


Keesokan harinya mereka di buat kaget dengan keadaan Rian yang semakin memburuk.


Rian terlihat muntah-muntah sampai-sampai Rian pun memuntahkan darah dari mulutnya lalu tidak sadarkan diri.


Semua teman setim Rian mulai tampak cemas dan khawatir termasuk Niko.


“Bang gimana ini, jika Rian di biarkan saja seperti akan tambah parah,” ujar Niko


“Sebaiknya kita bawa Rian ke rumah sakit sekarang!” perintah Bagas.


“Iya Bang,” sahut Niko.


“Edwin kamu bertugas memantau pekerjaan, sementara aku, Adit, beserta Niko membawa Rian ke rumah sakit,” perintah Bagas.


“Baik Bang,” sahut Edwin.


Mereka bertiga mengangkat tubuh Rian yang tidak lagi berdaya hanya terpejam lemas akibat muntah darah yang Rian keluarkan.


Sesampainya di mobil mereka bertiga membaringkan Rian di kursi belakang setelah itu mereka bertiga pun masuk ke mobil, Adit berada di depan sedangkan Bagas mengambil alih mengemudikan mobilnya sementara Niko berada di kursi belakang mobil menjaga Rian.


Di dalam perjalanan Niko sesekali menyebut nama Rian untuk menyadarkannya.


“Rian, Rian, bangun Rian,” ucap Niko yang menepuk-nepuk pipi Rian.


Namun Rian tidak menunjukkan pergerakannya bahkan membuka mata saja tidak, Rian tampak seperti orang yang sedang koma


Hal ini membuat ketiga temannya menjadi semakin panik.


“Bang, Rian tidak kunjung bangun dia seperti koma,” ucap Niko yang tampak panik.


“Bagaimana ini Mas,” tanya Adit yang panik melihat kondisi Rian.


“Kita hanya bisa berdoa, lagi pula aku sudah berusaha secepat mungkin agar sampai di rumah sakit,” sahut Bagas yang melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


Mereka semua hanya bisa berdoa agar Rian baik-baik saja.


Akhirnya Bagas dapat menempuh perjalanan selama empat jam dari desa ke rumah sakit, yang biasanya dapat di tempuh enam jam kali ini Bagas sangat cepat mengemudikan mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit para tim medis membawakan tempat tidur pasien.


Adit, Bagas,  beserta Niko pun mengangkat tubuh Rian lalu meletakkannya di ranjang rumah sakit.


Rian yang tergeletak tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit pun di bawa ke ruang UGD.

__ADS_1


Sesampainya di ruang UGD Rian langsung di tangani oleh Dokter dan beberapa suster.


Dokter mulai panik ketika nafas dan denyut jantung Rian mulai melemah.


Semaksimal mungkin Dokter dan beberapa suster mencoba menangani Rian.


Segala upaya telah di lakukan namun Tuhan berkata lain Rian harus menghadap ke sang pencipta.


“Dok bagaimana teman saya,” tanya Niko yang melihat Dokter menangani Rian keluar ruangan.


“Maaf kami sudah melakukan semaksimal mungkin untuk saudara Rian tapi Tuhan berkata lain,” ucap Dokter yang meninggalkan Niko yang berdiri di luar ruang UGD.


“innalillahi wainna ilaihirojiun” sahut Niko yang sedih lalu masuk ke ruang UGD.


Niko pun masuk ke ruangan UGD terlihat jasad Rian dan kedua teman yang menangisi kepergian Rian terutama Bagas.


Bagas sangat terpukul kehilangan sahabat serta keluarga baginya.


Bagas tidak kuasa menahan kesedihannya ia mencoba menggoyang-goyangkan badan Rian berharap Rian dapat bangun kembali.


“Bangun Rian! Bangun!” teriak Bagas yang tidak kuasa menahan air matanya.


“Mas, sudah Mas. Ikhlaskan Rian,” ucap Adit yang mengusap bahu Bagas berusaha menenangkan Bagas.


“Rian, Dit,” sahut Bagas yang memeluk tubuh Rian.


“Sudah Mas, kasihan Rian jika dia melihat Mas seperti ini,”  Adit berusaha menenangkan Bagas.


“Apa yang harus aku katakan kepada istrinya beserta keluarga Dit, Rian tanggung jawabku,” pungkas Bagas yang merasa sedih serta bersalah.


“Sudahlah Bang, Abang tidak salah umur sudah Allah yang mengatur Bang,” Niko mencoba menenangkan Bagas.


“Ikhlaskan Rian Bang, sekarang mungkin Rian sudah tenang di sana dan tidak merasa sakit lagi,” ucap Niko kembali.


Bagas mencoba menenangkan dirinya dan mengikhlaskan kepergian Rian.


Jasad Rian pun di tutupi oleh Bagas dengan selimut rumah sakit yang telah di sediakan di sana.   


“Selamat jalan Rian, semoga kamu tenang di sana dan Allah menerima amal ibadahmu di tempatkan di tempat yang terbaik aamiin,” Bagas yang berdoa untuk Rian.


“Semoga kau tenang di sana sabat,” ucap Niko.


“Selamat jalan Rian, maafin aku kadang bikin kamu kesal. Semoga amal ibadahmu di terima di sisi Allah aamiin,” doa Adit untuk Rian.


Mereka bertiga mencoba mengikhlaskan kepergian Rian, walau pun Rian telah pergi namun kenangan Rian tidak akan pernah hilang di hati dan pikiran mereka, Rian sendiri adalah sahabat terbaik untuk mereka semua yang tidak pernah mengeluh. 


 Sementara itu Bagas mulai mengambil telepon genggamnya di kantong, Bagas ingin mengabarkan kepada istrinya bahwa Rian telah tiada untuk selamanya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2