
Adit berbisik kepada Bagas.
“Mas ... Mas ... Kok jasadnya di seperti itu kan,” bisik Adit.
“Ssssttt! Jangan berisik,” tegur Bagas.
“Mas, kita pulang saja yuk,” sahut Adit dengan lirih.
“Mana boleh kita pulang Dit, ini acara ritual mereka kamu mau cari masalah!” ujar Bagas memberi peringatan.
“Udah diem saja kita ikutin saja acaranya sampai selesai,” kata Bagas memberi saran.
“Iyo Mas,” sahut Adit lalu terdiam.
Mereka mulai menyaksikan proses-proses ritual yang aneh.
Setelah mbah Seno selesai mengambil bagian tubuh jenazah pak Selamet, jenazah pak Selamat di berikan kembali kepada warga yang mengurus.
Jenazah pak Selamat dimandikan oleh tukang memandikan jenazah yang berjenis kelamin laki-laki beserta anak laki-laki pak Selamat yang ikut mandikan.
Setelah proses memandikan selesai barulah kembali dengan proses mengafani
Jenazah pak Selamat pun di pakaikan kain kafan lalu mata yang terlihat seperti keluar itu karena tidak ada lagi kelopak matanya di tutupi menggunakan kapas, baru lah hidung berserta mulut.
Setelah proses mengafani selesai jenazah pun di sholatkan barulah di makamkan malam itu juga.
Tidak ada aneh proses memandikan, mengafani, lalu mensholatkan hanya saja belum jenazah di seperti itu kan di ambil terlebih dahulu kelopak matanya.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam jenazah pak Selamat yang telah siap untuk di makam kan.
Beberapa warga sudah sedari tadi di tempat pemakaman untuk mengali tanah dan memakamkan pak Selamat.
Jenazah pak Selamat yang sudah di sholatkan di taruh di keranda yang terbuat dari bambu dan di alasi oleh anyaman tikar yang terbuat dari bambu.
Setelah jenazah pak Selamat berada di keranda, anak laki-laki pak Selamat bertugas mengangkat keranda itu dengan di bantu oleh para warga.
Para warga desa Kemomong membawa obor untuk menerangi jalan menuju pemakaman.
Ada dua warga yang bekerja sebagai memandu jalan dan menerangi jalan di belakang dua warga itu barulah jenazah pak Selamat yang di gotong menggunakan keranda di susul dengan para warga yang berada di belakang.
Jalan di desa menuju pemakaman terlihat sangat gelap belum lagi di tambah bunyi hewan malam yang membuat suasana menjadi seram.
__ADS_1
Bagas beserta Adit berada di barisan belakang para warga. Sebenarnya mereka enggan ikut acara pemakan ini namun Kuncoro memaksa mereka berdua untuk hadir, mau tidak mau Bagas beserta Adit pun ikut dalam acara pemakaman almarhum pak Selamet.
Terdengar lantunan kalimat tahlil yang mengiri perjalanan menuju pemakaman oleh para warga.
“Lailahaillallah, Lailahaillallah, Lailahaillallah,” ucap semua warga mengiri kepergian pak Selamat hingga liang lahat.
Sepuluh menit telah berlalu mereka semua telah sampai di tempat pemakaman warga desa Kemomong, liang lahat pun telah selesai di gali.
Pak Selamat pun bersiap untuk di kuburkan, terdengar suara burung hantu di pemakaman itu. Kuburan para warga pun hanya di beri nisan dari kayu untuk memudahkan mereka mencari keluarga mereka yang di makamkan di tempat ini.
Saat Jenazah pak Selamat ingin di masukan ke dalam liang lahat.
Secara tiba-tiba bulu kuduk Adit berdiri terasa angin yang datang dari arah belakangnya membuat Adit merinding.
Adit mulai memberanikan dirinya melihat di sekelilingnya sampai ia menengok ke arah belang.
Lagi-lagi Adit di kejutkan oleh fenomena yang mengerikan.
Adit meliat banyak pocong tanpa kelopak mata dengan wajah hitam gosong menatap padanya.
Adit mencoba memenangkan dirinya ia berusaha tidak mau melihat sekumpulan pocong itu Adit hanya bisa menunduk agar tidak melihat fenomena mengerikan itu.
Adit mencoba coba memberitahukan Bagas, ia menarik-narik baju Bagas sambil berbisik.
“Apa lagi sih Dit, sabar aku juga mau pulang gak cuma kamu aja, Dit,” sahut Bagas yang salah paham.
“Coba liat di belang Mas, di belakang,” sahut Adit yang memberi kode dengan isyarat matanya.
Bagas yang mulai mengerti pun mencoba menoleh ke belakang dan benar saja bagas melihat sekelompok pocong tanpa kelopak mata dengan wajah yang gosong sedang menatap mereka berdua.
Jantung Bagas mulai berdetak dengan kencang rasa takut mulai Bagas rasakan.
Bagas mulai memberitahu para warga tentang fenomena yang ia lihat bersama Adit.
“Ada pocong di belakang!” teriak Bagas beserta Adit yang membuat warga geger.
Para warga pun menoleh ke belakang, tapi anehnya semua warga tidak ada yang melihat sekumpulan pocong itu.
“Ah, kalian berdua ini ada-ada saja, sahut salah seorang warga yang menertawakan mereka berdua.
Akibat ulah Bagas beserta Adit proses pemakaman pak Selamet sempat terhenti sejenak.
__ADS_1
Sampai akhirnya proses pemakaman di lanjutkan kembali, Bagas beserta Adit tidak berani melihat ke belakang apa lagi menoleh. Mereka berdua merasakan pocong-pocong itu masih ada di belakang mereka memperhatikan semua orang yang ada di tempat pemakaman ini.
Bagas beserta Adit mulai menenangkan diri mereka masing-masing sesekali mereka pun menghela nafas menahan rasa takut di diri mereka berdua.
“Mas, ayo kita pulang badanku sudah gemetaran ini,” ucap Adit menahan rasa takutnya.
“Tunggu Dit sebentar lagi, ini udah mau selesai, aku pun iya seumur hidupku aku baru liat hal mengerikan seperti ini di desa Kemomong ini,” ujar Bagas.
“Lama-lama aku kok ngeri to mas dengan desa ini dan tradisi menyeramkan oleh para warga,” eluh Adit.
“Udah sabar Dit, kerjaan kita di desa ini masih belum kelar,” sahut Bagas dengan pelan agar para warga tidak mendengar ucapan mereka berdua.
30 menit telah berlalu pemakaman pak Selamet pun telah selesai Bagas beserta Adit pergi terlebih dahulu tidak menunggu atau bersama bapak Kuncoro.
Mereka berjalan berdua beriringan sedangkan warga desa berada jauh sekali di belakang mereka.
Bagas beserta Adit pun mempercepat laju langkahnya agar mereka cepat sampai di rumah Kuncoro dan segera pulang.
Beberapa menit telah berlalu mereka pun segera pulang ke Mes tidak menunggu pak Kuncoro yang belum datang.
Hanya Sekar dan Ningsih saja yang mereka berdua pamit.
“Sekar Abang pamit pulang terlebih dahulu, mbak Ning saya pulang dulu” Bagas yang berpamitan.
“Iya aku Juga pamit yo, Sekar dan mbak Ning,” celetuk Adit.
“Kok cepat sekali pulangnya Abang tidak menunggu bapak?” tanya Sekar.
“Iya Bang Bagas tidak menunggu Bapak,” ucap Ningsih.
“Tidak Sekar dan mbak Ning, saya langsung saja. Ada hal yang harus di urus di mes,” Bagas yang beralasan.
“Iya aku juga pamit lain kali nanti tak ke sini lagi sama Mas Bagas,” ujar Adit.
“Ya sudah hati-hati Bang, Mas. Nanti Sekar kasih tahu Bapak,” ucap Sekar.
“Hati-hati kalian berdua,” ujar Ningsih.
“Assalamualaikum,” ucap serentak Bagas beserta Adit.
“Waalaikumsalam,” sahut serentak Sekar dan Ningsih.
__ADS_1
Bagas dan Adit pun keluar dari rumah bapak Kuncoro menuju mobil Bagas yang terparkir di laman rumah pak Kuncoro