Desa Kemomong

Desa Kemomong
Dikelilingi pocong


__ADS_3

Tidak terasa malam mulai tiba, Suara hewan-hewan malam mulai berbunyi. Terlihat di luar mes sangat gelap dan sepi para pekerja proyek menghabiskan penat mereka di dalam mes.


Ada yang sedang bersantai dengan sembari menikmati kopi beserta roko, ada juga yang sedang berbincang-bincang dengan para pekerja lain, dan ada juga yang sibuk bermain dengan telepon genggamnya.


Mereka menghilangkan penat dengan hiburan yang mereka buat sendiri.


Bulan semakin lama semakin terlihat bulat, malam pun terasa semakin larut.


Mes terlihat sunyi sekarang tidak ada aktivitas lagi dari mereka. Semua pekerja proyek telah tidur dengan sangat lelapnya, begitu pula dengan Adit.


Sementara posisi tidur Adit di apit oleh kedua temannya Rian beserta Edwin.


Suara dengkuran Edwin yang sangat nyaring membuat Adit terbangun dari tidurnya.


‘Aduh asem, ra iso turu aku(tidak bisa tidur aku)!’ gumam Adit yang tidur menghadap ke arah Edwin.


‘Ini orang ganteng-ganteng kok kalau ngorok kaya sepur,' gumam Adit kembali dengan kesal.


Adit pun merubah posisi tidurnya dengan membelakangi Edwin dan menghadap ke arah Rian.


Namun saat Adit tengah tidur dengan posisi miring menghadap ke Rian ia begitu sangat terkejut.


Adit melihat beberapa makhluk yang di bungkus dengan kain kafan dengan ciri hasnya kepala, badan, beserta kakinya di ikat.


Sosok pocong itu sedang mengelilingi Rian yang sedang tidur. Pocong itu pun menunduk menatap ke arah Rian dengan kelopak mata yang tidak ada seperti sedang membacakan sesuatu kepada Rian sambil mengelilingi tubuh Rian.


Melihat hal yang sangat menyeramkan Adit langsung membangunkan Edwin yang berada di sampingnya.


“Win bangun! Po-pocong,” Adit yang berteriak kepada Edwin sembari mengerak-gerakan tubuh Edwin agar dia bangun.


Merasa tidurnya di ganggu Edwin pun terbangun.


“Apa sih Dit, malam-malam gini ganggu orang sedang tidur saja,” ucap Edwin dengan kesal.


“I-itu, po-pocong,” ucap Adit dengan gagap menunjuk ke arah Rian tanpa berani melihatnya.


“Pocong gundulmu, Rian sedang tidur kok,” sahut Edwin yang kesal tidurnya di ganggu Adit.


Adit pun penasaran dengan ucapan Edwin ia memberanikan diri melihat ke arah Rian.


Dan sekumpulan pocong yang mengelilingi Rian itu telah hilang entah ke mana, Adit pun terdiam lalu melihat sekelilingnya namun tidak ada satu pun sosok makhluk yang ia liat berada di dalam mes.


Adit pun mulai menjelaskan fenomena mengerikan yang ia lihat tadi.


“Win aku serius, tadi banyak pocong yang mengelilingi Rian. Wajahnya mengerikan di tambah lagi pocong itu tidak mempunyai kelopak mata. Jadi matanya seperti terlihat ingin keluar,” tutur Adit yang menjelaskan kepada Edwin dengan wajah takutnya.


“Kamu itu mungkin sedang bermimpi, mana ada pocong di sini Adit. Ini hutan bukan kuburan kalau kamu liat ada binatang buas aku percaya. Tapi kalau ada setan aku tidak percaya” sahut Edwin yang tidak percaya dengan ucapan Adit.


“Aku serius Win, gak bohong tadi aku liat pocong itu sedang mengelilingi Rian entah mereka seperti membaca mantra,” ujar Adit yang meyakinkan Edwin.


“Udahlah aku tidak percaya dengan hal seperti itu, aku mau lanjut bermimpi,” sahut Edwin yang meninggalkan Adit kembali tidur.

__ADS_1


‘Huh! Kalau diomongin pasti tidak percaya,' Adit bermonolog dengan kesal.


Namun tidak lama ketika mereka ingin memejamkan mata terdengar Rian yang sedang berteriak-teriak sambil menggigil.


Hal itu pun membangunkan Edwin, Adit, Bagas serta Niko.


Mereka berempat mendatangi Rian yang sedang mengigau.


“Rian, bangun!” sahut Adit yang mencoba membangun Rian.


Rian pun tidak kunjung bangun membuka matanya, tubuhnya malah semakin mengigil.


Akan tetapi di saat Adit memegang tubuh Rian untuk membangunkannya Adit merasa tubuh Rian sangat panas, lalu Adit pun memberi tahukan Bagas yang saat itu juga sedang melihat keadaan Rian.


“Mas Bagas, koyo opo iki(Bagaimana ini), badan Rian panas banget loh Mas!” sahut Adit yang sangat panik.


Bagas mulai mendekati Rian dan memegang kening Rian benar saja yang di ucapkan oleh Adit suhu badan Rian sangat meningkat sampai menyebabkan Rian menggigil.


“Kita harus rawat Rian terlebih dahulu, Dit kamu kompres Rian biar panasnya turun,” perintah Bagas.


“Iya Mas,” sahut Adit yang pergi mencari alat-alat yang ia bisa gunakan untuk mengompres Rian.


“Bang apa tidak sebaiknya kita bawa ke dokter saja!” ucap Edwin.


“Win jarak dari sini ke kota memakan waktu 6 jam lagi pula ini sudah tengah malam, terlalu bahaya keluar tengah malam. Sebaiknya kita pakai Penanganan darurat terlebih dahulu dan kalau misalnya panas tubuh Rian tidak kunjung turun baru terpaksa kita bawa Rian ke rumah sakit yang ada di kota,”


tutur Bagas menjelaskan kepada Edwin.


Akhirnya mereka berempat pun sepakat untuk merawat Rian malam itu.


Secara bergantian mereka merawat Rian menggantikan mengompres Rian.


Tiga jam telah berlalu usaha mereka berempat pun tidak sia-sia kini panas Rian telah turun dan Rian tidak mengigil lagi.


“Bang panas Rian turun,” ucap Niko yang memberitahukan Bagas.


Karena giliran Niko yang menjaga Rian.


“Alhamdulillah,” ujar Bagas beserta yang lain.


“Ya sudah sebaiknya kita kembali tidur, lagi pula sudah jam 3 malam, besok kita harus bekerja dan harus membawa Rian ke rumah sakit,” ujar Bagas yang memberi perintah.


“Iya Bang,” sahut Edwin beserta Niko.


“Iya Mas,” sahut Adit.


Mereka semua pun kembali ke tempat tidurnya masing-masing dan menyambung tidur yang sempat terganggu.


Keesokan paginya semua pekerja proyek selepas sarapan pagi, mereka semua bersiap-siap kembali bekerja kecuali Bagas beserta Adit yang ingin mengantarkan Rian ke rumah sakit.


Rian dibopong oleh Bagas beserta Adit masuk ke dalam mobil Bagas.

__ADS_1


Setelah Rian masuk ke dalam mobil, Bagas menghampiri Niko.


“Nik. tolong kamu hendel mereka semua di saat aku tidak ada, dan kalau ada apa-apa hubungi aku!” perintah Bagas.


“Siap Bang,” sahut Niko.


Bagas pun kembali menghampiri mobilnya bersiap untuk mengantarkan Rian, sementara Adit sudah sedari tadi menunggu Bagas di dalam mobil beserta Rian.


“Ayo Mas. Biar kita pulang gak terlalu malam soalnya PP memakan waktu 12 jam,” tegur Adit.


“Iya Dit,” sahut Bagas.


Bagas pun mulai menyalakan mesin mobilnya lalu mengemudikan meninggalkan hutan menuju rumah sakit.


Di tengah perjalanan Adit kembali mencerita kejadian malam tadi yang ia lihat ketika dirinya terbangun dari tidur.


“Mas aku tadi malam liat Rian di kelilingi pocong,” ucap Adit yang duduk di samping Bagas.


“Ah masa Dit, kamu mimpi kali,” ujar Bagas.


“Sumpah Mas aku tidak bohong,” Adit yang berusaha meyakinkan Bagas.


“Udah gak usah di bahas yang penting kesehatan Rian dulu yang diutamakan,” nasehat Bagas.


“Iyo Mas,” sahut Adit.


Mereka berdua sesekali melihat ke arah belakang di mana posisi Rian duduk. Rian terlihat semakin pucat matanya sayu tubuhnya lemas menandakan sakit yang ia derita bukan sakit biasa.


Bagas mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah sakit. Desa demi desa mereka lalui tempat duduk mereka pun semakin terasa panas hingga mereka sampai ke kota, dari kota menuju rumah sakit kurang lebih 20 menit.


Sesampainya di rumah sakit Bagas dan Adit keluar mobil lalu membantu Rian untuk keluar dari mobil, Bagas mendaftarkan Rian untuk pemeriksaan dan menunggu untuk dipanggil.


Saat nama Rian di panggil Bagas dan Adit ikut masuk ke dalam karena sebagai kepala proyek Bagas harus bertanggung jawab atas timnya.


Rian mulai diperiksa dengan intensif oleh dokter.


“Kalau saya boleh tahu sejak kapan teman Anda seperti ini?” tanya dokter.


“Sudah dua hari Dok, kemarin kami bawa ke puskesmas tapi dari pihak puskesmas menyuruh kami memeriksakannya ke dokter,” tutur Bagas.


Dokter menghela nafas. “Saya khawatir jika ini adalah hepatitis b. Sebaiknya teman kalian di opname dulu kami akan memeriksanya lebih lanjut untuk memastikan,” tutur dokter.


“Tidak perlu Dok. Berikan saya resep obat saja,” tolak Rian.


“Tapi Rian kamu itu sudah parah!” ucap Bagas.


“Nggak apa-apa Bang saya minta resep obat saja.”


Mereka tidak bisa memaksa Rian untuk tetap berada di rumah sakit, dokter pun akhirnya memberikan resep obat untuk Rian tebus.


bersambung dulu gengs

__ADS_1


__ADS_2