
Mbah Seno mengambil botol kecil yang berukuran dua mililiter di hadapnya, lalu mbah Seno memberikan kepada Ningsih.
“Ambil minyak ini, teteskan minyak ini di jari jempolmu, setelah itu sebut nama orang yang akan kamu jadikan targetmu di dalam hati saja, lalu tiupkan di jari jempolmu yang sudah di teteskan minyak itu, barulah kamu oleskan di alismu. Niscaya orang yang sudah menjadi targetmu akan membayangkan wajahmu dan mengikuti keinginanmu,” ujar mbah Seno yang memberi tahu caranya kepada Ningsih.
Ningsih pun mengambil minyak pelet yang di berikan oleh mbah Seno.
“Terima kasih Mbah, berapa ini maharnya?” tanya Ningsih.
“Terserah kamu saja Nduk. Mbah hanya membantu dirimu,” ujar Mbah Seno.
Ningsih memberikan sejumlah uang yang tidak sedikit kepada Mbah Seno dari hasil tabungannya, mbah Seno pun menerima pemberian Ningsih sebagai penganti mahar dari minyak yang ingin Ningsih pakai.
“Mbah apa boleh aku pakai minyak ini di sini, karena Bagas akan datang mengantar Sekar pulang,” usul Ningsih.
“Silahkan Nduk, semakin cepat akan semakin baik,” ujar mbah Seno.
Ningsih mencoba cara yang telah diberitahukan oleh mbah Seno.
Ningsih meneteskan minyak itu di jari jempolnya menyebut nama Bagas di dalam hatinya lalu di tiupkan ke jari jempolnya barulah Ningsih mengusapkan ke alisnya.
Setelah Ningsih memakai minyak pelet itu, ia pun segera berpamitan pulang kepada mbah Seno. Karena Ningsih takut dirinya tidak bertemu Bagas.
“Mbah Ningsih pamit pulang terlebih dahulu terima kasih,” ujar Ningsih yang berpamitan.
Ningsih keluar dari rumah mbah Seno lalu menuju warung untuk membelikan titipan bapaknya.
Setelah selesai Ningsih membeli titipan bapaknya barulah Ningsih pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Ningsih memberikan roko titipan bapaknya sembari menanyakan Sekar.
“Ini Pak rokoknya. oh iya Pak, Sekar sudah pulang?” tanya Ningsih.
“Belum Ningsih, lama sekali mereka pulang padahal sudah jam sembilan malam,” ucap Kuncoro memberitahukan Ningsih.
‘Baguslah jika begitu,' batin Ningsih.
“Memang kenapa Ning?” tanya Kuncoro.
“Tidak apa-apa hanya Ningsih khawatir saja kepada Sekar,” sahut Ningsih yang berbohong.
Tidak lama terdengar mobil Bagas yang berhenti di halaman rumah Kuncoro.
“Pak itu mungkin mereka,” ucap Ningsih.
Bagas yang membatu membawakan belanjaan Sekar untuk Ningsih dan Kuncoro.
Bagas pun masuk ke rumah Kuncoro duduk di ruang tamu memberikan oleh-oleh kepada mereka berdua.
Kuncoro dan Ningsih pun sangat bahagia. Lalu Bagas meminta maaf karena pulang malam, namun Kuncoro pun memakluminya.
Kuncoro tahu jarak kota dan desa itu sanggatlah jauh belum lagi Bagas memberikan oleh-oleh untuk mereka jadi Kuncoro sangat memakluminya.
Bagas berpamitan pulang kepada Kuncoro, Sekar dan Ningsih.
__ADS_1
Namun saat Bagas berpamitan pulang kepada Ningsih Bagas terkesima akan paras cantik Ningsih.
Bagas terdiam memandangi wajah Ningsih sampai tidak melepas tangannya yang sedang bersalaman kepada Ningsih.
Mengetahu itu Kuncoro pun menegur Bagas.
“Ehm ... Katanya mau pulang Nak Bagas,” tegur Kuncoro.
“Eh iya Pak, ini mau pulang,” sahut Bagas yang kaget.
Bagas keluar dari rumah Kuncoro menuju mobilnya dan mulai menaiki mobilnya.
Bagas meninggalkan rumah Kuncoro menuju mes.
Sepanjang jalan Bagas teringat dengan wajah Ningsih yang dia ajak bersalaman tadi.
Sesekali Bagas menepis pikirannya tentang Ningsih.
‘Kenapa aku memikirkan wajah Ningsih terus,' gumam Bagas.
‘Ah mungkin hanya kebetulan saja,’ gumam kembali Bagas.
Sesampainya di mes, Bagas langsung menuju tempat tidurnya terlihat Adit yang sudah tertidur pulas di tempat tidurnya.
Bagas pun mulai ingin memejamkan matanya namun ingatannya kepada Ningsih semakin jelas.
Sementara Ningsih yang berada di kamarnya dan tidur bersama Sekar, secara mengendap-endap mengambil telepon genggam milik Sekar yang berada di atas meja kamar.
Kebetulan Sekar sudah tertidur karena kelelahan seharian berjalan dengan Bagas.
Ningsih yang sudah mendapatkan nomor telepon Bagas kembali ke tempat tidur, lalu Ningsih mengirim pesan chat kepada Bagas lewat Hp nya.
“Bang Bagas sudah tidur,” Ningsih yang mengetik pesan chat.
“Belum ini siapa?” Bagas yang membalas pesan.
“Ini Ningsih Bang”
“Oh Ningsih, ini nomor kamu ya. Abang simpan boleh”
“Boleh banget Bang.”
“Kenapa kamu belum tidur Ningsih?” Bagas yang mengetik dan menanyakan kepada Ningsih.
“Iya belum, ke pikiran Abang terus.”
“Abang pun iya, ke pikiran Ningsih terus.
“panggil Ning saja Bang, oh iya besok Abang sibuk?”
“Tidak Ning, ada apa?”
“Ning boleh bertemu Abang.”
__ADS_1
“Tentu saja boleh, apa yang tidak buat Ning.”
“Baiklah besok Ning kabari kita bertemu di mana.”
“Iya Ning,”
“Selamat tidur Bang, mimpiin Ning ya,”
“Selamat tidur Ning, abang akan memimpikanmu,”
Mereka berdua pun mengakhiri percakapan melalu pesan chat di HP mereka masing-masing.
Setelah dapat pesan chat dari Ningsih hati Bagas begitu senang dan bahagia, Bagas dapat tidur dengan tenang.
Sementara Ningsih juga sangat bahagia, minyak pelet yang di berikan mbah Seno sudah bekerja dan sangat mujarab.
‘Bagus minyak pelet ini rupanya sudah bereaksi, kini Bagas mulai tergila-gila kepadaku,' batin Ningsih.
‘Tapi aku tidak bisa bertemu dengan Bagas di rumah ini, aku harus ada bukti jika Bagas menjalani hubungan denganku,' batin Ningsih.
‘Baiklah aku akan bawa Bagas ke pondok milik Bapak yang lama tidak di tempati, di sana aku akan melakukan hubungan badan kepadanya dan akan aku foto agar ada bukti nanti, aku menginginkan anak darinya agar Bagas bisa menikahi diriku dan tidak ada yang bisa menghalangi aku untuk memiliki Bagas seutuhnya, jika kasiat minyak ini telah habis,' batin Ningsih.
Ningsih pun sangat senang karena malam ini rencananya berjalan dengan lancar.
Ningsih mulai memejamkan matanya, tidak lama Ningsih pun mula tertidur lelap.
***
Keesokan paginya Bagas mulai bekerja seperti biasa namun kali ini Bagas tidak seperti biasanya Bagas sering melamun memikirkan Ningsih.
Hal ini pun membuat Bagas tidak fokus bekerja dan banyak melakukan kesalahan.
Adit yang melihat Bagas tidak seperti biasanya menegurnya.
“Mas ada apa? Dari tadi aku perhatikan Mas Bagas sering melamun tidak fokus bekerja, tidak biasa yang selalu bersemangat jika bekerja,” tegur Adit.
“Eh tidak apa-apa Dit hanya sedikit banyak pikiran,” sahut Bagas yang berbohong.
“Hayo mikirin apa? Apa sedang memikirkan Sekar,” ledek Adit.
“Iya Dit,” sahut Bagas yang berbohong.
Bagas tidak mau Adit mengetahui dirinya sedang memikirkan Ningsih apa lagi menjalani cinta dengan Ningsih. Bagas mencoba menutupi semua itu kepada Adit.
“Ya sudah Dit, aku tinggal dulu makan siang ya,” sahut Bagas meninggalkan Adit kembali ke mes.
“Iya Mas,”
‘Aneh sekali mas Bagas, tidak biasanya dia seperti itu. Sepertinya ada sesuatu yang berusaha di titipinya dari diriku,' gumam Adit.
Adit pun yang mulai curiga dengan sikap Bagas, namun Adit tidak mau mengambil pusing dengan hal itu.
__ADS_1