Desa Kemomong

Desa Kemomong
Ilmu hitam


__ADS_3

Malam telah tiba selepas makan malam mereka semua melanjutkan obrolan di ruang tamu, Bagas, Adit, Cokro, Kuncoro, Sekar dan Ningsih tengah asyik mengobrol satu dengan yang lain.


Bagas pun bercerita kepada Kuncoro bahwa dalam waktu dekat ini dirinya akan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda itu dan akan tinggal kembali di Mes.


Namun di sisi lain Seno yang di tekan oleh Makhluk itu untuk memberikan tumbal selanjutnya ingin menghabisi Cokro.


Karena Cokro adalah penganggu dirinya untuk menumbalkan Bagas beserta Adit.


Di malam itu Seno yang tengah duduk di kamar ritualnya dengan yang berupa, air rendaman bunga tujuh rupa, kopi pahit, serta satu ekor ayam cemani yang masih hidup.


Seno mulai menaruh serpihan kemeyan di atas tungku yang berisi bara api, serpihan kemenyan itu berubah menjadi gumpalan asap yang tipis.


Sesudah itu Seno mulai mengambil satu ekor ayam cemani yang masih hidup lalu ayam cemani  atau ayam hitam itu di asap-asapkan di tungku yang telah di beri serpihan kemeyan tadi.


Setelah Seno merasa cukup ia mengambil pisau lalu menyembelih ayam hitam itu, darah ayam hitam yang memang berwarna hitam di taruh di sebuah mangkok kaca.


Seno yang telah mengumpulkan darah ayam hitam itu melemparkan ayam itu dan mengambil darahnya.


Seno meminum darah itu lalu ia menyemburkan darah yang ada mulutnya ke tungku atau perapian.


Sontak saja Cokro langsung mengalami insiden yang sangat mengerikan.


Cokro tiba-tiba memuntahkan darah segar, semua orang panik melihat Cokro yang seperti itu terlebih lagi Adit yang sangat khawatir.


“Mbah! Mbah kenapa,” tanya Adit yang sangat panik.


Dengan tenaga yang masih ia miliki Cokro duduk dengan tenang lalu memejamkan matanya.


“Dia mengincarku,” ucap Cokro dengan mata yang tertutup.


“Dia siapa Mbah!” tanya Adit yang panik.


Cokro hanya terdiam ia mencoba melawan ilmu hitam yang di pakai oleh Seno untuk melawan dirinya.


“Keris yang Mbah berikan kepadamu tolong ambilkan?” perintah Cokro.


Adit mengambil keris yang ia simpan di selipan pinggangnya.


“Ini mbah,” sahut Adit.


Semua orang terpana melihat keadaan Cokro namun mereka hanya terdiam tidak bisa melakukan apa-apa untuk membatu Cokro.


Cokro membuka sarung yang menyelimuti keris itu laku mengangkat keris itu menghadapkan ke wajahnya.


Cokro berusaha menangkal ilmu hitam yang diberikan oleh Seno.


Seno yang mengetahui Cokro yang menghalau serangan ilmu hitamnya pun tertawa.


“Ha-ha-ha kau tidak bisa mengalahkan aku Cokro,” ucapnya dengan tertawa.

__ADS_1


Seno pun mengambil kembali mangkok yang berisi darah ayam hitam itu laku meminumnya dan lagi-lagi menyemburkan dari itu dari mulutnya ke atas perapian.


Burrrr ( suara semburan darah dari mulut Seno)


Sontak saja Cokro tidak dapat menghalau kembali ilmu hitam yang di berikan Seno secara berulang kali.


Darah segar keluar kembali dari mulut Cokro.


Tubuh Cokro pun tiba-tiba tersungkur di lantai akibat serangan ilmu hitam yang di berikan oleh Seno.


Adit yang melihat tubuh Cokro tersungkur di lantai pun langsung mendatanginya dan memeluknya.


“Mbah jangan tinggalkan Adit Mbah!” Adit teriak kepada Cokro.


“A-adit cucuku, jangan bersedih Mbah akan selalu bersamamu menjagamu. Ambillah keris ini kembali, nanti kau akan membutuhkan bersama Bagas,” sahut Cokro menghembuskan nafas terakhirnya.


“Mbah!” teriak Adit yang tidak terima Cokro di perlakukan seperti ini.


Adit yang sangat kesal pun berdiri sembari memegang keris yang di berikan oleh Mbahnya.


“Aku harus membunuh dukun kejam itu,” ucap Adit dengan penuh amarah.


“Jangan Mas, mbah Seno terlalu kuat, dia bukan tandinganmu,” ucap Ningsih.


“Dia yang membuat Mbahku mati dan beserta teman-temanku,” sahut Adit yang sangat kesal.


“Iya Dit benar yang di katakan Ningsih, sebaiknya tahan emosimu dahulu. Aku tahu kamu sangat kesal dengan dukun itu semua orang yang kita sayangi telah di jadikan tumbal oleh dukun itu tapi ingat pesan kakek mu sebelum dia pergi kita semua harus berhati-hati,” sahut Bagas yang berusaha menenangkan Adit.


Adit terduduk menangisi semuanya ia tidak bisa berbuat apa-apa, apa lagi menolong kakeknya Cokro.


Adit hanya bisa menangis meratapi kejadian demi kejadian yang telah merengut orang-orang yang dia cintai.


Cokro diangkat oleh Adit beserta Bagas ke tempat tidurnya semua badan Cokro pun di tutupi  oleh kain panjang dengan motif batik.


Setelah itu Adit menelepon neneknya memberikan kabar duka atas meninggalnya Cokro.


Tuuttt ... Tuutttt ( suara telepon tersambung)


“Hallo, Assalamualaikum Mbah Putri.”


“Waalaikumsalam, Ini Adit to?”


“Iya Mbah Putri ini Adit,” sahut Adit di telepon dengan nada yang terdengar sedih.


“Ada apa to Dit, kok terlihat sedih?”


“Be-begini Mbah Putri, mbah Kung-“ ucap Adit terhenti sejenak tidak kuasa untuk memberita tahu neneknya.


“Iya mbah Kung kenapa? Sehat saja kan, sini Mbah Putri mau ngomong sama Mbah Kung!” 

__ADS_1


“M-mbah Kung-,”


“Iya mbah Kung kenapa to Dit, kamu jangan bikin mbah Putrimu ini penasaran to Le!”


“Mbah Kung sudah meninggal.”


“Kamu jangan bercanda Dit.”


“Adit tidak bercanda Mbah Putri, Mbah Kung sudah meninggal,” ucap Adit dengan meneteskan air mata.


“Ya Allah gusti kok jadi seperti ini Dit, mbah putri masih tidak percaya dengan ucapanmu, apa ini benar Dit?”


“Iya mbah Putri, Mbah Kung meninggal akibat terkena ilmu hitam.”


Sontak saja Lasmi terduduk di lantai mendengar ucapan dari Adit dengan telepon yang terhempas di lantai.


Lasmi menangis histeris mendengar kabar Cokro sudah tidak ada lagi.


Tangisan Lasmi yang histeris di dengar oleh para tetangga, mereka berdatangan untuk mencari tahu ada apa sebenarnya.


“Mbah Lasmi ada apa?” tanya seorang ibu yang bertubuh gemuk.


“Mbah Cokro meninggal,” sahut Lasmi dengan menangis tak kuasa menahan kesedihannya.


“Innalillahiwainnailaihi rojiun,” ucap ibu gemuk itu dan beberapa orang lain yang mendengarnya.


“Yang tabah ya Mbah, mbah yang kuat,” ucap salah seorang tetangga Lasmi.


Lasmi masih tetap menangis bersedih mana kala di tinggal orang yang ia kasihi yang menemaninya selama 50 tahun terakhir.


Sementara Adit mencoba menelepon orang tuanya untuk memberikan kabar duka ini ke mereka.


Ibu dan Bapak Adit seperti tidak percaya akan peristiwa yang terjadi dengan mbah Cokro.


Namun kenyataan pahit yang harus mereka terima.


Setelah Adit selesai menelepon semua keluarganya ia pun kembali ke kamar tempat jenazah Cokro di baringkan.


“Maafiin Adit mbah, gara-gara Adit mbah seperti ini,” ucap Adit di samping jenazah Cokro yang merasa bersalah.


Ningsih pun mendatangi Adit mencoba memberikan semangat untuk dirinya.


“Sudah Mas, kasihan mbah Cokro jika Mas bersedih terus, ikhlaskan mbah Cokro, Mas,” kata Ningsih mengusap-usap bahu Adit.


“Aku tidak percaya semua akan seperti ini semua gara-gara aku Ning,” sahut Adit yang merasa menyesal.


“Yang sabar Mas, ini semua sudah jalan dari Allah, Mas Adit yang sabar ya, yang kuat,” sahut Ningsih mencoba menenangkan Adit.


Adit terdiam memandangi jenazah sang kakek, menjadi malam yang sangat kelabu di keluar Adit, atas perginya Mbah Cokro untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2