
Satu bulan berlalu, proses pengerjaan pabrik itu pun perlahan ada kemajuan tidak seperti bulan-bulan sebelumnya yang penuh dengan kendala serta peristiwa yang menyayat dada.
Bangunan yang masih setengah jadi itu akhirnya terlihat bentuknya karena bantuan dari Kuncoro serta para pemuda di desa itu membuat proses pembangunan menjadi lancar. Bukan hanya membuka lapangan pekerjaan bagi para pemuda desa tapi juga berbagi ilmu tentang penggunaan alat-alat pembangunan yang saat ini sudah mutakhir.
Di sisi lain Bagas dan Adit duduk bersama Kuncoro di ruang tamu membahas masalah hubungan mereka berdua dengan kedua putri Kuncoro.
“Adit, Bagas. Bapak ingin bertanya seberapa serius kalian berdua dengan putri saya?” tanya Kuncoro.
“Duh Bapak mertua bilang begitu aku jadi deg-degan,” sahut Adit tersipu malu.
“Kita belum jadi mantu beliau. Main panggil bapak mertua aja,” sahut Bagas.
“Begini Pak. Sebelumnya saya sudah memperkenalkan Sekar kepada orang tua saya dan mereka menyerahkan seluruh keputusan kepada saya. Jadi jika ....”
“Jika apa to Gas? Ngomong di potong-potong,” sahut Adit.
“Bentar Dit! Aku gugup!” sahut Bagas.
“Tidak perlu gugup. Kamu katakan saja Bapak akan mendengarkan sampai selesai.”
“Jika Bapak merestui saya ingin secepatnya melamar Sekar,” ucap Bagas.
“Saya juga Pak. Kalau perlu sekarang saya suruh bapak sama Ibu saya datang untuk melamar,” timpa Adit.
“Dit kamu itu udah kaya kereta api aja main sambar,” ucap Bagas.
“Ya makin cepat makin baik to,” ucap Adit.
“Tapi kan pak Kuncoro belum bilang mau merestui kita Dit!” ucap Bagas.
“Gimana kalian mau kawin sama mereka?” ucap Kuncoro yang mengetahui jika Ningsih dan Sekar tengah menguping pembicaraan mereka.
“Ningsih mau Pak,” sahut Ningsih yang tiba-tiba keluar dari kamar Sekar.
“Sekar juga Pak,” sahut Sekar yang berdiri di belakang Ningsih.
“Baik. Saya akan menghitung penanggalan dulu agar pernikahan kalian dapat hari yang bagus.”
Mendengar hal itu Bagas dan Adit tidak kuasa menahan rasa bahagianya karena mendapat restu dari Kuncoro. Adit dengan cepat mengambil ponselnya lalu menelepon orang tuanya.
“Halo Pak. Aku arep rabi (ingin kawin) Pak,” ucap Adit girang.
“Kawin? Owalah. Buk ... Anak kita jadi kawin Buk!” terdengar jelas huporia kebahagian dari balik telepon.
“Pak. Nanti Adit jemput yo kita lamar Ningsih.”
__ADS_1
Adit menutup teleponnya dengan wajah semringah.
“Ningsih. Tunggu Mas datang ke sini lagi bawa bapak sama ibu.”
“Iya Mas,” sahut Ningsih dengan malu-malu.
“Kamu gak telpon orang tuamu?” tanya Adit.
“Sebenarnya aku seminggu yang lalu sudah memberi tahu orang tuaku kalau aku ingin melamar Sekar, jadi mungkin minggu depan orang tuaku akan datang,” sahut Bagas.
“Diam-diam kamu sudah curi start duluan,” ucap Adit.
Rona bahagia juga terlihat dari wajah Ningsih dan juga Sekar. Hal yang mereka idam-idamkan kini sebentar lagi menjadi kenyataan yaitu hidup bersama orang yang mereka cintai.
“Baik. Bapak mau masuk dulu bapak mau cari tanggal yang pas untuk kalian menikah,” ucap Kuncoro sembari berdiri.
Sedangkan Adit dan Bagas memilih kembali ke mes mereka, sebelumnya mereka sudah berpamitan dengan Ningsih dan juga Sekar.
Saat berada di mes Adit bertanya kepada Bagas mengenai rencana masa depannya.
“Mas Bagas. Nanti kalau sudah menikah kamu mau punya anak berapa?” tanya Adit.
“Masih jauh Dit!” sahut Bagas.
“Lah ... Kita itu perlu merencanakannya mulai dari sekarang,” sahut Adit.
“Kalau aku mau punya anak minimal 8,” ucap Adit.
“Gak sekalian 11 biar kaya tim sepak bola,” sahut Bagas terkekeh tertawa.
“Jangan lah ndak sanggup aku kasih makannya,” sahut Adit.
Bagas hanya bisa tertawa mendengar jawaban dari Adit.
Hingga tiba saat di mana orang tua Bagas datang untuk melamar Sekar di susuk dengan orang tua Adit.
Suasana rumah Kuncoro kini menjadi ramai karena kedatangan orang tua Adit dan Bagas.
“Begini. Mungkin Bapak Kuncoro sudah mendengar maksud kedatangan kami. Namun ada baiknya kami mengutarakan lagi apa yang menjadi tujuan kami. Saya sebagai Ayah dari Bagas ingin meminang Sekar untuk menjadi istri anak kami Bagas,” ucap Ayah Bagas.
“Begitu pula dengan kami Pak besan, kami ingin melamar cah ayu Ningsih untuk anak semata wayang kami Adit. Tenang saja Adit sudah membekali diri untuk menjalani bahtera rumah tangga agar awet. Kaya saya sama ibunya,” ucap Bapak Adit sambil mencolek dagu istrinya.
“Pak! Ojo rayu merayu ibu di sini to! Malu!” ucap Adit.
‘Rupanya sifat itu menurun dari bapaknya,' pikir Bagas sambi tersenyum kecil.
__ADS_1
“Ya ndak apa-apa. Ini adalah bukti jika kita keluarga harmonis. Ya kan Bu’e sing ayu pelita hatiku,” ucapnya.
“Opo to Mas. Malu sama besan?” sahut ibu Adit dengan malu-malu.
Senda gurau tercipta karena sikap unik dari orang tua Adit, Kuncoro juga menerima lamaran mereka berdua. Suasana bahagia menyelimuti rumah Kuncoro. Binar-binar kebahagiaan terpampang jelas di wajah ke empat padangan itu.
Tanggal juga sudah di tetapkan oleh Kuncoro. Kuncoro memilih hari ahad (minggu) pada bulan jumadil akhir tepatnya minggu pon.
Kedua keluarga juga menyetujui hal tersebut, mengingat jika menikah di bulan itu di percaya pernikahannya akan harmonis serta mendapatkan rejeki yang melimpah.
Kedua keluarga akhirnya berpamitan untuk pulang dan juga untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahan nanti.
Desas-desus pun beredar dari mulut ke mulut jika kedua putri Kuncoro akan di persunting di hari yang bersamaan.
Ucapan selamat pun mengalir ketika ada warga yang tidak sengaja atau sengaja bertemu dengan Kuncoro.
Sebenarnya ada banyak pemuda yang mengincar Sekar, karena pribadinya yang santun serta parasnya yang cantik. Namun rupanya hal itu harus mereka kubur dalam karena Sekar telah dipersunting oleh Bagas.
Kabar bahagia ini rupanya sampai ke telinga Seno. Dia sangat marah karena Kuncoro menikahkan kedua anaknya dengan warga luar desa.
“Kurang ajar si Kuncoro! Dia rupanya telah lupa!” ucap Seno sambil memukul meja.
“Kau lihat saja Kuncoro! Lihat apa kau masih bisa tertawa bahagia!” sambungnya.
Saat tengah meluapkan emosinya Seno merasakan energi besar datang mendekat dan dia tahu siapa yang datang.
Dia langsung duduk bersujud seakan menyambut seseorang yang dia agungkan.
Hembusan angin masuk menelusup ke dalam rumah Seno, tekanan energi yang besar membuat Seno sedikit kewalahan.
“Mana jiwa yang kau janjikan?” terdengar suara namun tidak terlihat wujudnya.
“Akan secepatnya aku berikan jiwa itu untukmu.”
“Aku hanya memberimu satu lagi kesempatan! Jika tidak.”
Brraaaakkkk!
Seno terpelanting ke dinding sembari memegangi lehernya.
Terlihat sesosok makhluk dengan bulu kuning kemerahan di sekujur tubuhnya, dengan matanya yang merah menyala serta dua buah tanduk menghiasi kepalanya.
Makhluk itu mencekik Seno hingga dia sulit bernafas. Wajah Seno memerah tak kala lehernya di cengkeram begitu kuat.
“Ingat Seno! Aku akan terus menagih apa yang sudah kamu janjikan! Jika tidak maka jiwamu yang akan aku ambil dan aku jadikan budak!”
__ADS_1
Tidak lama sosok itu menghilang dengan cepat, Seno tersungkur sambil memegangi lehernya.
bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya. makasih