Desa Kemomong

Desa Kemomong
Rencana pernikahan


__ADS_3

Bagas menyerahkan evakuasi kepada pihak berwajib.


Bagas yang bingung harus berbuat apa ia hanya duduk terdiam di ruang tamu sementara Sekar yang mengetahui Bagas sedang kacau pun mencoba menenangkannya.


“Bang, minum dulu kopinya,” sahut Sekar yang membawakan beberapa gelas kopi untuk mereka.


“Iya Sekar terima Kasih,” ujar Bagas mengambil gelas kopi yang di berikan Sekar lalu menyerutnya.


“Abang jangan khawatir, Bapak pasti akan membantu Abang,” sahut Sekar yang berusaha menenangkan mereka Bagas.


“Abang tidak mau menjadi beban Bapak, Sekar.” 


Tiba-tiba Kuncoro datang menghampiri Bagas dan duduk di sampingnya.


“Nak Bagas, kamu dan Adit itu sudah Bapak anggap anak sendiri jadi jika Bapak bisa membantu kalian ya Bapak akan bantu semaksimal mungkin,” ujar Kuncoro mencoba menenangkan situasi ini.


“Bagas beserta Adit sangat berterima kasih sekali atas bantuan Bapak kepada kami berdua, Bagas belum bisa membalas kebaikan Bapak Kuncoro,” sahut Bagas.


“Sudahlah Nak Bagas jangan terlalu di pikirkan, untuk sekarang serahkan semua kepada pihak berwajib sampai masalah ini benar-benar selesai, jika sudah selesai baru bapak akan bicara pada par warga desa ini untuk membantu kalian,” Kuncoro yang memberikan solusi.


“Iya Mas benar yang di ucapkan Bapak Kuncoro,” celetuk Adit yang tiba-tiba menghampiri mereka di ruang tahu beserta Cokro.


“Untuk sementara Mas Adit dan Bang Bagas tinggal di rumah ini saja dulu sampai evakuasi selesai, boleh kan Pak?” Ningsih yang memberikan saran.


“Iya Bapak tidak keberatan kalian tinggal di rumah ini untuk sementara waktu sampai evakuasi benar-benar telah selesai,” sahut Kuncoro.


“Terima kasih Pak,” sahut Bagas.


“Terima kasih loh Pak Kuncoro,” celetuk Adit.

__ADS_1


“Oh iya sebaiknya kita makan malam saja Ning dan  Sekar sudah masak dari tadi, tapi belum ada yang makan,” ajak Ningsih.


“Iya benar itu, cacing di perutku sudah pada demo dari tadi siang sampai sekarang,” ucap Adit. 


Sekar beserta Ningsih menyiapkan makan malam di atas meja makan, setelah mereka berdua selesai menyiapkan makan malam, Kuncoro, Bagas, Adit, Cokro, Ningsih dan Sekar berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan makan malam sembari berbincang santai.


Beberapa menit kemudian setelah mereka selesai makan tiba-tiba Ningsih yang ingin membatu Sekar membereskan piring-piring kotor di meja makan pun mengalami mual dan pusing secara mendadak.


Ningsih yang segera berlari cepat menuju kamar mandi karena tidak tahan dengan perutnya yang sangat mual.


Ningsih pun memuntahkan semua makan yang telah ia makan di kamar mandi, Sekar yang mengetahui itu mengetuk pintu kamar mandi.


“Mbak, Mbak Ning tidak apa-apa?” ucap Sekar di luar pintu kamar mandu.


“Enggak papa Sekar, Mbak hanya mual saja mungkin masuk angin,” pekik Ningsih yang berada di dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Ningsih keluar dari kamar mandi.


“Mungkin hanya masuk angin saja Sekar, Mbak duluan masuk kamar ya kepala Mbak sakit. Ingin istirahat nanti kalau Mas Adit tanya bilang saja Mbak kurang enak badan,” ucap Ningsih.


“Iya Mba.”


“Oh iya Mbak tidak bantuain kamu mencuci piring ya Sekar.”


“Enggak papa Mbak ini pekerjaan Sekar, Mbak istirahat saja di kamar,” sahut Sekar yang menyarankan Ningsih untuk beristirahat.


Ningsih pun berjalan menuju kamarnya, Ningsih menaiki kasurnya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasurnya untuk beristirahat.


Sementara Sekar masih sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan pekerjaannya Sekar kembali ke ruang tamu untuk menemani bapaknya berbincang-bincang dengan mereka semua.


“Di mana mbakmu Sekar? Kok tidak kelihatan?” tanya Kuncoro.


“Oh mbak Ning, lagi di kamar Pak. Mbah Ning lagi kurang enak badan katanya,” ucap Sekar yang memberitahukan kepada bapaknya.


“Sakit opo to Sekar, kok tiba-tiba sakit?” tanya Adit yang khawatir.


“Katanya tadi bilangnya mbak Ning Cuma masuk angin saja, dan mau rehat gitu Mas,” sahut Sekar.


“Oh ya sudah kalau begitu semoga cepat sembuh, aku khawatir kalau Ningsih kenapa-kenapa?” ujar Adit.


“Kapan hubungan mu diresmikan Dit?” tanya Cokro.


“He-he-he, maunya sih secepat mungkin Mbah tapi pekerjaan Adit dan mas Dimas masih terkendala,” ujar Adit sembari menyeringai.


Kuncoro pun memberi isyarat dan solusi untuk mereka.


“Begini saja jika semua telah selesai sebaiknya kalian cepat melamar anak Bapak, tidak usah menunggu pabrik itu selesai nanti keburu di lamar orang lain,” celetuk Kuncoro yang memberikan lampu hijau kepada mereka berdua.


Sekar mendengar ucapan dari bapaknya pun hanya tersenyum.


“Iya Pak, Bagas akan mengusahakan secepatnya,” sahut Bagas.


“Oh jangan Pak, Adit sudah cinta mati sama Ningsih. Bisa-bisa kalau Ningsih di lamar orang lain Adit bisa gantung diri di pohon toge Pak,” celetuk Adit.


Mereka semua tertawa dengan ucapan Adit yang dapat mencairkan suasa malam ini.


 Malam mulai semakin larut mereka semua pun mulai kembali tidur di kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


Rumah Kuncoro memang cukup besar dan kamar di rumahnya cukup banyak, sehingga bisa menampung mereka bertiga di rumahnya itu. 


__ADS_2