
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari pun mulai menjelang sore para pekerja proyek telah selesai menjalankan tugasnya.
Sementara Adit yang sedang di depan kamar mandi menunggu Bagas selesai mandi.
“Ayo Mas Bagas, cepetan mandinya gantian nanti kita ke rumah pak Kuncoro malam lagi,” ujar Adit yang mengedor pintu kamar mandi.
“Tunggu sebentar lagi Dit, ini masih sampoan,” pekik Bagas.
‘Mandi kok lama banget, entar ke maleman lagi, apes lagi bukannya ngapel malah di ajak ke kubur lagi,' gumam Adit yang mengingat kejadian menyeramkan.
Selang beberapa menit Bagas keluar dari kamar mandi.
“Dah sono mandi cepetan nanti aku tinggal.”
“Loh, gak setiakawan kalau ninggalin aku sampean.”
Bagas meninggalkan Adit menuju ke mes, sementara Adit masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah rapi dan siap berangkat.
Edwin yang melihat gerak-gerik mereka berdua pun mulai meledek mereka.
“Wih kalian berdua rapi amat, mau ke mana Nih?” ujar Edwin.
“Mau ngapel,” sahut Adit sembari tersenyum.
“Wih ngapel, awas entar di ajak ke kuburan lagi, jadi ngapelnya sama pocong, ha-ha-ha,” ledak Edwin kepada Adit.
“Kurang asem kamu Win, bisa tidak kamu itu sekali saja membiarkan temanmu ini bahagia,” celetuk Adit.
“Aku kan hanya mengikatkan saja,” sahut Edwin.
“Ayo Dit, nanti aku tinggal,” ucap Bagas yang meninggalkan Adit menuju mobilnya.
“Mas Bagas tunggu,” pekik Adit berlari mendatangi Bagas.
“Dit jangan lupa oleh-olehnya” teriak Edwin.
Bagas menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan mes menuju rumah pak Kuncoro.
Di tengah perjalanan Adit mengajak Bagas untuk mengobrol.
“Mas Bagas!,” panggil Adit.
“Apa Dit.”
“Semoga saja mengapel hari ini sukses ya Mas tidak seperti waktu yang dulu,” Adit yang berharap.
“Yah berdoa saja Dit, semoga tidak ada halangan dan lancar, aku pun mau berbicara serius dengan Sekar.”
“Opo iku Mas(apa itu Mas)?” tanya Adit yang penasaran.
“Aku mau mengutarakan isi hatiku kepada Sekar kalau sejak pertama pertemu aku sangat menyukainya.”
“Kira-kira aku di terima gak ya Dit, sama Sekar,” sambung kembali Bagas yang bertanya kepada Adit.
“Usaha aja dulu Mas,” Adit yang memberi semangat.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Kuncoro. Bagas beserta Adit pun turun dari mobilnya menuju rumah pak Kuncoro.
“Assalamualaikum,” ucap Bagas sembari mengetuk pintu rumah Kuncoro.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” sahut Sekar yang membukakan pintu.
“Eh Abang, masuk Bang!” ujar Sekar yang mempersilahkan Bagas beserta Adit masuk.
“Siapa Sekar?” teriak Ningsih di dalam kamar.
“Bang Bagas Mbak,” pekik Sekar.
Bagas beserta Adit pun masuk ke rumah lalu duduk di ruangan tamu.
Sementara Ningsih masih di dalam kamar sedang berdandan agar terlihat menarik di hadapan Bagas.
Bagas yang duduk berhadap-hadapan dengan Sekar mulai membuka obrolan sementara Adit duduk di samping Bagas.
“Bapak mana Sekar! dari tadi tidak melihat bapak?” tanya Bagas.
“Bapak tadi di panggil sama warga katanya ada acara nikahan jadi bapak bantu-bantu di sana,” ujar Sekar menjelaskan kepada Bagas.
“Oh seperti itu,” sahut Bagas.
“Kalau Mbak Ning di mana?” tanya Adit.
“Mbak Ning di kamar sebentar Sekar panggilkan,” ujar Sekar yang beranjak pergi.
“Eh ... Tidak usah Sekar,” pekik Adit yang sedikit merasa malu.
“Mbak ... Mbak ...,” panggil Sekar di balik pintu kamar Ningsih.
“Ya ... tunggu sebentar lagi aku keluar,” teriak Ningsih dari dalam kamar.
Sekar pun kembali duduk menemani Bagas beserta Adit.
“Sekar, hmmmm ... Abang boleh tanya,” ujar Bagas yang gugup
“Abang bo-boleh minta nomor telepon Sekar?” tanya Adit dengan sangat gugup.
“Boleh kok Bang,” sahut Sekar.
Sekar memberikan nomor teleponnya dan mereka berdua bertukaran nomor telepon agar lebih dekat.
Tidak lama Ningsih datang.
“Ehem ... Udah lama datangnya Bang,” tegur Ningsih.
“Enggak baru saja,” ujar Bagas.
“Loh aku kok tidak di tegur,” ucap Adit.
“Kan sudah perwakilan Bang Bagas yang menjawabnya,” sahut Ningsih.
“Mbak Ning duduk di luar yuk,” pinta Adit.
Adit yang paham, memberikan Bagas kesempatan kepada Sekar untuk berbicara lebih dekat.
“Di sini aja Mas, di luar banyak nyamuk,” kata Ningsih menolak secara halus.
“Ayo to sebentar saja, cari angin biar segar,” Adit meminta.
Melihat Adit terus memaksanya Ningsih pun mengiyakan permintaan Adit, walau pun begitu namun Ningsih tetap mengawasi Sekar dan Bagas.
Adit mulai mengajak Ningsih untuk mengobrol walaupun Ningsih menjawabnya seadanya saja sesekali perhatian Ningsih melihat Bagas beserta Sekar yang di ruang tamu sedang tertawa.
__ADS_1
Ningsih mulai cemburu dengan kedekatan Adiknya Sekar dengan Bagas.
Ningsih yang jatuh hati kepada Bagas di waktu pertama kali Bagas mengantarkan Sekar pulang.
Ningsih pun berteriak dari luar memerintahkan Sekar untuk membuat minum mereka.
“Sekar buatin minuman Bang Bagas sama Mas Adit,” teriak Ningsih dari luar teras.
“Iya Mbak,” sahut Sekar.
“Tidak usah repot-repot,” kata Bagas.
Sekar menuju ke dapur untuk membuatkan mereka minum.
Tidak lama kemudian Sekar membawakan teh hangat untuk mereka berdua Bagas beserta Adit.
“Ini Bang minumnya,” ucap Sekar menyodorkan segelas teh panas untuk Bagas.
“Terima kasih Sekar,” sahut Bagas
Sekar beranjak pergi ke teras memberikan segelas teh hangat untuk Adit.
“Ini Mas minumnya,” ujar Sekar menyodorkan kepada Adit.
“Iya terima kasih Sekar,” sahut Adit.
Setelah itu Sekar kembali ke ruangan tamu untuk kembali mengobrol kepada Bagas.
Bagas mulai memberanikan diri mengungkapkan hatinya kepada Sekar, Sekar yang mendengar pun sangat gembira karena dia juga menyukai Bagas.
Bagas bercerita jika dirinya menyukai Sekar dari pertama kali mereka bertemu hingga Sekarang, dan Bagas ingin bersungguh-sungguh menjalani dengan Sekar sampai jenjang pernikahan.
Di sini Bagas meminta waktu kepada Sekar untuk dirinya meminang Sekar sampai proyek pembangunan selesai.
Hal ini pun di dengar oleh Ningsih yang membuatnya tambah geram dengan adik kandungnya Sekar.
Ningsih beranggapan Sekar selalu beruntung ke timbang dirinya.
Setelah dua jam telah berlalu Bagas beserta Adit pun berpamitan pulang ke mes.
“Kami berdua pamit terlebih dahulu, lain kali nanti Abang akan main ke sini lagi, oh iya salam buat bapak jika pulang nanti,” ujar Bagas yang berpamitan lalu pergi menuju mobilnya.
Sekar beserta Ningsih mengantar mereka sampai di pelataran rumahnya.
Bagas mulai menyalakan mobilnya lalu menjalankannya meninggalkan rumah Kuncoro kembali ke mes.
Sementara Ningsih sedang mencari untuk menghasut Sekar agar tidak percaya dengan Bagas bahkan membenci Bagas.
Di saat mereka sedang berada di kamar Ningsih mulai menghasut pemikiran Sekar kepada Bagas.
“Kamu tidak usah terlalu percaya dengan orang kota Sekar,” ucap Ningsih.
“Tapi Mbak, bang Bagas orang baik,” ujar Sekar yang membela Bagas.
“Iya dia baik awalnya di saat mau mendapatkanmu, sesudah kamu di dapatkannya di nikahkan mungkin tidak kamu akan ditinggalkannya, lagi pula kamu tidak kenal dengan keluarga Bagas, mana mungkin dia akan menikahimu Sekar. Cobalah pikir sekali lagi ucapanku ini,” ucap Ningsih mempengaruhi pikiran Sekar.
Sontak saja Sekar terdiam mendengar ucapan dari kakaknya Sekar mulai bimbang dengan hatinya di sisi lain Sekar mencintai Bagas, namun di sisi lain ucapan kakaknya juga benar.
“Ya sudah aku mau keluar dulu, memanggil bapak ini sudah malam,” sahut Ningsih.
“Oh iya pikirkan ucapanku Sekar ini demi kebaikanmu,” ucap Ningsih kembali.
__ADS_1
“Iya Mbak Ning,” sahut Sekar.