
Jasad Niko yang telah di visum dan mendapatkan hasilnya.
Pihak berwajib menjelaskan kepada mereka berempat.
“Jenazah saudara Niko, ini tidak ada tindakan kekerasan di badannya atau serangan dari binatang buas. Kami menyimpulkan dugaan sementara adalah bunuh diri.” Ujar pihak berwajib.
“Dan anehnya lagi tidak terdapat darah sedikit pun dari jenazah saudara Niko,” sambung kembali.
Mereka semua pun merasa terpukul dengan pernyataan polisi, mereka tak habis pikir apa yang membuat Niko bisa berpikir mengakhiri hidupnya padahal sebelumnya Niko tidak pernah mengeluh masalah apa pun.
Suasana berkabung menyelimuti koridor itu, isak tangis orang tua Niko menggema. Orang tua Niko
memutuskan untuk membawa pulang jenazah Niko ke rumah untuk segera dikebumikan.
Bagas dan yang lainnya tidak bisa berlama-lama berada di sana karena pekerjaan mereka tidak bisa di tinggalkan begitu saja.
“Pak, Bu. Kami bertiga turut berduka cita serta menyesali adanya kejadian ini. Maafkan saya karena saya tidak menjaga Niko dengan baik hingga terjadi hal seperti ini. Andai saja saat itu saya-“
“Sudah Nak Bagas tidak apa-apa. Maut, jodoh, rezeki itu Allah yang mengaturnya,” sahut Ibu Niko.
Mobil ambulan mengantar tubuh Niko ke rumah duka, sedangkan Bagas, Adit dan Edwin terpaksa harus kembali ke desa itu dengan hati yang masih berduka.
Hari mulai gelap namun mereka bertiga masih di dalam perjalanan. Di tengah perjalanan pulang Adit membuka obrolan.
“Sekarang tinggal kita bertiga saja Mas,” kata Adit.
“Iya Dit, sekarang sisa kita bertiga yang harus berjuang,” ujar Edwin.
“Apa sebaiknya aku lepas proyek ini,” ujar Bagas.
“Kalau aku sih terserah Mas Bagas aja maunya gimana?” sahut Adit.
__ADS_1
“Aku takut akan terjadi korban lagi Dit,”ucap Bagas sangat khawatir.
“Kalian berdua apa-apa Sih, proyek sebesar ini uangnya mau kalian kamu lepas Bang pikir dulu matang- matang Bang. Lagi pula meninggalnya mereka bukan karena proyek ini. Ini sudah takdir tuhan Bang!” ucap Edwin yang tidak terima.
“Win kita lagi berduka kamu malah mikirin uang,” ujar Adit yang kesal mendengar ucapan Edwin.
“Eh Dit, kita semua butuh uang,” Edwin mulai menaikkan nadanya.
“Iya tahu tapi posisinya kita sedang berdua Win, teman kita meninggal,” Adit yang tidak terima.
“Sudah-sudah kalian berdua malah bertengkar di tengah Niko kepergian Niko,” sahut Bagas yang melerai.
Teguran Bagas membuat Adit berta Edwin terdiam.
Malam mulai semakin larut tepat jam satu malam mereka bertiga sampai di mes.
Raut sedih masih menyelimuti mereka bertiga dengan kepergian Niko yang sangat mengenaskan apa lagi di tambah dengan dugaan dari polisi yang mengatakan Niko bunuh diri.
Namun pihak berwajib masih terus menyelidiki kematian Niko yang misterius itu.
***
Sebulan telah berlalu keadaan mulai membaik tidak ada lagi kecelakaan kerja di sana tapi semua itu bukan berarti mereka harus tenang-tenang saja akan tetapi mereka bertiga harus tetap waspada dengan korban selanjutnya yang akan di tumbalkan.
Adit, Bagas, dan Edwin mulai terbisa mengerjakan pekerjaan bertiga tanpa kedua temannya yang telah pergi mendahulukan mereka untuk selamanya.
Di siang itu Adit, Bagas beserta Edwin yang sedang beristirahat makan siang mengobrol di mes.
“Bang alhamdulillah, sudah sebulan kita tidak menemukan hal yang aneh-aneh kembali,” ujar Adit.
“Iya benar katamu Dit,” sahut Edwin yang sedang menyantap makan siangnya.
__ADS_1
“Tapi kita semua tetap harus berhati-hati, hatiku masih merasakan tidak tenang. Dan rasanya akan ada kejadian yang lebih mengerikan dari ini semua,” Bagas yang memperingati mereka
“Mas ngomongnya jangan begitu, doakan saja yang baik-baik,” ujar Adit.
“Iya Nih Bang ngomongnya ngeri banget, kita tinggal bertiga loh Bang,” sahut Edwin.
“Iya Maaf, aku berharap Niko adalah kejadian yang terakhir, dan tidak akan terulang kembali,” Bagas yang berharap.
“Ayo kita lanjut bekerja,” Sambung Bagas kembali.
“Eh tunggu sebentar Mas, sudah lama kita tidak bertemu Sekar dan Ningsih bagaimana jika sehabis kerja kita ke rumahnya Mas,” ajak Adit.
“Kenapa Dit, kamu kangen sama Ningsih,” kata Bagas.
“He-he-he iya Mas. Mas kok tahu,” ucap Adit yang menyeringai sembari mengaruk-garuk kepalanya.
“Mas Bagas tidak kangen dengan Sekar hayo?” ledek Adit.
“Ya sudah Dit selepas pulang kerja kita ke rumah pak Kuncoro,” ujar Bagas.
“Yes, akhirnya aku ketemu kamu Ningsih pujaan hatiku,” kata Adit yang sangat senang.
“Ayo kerja, kerja, jangan mengkhayal saja,” tegur Bagas.
“Apaan sih Mas Bagas ini,” sahut Adit.
Mereka bertiga pun melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Nantikan kelanjutannya ya.
Jangan lupa dukungannya gengs sekilasnya saja.
__ADS_1