Desa Kemomong

Desa Kemomong
Perjalanan menuju hutan


__ADS_3

Beberapa jam telah berlalu, langit siang berganti sore lembayung senja hampir menampakkan wujudnya bias-bias jingga mulai terlihat di ufuk barat. 


Edwin beserta Adit telah selesai mengumpulkan beberapa mayat yang akan di kubur kembali di dalam hutan.


Adit mendatangi Bagas ingin memberi tahu bahwa semua mayat telah selesai.


“Mas Bagas, itu wes kelar,” ucap Adit.


“Apanya yang sudah kelar Dit?” Tanya Bagas.


“Loh, katanya itu mayat-mayat yang ditemukan  harus dikumpuli, sudah aku kumpulin sama Adit. Jumlahnya ada lima mayat,” sahut Adit.


“Lagian kamu ngomong gak jelas, aku jadi binggung. Ini sudah jam berapa Dit?” 


“Jam 5 sore Mas.”


“Jam 5 sore waduh, kita harus segera menguburkan mayat-mayat itu di dalam hutan.”


“Kenapa harus di dalam hutan to Mas, ngak di dekat sini saja,” tanya Adit.


“Jangan Dit, aku takut suatu saat akan bermasalah kalau kita sudah menyelesai pabrik ini suatu saat ada yang menemukan mereka lapor ke pihak berwajib kita semua akan bermasalah kembali,” Bagas yang menjelaskan.


“Oh begitu to, Mas.”

__ADS_1


“Oh iya Mas, aku pernah ketemu pocong di tempat kita bekerja ini, waktu pertama kali aku datang di mes ini minta temenin almarhum Rian ke kamar mandi tidak tauhnya Rian malah tinggalan aku nah di balik pohon itu pocong itu aku lihat Mas,” ujar Adit yang bercerita.


“Mungkin saja, sudahlah kita  jangan membahas hal ini,” ujar Bagas 


“Kamu panggil semua pekerja proyek suruh mereka berkumpul di sini,” sambung Bagas memerintah Adit.


“Siap komandan,” celetuk Adit.


Adit mulai memberitahukan satu persatu pekerja proyek untuk berkumpul di tempat Bagas yang sedang menunggu mereka.


Selang beberapa menit semua pekerja proyek telah berkumpul di tempat Bagas, Bagas langsung saja memberi arahan dan perintah.


“Tolong masukkan mayat-mayat itu di dalam pick-up, semua pekerja harus ikut tidak ada yang tertinggal di mes, dan jangan lupa bawa perlengkapan seperti cangkul, linggis atau gergaji dan juga golok, kalian semua paham,”


“Iya Bang paham,” sahut serentak merek.


Setelah semua telah selesai dan bersiap untuk jalan tiba-tiba terlihat kumpulan bola-bola kapas membentuk awan hitam berkerumun menjadi satu angin mulai berembus cukup kencang daun-daun kering beterbangan. 


Dari langit rintik kecil mulai berjatuhan semakin lama semakin deras membentuk bulir-bulir air serta genangan di tanah. 


Air hujan yang turun tidak hanya membasahi pohon dan tanah melainkan jasad-jasad yang terbaring di atas mobil bak terbuka. 


Adit yang berada di atas bak  mobil berteriak kepada Bagas yang sudah masuk ke dalam mobil untuk mengemudikan mobil pick-up tersebut.

__ADS_1


“Bang gimana ini hujannya deres banget,” teriak Adit.


“Kita akan tetap jalan,” pekik Bagas.


Bagas menyalakan mesin mobilnya melaju ke dalam hutan mereka semua akhirnya pergi di tengah hujan yang deras. 


Jasad yang sudah yang terlihat mengisut karena tertanam lebih dari tahunan basah terkena hujan mau busuk mulai keluar dari jasad-jasad itu, para pekerja proyek pun ada yang mual dan muntah-muntah karena bau busuk yang di keluarkan oleh jenazah.


“Mambu ne busuk banget iki perutku mual( baunya busuk banget ini, perutku mual),” ucap Adit.


Adit yang sedari tadi menahan bau busuk, dan perutnya yang mual akhirnya Adit pun akhirnya muntah-muntah.


Hey geng, hari ini author up dikit dulu ya.


author tambahin visualnya biar makin mantep moga berkenan ya karena ini nuansa Indonesia jd visualnya pakai artis Indonesia saya





__ADS_1




__ADS_2