Desa Kemomong

Desa Kemomong
Makna pesan mbah Cokro


__ADS_3

“Dit biar aku yang urus pemulangan jenazah Mbah Cokro,” ucap Bagas.


“Tapi Mas.”


“Udah lah, kamu siapkan saja dokumennya. Surat-suratnya dari rumah sakit juga sudah keluar kan,” ucap Bagas.


“Makasih yo Mas Bagas, kamu sudah mau membantu,” ucap Adit.


“Sama-sama, kasihan Mbah Cokro kalau harus tertunda terus.”


Bagas pun menghubungi beberapa temannya untuk membantu pemulangan jenazah mbah Cokro.


Hingga saat pemulangan tiba, walau pun harus melewati proses panjang namun akhirnya bisa memulangkan jenazah mbah Cokro.


Tubuh yang telah terbujur kaku itu di masukkan ke dalam peti lalu di bawa oleh mobil ambulan. 


Di dalam ambulan sudah ada orang tua Adit yang akan ikut ke kampung halaman. 


Mata sembap terlihat jelas dari wajah Adit, matanya masih berkaca-kaca saat melihat mobil ambulan pergi membawa jasad orang yang ia sayangi itu.


Bagas menepuk pelan bahu Adit dengan penuh simpati  “Sabar dan ikhlaskan Dit.”


“Insyaallah aku ikhlaskan kepergian mbah kakungku Mas. Hanya saja kenapa harus pergi dengan cara seperti ini,” sahut Adit.


Setalah itu Bagas dan Adit pun kembali pulang ke desa Kemomong karena mereka masih harus menyelesaikan proyek yang belum jadi.


***


Beberapa hari telah berlalu, proses evakuasi korban dari pihak berwajib telah selesai.


Pagi itu Bagas beserta Adit berpamitan kepada keluarga Kuncoro ingin kembali ke mes.

__ADS_1


“Pak terima kasih sudah membantu kita berdua sejauh ini, terima kasih juga kita boleh tinggal di rumah Pak Kuncoro untuk sementara waktu ini, sampai evakuasi korban benar-benar selesai,” ucap Bagas kepada Kuncoro.


“Iya Nak Bagas, tidak apa-apa memang sudah tugas Bapak saling membantu, jika nanti Nak Bagas dan Nak Adit perlu bantuan Bapak jangan sungkan,” sahut Kuncoro.


“Iya Pak, Adit juga berterima kasih atas semua bantuan Bapak,” ujar Adit yang bersalaman kepada Kuncoro.


“Sekar Abang pamit dulu ya terima kasih untuk kebaikan kalian semua,” ujar Bagas yang berpamitan kepada Sekar.


“Iya Bang Bagas, hati-hati di sana jika Abang Bagas perlu bantuan jangan segan datang ke rumah,” ucap Sekar.


“Baik Sekar.”


Setelah Bagas berpamitan kepada Sekar, giliran Adit yang juga berpamitan kepada Ningsih.


“Ning Mas pulang dulu, terima kasih ya Ning sudah mau terima Mas di hati Ning,” tutur Adit.


“Iya Mas Adit, Ningsih pun berterima kasih Mas Adit sudah terlalu banyak membantu Ningsih. Sampai Ningsih kini benar-benar telah sadar ada seseorang yang mencintai Ning dengan sangat tulus yaitu Mas Adit,” sahut Ningsih tersipu malu.


Mendengar ucapan Ningsih Adit pun sangat gembira.


Setelah itu Bagas mulai menyalakan mesin mobil lalu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Kuncoro pergi menuju mes, di sertai para rombongan para warga yang menaiki motor mereka masing-masing.


Di tengah perjalanan Adit membuka percakapan kepada Bagas.


“Mas!” Adit yang memanggil Bagas.


“Iya Dit ada apa?” ujar Bagas.


“Entahlah aku bingung harus berbicara apa Mas, setelah semua ini kita lalui sampai detik ini,” ucap Adit yang lesu tidak bersemangat.


“Tumben kamu seperti itu Dit, terlihat lesu,” ujar Bagas.

__ADS_1


“Aku lagi dwon Mas Bagas, setelah kepergian kakekku. Rasa seperti khawatir hal apa yang akan terjadi kembali kepada kita berdua. Semua ini belum berakhir sebelum dukun sialan itu mati, Mas,” ucap Adit yang kesal mengingat kejahatan Mbah Seno.


“Ingat pesan Mbah Cokro, kita harus bekerja sama menghadapi ini semua, ya aku tahu Dit semua ini belum berakhir. Kita harus menghadapi kejadian yang entah akan mengancam jiwa kita, oh iya ada perkataan Mbah Cokro yang sampai sekarang aku masih bingung Dit?” tanya Bagas.


“Apa itu Mas?” tanya Adit yang penasaran.


“Mbah Cokro bilang seperti ini kepadaku, energi positif lebih besar dari teman-temanmu jadi sebenarnya kamu yang di incar mereka tapi Adit yang mempunyai senjatanya, itu ucapan beliau sebelum beliau wafat, Dit?” tutur Bagas yang menjelaskan pesan dari Cokro sebelum dia wafat.


‘Energi positif yang besar dan senjatanya ada di Adit?’ gumam Adit sembari berpikir.


Adit terdiam sejenak memikirkan makna kata-kata mbah Cokro.


“Eh Dit! Ditanya kok malam diam?” tegur Bagas.


“Sek toh Mas( tunggu ya Mas) aku lagi mikir iki.”


Setelah beberapa menit Adit terdiam akhirnya ia dapat menyimpulkan maksud dari mbah Cokro.


“Aku mengerti Mas maksudnya Mbah Cokro.”


“Apa itu Dit?” tanya Bagas yang penasaran.


“Energi positif yang besar itu maksudnya, aura positif yang ada di diri Mas Bagas itu sangat besar ketimbang, Aku, Edwin, Niko, dan Rian. Jadi Mas sebenarnya incaran tumbal dari si dukun itu mungkin saja dengan menumbalkan Mas Bagas dukun Seno itu bisa menambah kekuatan ilmu hitam yang di milikinya atau sebaliknya menambah kekuatan si iblis itu,” Adit mulai menjelaskan kepada Bagas.


“Lalu makna senjata ada di tempatmu?” tanya Bagas kembali sembari mengemudikan mobilnya.


“Ya keris ini mungkin Mas yang di kasih mbahku,” sahut Adit memperlihatkan kerisnya yang di selipkan di samping pinggangnya.


“Oh ya aku mengerti sekarang Dit, jadi aku dan kamu yang harus melawan semua dukun dan iblis itu,” celetuk Bagas.


Saking asyiknya mereka berdua mengobrol tidak terasa mereka sudah sampai di tempat proyek pabrik.

__ADS_1


Mereka berdua dengan di bantu warga setempat mulai bekerja untuk mendirikan pabrik itu kembali, yang sempat roboh akibat angin di terjang angin.


bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya ya


__ADS_2