Desa Kemomong

Desa Kemomong
Pelaksanaan ritual 17 tahun


__ADS_3

Setelah juru kunci itu memberi darah dalam mangkok kepada Bagas beserta Adit juru kunci pun beralih kepada para pekerja proyek lain yang hadir dalam acara itu.


Setelah menurutnya semua telah meminum darah itu juru kunci itu menuju ke tengah lapangan menghampiri tiga remaja tersebut satu perempuan dan dua anak laki-laki. 


Putri dari bapak Agus, dua putra dari bapak Amir dan Minto.


Putri bapak Agus pun di suruh maju di meja yang telah disediakan dan di meja tersebut terdapat sesajen yang telah di persiapkan.


Namun anehnya di meja itu terdapat pisau yang berukuran lumayan besar biasa di sebut dengan pisau daging, gagang pisau itu di bungkus oleh kain yang berwarna merah yang telah di lilitkan di gagang pisau daging.


“letakan tangan kirimu di atas meja ini!” perintah juru kunci.


Putri bapak Agus itu ditemani oleh kedua orang tuanya di samping kanan dan kiri.


“Aku tidak mau Bu, Pak!” ucap putri dari bapak Agus sembari menangis memeluk ibunya. 


Putri bapak Agus pun sempat menangis histeris serta meronta-ronta tidak mau mengikuti ucapan juru kunci namun, kedua orang tuanya memaksanya.


“Sudahlah jangan menangis kamu harus melakukannya! Ini sudah tradisi kita, agar kamu selamat!” bentak Agus kepada putrinya.


Agus sendiri yang memegangi dan memaksa putrinya untuk mengikuti ucapan juru kunci meletakkan tangan kirinya di meja sajen itu.


Juru kunci pun mengambil golok berukutan kecil  yang telah diritualkan sebelumnya, putri bapak Agus sendiri hanya bisa pasrah sambil memeluk ibunya dia tidak ingin melihat apa yang di lakukan oleh juru kunci.


Setelah tangan dari putri Agus di letakan di atas meja juru kunci pun langsung mengambil sebuah pisau daging mengangkatnya pisah itu ke atas menebaskan pisau ke jari kelingking putri Agus.


Sontak saja putri bapak Agus teriak kesakitan.


“Aaaaaaaa,” teriak putri bapak Agus.


Darah segar keluar langsung dari jari kelingking yang di potong oleh sang juru kunci, darah segar itu mengalir memenuhi meja yang terdapat beberapa sajen.


Juru kunci pun langsung mengambil kain kasa dan mengikat tangan remaja putri itu dengan menggunakan kain kasa.


Setelah di ikat remaja putri itu diberikan ramuan oleh sang juru kunci untuk lukanya, sementara jari kelingking yang tadi di potong di letakan dipiring sajen yang terdapat bunga tujuh rupa. 


Setelah acara selesai barulah sang juru kunci memberikan kembali potongan jari kelingking itu pada remaja putri tadi untuk di kubur di depan halaman rumah.


Bagas beserta Adit yang melihat kejadian mengerikan ini tidak sanggup untuk menyaksikannya kembali, Bagas pun ingin pergi tidak ingin melanjutkan menonton ritual mengerikan ini menurutnya.


Namun ada seorang pemuda yang mengantarkan mereka tadi menahan Bagas pergi.


“Jangan pergi dulu, Abang tidak boleh meninggalkan acara ini!” sahut pemuda itu menarik tagan Bagas yang ingin berdiri dari tempat duduk.


Bagas pun mencoba duduk kembali, hati kecilnya sebenar tidak terima dengan acara ritual ini. 


‘Kenapa mereka sangat kejam sekali, memperlakukan remaja itu sampai seperti ini di mana hati nurani mereka. Apakah mereka tidak merasa kasihan,' batin Bagas yang tidak terima.

__ADS_1


Acara pun masih berlanjut remaja putri itu di suruh kembali ke belakang tempat duduknya semula sebelum acara berlangsung.


Sekarang tinggal remaja putra yang akan di ritualkan oleh mereka.


Akan tetapi ritual ini berbeda dengan ritual yang di alami oleh remaja putri tadi, remaja putra di datangi oleh juri kunci.


Juru kunci pun membawa tungku yang sudah terisi bara api, sang juru kunci mendekati salah satu putra dari bapak Amir yang ia datangi terlebih dahulu.


Tungku yang di bawa juru kunci pun di taburkan sedikit kemenyan, dengan di taburkannya kemenyan asap dari tunggu itu mulai muncul kemudian asap dari kemeyan itu di berikan oleh sang juru kunci ke putra bapak Amir.


Setelah merasa cukup juru kunci meletakkan tungku itu di tanah lalu memerintah salah satu warga mengambi sesuatu.


“Ambil besi itu?” perintah sang juru kunci.


Salah satu warga yang di percaya untuk membatu proses ritual itu pun melaksanakan perintah juru kunci.


 Sebuah wadah yang terbuat dari baja yang cukup kuat di dalam wadah baja itu terdapat dua besi yang telah di panaskan, kedua besi panas itu membentuk sebuah simbol has.


Salah satu warga yang di perintahkan juru kunci itu membawa wajah baja tersebut berserta kedua besi panas itu. Di bantu dengan beberapa warga untuk mengangkat wadah baja itu ke tempat juru kunci.


Setelah mereka berhasil mengangkat wadah baja itu juru kunci mulai mengambil besi panas tadi.


Bagas beserta Adit sangat tegang dengan ritual yang akan di lakukan kembali.


Bagas tidak sanggup melihat ritual yang akan di lakukan oleh sang juru kunci. Bagas mulai memalingkan wajahnya.


 Adegan sama yang di alami oleh putra bapak Amir. Ayah dan ibu dari remaja putra itu pun berada di kanan dan kiri sang putra.


“Ulurkan tangannya!” perintah juru kunci kembali.


“Pak Toni tidak mau Pak!” ucap putra dari bapak Amir.


“Kamu harus mengikuti ritual ini agak kamu selamat!” sahut Pak Amir yang mengingatkan putranya.


Putra bapak Amir pun mengulurkan tangannya.


Tanpa panjang lebar sang juru kunci meletakkan besi panas yang membentuk simbol tadi di lengan kiri putra bapak Amir.


“Aaaaaaaa,” teriak Toni menahan sakitnya besi panas yang menempel pada kulit lengan kirinya.


Tercipta asap tipis serta bau gosong dari kulit yang melepuh terbakar Toni terus mengerang kesakitan.


Setalah juru kunci merasa telah cukup lalu ia mengangkat besi panas yang menempel di kulit Toni dan kembali meletakan besi panas itu ke wadah baja tadi yang berisi besi panas dan bara api.


Juru kunci pun mengambil ramuan untuk di berikan kepada Toni, agar luka bakarnya cepat sembuh.


Toni beserta kedua orang tuanya di persilahkan kembali ke belakang tempat mereka duduk di awal sebelum acara di mulai.

__ADS_1


Tinggal satu rema putra lagi yang belum, yaitu putra dari bapak Minta.


Hal yang sama pun di lakukan kembali kepada anak bapak Minto.


 Bagas sedari tadi hanya menunduk terkadang ia memalingkan wajahnya agar tidak melihat ritual mengirikan itu.


Hatinya kesa,  jengkel para remaja di perlakukan seperti itu. Bagas ini menentang ritul aneh yang di lakukan oleh penduduk desa Kemomong namun, hal itu tidak bisa ia lakukan. Bagas masih berpikir panjang jika dirinya menentang ritual aneh itu di depan mereka makan warga desa akan marah dan proyek pembangunan pabriknya akan terkendala.


Jadi Bagas hanya bisa berdiam diri saja sampai acara telah selesai.


Acara pun di tutup dengan hiburan tarian serta menyantap hidangan yang telah disajikan oleh mereka.


Di saat Bagas ingin mengambil kue ia melihat Sekar berada di sana dengan segera Bagas mulai menghampiri Sekar.


Tangan kiri sekarang memegang piring plastik yang di alaskan oleh daun pisang sementara tangan kanannya mengambil kue yang ingin  Sekar makan.


Bagas yang di samping Sekar memperhatikan Sekar dari ujung kaki hingga rambut, pandangan Bagas terhenti saat dirinya melihat jari tangan kiri sekar tidak genap.


Jari kelingking Sekar tidak ada seperti bekas terpotong.


Bagas yang sangat penasaran pun ingin menanyakan kepada Sekar dan Bagas juga ingin lebih dekat dengan Sekar.


“Coba kue ini Mbak? Mbak pasti suka,” ujar Bagas yang berbasa-basi.


“Iya Bang terima kasih,” sahut Sekar dengan tersenyum malu.


“Boleh kita ngobrol-ngobrol sebentar, kalau Mbak tidak keberatan!”   


“Boleh Bang,” ucap Sekar dengan menunduk.


“Kayanya di sana tempat enak buat kita ngobrol,” ajak Bagas.


Bagas pun mengajak Sekar ke tempat yang tidak terlalu ramai sambil menikmati makanan yang telah mereka ambil.


Sesampainya di sebuah tempat itu Bagas mulai memberanikan diri menanyakan tentang jari tangan Sekar.


“Maaf jika aku lanjang bertanya, apakah jari kelingking Mbak sama seperti gadis remaja itu?” tanya Bagas.


“Emm ... I-iya,” sahut Sekar yang gugup.


“Santai akh Mbak, saya tidak berbuat jahat apa lagi menghina hanya aku sedikit penasaran kenapa mereka di perlakukan seperti itu,” tanya Bagas yang sangat penasaran.


“Apakah mereka yang melihat tidak merasa iba dengan rasa sakit para remaja itu,” sambung kembali Bagas.


Sekar pun mulai angkat bicara dan menjelaskan tradisi di desa Kemomong sendiri.   


Bersambung dulu ya gengs jangan lupa dukungannya ya.Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2