Desa Kemomong

Desa Kemomong
Penemuan jasad Niko


__ADS_3

Keesokan harinya Bagas yang sudah bangun lebih dulu menanyakan Niko kepada yang lain.


“Dit, ada liat Niko?” tanya Bagas.


“Gak liat Mas,” sahut Adit.


“Kamu Win ada liat Niko,” tanya Bagas kembali.


“Enggak ada Bang,” ujar Edwin.


‘Ke mana Niko ya, padahal aku mau menanyakan sesuatu,' gumam Adit.


Adit pun mencari Niko uga bertanya kepada yang lain dan jawaban mereka sama dengan Adit beserta Edwin.


Mereka semua tidak melihat Niko pagi ini.


Bagas berinisiatif untuk menelepon Niko, akan tetapi usaha Bagas sia-sia telepon genggam milik Niko ada di dekat tempat tidurnya tidak di bawa oleh Niko.


Bagas mulai panik ia pun menyuruh yang lain bersama-sama mencari keberadaan Niko.


“Semuanya ayo berkumpul ada yang ingin aku bicarakan!” ucap Adit berteriak memanggil yang lain.


Mereka semua pun berkumpul mendatangi Bagas.


“Begini hari ini kita libur dahulu, ada satu tim kita yang hilang, aku minta bantuan kalian semua untuk mencari keberadaan Niko,” ucap Bagas yang memerintahkan para pekerja proyek.


“Baik Bang,” sahut Edwin.


Mereka semua bergegas keluar dari mes mencari keberadaan Niko.


Sementara Bagas, Adit, beserta Edwin mencari secara bersama-sama.


“Niko! Niko!” teriak Bagas beserta Edwin.


“Niko kamu di mana,” teriak Adit mencari keberadaan Niko.


Tujuh jam telah berlalu seruh tempat di mes sudah mereka telusuri namun tidak terlihat sama sekali keberadaan Niko.


Mereka semua mulai terlihat lelah.


“Mas, semua pekerja sudah sangat lelah apa sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu,” saran Adit.


“Suruh mereka beristirahat saja Dit, dan kalian berdua juga boleh istirahat biar aku sendiri yang mencari Niko,” ucap Bagas.


“Jangan Mas aku ikut kita kan satu tim, susah senang sudah kita lakuin bersama,” ujar Adit.


“Iya Bang aku setuju sama ucapan Adit aku ikut mencari Bang,” sahut Edwin.


Mereka pun melanjutkan pencarian.

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu mereka pun mulai putus asa mencari keberadaan Niko yang tidak kunjung ketemu.


Mereka bertiga beristirahat di pohon yang rindang dari panasnya trik matahari siang.


“Mas apa sebaiknya kita lapor polisi saja,” ucap Adit.


“Percuma Dit?” sahut Bagas.


“Percuma kenapa Bang,?” tanya Adit.


“Ini belum 24 jam polisi tidak akan mau menerima laporan kita,” ujar Bagas.


“Oh iya aku lupa, lalu bagaimana ini Mas kita sudah mencari Niko di mana-mana tapi Niko tidak ada, apa Niko di makan hewan buas,” celetuk Adit.


“Hust, kamu kalau ngomong itu mesti berhati-hati Dit, kita doakan saja supaya Niko baik-baik saja,” Nasehat Bagas.


“Ia nih Adit kalau ngomong ngaur saja,” ujar Edwin yang ikut menyalahkan Adit.


“Ayo kita coba cari lagi, ada tempat yang belum kita cari, ya itu di dalam hutan. Niko tidak akan mungkin ke luar hutan ini karena jalannya lumayan jauh kalau di tempuh dengan berjalan kaki. Namun jika di di dalam hutan kemarin tempat di mana kita mengubur para mayat semoga Niko berada di sana,” Bagas yang berharap.


“Oh iya juga benar kata Abang, ayo kita cari ke sana,” sahut Edwin.


Mereka bertiga pun akhirnya pergi ke dalam hutan di mana tempat mereka menguburkan para jenazah kemarin.


Sesampainya di sana benar saja Bagas menemukan sesuatu.


“Adit! Edwin! Coba kemari aku menemukan sesuatu,” ujar Bagas yang berteriak memanggil mereka berdua.


“Ada apa Bang?” sahut Edwin.


“Coba lihat aku menemukan jejak kaki, dan seperti jejak kaki Niko,” ucap Bagas.


“Iya Bang benar sekali, ayo segera kita ikutin jejak kaki itu,” sahut Edwin.


“Ayo Mas, ayo Mas,” sahut Adit.


Mereka bertiga segera mengikuti jejak kaki itu, di mana jejak kaki itu terbentuk akibat hujan kemarin yang membuat tanah di dalam hutan menjadi becek dan lembek.


Sampai akhirnya jejak kaki itu melewati tempat di mana mereka menguburkan kelima jenazah itu.


Mereka bertiga terus mengikuti ke mana jejak kaki itu pergi sampai akhirnya mengarah ke pohon tua yang sangat besar di depan pohon itu tergeletak Niko yang sudah tidak bernyawa lagi.


“Itu Niko, Mas,” tunjuk Adit ke jasad Niko yang tergeletak di depan pohon besar.


Mereka bertiga berlari menghampiri Niko yang tergeletak di tanah.


Namun miris bagi mereka bertiga saat melihat Niko sudah tidak bernyawa lagi.


Mereka bertiga sedih dan menangis memeluk erat jasad Niko terutama Edwin.

__ADS_1


“Siapa yang tega melakukan ini Bang! Siapa Bang!” teriak Edwin yang tidak terima Niko meninggal seperti itu.


“Ada apa dengan semua ini Bang, kenapa teman-teman kita mati satu persatu Bang?” tanya Edwin seraya memeluk jasad Niko.


Bagas hanya terdiam termangu melihat temannya tidak bernyawa lagi, Bagas pun bingung mengapa semua menjadi seperti ini kejadian-kejadian yang menewaskan kedua teman baiknya.


“Ayo kita bawa dulu jasad Niko ke mes,” perintah Bagas.


Merek bertiga menguatkan hati mereka menggotong jasad Niko membawanya ke mes.


Pancaran kesedihan serta suasana berkabung membuat mereka semua diam sambil menatap Niko yang telah terbujur kaku. Wajahnya kian memutih seakan cahaya kehidupan itu telah pergi sangat cepat.


Bagas berdiri dan meminta rekan-rekannya memasukkan tubuh Niko ke dalam mobil.


“Bantu aku mengangkat Niko, kita bawa dia ke rumah sakit,” ucap Bagas.


“Untuk apa lagi Bang? Niko sudah tiada mana bisa dokter menghidupkannya. Lebih baik kita hubungi keluarganya saja,” usul Edwin.


“Lalu kita harus bilang apa ke keluarganya? Apa mereka akan percaya dengan kesaksian kita? Mereka bahkan bisa saja menuduh kita yang membunuh Niko. Sudah kita bawa saja Niko ke rumah sakit.”


Adit, Bagas, dan Edwin mengangkat jasad Niko dan membaringkannya di kursi tengah. Bagas memacu mobilnya menuju rumah sakit yang ada di kota.


Perjalanan yang cukup panjang harus mereka tempuh, desa demi desa mereka lewati hingga mereka keluar dan masuk ke jalan besar. Kesabaran mereka kembali di uji, jalanan yang macet membuat mereka merasa tidak tenang. Hingga mereka mendapat giliran untuk melintas namun mereka di hadang oleh beberapa polisi lalu lintas.


“Selamat sore pak, Anda dari mana?” tanya polisi itu.


“Pas banget! Pak bisa bantu kami teman kami di belakang meninggal,” ucap Bagas.


Polisi itu langsung memeriksa, dan membuka pintu mobil Bagas.


“Ini kenapa? Dan kalian habis dari mana?”


“Kami lagi ngerjain proyek di desa Kemomong, saat pagi teman kami ini menghilang dan kami menemukannya di bawah pohon dengan keadaan seperti ini. Pak tolong bantu kami membawanya ke rumah sakit!” pinta Bagas.


“Baik lah, biar saya yng mengawal kalian dari depan sampai ke rumah sakit,” ucapnya.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi tidak lupa Bagas menyalakan kedua lampu sen mobilnya sebagai tanda jika yang ada di dalam mobil sedang darurat dengan dikawal satu orang polisi lalulintas mereka bisa dengan cepat sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, para perawat yang berjaga sudah siaga menurunkan kasur darurat mereka. Jasad Niko di angkat dan di bawa masuk.


“Kenapa kalian tidak menelpon polisi terlebih dahulu?” tanya polisi itu.


“Kami posisinya sangat bingung dan kaget, saat kami temukan Niko langsung kami angkat dan kami bawa,” tutur Bagas.


“Kalian harus memberi tahu keluarganya, karena mungkin pihak rumah sakit akan melakukan visum serta pemeriksaan lainnya.”


“Baik Pak.”


Bagas mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi keluarga Niko, dengan menghela nafas panjang Bagas menceritakan kronologi kejadian tersebut kepada ibu Niko.

__ADS_1


Suara tangis histeris terdengar dari telpon, Bagas pun mengirimkan alamat rumah sakit kepada ibu Niko.


Bersambung dulu gengs jangan lupa dukungannya, terima kasih.


__ADS_2