Desa Kemomong

Desa Kemomong
Rencana lamaran


__ADS_3

Keesokan paginya Ningsih sudah kembali sehat, kejadian itu membuat Ningsih semakin dekat dengan Adit.


Adit yang ingin memperkenalkan Ningsih kepada Ayah dan ibunya.


Adit yang sedang berada di teras rumahnya ingin menelepon orang tuanya.


“Assalamualaikum Bu,” ucap Adit di telepon.


“Waalaikumsalam.”


“Gimana kabar ibu sehat?”


“Alhamdulillah Dit, ibu sehat. Oh iya bagaimana kerjaanmu di sana ibu liat kemarin di berita banyak yang jatuh korban, ibu khawatir denganmu tapi kamu tidak bisa di hubungi.”


“Iyo Bu, hp Adit ketinggalan di mes Adit lupa Bu.”


“Owalah Dit, ibu mu iki sampe gak iso turu mikirin koe( ibumu gak bisa tidur mikirin kamu.”


“Maaf yo Bu, Oh iyo Adit mau mengenalkan ibu dengan calon mantu ibu.”


“Calon mantu? Kamu sudah punya calon to Dit,?


“Yo wes lah Bu namanya Ningsih, sek Bu tak panggil dulu orangnya.”


“Ning! Ning!” teriak Adit memanggil Ningsih.


“Iya Mas,” sahut Ningsih yang berada di dalam rumah.


“Sini to, tak kenalkan dengan ibuku calon mertuamu,” ucap Adit memberikan telepon genggamnya kepada Ningsih.


“Hallo Bu,” ucap Ningsih di telepon.


“Iyo hallo, suaramu lembut tenan cah ayu.”


“Sopo namamu?”


“Ningsih Bu.”


“Wes gak usah lama-lama kapan rencananya Adit akan melamarmu,” 

__ADS_1


“Emmm ... Ning belum tahu Bu.


“Owalah, Adit iki apa Adit gak ada ngomong kapan?”


“Belum Ada Bu, hanya mas Adit akan secepatnya melamar Ning.”


“Yo wes, bulan depan ibu dan bapak akan ke rumahmu untuk melamar Ningsih,”


“Iya Bu,” ucap Ningsih yang malu.


“Opo Bu, bulan depan ibu sama bapak mau kesini to,” sahut Adit yang mengambil telepon yang dipegang oleh Ningsih.


“Iyo Dit.”


“Wah padahal Adit mau ngomong masalah itu tapi ibu sudah lebih paham dari pada Adit, akhirnya Adit nikah sama Ning bulan depan.”


“Iyo nanti Ibu omongin sama bapakmu.”


“Makasih yo, Adit pamit dulu ibu dan bapak sehat-sehat di sana, assalamualaikum.


“Waalaikumsalam iya Dit.”


Sekar mendatangi mereka berdua di depan teras rumahnya.


“Mas Adit, Mbak Ning. Ayo kita sarapan semua sudah menunggu di meja makan,” ucap Sekar yang mengajak mereka berdua.


“Iya Sekar,” sahut Adit.


Adit beserta Ningsih pun masuk ke rumah menuju meja makan.


Setelah mereka berkumpul di meja makan Adit ingin menyampaikan rencana melamar Ningsih bulan depan.


“Anu Pak Kuncoro tadi saya menelepon ibu terus memperkenalkan Ningsih kepada ibu saya, terus ini Adit setuju bulan depan mau kesini sama bapak untuk melamar Ningsih,” tutur Adit yang memberitahukan kabar baik ini kepada Kuncoro.


“Syukurlah jika begitu, tapi!” 


“Tapi kenapa Pak?” tanya Adit yang penasaran.


“Bapak sedih jika kedua anak Bapak pergi ikut kalian ke kota, bapak di sini sendirian hanya mereka harta Bapak. Dan tidak mungkin bapak ikut kalian ke kota karena Bapak di sini sebagai kepal desa,” ujar Kuncoro yang bersedih.

__ADS_1


“Iya Pak Adit sangat mengeri, kalau memang Bapak maunya seperti itu Adit tidak masalah tinggal di rumah ini bersama Bapak, ya gak Mas Bagas?” ujar Adit yang memahami Kuncoro.


“Bagas juga begitu Pak, Bagas tidak mempermasalahkan hal itu, jika nanti sudah menikah dengan Sekar Bagas bisa tinggal di rumah ini bersama Bapak,” sahut Adit.


“Terima Kasih Nak Bagas dan Nak Adit sudah mau mengerti Bapak, rasanya sepi jika kedua anak gadis Bapak ini tidak ada,” ujar Kuncoro.


“Ya sangat paham Kuncoro, mereka berdua sudah tidak keberatan untuk tinggal bersamamu,” sahut Cokro.


“Kalau begitu sudah tidak ada masalah lagi kan, Bapak merestui Adit dengan Ningsih?” tanya Adit.


“Iya Bapak merestui Nak Adit dan Ningsih, kalau Nak Bagas kapan akan melamar Sekar?” tanya Kuncoro.


“Bagas sudah memperkenalkan Sekar dengan kedua orang tua Bagas, mereka berdua tergantung Bagas Pak, rencana Bagas jika pabrik ini sudah mulai jadi baru Bagas akan melamar Sekar tapi seperti tidak mungkin karena pabrik itu hancur kembali, jadi Bagas tidak bisa menunggu pabrik itu selesai. Mungkin Bulan depan juga Bagas akan melamar Sekar membawa kedua orang tua Bagas,” tutur Bagas yang memberi penjelasan kepada Kuncoro.


“Ya kalau begitu bagus, jadi bulan depan kedua anak bapak bisa langsung menikah,” sahut Kuncoro.


Mendengar ucapan Bagas beserta Adit Ningsih dan Sekar tersenyum bahagia.


Mereka akan di lamar bulan depan secara bersamaan.  


“Mbah bagaimana apa setuju,” tanya Adit.


“Mbahmu ini setuju saja Dit, jika kamu bahagia mbah juga bahagia,” sahut Cokro.


Mereka semua terlihat bahagia mendengar kabar Bagas beserta Adit akan melamar kedua anak gadis Kuncoro.


Namun tidak dengan mbah Seno.


Mbah Seno yang ternyata memata-matai mereka semua dengan melihat mereka melalui mata batinnya.


Mbah Seno yang berada di dalam kamar ritualnya sedang duduk bersila dan sedang memantau Bagas beserta Adit.


‘Rupanya kamu Cokro yang membantu mereka?’ gumam Mbah Seno.


‘Sudah lama sekali kita bertemu, di desa Kemomong ini kita bertemu kembali Cokro,' gumam Seno.


Ternyata Seno dan Cokro adalah seperguruan mereka berdua seorang paranormal akan tetapi karena Seno pewaris dari kakek buyutnya yang bernama Krisno mempelajari ilmu hitam sehingga Seno terpilih sebagai penurusnya.


Sementara Cokro seorang paranormal yang selalu membantu orang-orang dalam terkena hal gaib atau ilmu hitam sekali pun. 

__ADS_1


__ADS_2