Desa Kemomong

Desa Kemomong
Keris untuk Adit


__ADS_3

Di saat mbah Seno tengah sibuk memantau Bagas, Adit berserta Cokro terdengar suara namun tidak ada wujudnya.


“Seno! Mana tumbal selanjutnya yang kau janjikan untukku!” ucap makhluk itu dengan suara yang berat dan besar.


“A-aku akan secepatnya memberikan tumbal selanjutnya untukmu,” sahut Seno dengan terbata-bata.


“Jika dalam minggu ini tumbal yang kau janjikan tidak ada maka kau akan menerima akibatnya Seno,” ancam makhluk itu kepada Seno.


“Ba-baik,” ujar Seno.


Setelah itu suara makhluk pun menghilang.


‘Baiklah, aku harus menyingkirkan Cokro terlebih dahulu agar tidak ada lagi yang menghalangiku niatku untuk menumbalkan kalian,' gumam Seno.


Sementara Cokro merasa firasat yang tidak nyaman di hatinya.


Adit yang sedari tadi memperhatikan Cokro terdiam tidak banyak bicara seperti biasanya menanyakan kepadanya apa yang sebenarnya dia pikirkan.


Adit yang menghampiri Cokro di ruang tamu sedang duduk sendirian sedang menikmati segelas kopi dan roko.


“Mbah, ada apa to. Sedari tadi Adit liat sampean kok diam saja, apa yang sedang Mbah pikirkan?” ucap Adit yang duduk di samping Cokro.


“Mbah tidak sedang memikirkan apa-apa Dit, hanya saja sedari tadi hati Mbah tidak tenang,” sahut Cokro.


“Ada apa sebenarnya Mbah?” tanya Adit yang ikut khawatir.


“Mbah juga tidak tahu apa yang akan terjadi Dit, kita semua harus berhati-hati,” ujar Cokro.


“Iya Mbah, Adit mengingat pesan Mbah.”


“Mbah menghampirimu, karena mbah punya firasat buruk tentang dirimu. Mbah harus menjaga cucu Mbah,” ujar Cokro.

__ADS_1


“Loh Adit kan sudah dewasa Mbah, jadi mbah tidak perlu khawatir sama Adit,” Adit yang tidak memahami maksud dari Cokro.


“Buka iku yang Mbah maksud Le, nanti kamu bakal mengerti to. Oh iyo tunggu sebentar Dit ada yang mau Mbah berikan kepadamu,” ucap Cokro yang pergi meninggalkan Adit masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu.


Sesampainya di dalam kamar Cokro mulai mengambil tasnya yang berada di atas meja kamar. Setelah tasnya, Cokro merogoh sesuatu dari dalam tasnya lalu ia mengeluarkan sebuah keris.


Setelah Cokro mendapatkan keris itu, ia keluar dari kamarnya menuju ruang tamu di mana Adit menunggu dirinya.


Cokro yang duduk di samping Adit.


“Dit, sepertinya ini sudah saatnya Mbah memberikan keris ini kepadamu,” ujar Cokro menyerahkan sebuah keris yang ia pengang.


Adit yang bingung dengan maksud Cokro.


“Ini apa Mbah? Kenapa mbah memberikan ini kepada Adit?” tanya Adit yang bingung.


“Keris ini adalah keris peninggalan leluhur kita yang di wariskan secara turun temurun, dan sekarang keris ini jatuh di ke tanganmu Dit,” ujar Cokro yang menjelaskan kepada Adit.


“Keris ini bisa kamu gunakan di saat kamu sedang mengalami bahaya besar,” ucap Cokro.


“Bahaya besar? Apa yang sebenarnya akan terjadi Mbah?” Adit yang tambah penasaran dengan ucapan Cokro.


“Entahlah Le Mbah juga tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi sedari tadi hati Mbah ini tidak tenang seperti akan ada bahaya besar yang akan terjadi, tapi Mbah tidak tahu itu apa?” tutur Cokro menjelaskan perihal hatinya yang tidak tenang kepada Adit.


“Simpan saja keris ini terlebih dahulu, dan mungkin ini juga sudah waktunya kamu menerimanya,” sambung Cokro.


Adit yang mengangguk mengambil keris yang di berikan Cokro kepadanya.


“Iya Mbah, keris ini akan Adit simpan dengan baik,” sahutnya mengambil keris itu.


Adit pun menyelip kan keris itu di samping pinggangnya.

__ADS_1


“Assalamualaikum,” ucap Bagas yang baru datang memberi salam.


“Waalaikumsalam,” sahut Adit.


“Bagaimana gas evakuasinya?” tanya Adit.


“Alhamdulillah berjalan dengan lancar Dit? Kemungkinan hari ini bisa selesai proses evakuasinya, jika sudah selesai kita bisa secepatnya bekerja Dit dan kembali ke mes?” ucap Bagas yang mendatangi Adit.


“Wah aku gak bisa ketemu Ningsih lagi tiap hari,” celetuk Adit sembari menepuk jidatnya.


“Fokus kerja saja dulu Le, baru pikirkan yang lain,” sahut Cokro yang memberi nasehat Adit.


“Iya Mbah, Adit Cuma bercanda kok,” ucapnya sembari meringis.


“Ya sudah Adit tinggal ke dapur dulu ya Mbah, siapa tahu Ningsih perlu bantuan Adit,” ucapnya dengan tersenyum.


Sementara Bagas beserta Mbah Cokro melanjutkan percakapan mereka.


“Gas, kamu juga harus berhati-hati,” peringatan dari Cokro.


“Ada apa Mbah?” tanya Bagas.


“Mbah liat kamu yang mempunyai energi positif yang paling tinggi dari teman-temanmu jadi kamu sebenarnya yang sedang mereka incar.”


“Diincar? Mereka siapa Mbah?” tanya Bagas yang bingung.


“Mbah belum bisa memberitahukan karena semua masih belum terlihat jelas, Mbah hanya bisa memberi kamu nasehat begitu juga dengan Adit. Kalian berdua harus bekerja sama untuk melawannya energi terbesar ada di dirimu Gas tapi Adit punya senjatanya?” sahut Cokro.


Ucapan Cokro malah membuat Bagas tambah bingung apa maksud dari kata-katanya.


Bagas terdiam mencoba mencerna maksud Cokro.

__ADS_1


__ADS_2